
Mamah Mita berusaha untuk membuat Dimas agar bisa mempercayai omongannya yang mana Mamah Mita tahu jika tidak mudah membuat Dimas jatuh dalam perangkapnya.
“Mah... Sudahlah, jangan membuat seolah-olah Suci yang menjadi korban di sini. Dimas tahu kok pasti Mamah sedang mengarang ceritakan. Dimas hafal bagaimana sifat Suci Mah, tidak mungkin ia boros dalam menggunakan uangnya"
“Bahkan uang bulanan yang Dimas kasih saja selalu utuh, tidak pernah Suci gunakan sedikit pun jika keadaan tidak mendesak. Lalu jika Suci ingin menggunakannya, dia langsung meminta izin dulu padaku yang jelas-jelas itu adalah haknya, jadi mau digunakan untuk apa pun itu terserah Suci”
Dimas berusaha menangkis semua ucapan Mamah Mita yang tidak masuk di akal. Tetapi bukan Mamah Mita namanya jika ia tidak bisa meyakinkan anaknya.
“Jika kamu tidak percaya kamu boleh lihat di lemari Suci, apakah ada tas belanja di sana? Kamu juga bisa ikut Mamah ke kamar agar Mamah bisa tunjukkan belanjaan yang Mamah beli dari uang Suci”
“Atau kamu juga bisa mengeceknya sendiri di rekening Suci, karena Suci sendiri yang mau membayarkan belanjaan Mamah sebagai imbalan karena sudah mau jalan-jalan bersamanya. Tetapi Suci seperti sedikit memaksa Mamah agar mengambil semua barang yang Mamah suka”
“Dengan terpaksa Mamah mengambil apa yang Mamah mau. Jika biasanya Mamah belanja dengan 5 tas belanjaan, namun kemarin Mamah bisa pastikan jika kedua tangan Mamah dan Suci itu penuh akan belanjaan”
“Cuma jika kamu tidak percaya pada Mamah ya sudah tidak apa-apa. Yang penting Mamah sudah beritahu padamu untuk berhati-hati dalam memberikan uang belanja pada Suci, takutnya disalah gunakan dan membuat kamu dan Suci malah jadi bertengkar hanya masalah uang”
“Dan satu lagi, Mamah mohon jangan bilang kepada Suci jika Mamah mengadu padamu karena mamah enggak mau di tuduh sebagai perusak rumah tangga anaknya. Ya meskipun Mamah memang sangat menginginkan kamu menikah lagi dan memiliki seorang anak”
Celoteh Mamah Mita yang membuat Dimas hanya bisa terdiam, ia mencoba dan terus mencoba untuk tidak ke makan dengan omongan Mamahnya. Namun di balik pikiran itu, ia juga sangat ingin tahu dan perlu membuktinya sendiri. Apakah benar yang dikatakan Mamah Mita ataukah hanya karangan cerita yang ia rangkai sedemikian rupa.
“Mah... Bisakah Dimas meminta tolong agar Mamah keluar dari sini? Sepertinya Dimas sangat lelah dan membutuhkan istirahat yang cukup. Jadi bisa kan Mamah meninggalkan Dimas di kamar sendiri...” ucap Dimas sambil menatap ke arah depan dengan berbagai pikiran yang seolah-olah membuatnya sangat capek.
Mamah Mita sedikit tersenyum lalu ia mengusap punggung Dimas lalu berkata, “Ya sudah, Mamah ke kamar dulu ya. Kamu bersih-bersih terus istirahat, jika kamu belum makan nanti panggil Bi Tin saja. Mamah enggak mau melihat anak Mamah jatuh sakit dan berbaring lemas. Dimas harus kuat yaa... Mamah akan selalu ada buat Dimas”
Mamah Mita pun berdiri di hadapan Dimas, lalu ia berbalik arah berjalan menuju pintu keluar. Sedangkan Dimas, hanya bisa melirik sekilas. Setelah ia merasa Mamah Mita sudah keluar dari kamarnya Dimas segera mengecek ke dalam lemari dengan tergesa-gesa.
Mamah Mita yang belum benar-benar pergi dari depan kamar Dimas membuat ia tersenyum licik saat mendengar suara gusrak-gusruk dari arah kamar Dimas yang berarti Dimas telah mempercayai omongan Mamah Mita.
Dengan penuh penasaran Mamah Mita membuka pintu kamar Dimas secara perlahan, dan mengintipnya. Benar saja dugaannya tadi, saat ini Dimas terlihat terkejut dengan apa yang ia lihat.
__ADS_1
“Benarkah Suci bisa berbelanja sebanyak ini? Padahal jika bersamaku saja Suci hanya membeli 2 atau 3 setel saja. Namun ini terlihat menumpuk. Bahkan ada tas, baju, sepatu dan lainnya”
“Tapi, tidak! Aku tidak percaya itu semua, siapa tahu Mamah berbohong dan belanjaan itu Mamah yang belikan. Jadi aku harus coba cek rekening Suci”
Dimas buru-buru membuka ponselnya serta mengecek data-data pengeluaran yang Suci gunakan. Dan benar saja, tidak hanya 2 atau 3 toko saja. Mereka bahkan selalu berganti tiap toko untuk membeli barang itu. Apa lagi semua mempunyai merek ternama masing-masing.
Lalu apa yang saat ini membuat Dimas sampai melototkan mata menatap ponselnya? Apakah ada hal yang membuatnya terkejut? Ya memang ada, itu karena Dimas menatap nominal atau jumlah yang harus Suci bayar.
Di sana tertera dengan jumlah total semuanya bisa mencapai Rp. 700.000.000,- bahkan itu melebihi uang bulanan Suci yang Dimas berikan sebesar Rp. 500.000.000,-
Dimas terlihat sangat panik, jika Suci benar-benar bisa belanja dengan nominal yang sangat berlebihan dan juga bisa menghabiskannya dalam sekejap. Sedangkan Mamah Mita yang masih mengintip hanya bisa tersenyum penuh kemenangan, hingga ia memutuskan untuk pergi ke kamarnya dengan perasaan yang begitu senang.
Saat Mamah Mita sudah memasuki kamar, ternyata di dalam sudah ada Papah Angga yang sedang duduk manis menatap laptopnya untuk mengecek beberapa data perusahaan yang telah di kirimkan oleh orang kepercayaannya. Papah Angga merasa heran dengan wajah sang istri yang terlihat begitu bahagia dan senang.
“Papah... Makan siang Papah mau pakai lauk apa? Nanti Mamah masakin khusus untuk Papah hehe...”
“Tumben, ada angin apa Mamah mau masakin Papah? Biasanya juga Suci atau Bi Tin yang masak, bahkan Mamah ke dapur saja akhir-akhir ini jarang sekali” tatap Papah Angga penuh penyelidikan sambil menyipitkan matanya.
“Hehe... Hari ini pokoknya Mamah lagi senang banget karena habis dapat arisan, jadi boleh dong Mamah mau nyenengin Papah. Ayo dong Papah ganteng...” Mamah Mita duduk di samping Papah Angga sambil menunjukkan kemanjaannya yang malah membuat Papah Angga semakin menaruh curiga.
“Sekarang coba Mamah jujur deh, pasti Mamah habis ngerencanain sesuatu kan pada Dimas dan Suci? Tidak mungkin jika Mamah dapat arisan bisa sebahagia ini. Bahkan biasanya jika Mamah dapat arisan langsung berbelanja, namun kali ini berbeda” tegas Papah Angga yang malah membuat wajah Mamah Mita seketika berubah menjadi kesal.
“Ckk!! Papah ini maunya apa sih... Mamah marah-marah salah, Mamah cuek salah, sekarang Mamah mau manja sama Papah juga salah. Terus Mamah harus bagaimana?” betak Mamah Mita sambil berdiri di depan Papah Angga penuh kejengkelan.
“Ya enggak gimana-gimana. Papah cuma curiga saja sama sikap aneh Mamah ini. Seakan-akan seperti ada masalah besar yang terjadi nantinya” jawab Papah Angga dengan cuek.
“Nyenyenye... Terserah. Papah memang enggak asyik, dahlah Mamah mau pergi saja kumpul sama teman-teman” saut Mamah Mita yang langsung bersiap-siap mengganti pakaiannya.
Papah Angga hanya cuek melihat tingkah istrinya yang sudah tidak masuk di akal.
__ADS_1
“Tadi saja manja, sekarang langsung balik marah lagi. Memang sikap Mamah sangat aneh, aku yakin pasti dia sudah bicara yang enggak-enggak sama Dimas untuk merusak hubungan mereka. Lihat saja Mah, jika itu terjadi maka Papah tidak akan tinggal diam...” tegas Papah Angga di dalam hatinya.
Lalu Papah Angga melanjutkan sisa pekerjaannya yang belum selesai. Kemudian Mamah Mita langsung berpamitan dan pergi keluar rumah, namun bagaimana keadaan Dimas saat ini? Ia benar-benar sangat lelah dan pusing.
Di sisi lain dia memikirkan Elsa yang meminta pertanggung jawaban, tapi di sisi lainnya lagi ada Suci yang mulai berubah. Pada akhirnya Dimas yang sudah tidak kuat dengan rasa sakit di kepalanya itu langsung membuat ia merebahkan diri di ranjang dan mencoba untuk memejamkan matanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hello semua pembaca setia kesayanganku... 😊😊😊
Semoga kalian sehat selalu dan terus bahagia semua... 😇😇😇
Terima kasih atas semua dukungan kalian selama ini... 🙏🏻🙏🏻🙏🏻
Mohon terus dukung Author yang masih banyak kekurangan ini 🥺🥺🥺
Sayang kalian banyak banyak para pembaca setiaku ❤️❤️❤️
Kalau begitu sampai jumpa di bab selanjutnya semuanya... 😊😊😊
Jaga diri kalian dan tetaplah tersenyum dan semangat 45, MERDEKA... 💪🏻💪🏻💪🏻
Selamat Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-77 🥳🇮🇩🇮🇩
Happy Independance Day our beloved county, Indonesia... 🥳🇮🇩🇮🇩
I Love You Guys... ♥️♥️🤍🤍
Papaaayyy~~~ 👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻
__ADS_1