
Meskipun Arsya tahu jika anak yang ada di dalam rahimnya Suci bukanlah anak Arsya, tapi hal itu tidak membuat Arsya sedikit pun merasa sedih ataupun kesal. Arsya malah merasa bahagia karena dia tahu bahwa Suci sangatlah ingin untuk memiliki anak, dan sekarang semua itu sudah terjawab sekarang.
Hingga akhirnya setengah jam berlalu, kemudian Suci pun mulai sadar dari tidurnya. Lalu Arsya mengambil segelas air putih untuk Suci dan membantunya untuk minum karena saat ini kondisi Suci masihlah lemah.
Setelah selesai minum, Arsya kembali meletakkan gelas tersebut di meja kecil samping kasurnya Suci. Kemudian Suci menatap Arsya dengan wajahnya yang bingung dan tidak tahu apa yang sudah terjadi selama dia tertidur.
"Ada apa Mas? Kenapa kamu terlihat senang tapi juga sedih di waktu yang sama? Apakah semuanya baik-baik aja? Ataukah aku punya penyakit parah? Tapi kenapa kamu senang Mas?" tanya Suci dengan banyak sekali pertanyaan.
"Tenanglah dulu... saat ini kamu harus banyak beristirahat karena kondisi kamu yang sangatlah lemah. Dokter sudah bilang kalau semuanya baik-baik saja, hanya saja saat ini kamu..." ucap Arsya terhenti sampai dia perlahan mengelus perutnya Suci.
"Hanya saja apa Mas? Kenapa kau membuatku jadi bingung seperti ini. Sebenarnya ada apa sih ini..." ucap Suci sambil dia mencoba untuk duduk, tapi Arsya menahannya dan dia kembali membuat Suci berbaring.
"Jangan duduk dulu, kamu harus banyak istirahat untuk kebaikanmu dan juga janin yang ada di kandunganmu saat ini. Kalian sangatlah lemah sehingga aku sendiri takut kalau aku bisa membuat kalian terluka" ucap Arsya sambil dia tersenyum menatap Suci.
Suci yang mendengar perkataannya Arsya pun hanya berbaring dalam diam karena dia tidak mengerti apa yang Arsya katakan barusan. Suci sendiri bingung janin apa yang Arsya maksud dan anak siapa yang Arsya katakan.
"A-apa ma-maksud kamu Mas... Ja-janin apa yang ka-kamu katakan. A-aku tidak mengerti sama sekali" ucap Suci sambil menatap Arsya dengan wajah bingung dan cemasnya.
__ADS_1
"Tentu saja anak yang ada di kandungan kamu saat ini. Dokter bilang kalau kamu sudah hamil 4 bulan, tapi kandunganmu lemah karena kau terlalu stress dan juga depresi beberapa bulan terakhir ini" ucap Arsya sambil mengelus perut Suci.
"A-aku tidak tahu kenapa tapi saat aku mendengar kalau kamu hamil rasanya aku bahagia. Itu artinya kalau semua perkataan mereka itu salah, kamu itu sehat dan kamu juga bisa memberikan keturunan"
"Jika saja kita sudah mengetahui semua ini jauh lebih cepat, mungkin saja ini tidak akan terjadi kan... mungkin kamu masih bisa kembali bersama dengannya bersama dengan ayah dari anak yang kamu kandung saat ini, bukan..." ucap Arsya sambil tersenyum pada Suci.
"Tidak... tidak hiks... Ba-bagaimana ini bisa te-terjadi. A-apa maksudmu kalau a-aku ini sedang ha-hamil anaknya Mas Di-Dimas? Ta-tapi bagaimana? A-aku ti-tidak mengerti hiks..." Suci menangis sambil menatap dan mengelus perutnya sendiri.
"Jangan menangis sayang... kalau kamu menangis nanti anak di kandunganmu akan ikut menangis. Jadi haruslah air matamu itu dan tersenyum, ini adalah kabar yang baik untukmu dan untuk kita semuanya" Arsya pun menjawab dengan tanpa sadar air mata menetes di kedua pipinya.
"Ma-maafkan aku Mas hiks... a-aku ini se-sekarang adalah i-istrimu tetapi a-aku malah me-mengandung a-anak dari pria lain hiks... maafkan aku Mas" Suci pun semakin menangis keras yang membuat Arsya pun memeluknya dengan lembut.
"Kamu tenang saja, apapun keputusan yang kamu ambil maka aku akan selalu ada di sampingmu. Bagaimana pun aku ini sebenarnya sudah lama mencintaimu tetapi a-aku tidak tahu sejak kapan dan bagaimana"
"Aku hanya tahu kalau apapun yang akan kamu lakukan, aku akam selalu mendukungmu. Mungkin inilah yang di namakan cinta sejati" ucap Arsya yang masih tersenyum tapi air matanya tetep menetes.
"A-aku tidak akan pernah ke-kembali ke pria itu, karena aku adalah istri dari pria bernama Arsyaka Atthallah Valleanno. Aku ini adalah istrimu saat ini, nanti dan selamanya. Ta-tapi saat ini aku malah... a-aku tidaklah pantas menjadi i-istrimu, Mas" ucap Suci sambil memalingkan wajahnya.
__ADS_1
"Tidak... kamu adalah istri terbaik yang ada di dunia, dan anak yang ada dalam kandunganmu adalah anakku. Dia akan menjadi penerus keluarga Valleanno di saat dia lahir nanti. Aku tidak peduli jika itu darah dagingku atau tidak, karena dia tetaplah anakku"
"Dia adalah bayi yang ada dalam rahim istriku, jadi tentu saja dia adalah anakku bukan? Aku benar-benar beruntung bisa menikah denganmu, karena aku sudah bisa mendapatkan anak dalam waktu singkat. Terima kasih sayang..." Arsya pun mencium perut Suci.
Suci pun menangis semakin parah dan Arsya hanya bisa mengelus perut Suci sambil menghapus air matanya. Arsya juga terus mencoba menghibur Suci agar dia berhenti menangis karena itu tidak baik untuknya dan bayinya.
Sementara itu ada dua orang yang saat ini sedang mengintip melalui jendela kamar rawat Suci. Siapa lagi itu kalau bukan Lisa dan juga Dion, mereka yang menyaksikan momen mengharukannya Suci dan Arsya. Mereka bisa melihat jika Arsya sangat mencintai Suci sehingga ia bisa melakukan apa pun demi Suci.
"Tuan Arsya sungguh seorang pria sejati, dia bahkan bisa menerima semua ini dengan lapang dada. Apalagi anak itu adalah anak yang Mbak Suci inginkan sejak dulu, tapi Allah baru mengabulkan doanya saat ini"
"Jika aku jadi Mbak Suci, aku juga pasti menangis seperti itu setelah mendengar perkataan Tuan Arsya. Andai saja Tuan Arsya ada dua, pasti akan aku jadikan suami idamanku. Apa lagi Tuan Arsya itu tampan, tinggi, gagah, bijaksana, keren, kaya dan dia juga pintar lagi"
Lisa berbicara yang secara tidak sadar membuat seorang pria yang saat ini ada di sampingnya pun terbakar api amarah cemburu. Bahkan saat ini pria itu pun hanya menatap Lisa dengan tatapannya yang mematikan seakan-akan dia bisa meledak kapanpun.
Lisa yang merasakan hawa yang panas di sampingnya mencoba untuk menoleh ke arah samping kanannya, tetapi itu sangatlah sulit baginya. Lisa dengan perlahan-lahan dan gemetar itu akhirnya berhasil menatap ke arah Dion yang saat ini menatapnya tajam.
Lisa pun langsung menelan ludahnya dengan kasar sambil seluruh tubuhnya yang merasa merinding. Bisa di pastikan bahwa Dion sedang cemburu setelah mendengar perkataannya yang tidak dia sadari. Sekarang Dion malah tersenyum menatap Lisa.
__ADS_1
Dion lalu memegang tangan Lisa dan ia menarik Lisa menuju lift dan mereka pergi ke lantai bawah untuk keluar dari rumah sakit menuju parkiran di mana mobilnya Dion berada. Setelah sampai di parkiran, Dion langsung mendorong Lisa masuk ke dalam mobilnya.
Lisa pun terjatuh di dalam mobilnya Dion di kursi bagian belakang, sambil Dion pun masuk ke dalam dan duduk di samping Lisa dan menutup pintu mobil. Lalu Dion mendorong Lisa dan mereka pun berbaring di kursi belakang mobil dengan posisi Lisa yang ada di bawahnya Dion.