
Kali ini tidak ada 1 orang pun ikut bersama dia, murni hanya ada suaminya dan juga Ara. Tetapi yang Ara herankan suaminya ini selalu saja diam dan fokus pada setir mobilnya, belum lagi keluarga dari pihak suaminya pun terasa menyeramkan tidak banyak ngomong. Cuman sekalinya ngomong menggunakan nada yang super duper dingin.
...*...
...*...
Sesampainya di depan hotel yang cukup mewah, kemudian mereka berjalan perlahan dimana tangan Ara memegang tangan suaminya.
Meskipun terpaksa tetapi Ara mencoba untuk bersikap biasa saja, karena Ara takut jika dia harus merasakan siksaan dari suaminya seperti mafia di dalam film drakor.
Ceklek!
Pintu kamar hotel terbuka, mereka masuk ke dalam. Ara berjalan perlahan menatap kamar hotel yang sangat indah dengan taburan kelopak mawar merah berserakan membentuk love di atas ranjang. Belum lagi tercium lilin-lilin aroma yang sangat menenangkan hatinya.
"Cepat mandi, habis itu gantian denganku! Aku sudah tidak tahan mencium bau tubuhmu yang sangat menyengat!" titah suami Ara yang saat ini sedang melepaskan jasnya seraya duduk di sofa dengan gaya songongnya.
Ara mendengar suara bariton itu terkejut bukan main, dan langsung berbalik menatap suaminya yang masih menggunakan topeng.
"Te-ternyata dia tidak gagu? Tapi kenapa dari tadi diam mulu? Astaga, apa jangan-jangan mulutnya ada timernya kali ya?" gumam Ara di dalam hatinya sambil menatap suaminya.
"Cepat mandi atau mau aku yang memandikannya? Baiklah, ay-..."
"Huaaaa... I-iya ya, aku mandi bye!!"
Ara berteriak sambil menunjukkan wajah paniknya, Ara berlari memasuki kamar mandi dengan sedikit membanting pintu.
Brak!
"Astaga, apakah dia ini beneran jodohku? Kalau boleh tukar tambah bisa enggak ya? Hihi.."
"Dalah.. Meskipun dia terlihat ceroboh dan juga menyebalkan. Tapi dia berhasil membuatku jatuh cinta! Terima kasih, istriku!"
Seorang pria bergumam kecil sambil tertawa melihat ke arah pintu kamar mandi, seketika tiba-tiba pintu terbuka bersamaan nongolnya wajah Kay membuat pria itu kelagepan dan kembali memasang wajah cool.
"Wahai, suamiku! Apakah kau sudah membelikan baju untukku? Aku lupa tidak membawa baju ganti!" tanya Ara dengan wajah penasaran
"Sebentar!" pria itu bangkit dari kursinya menuju lemari, dimana dia mengambil 1 setel baju tidur yang sedikit terbuka.
"Nih!" ucap pria itu sambil menyerahkan pakaian ke arah Ara.
"Astaga, bajunya terlalu pendek suamiku! Memangnya tidak ada baju lain apa? Lalu hijab atau kerudung? Apakah kau belum menyiapkan itu semua? Astaga! Bagaimana bisa kau melupakan jika istrimu ini ahli agama tidak mungkin membuka auratnya!" celoteh Ara.
"Kau mau menggunakan piyama ini atau aku ambilkan lingerie? Apa kau lupa ini adalah malam pertama kita, seharuskan kau tidak perlu repot-repot menggunakan pakaian agar aku bisa segera bekerja tanpa susah payah!"
"Ingat aku ini suamimu, jadi kita sudah mahram kau tidak perlu malu pada suamimu sendiri. Kalau bisa kau tidak usah memakai pakaian sekalian, agar kau bisa mendapatkan pahala setiap harinya!"
__ADS_1
Jawaban pria itu membuat Ara langsng mengambil baju piyama pendek dari tangannya, setidaknya ini masih sedikit menutupi tubuhnya dari pada lingerie yang berbahan tipis bagaikan sebuah hordeng tubuh kurang bahan.
"Yaakkk.. Dasar suami me*sum!!" pekik Ara kembali membanting pintunya.
Lagi dan lagi Ara berhasil membuat pria itu terkekeh kecil akibat tingkah konyolnya yang semakin membuat pria itu gemas.
Tak lama Ara keluar dari kamar mandi dengan sedikit tidak percaya diri menggunakan piyama pendek seperti ini.
Bahkan rambut panjangnya pun masih terikat, membuat pria tersebut sedikit terpesona. Namun dia bangkit mendekati Ara membuat Ara berjalan mundur hingga terpentok meja rias.
"Su-suami? Su-suami mau nga-ngapain? Ja-jangan ma-macam macam ya!" ancam Ara dengan nafas mulai memburu, apa lagi Ara belum bisa melihat wajah suaminya. Tidak seperti suaminya yang sudah bisa menatap wajah Ara dengan sempurna.
Cetak!
Ikat rambut Ara terlepas bersamaan dengan wajah pria itu yang hampir mendekat ke arah wajah Ara. "Aku tidak suka kau mengikat rambutmu bagaikan Mbok jamu! Biarkan rambut itu terurai agar menambah kesan kecantikanmu! Dan ingat jangan mengikatnya jika kau lagi bersamaku, paham!"
Ara hanya mengangguk dengan wajah yang cukup gugup, lalu pria itu menjauh dari Ara dan bergegas masuk ke dalam kamar mandi.
Tak lupa untuk mengambil piyamanya di dalam lemari. Seperginya pria itu Ara langsung mengambil nafasnya dalam-dalam serta wajahnya mulai memerah.
10 menit berlalu, Ara sedang asyik memainkan ponselnya membalas chat dari semua keluarganya yang selalu memberikan semangat pada Ara untuk melakukan malam yang panjang.
Sedangkan pria itu keluar kamar mandi dengan menggosokan rambutnya yang basah tanpa topeng, untungnya Ara tidak melihatnya karena sekarang Ara berada di posisi kiri sedangkan pria itu posisi kanan tepat di belakang Ara.
"Sayang, apa kamu bahagia menikah denganku?" tanya pria tersebut.
"Lalu jika kamu tidak mau menikah denganku, lantas kamu mau menikah dengan siapa?" tanyanya kembali.
"Dengan Bang Kay, orang yang paling tampan sedunia dan juga baik. Walaupun dia dingin serta cuek, tetapi dibalik sifat itu dia adalah seorang pangeran berkuda putih yang Allah kirimkan untuk selalu menjaga Ara"
"Tapi sayangnya, pangeran berkuda putih itu sudah berubah menjadi pangeran berkuda hitam!"
Ara berbicara dengan asal jeplak, hingga hampir saja membuat pria itu tertawa. Pria itu pun menaruh handuk kecilnya di atas ranjang dengan berdiri penatap punggung Ara yang saat ini masih duduk memainkan ponselnya.
"Bagaimana jika pangeran berkuda hitam yang kau ucapkan barusan berubah menjadi pangeran berkuda putih?" ucap pria itu sambil tersenyum.
"Mana mungkin! Jangan mimpi ya wahai suami! Pangeran berkuda putih itu hanya aku beri julukan pada Bang Kay, bukan sepertimu! Jadi jangan berharap aku akan memberikan julukan itu padamu!" ucap Ara dengan cuek.
"Bagaimana kamu tahu aku ini pangeran berkuda hitam atau putih, jika kamu selalu fokus pada ponselmu?" celetuk pria itu yang berhasil membuat Ara semakin kesal, kemudian menaruh ponselnya dengan sedikit membantingnya di atas meja kecil.
Brak!
"Sudah aku hilang kalau kau itu pangeran berkuda-...."
"Pu-putih?"
__ADS_1
Ara terkejut bukan main ketika berhasil menatap wajah suaminya yang sangat tampan, dimana itu adalah jodoh Ara sesungguhnya.
"Ya Sayang, ini aku pangeran berkuda putihmu. Apa kamu tidak bahagia menikah denganku hem? Jika begitu, baiklah tidak apa-apa. Berarti kejutanku tidak berhasil, huhh.."
Pangeran berkuda putih? Itu artinya Kay? Ya, memang Kay yang sudah merencanakan semua ini agar membuat kejutan pada Ara. Karena selama ini Kay sudah menahan semua kerinduannya hanya untuk menunggu kepulangan Ara untuk menjadi istrinya.
Kay berjalan dengan wajah kusutnya menuju sofa, namun dengan cepat Ara langsung memeluk Kay begitu erat dari arah belakang. Kay tersenyum melihat perlakuan istrinya yang memang selalu saja bisa membuatnya jatuh cinta berkali-kali.
"Hiks... Bang Kay, ini beneran Bang Kay kan? Abang enggak bohong kan sama Ara hiks.. Ara sayang banget sama Bang Kay!"
"Jika ini adalah mimpi Ara mohon jangan bangunkan Ara, Ara tidak siap jika Ara menatap wajah suami Ara bukan lagi wajah Bang Kay yang saat ini bisa Ara peluk hiks.."
Kay mengusap tangan Ara yang melingkar di perutnya, dengan perlahan Kay memutar tubuhya dan memeluk Ara sambil mencium kepalanya.
Ini adalah momen dimana Kay sudah menunggunya sejak lama, akhirnya dia bisa membalas pelukan Ara tanpa harus memarahinya.
Bagaimana mungkin Kay akan memarahi Ara, karena mereka sudah mahram. Jadi Ara akan dengan bebas memeluk Kay sebanyak yang dia mau.
"Ssttt.. Ara Sayang, heii.. Lihat wajahku, ini Bang Kay Sayang jodoh Ara, bukan pria lain! Dan yang harus Ara tahu kalau suami yang menikahi Ara itu ya adalah aku, bukan pria lain!"
"Jadi stop menangis seperti ini, Ara tahu kan aku ini tidak bisa melihat Ara menangis. Jadi udah ya Sayang, ma-maafkan Abang Kay-mu ini karena sudah membuatmu seperti ini"
"Tapi ya inilah cara untuk membuatmu agar bisa menjadi wanita yang lebih dewasa dan bisa menerima takdir apa pun yang akan terjadi tidak sesuai dengan keinginan kita"
"Dari sini Ara bisa belajar lebih banyak hal, bukan? Tapi tetap pada 1 kalimat bahwa jika kita berjodoh maka kita akan tetap bersama seperti saat ini"
"Apa Ara bahagia ketika tahu jika yang menikahi Ara adalah aku, jodohmu Bang Kay. Hem..? Atau-..."
Kay terdiam ketika jari manis Ara langsung menyentuh bibirnya sambil menggelengkan kepalanya dengan air mata yang bercucuran.
"Hiks.. Bang Kay tidak boleh mengatakan apa pun lagi, karena Ara sangat-sangat bahagia ketika jodoh Ara beneran Bang Kay hiks.."
"Ara tidak menyangka Bang Kay bisa menjadi jodoh Ara, terima kasih Bang. Karena Abang mau menjadi jodoh Ara, cewek ceroboh, manja dan juga menyebalkan hiks.."
Kay kembali memeluk Ara dengan mata yang berkaca-kaca, tidak menyangka hanya dengan menikahi Ara bisa membuat Ara sebahagia ini. Padahal semua baru saja dimulai.
"Aku juga bertema kasih, karena Ara sudah mau menungguku sejauh ini. Bahkan Ara bisa sangat sabar menghadapi semua sikap Bang Kay yang terkadang dingin, cuek, jutek dan juga kurang peka"
"Namun Bang Kay berjanji akan membuat Ara selalu bahagia, karena Bang Kay tidak mau mengecewakan Ara dengan impian Ara selama ini!"
"Tidak Bang, tidak! Mendapatkan Bang Kay itu adalah kabahagiaan terbesar bagi Ara jadi mau Abang hanya mengirmkan uang sekoper pun Ara tidak akan menerima jika bukan Bang Kay sendiri yang membawanya!"
"Bagi Ara Bang Kay lah sumber kebahagiaan Ara, jadi stop bersikap jahil seperti ini. Ara takut kehilangan Bang Kay hiks.."
Kay tersenyum meraup wajah istrinya dan mencium seluruh wajahnya, ketika ingin mencium bibirnya. Ara malah mendorong jauh Kay yang hampir kehilangan keseimbangan. Kay menjadi sangat bingung melihat tingkah Ara yang berubah seperti inj.
__ADS_1
Ara menatap tajam kearah Kay hingga berhasil membuat Kay mati kutu, ini baru pertama kalinya Kay melihar Ara semarah ini.
"Habislah riwayatmu hari ini Kay! Tidak akan ada malam pertama atau pun jatah pertama!" gumam Kay di dalam hatinya sambil menelan air liurnya dengan kasar.