
Hingga akhirnya Dimas langsung menancap gas mobilnya pergi ke sebuah BAR berharap di sana bisa menenangkan pikiran akibat semua masalah selalu berhasil membuat kepalanya terasa sangat pusing, dan penat. Mungkin dengan segelas dua gelas minuman bisa sedikit meringankan beban yang saat ini ada di pundaknya.
...*...
...*...
Jenja Club Night
Malam ini Dimas sudah hampir menghabiskan minuman sebanyak 5 gelas, tetapi kesadarannya masih cukup bagus. Bahkan banyak kupu-kupu yang selalu mengelilinginya, tetapi Dimas menolak keras itu semua. Karena tujuan dia hanya untuk menenangkan pikiran bukan memanjakan tubuhnya.
Masalah yang datang secara tubi-tubi mampu membuat hasrat Dimas seketika padam, ia hanya bisa membayangkan betapa bahagianya jika pada saat itu dia tidak terpancing emosi kemungkinan semua ini tidak akan pernah terjadi.
"Suci? Kay? Adalah 2 nama yang benar-benar bisa membuatku gila hanya karena mereka kini aku sudah menyadari semuanya. Dan cuman mereka yang berhasil membuatku sangat-sangat menyesal akibat kebod*dohanku dalam hal memilih pasangan hidup"
"Dulu hidupku terlihat begitu bahagia, tetapi setelah ranjau itu datang maka tanpa aku sadari perlahan demi perlahan membuatku kehilangan semuanya"
"Ta-tapi liat saja kau Arsya, aku akan membuatmu merasakan apa yang aku rasakan karena kau telah merebut semua milikku. Jadi tunggulah waktu itu tiba, maka aku akan merebut apa yang sudah menjadi milikku!"
Dimas bergumam kecil sambil menatap botol minuman dengan kadar alkohol yang tidak terlalu tinggi namun bisa membuatnya oleng jika terlalu banyak meminumnya.
Tangan Dimas mencekram gelas kecil dengan cukup kuat, lalu ia kembali menenggak minuman tersebut untuk kesekian kalinya. Sampai tak sengaja matanya menyorot sedikit ke samping melihat seseorang sedang duduk di kursi yang tak jauh dari Dimas.
"Sepertinya aku mengenali wajah wanita itu, tapi siapa?" Gumam Dimas di dalam hatinya sambil menyipitkan kedua matanya.
Tanpa membuatnya penasaran lagi, Dimas langsung berdiri berjalan dengan perlahan mendekati seorang wanita yang saat ini sedang bercum*bu dengan pria yang usianya hampir seumuran.
Dimas berdiri tepat di samping wanita tersebut dengan kedua tangan mengepal sangat kuat, hingga terdengar gemerutuk rahangnya yang saling beradu dan juga kedua mata mulai membola.
__ADS_1
"Apa yang kalian lakukan di sini, Vina!!" Tegas Dimas, mereka yang mendengar suara bariton tersebut langsung menyudahi cium*annya, lalu segera menatap Dimas dengan tatapan yang sangat terkejut.
"Si-siapa kau, berani sekali mengganggu kami. Jika kau membutuhkan wanita untuk memanjakan tubuhmu maka cari yang lain, karena Vina sudah menjadi milikku!!" Sahut seorang pria bernama Brayen kekasih Vina.
Vina yang melihat kehadiran Dimas di hadapannya membuat Vina langsung terdiam membeku dan seceoat kilat untuk berdiri di hadapan Dimas dengan detak jantung yang berdebar sangat cepat.
"Ba-bang Di-dimas? A-abang nga-ngapain kesini?" Ujar Vina yang suaranya terdengar sangat gugup, dan juga penuh dengan ketakutan.
"Harusnya Abang yang nanya, ngapain malam-malam begini kamu ada di sini hahh!! Apa kamu tidak kasihan dengan Mamah, dia sudah sakit-sakitan yang harusnya kamu itu temenin dia rawat dia bukannya malah keluyuran seperti ini!!"
"Dan apa yang Abang lihat tadi, hahh!! Segampang itu kamu memberikannya tubuhmu kepada pria lain yang belum sah menjadi suamimu. Atau jangan bilang kalau kalian sudah melakukan hal yang sudah melewati batasan!!"
Dimas menahan semua emosi yang benar-benar membuat Dimas ingin sekali menonjok wajah tengil pria yang saat ini tersenyum miring padanya, seolah-olah Bray meremehkan Dimas karena dia telah mendapatkan apa yang seharusnya tidak ia dapatkan.
Sedangkan Vina dia terdiam seribu bahasa karena sudah tidak mampu lagi untuk menjawab semua pertanyaan Dimas, karena apa yang Dimas katakan memang benar adanya. Hanya saja Vina tidak mau mengatakan semua itu karena jika Dimas tahu pasti dia akan marah besar padanya.
"Jawab Abang Vina, jawab!! Kenapa kamu diam saja, hahh!! Kenapaaaa!!!!"
Dimas berteriak dengan sekuat tenaga, apa lagi saat ini Dimas sedang di pengaruhi oleh minuman keras sampai-sampai emosinya semakin tidak terkontrol. Vina yang baru pertama kali melihat kemarahan Dimas awalnya membuatnya hanya bisa menundukkan kepalanya, namun ketika Dimas telah menghinanya Vina langsung menatap tajam ke arah Dimas.
Plaaaakkk!!..
Satu tamparan melambung tinggi dan terhenti tepat di pipi kiri Dimas, yang membuat Dimas menatap Vina dengan tatapan tajamnya.
"Jaga ucapanmu Bang!! Sudah cukup Abang menghinaku seperti ini, Abang sendiri pun bukan orang yang suci untuk bisa mengatakan hal seperti itu padaku!"
"Lihatlah diri Abang sendiri, bahkan Abang enggak jauh lebih baik dari diriku. Aku memang melakukan semuanya dengan kekasihku tapi dengan DIA. Bukan sepertimu yang sudah memiliki istri taoi masih menjelajahi tubuhmu secara geratis kepada wanita lain yang mana wanita itu adalah sahabat dari istrimu sendiri! Cihhhh.."
__ADS_1
"Jadi stop belajar sok suci di depanku, lebih baik Abang pikirkan saja nasib Abang sendiri mau bagaimana kedepannya. Ayo Bray kita pergi, aku sudah muak dengan semua ini!!"
Ucapan Vina mampu membuat Dimas terdiam sejenak menahan semua itu, yang pada akhirnya saat Vina ingin menarik tangan Brayen tiba-tiba saja Dimas langsung memukuli Brayen dengan sangat gila hingga membuat Brayen tidak bisa menghindari semua pukulan yang Dimas berikan padanya.
Vina hanya bisa berteriak dan mencoba untuk memisahkan Dimas tetapi nihil, kekuatan Dimas benar-benar sangat keras hingga akhirnya Dimas menyudahi semuanya dan segera menarik Vina untuk pulang bersamanya.
Vina memberontak sekeras mungkin bahkan sampai menggigit tangan Dimas, namun tidak membuat Dimas melepaskan genggamannya yang mana Brayen merasa sangat kesal dan terbesit di dalam pikiran Brayen untuk menghancurkan Dimas melalui adiknya, dimana Brayen memang sangat mencintai Vina hanya saja dia tidak terima dengan semua ini.
Sesampainya di rumah, lagi dan lagi Dimas berdebat sama Vina sampai kedua suara mereka mampu membuat ke isi rumah mendengar keributan yang sangat keras, Mamah Mita yang mendengar itu semua hanya bisa meneteskan air matanya karena dia sudah tidak bisa memisahkan kedua anaknya.
"Hiks.. ma-maafkan Mamah Vina, karena Mamah selalu memanjakanmu hingga akhirnya kamu tumbuh menjadi wanita seperti ini. Dan untukmu Dimas maafkan semua kesalahan Mamah, karena Mamah hidupmu menjadi telah hancur. Mamah memang pantas mendapatkan semua ini, tetapi Mamah sangat sedih melihat kalian selalu saja berantem seperti ini. Sekali lagi maafkan Mamah karena telah salah dalam mendidik kalian hiks.."
Mamah Mita berbicara di dalam hatinya yang begitu sesak hingga air matanya terus mengalir tanpa henti, bahkan perawat pun melihat kondisi Mamah Mita sampai ikut menangis.
...*...
...*...
Tepat di usia kehamilan Suci yang sudah memasuki 5 bulan, kini waktunya Suci untuk memeriksakan kandungannya bersama dengan Arsya. Namun kali ini Kay tidak itu karena dia sedang ada kegiatan di sekolahnya. Jadi hanya Arsya yang bisa menemani Suci untuk mengecek keadaan anak mereka.
Di rumah sakit Kasih Sayang Ibu
Suci dan Arsya baru saja sampai, lalu mereka segera menemui dokter tanpa harus mengantri lagi karena mereka sudah memiliki jadwal tersendiri untuk menemui dokter khusus yang selama ini menangani kehamilan Suci.
"Bagaimana, Dok kabar anak saya?" Tanya Arsya dengan antusias melihat rekaman USC yang hanya terlihat bayangan-bayangan kesemutan.
Dokter hanya terdiam menatap layar monitor sambil menggerakan alat yang ada di perut Suci, bahkan beberapa kali dokter itu memberikan gel yang cukup banyak tidak seperti biasanya. Sehingga Suci yang melihat reaksi dokter pun sedikit bingung penuh kekhawatiran.
__ADS_1
"Dok, ada apa ini? Anak saya baik-baik saja kan? Karena saya lihat dari tadi dokter hanya menatap layar monitor dengan sangat serius, belum lagi tidak biasanya dokter memberikan gel sebanyak ini" Ucap Suci dengan perasaan cemas.
Arsya yang melihat Suci cemas pun menjadi ikut tegang, dimana sang dokter tetap fokus melihat layar monitor tanpa mau memberitahukan kepada mereka. Sampai seketika sang dokter pun menatap Arsya dan juga Suci secara bergantian dalam keadaan tersenyum penuh arti. Dimana malah membuat mereka semakin bingung.