
Ketika Suci ingin mengejar Kay, Arsya menahannya agar memberikan waktu kepada Kay untuk sendiri lebih dulu. Setelah suasananya mulai mereda barulah mereka akan menemui Kay dan menjelaskan semuanya agar Kay tidak lagi merasa cemburu pada adiknya.
...*...
...*...
Tepat di jam makan malam, Kay tetap tidak mau turun dari kamarnya. Dia malah memilih untuk menghabiskan waktunya dengan games agar pikirannya sedikit teralihkan. Namun Suci sudah tidak kuat lagi melihat Kay mengurung diri di kamar, sampai akhirnya Suci melangkahkan kakinya bersama dengan Arsya yang membawa makanan ke arah kamar Kay.
Ceklekk!! ..
Suci membuka lebar pintu kamar dengan menatap Kay sambil mengusapkan salam, yang mana Kay hanya bisa menoleh serta membalas salam yang mereka berikan.
"Abang lagi ngapain? Kok Mommy liatin Abang sibuk banget sama games, sampai-sampai Abang lupa enggak makan malam bareng kita semua, ada apa Sayang?" Suci berbicara sambil menatap Kay yang masih fokus memainkan gamesnya.
"Eee.. e-enggak apa-apa kok Mom, Kay lagi belum laper aja. Sebentar lagi juga Kay turun ngambil makan" Jawab Kay dengan sedikit terbata-bata mencoba menutupi perasaannya yang sedikit tidak suka atas kemunculan sang adik.
Suci menoleh menatap Arsya yang kini sudah menaruh makanan di samping kasur Kay, dan berjalan mendekati mereka. Lalu Arsya mengusap kepala Kay dengan perlahan.
"Abang ingat tidak, jika Daddy pernah bilang sesibuk apa pun kita kalau ada seseorang yang ingin berbicara, kita harus menghargainya tidak boleh seperti ini. Coba sekarang Abang lihat wajah Mommy, dia sangat sedih bukan? Itu karena Mommy sangat mengkhawatirkan keadaan Abang saat Abang belum makan semenjak Abang mendengar kabar baik tentang adik"
"Apa Abang lupa, bukannya Abang yang selama ini selalu berdoa dan juga selalu menanyakan kapan adik Kay datang, kapan Kay punya adik dan Kapan Kay jadi Abang. Tapi kenapa di saat adik udah hadir Abang malah tidak suka padanya?"
"Ya sudah Abang matikan komputernya dulu, lalu kita selesai masalah ini dengan duduk bersama-sama di kasur. Kemudian Abang makan, kasihan Mommy dia sudah membuatkan pasta kesukaan Abang"
Arsya mencoba untuk menasehati Kay yang mana membuat Kay hanya bisa menatap keduanya secara bergantian, kemudian mereka semua berjalan ke arah kasur dan duduk di sana secara bersama-sama.
Suci tersenyum ketika dia sangat ingin menyuapi Kay, tetapi ketika Kay mau menolaknya dengan cepat Arsya menggelengkan kepalanya agar Kay tidak menolak keinginan Suci. Arsya bisa merasakan bahwa Suci benar-benar mengkhawatirkan keadaan Kay sehingga Kay pun mengikuti apa yang diminta oleh Arsya.
Dengan perlahan Kay makan dari tangan Suci sampai makanannya pun habis tak tersisa, setelah semuanya selesai. Suci langsung meraih tangan mungil Kay sambil tersenyum, sedangkan Kay dia cuman bisa menatap mata Suci dengan sangat lekat.
__ADS_1
"Boleh Mommy dengar, bagaimana perasaan Abang ketika Abang tahu jika Adik Abang sudah hadir di perut Mommy?" Tanya Suci yang membuat Kay menatap Arsya sekilas, dan kembali menatap Suci.
"Katakan saja dengan jujur, kami tidak akan marah kok. Asalkan Abang jujur, karena Daddy sama Mommy selalu mendidik Kay untuk berada di jalan yang benar suoaya Kay bisa menjadi anak yang baik" Sahyt Arsya sambil tersenyum.
"Ka-kay cu-cuman ta-takut ka-kalau nanti dia lahir, maka Daddy tidak akan lagi menyayangi Kay. Apa lagi anak yang ada di dalam perut Mommy itu kan anak Mommy sama Daddy, bukan seperti Kay yang hanya anak Mommy"
Kay menundukkan kepalanya dengan air mata yang sudah mulai membasahi pipinya, sedangkan Arsya dia hanya bisa tersenyum melihat Kay yang begitu takut akan kehilangannya.
Padahal Suci dan Arsya sama sekali tidak ada kepikiran sejauh itu, bagi mereka Kay tetaplah anak pertama untuknya yang selalu membawa berkah bagi kehidupan rumah tangga mereka.
Arsya langsung memegang tangan Kay satunya lagi dan menatapnya begitu dalam. Lalu Arsya berkata, "Bukannya Daddy selalu mengatakan bahwa apa pun yang terjadi ke depannya, Kay tetap anak Daddy. Anak kesayangan Daddy, dan anak yang selama ini bisa membuat Daddy lebih semangat lagi untuk bekerja supaya bisa membahagiakan kalian"
"Belum lagi Daddy juga pernah bilang jika suatu saat nanti Abang memiliki adik, maka kasih sayang Daddy dan juga Mommy tidak akan pernah berkurang sedikit pun. Kami akan berusaha menyayangi kalian semua tanpa membedakan satu sama lain, apa Kay tidak percaya dengan Daddy? Bukannya seorang pria itu yang dipegang adalah janjinya bukan ucapannya, hem.."
"Tapi jika Kay tidak percaya maka tidak apa-apa, Daddy akan tetap terus berusaha menjadi Daddy yang terbaik buat kalian. Selama Daddy masih bisa membuka mata, maka kalian akan selalu berada di bawah lindungan Daddy. Bahkan jika perlu Daddy akan menukar nyawa Daddy hanya demi menyelamatkan Kay, pokonya Daddy akan lakukan apa pun itu yang penting kita bisa selalu bersama"
"Kay sayang Daddy, hiks.. Kay mohon Daddy jangan pernah berubah setelah Adik Kay lahir. Pokonya Daddy harus tetap sayang sama Kay, Kay enggak mau Daddy yang lain. Pokonya Kay cuman mau Daddy Arsya titik hiks.." Kay memeluk Kay dengan erat, sehingga Arsya membalas pelukan Kay dan juga sambil memeluk Suci.
"Daddy Arsya akan tetap jadi Daddy Kay selamanya. Jadi Abang tidak boleh lagi berpikir seperti itu, pokonya Abang harus sayang sama Adik yang ada di dalam perut Mommy. Kasihan dong kalau nanti Adiknya lahir masa dia akan main sendirian. Lalu jika ada yang jahatin dia, apakah Abang Kay akan diam saja?" Ucap Arsya.
Kay melepaskan pelukan Arsya dan menatap mereka semua secara bergantian, meskipun penjelasan Arsya mampu membuat Kay mengerti tetapi di dalam lubuk hati Kay masih terdapat sedikit keraguan. Cuman di persekian detik Kay mencoba menangkis semua pikiran buruk tentang Arsya dan langsung memeluk Suci.
"Mommy maafin Kay, Kay sudah buat Mommy selalu menangis. Kay janji Kay akan menjaga Adik-adik Kay sampai kapan pun, jadi Mommy jangan sedih lagi ya.."
"Dan untuk Adik kecil yang manis, maafkan Abang ya karena di saat kamu hadir Abang malah marah sama kamu. Tapi sekarang tidak lagi, Abang akan berusaha menyayangi kamu melebihi Abang sayang sama diri Abang sendiri. Jadi baik-baik di perut Mommy ya, jangan nakal kasihan nanti Mommy bisa sakit loh.."
Kay melepaskan pelukan Suci dan mengusap perutnya hingga mampu membuat Suci menunduk tersenyum melihat perhatian kecil yang Kay berikan untuk sang Adik.
Bahkan perkataan Kay berhasil membuat Suci dan juga Arsya meneteskan air mata kebahagiaan, dimana akhirnya mereka bisa kembali di beri kepercayaan untuk mengurus anak yang akan segera melengkapi keluarga kecil mereka.
__ADS_1
Daddy, Mommy, Abang dan juga Adik adalah kata-kata yang terkesan simpel tetapi memiliki makna yang sangat indah jika di dengar. Belum lagi jika semua itu di persatukan maka akan menghasilkan keluarga yang begitu lengkap.
Sampai seketika semua masalah kecil yang mengganggu pikiran Kay untuk tidak menerima kehadiran adiknya kini telah terselesaikan, saatnya mereka kembali beristirahat karena hari sudah semakin larut.
Suci dan Arsya menemani Kay hingga ia tertidur pulas, lalu mereka pun keluar dari kamar Kay sambil membawa alat makan yang langsung di taruh di dapur. Kemudian mereka pun berjalan ke arah kamarnya untuk beristirahat.
...*...
...*...
Tepat jam 2 tengah malam, Arsya terbangun dalam keadaan perut yang sangat keroncongan. "Ya ampun kenapa perutku sangat lapar seperti ini? Perasaan tadi aku sudah makan banyak, bahkan hampir 3 piring loh sampai-sampai membuat semuanya terkejut. Tapi entah kenapa sekarang perutku malah tiba-tiba lapar, tidak seperti biasanya"
Arsya bergumam kecil sambil memegangi perutnya. Namun, seketika Arsya terbayang akan suatu makanan yang sudah lama tidak pernah ia makan bahkan Arsya sendiri sampai lupa dengan rasanya.
Dengan perlahan Arsya mencoba turun dari atas ranjang tanpa mau membangunkan Suci yang masih tidur, cuman ketika Arsya ingin membuka pintu Arsya di kagetkan dengan suara Suci.
"Mas mau kemana malam-malam begini?" Tanya Suci sambil mengucek kedua matanya. Arsya pun segera membalikan badannya dan menatap Suci yang lagi duduk sambil menatapnya.
"Loh ko-kok kamu bangun, bukannya tadi lagi tidur?" Ucap Arsya dengan wajh terkejut.
"Ya tadi niatnya aku mau ke kamar mandi, eh aku lihat Mas kaya ngendap-ngendap begitu. Memangnya mau kemana sih, apa Mas tidak lihat ini masih jam 2 malam loh.." Jawab Suci dengan tatapan bingung.
"Aku enggak kemana-mana kok, aku cuman mau ke dapur soalnya tadi aku kebangun lantaran perutku selalu bunyi. Jadi ya aku tidak tega jika membangunkanmu hanya untuk membuatkanku makanan" Sahut Arsya dengan wajah sedikit cemberut.
"Ya sudah Mas ke dapur duluan, Suci mau ke kamar mandi sebentar sama memakai hijab dulu nanti Suci akan menyusul ke sana.." Suci pun langsung menguncir rambutnya dan hanya diangguki oleh Arsya.
Kemudian Arsya pergi ke dapur lebih dulu, sedangkan Suci dia pergi ke kamar mandi untuk membuang air kecil lalu menyusul Arsya ke dapur untuk membuatkannya makanan.
Namun saat di dalam kamar mandi Suci sedikit heran ada apa dengan Arsya bisanya dia tidak pernah bangun tengah malam dalam keadaan lapar, tapi kali ini? Entahlah.. Suci tidak mau ambil pusing, mungkin saja ini suatu kebetulan jika Arsya memang sedang lapar.
__ADS_1