Keikhlasan Hati Seorang Istri

Keikhlasan Hati Seorang Istri
Menikmati Kencan Pertama


__ADS_3

Ummi Lena berbicara sambil tersenyum dan memberikan nomor rekening panti asuhan pada Papah Angga. Lalu Papah Angga pun langsung mentransfer uang sebesar Rp. 10.000.000,- ke nomor rekening tersebut.


Tidak lupa pula Ummi Lena kembali berterima kasih pada Papah Angga dengan perasaan yang sangat senang.


“Kalau boleh tahu, apakah Anda ini seorang pemilik panti asuhan? Sejak tadi sepertinya Anda selalu mengatakan tentang anak-anak di panti asuhan. Maaf jika saya lancang bertanya seperti ini” ucap Papah Angga dengan sopan.


“Tidak, bukan seperti itu Tuan. Saya hanyalah seorang janda tua yang tidak bisa memiliki keturunan, jadi sekarang saya bekerja sebagai pengurus panti asuhan 'Matahariku'. Namaku adalah Allena Belyvah Marveen yang saat ini berusia 45 tahun” ucap Ummi Lena dengan senyuman.


“Marveen? Maaf tapi apakah Anda memiliki hubungan dengan keluarga Marveen yang dulunya terkenal sebagai pengusaha tekstil terbaik senegara?” ucap Papah Angga dengan wajah kagetnya.


“Beliau adalah Ayah saya yang sudah meninggal dunia beberapa tahun lalu akibat serangan jantung, itu sebabnya perusahaan di berikan pada suami saya waktu itu. Namun dia mengambilnya dari saya dan mejual perusahaan tersebut lalu menceraikan saya karena saya tidak bisa memberikannya keturunan”


“Tapi itu semua hanyalah masa lalu jadi semua itu sudah tidak berarti lagi. Kalau begitu saya harus pergi sekarang karena saya harus kembali mengurus anak-anak di panti. Sekali lagi terima kasih atas bantuan Anda Tuan, saya tidak tahu bagaimana untuk membalasnya”


Ummi Lena pun berdiri dan dia tersenyum menatap Papah Angga, lalu Papah Angga juga ikut tersenyum pada Ummi Lena.


Tanpa di sadari Papah Angga menjulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Ummi Lena lantaran kebiasaannya setelah berbincang dengan kliennya yang lain.


Namun kali Ummi Lena menatap ke arah tangannya Papah Angga, dan dia pun menyatukan kedua tangannya dan meletakkannya di dada sambil tersenyum.


Papah Angga yang lupa akan menghargai wanita yang bukan muhrimnya, sehingga Papah Angga pun menarik tangannya dan membalas salamnya Ummi Lena.


Lalu Ummi Lena keluar dari ruangannya Papah Angga dan pergi keluar perusahaan. Lalu dia menghentikan taksi dan pergi menuju panti asuhan 'Matahatiku'.


Sedangkan Papah Angga kembali duduk di kursi kebesarannya dan melanjutkan pekerjaannya yang belum selesai untuk hari ini.

__ADS_1


*


*


Malam hari pukul 8


Di salah satu restoran yang tidak indah, terdapat satu pasangan yang duduk berhadapan sambil menikmati makan malam mereka. Siapa lagi itu jika bukan Dion dan juga Lisa yang saat ini sedang menikmati kencan pertama mereka setelah menjadi pasangan.


“Jadi apakah kamu sudah menentukan tentang tema pesta di pernikahan kita nanti? Apakah kamu mau melaksanakan pernikahan secara indoor atau outdoor? Aku akan menyiapkan semuanya keperluan yang di butuhkan nanti” ucap Dion sambil tersenyum menatap Lisa.


“Eemm... aku pikir kayaknya akan bagus kalau tempatnya di outdoor gitu, kayak di sebuah taman bunga yang luas. Nanti temanya bisa pakai warna ungu, putih dan abu-abu pasti bagus. Jadi dia ada warna favorit kita berdua, bagaimana?” tanya Lisa dengan antusias.


“Baiklah, aku juga suka idemu itu. Kalau begitu kita bisa mulai menabung dan mencari wedding organizer yang bagus. Sekalian aku nanti membeli beberapa barang untuk seserahan karena aku masih belum ada waktu luang selama beberapa bulan ini”


“A-aku ti-tidak tahu... ka-kamu pilih saja se-sendiri kalau untuk u-rusan itu, a-aku tidak mau i-ikut campur. A-aku pergi ke mana pun ju-juga tida masalah se-selama aku pergi de-denganmu” ucap Lisa terbata-bata dengan wajah yang semerah tomat.


“Kalau begitu aku akan mencarikan tempat terbaik untuk bulan madu kita. Nanti kamu pasti terkejut saat kita sudah sampai di tempat tersebut. Atau mungkin kamu tidak akan memiliki waktu luang untuk melihat sekitar karena harus beristirahat di kasur” goda Dion yang mana membuat wajah Lisa semakin merah tidak karuan.


Dion pun tertawa gemas sambil menatap Lisa yang salah tingkah, lalu Lisa pun melanjutkan makannya sambil wajahnya yang tetap memerah.


Dion pun melanjutkan makan mereka namun dia tetap sedikit menggoda Lisa yang mana selalu membuat hatinya Lisa berdebar-debar tidak menentu.


Setelah selesai makan malam, mereka pergi dari restoran tersebut dan masuk ke dalam mobil Dion untuk pergi ke tempat lain.


Hanya membutuhkan waktu 15 menit, akhirnya mereka sampai di taman kota yang mana sangat ramai di kunjungi para pasangan, keluarga maupun kumpulan sahabat.

__ADS_1


Lisa turun dari mobil dengan Dion yang membukakan pintu untuknya. Mereka berjalan menyelusuri taman yang penuh dengan lampu warna-warni sambil berpegangan tangan.


Semua orang di sana pun menatap Lisa dan Dion dengan penuh kekaguman yang mana mereka memang terlihat sangat serasi.


Lalu Lisa dan Dion duduk di tanah yang penuh rumput tepat di pinggiran danau yang ada di taman tersebut.


Lisa menyandarkan kepalanya di bahunya Dion, dan Dion yang menggenggam tangan kanannya Lisa dengan kedua tangannya yang mana sesekali juga mengelus lembut punggung tangannya Lisa.


“Hari ini terasa seperti hari terbaik yang aku pernah miliki, terima kasih By. Kamu selalu memberikan semua keromantisan ini untukku, dan aku sangat menyukai semuanya. Aku sayang kamu, Baby...” ucap Lisa dengan penuh senyuman.


“Harusnya aku yang bilang terima kasih karena kamu sudah menerima pria yang cuek dan kaku sepertiku ini. Aku akan melakukan apa pun itu yang akan membuatmu bahagia selalu. Aku juga menyayangimu, Ay...” ujar Dion sambil mengelus punggung tangan Lisa.


“Lihat... ada yang menyalakan kembang api di sana. Waahh... kembang api itu terlihat sangat indah dan penuh warna-warni, bukan begitu By...” ucap Lisa sambil menunjuk ke arah langit yang di terangi oleh Kilauan kembang api.


“Benar... sangat indah dan cantik...” ucap Dion yang mana di malah memandangi wajahnya Lisa yang sedang tersenyum sambil bersinar di terangi lampu taman yang berkelap-kelip.


“Iihh... aku itu ngomongin kembang api Baby, tapi kenapa kamu malah melihat ke arahku sih... Itu lihatlah, kembang apinya menyinari langit malam yang penuh dengan bintang-bintang” geram Lisa yang mana mengarahkan wajahnya Dion ke arah langit.


“Aku tahu itu sayang, tapi aku lebih memilih untuk melihat wajahmu yang bersinar seperti rembulan di depanku. Dari pada aku harus melihat langit penuh bintang yang mana bisa di lihat setiap harinya” jawab Dion sambil kembali menatap wajahnya Lisa yang sudah sedikit memerah.


“Da-dasar tukang gombal... kamu selalu saja suka menggodaku seperti ini. Kamu bilang kalau kamu itu pria yang cuek dan kaku, tapi di mana kecuekan dan kekakuanmu, hahh? Kamu malah terlihat seperti seorang playboy yang sangat berpengalaman dalam merayu semua wanita di dunia ini hump...”


Lisa yang mendengar perkataannya Dion tersebut pun langsung memalingkan wajahnya menjauhi Dion dengan telinganya yang memerah.


Dion yang melihat Lisa malu-malu tersebut hanya bisa terkekeh gemas karena Lisa selalu saja mudah merasa malu dengan sedikit gombalannya yang mana membuat Dion selalu ingin menggoda Lisa.

__ADS_1


__ADS_2