Keikhlasan Hati Seorang Istri

Keikhlasan Hati Seorang Istri
I Love You, My Husband


__ADS_3

Dimas pun langsung membawa Suci ke kamar mereka untuk bersiap-siap. Suci hanya bisa menuruti perintah dari Dimas, karena ia juga sepertinya memang sangat butuh waktu untuk menenangkan pikirannya yang saat ini benar-benar sangat pusing.


Di dalam kamar saat ingin berangkat, lagi-lagi Suci membuat mood Dimas berantakan karena di saat Dimas ingin mengajaknya reflesing. Namun, Suci malah sempat-sempatnya memikirkan Mamah Mita dan Vita begitu juga dengan Papah Angga.


Suci merasa khawatir jika nanti dia tidak ada di rumah, lalu siapa yang akan membuatkan makanan serta membereskan rumah. Sedangkan Mamah Mita sudah semakin tua yang tidak mungkin membersihkan rumah sebesar itu seorang diri.


Tapi, Dimas selalu membantah itu. Apa lagi pembantu di rumah ini ada 2 orang, ada yang masih muda untuk membantu bersih-bersih. Dan ada pula yang sudah cukup berumur untuk membantu Suci memasak serta urusan lainnya.


“Ya sudah kalau kamu mau tetap di sini, silakan. Mas pergi, tapi ingat... Mas tidak akan pulang untuk 3 hari ke depan. Mas lebih baik menginap di kantor dari pada di rumah yang tiap hati mendengar kata-kata tidak enak dari Mamah untuk kamu. Di sini Mas hanya ingin mengajakmu liburan bukan untuk pindah rumah, tapi ya sudah terserah kamu saja. Mas sudah sangat pusing!” ucap Dimas dengan nada kesalnya yang terlihat jelas di wajahnya.


Suci baru kali ini melihat kemarahan dari Dimas padanya, ia pun merasa sangat takut. Jadi tanpa harus berdebat lagi, Suci pun membereskan beberapa pakainya untuk mereka bawa nanti. Namun Dimas melarangnya, yang mana lebih baik mereka beli di luar, supaya tidak membuat sang Mamah curiga.


Suci hanya bisa menuruti apa pun yang di ucapkan oleh Dimas, karena Suci tahu jika saat ini mood Dimas benar-benar sangat hancur. Lalu, saat Dimas telah selesai bersiap-siap dan suci pun sudah rapi dengan baju gamisnya serta sedikit polesan untuk mempercantik dirinya, mereka segera berangkat dengan alasan ingin ke kantor.


Padahal di balik itu semua mereka berniat untuk berlibur beberapa hari, sedangkan Papah Angga yang tahu semua itu pun hanya bisa terdiam karena ia tidak mau merusak momen Dimas dan Suci. Apa lagi mereka berdua sangat butuh waktu untuk bersenang-senang menghabiskan waktu bersama tanpa adanya gangguan dari Vina atau pun Mamah Mita.


...*...


...*...


Selama di perjalanan menuju kantor, Dimas selalu terdiam yang membuat Suci ikut terdiam. Namun, Suci tidak tahan saat melihat wajah Dimas yang sangat kaku. Suci tahu, jika saat ini Dimas masih marah kepadanya karena Suci tadi berencana untuk membatalkan liburan mendadak mereka. Dari situlah Suci berusaha menarik nafasnya dengan panjang, lalu ia bergelayut di tangan Dimas yang sedang menyetir.


“Mas Dimas masih marah ya sama Suci..." ucap Suci dengan wajah yang dibuat sedih.


“Hem...” jawab Dimas yang hanya berdehem.


“Maaf ya, Mas kalau Suci hari ini membuat Mas merasa kesal dan marah. Mas mau kan maafin Suci?” tanya Suci sambil mendongak menatap wajah Dimas yang masih datar.


“Hem...” jawab Dimas yang kembali hanya mendehem.


“Ya, ternyata masih ngambek toh. Hem... Kira-kira apa ya yang buat Mas Dimas kembali tersenyum ?” ucap Suci di dalam hatinya sambil memikirkan sebuah ide.

__ADS_1


Dimas yang masih terdiam tanpa berbicara satu kata pun membuat Suci semakin bingung, apa lagi Suci bukan tipe orang yang bisa merayu suaminya. Namun, ia harus bisa membuat Dimas kembali tersenyum bagaimana pun caranya.


Dan tak lama terlintas sebuah ide yang sangat membuat Suci merasa senyum-senyum sendiri. Dimas yang sedikit melihat dari sudut matanya membuat ia penasaran sambil berkata di dalam hatinya “Kenapa dia senyum-senyum seperti itu? Apa yang saat ini sedang dia pikiran ?”


Suci pun menatap Dimas dengan senyuman penuh arti.


“Kenapa mukanya seperti itu? Kesambet?” saut Dimas dengan nada cueknya yang masih menatap lurus ke depan.


Terlihat jelas di wajah Dimas kalau ia benar-benar seperti sedang kesal kepada Suci, sehingga Suci memberanikan diri untuk duduk menyerong menghadap Dimas.


“Loh, Mas. Itu bibirmu kenapa kok kaya ada merah-merahnya gitu?” celetuk Suci dengan wajah yang di buat cemas.


Dimas yang mendengar semua itu pun langsung meminggirkan mobilnya sejenak dan langsung mengaca di spion atas.


“Mana? Enggak ada tuh. Kamu jangan bohong ya, dosa tahu bohongin suami. Dahlah, aku masih kesel sama kamu jadi jangan ganggu aku lagi nyetir” saut Dimas dengan cuek.


“Ngapain Suci bohong, Mas. Itu beneran loh ada merah-merah, bibir Mas kenapa?” tanya Suci yang semakin membuat Dimas takut.


“Coba sini Suci lihat” ucap Suci.


Dimas pun langsung menghadap ke Suci untuk memastikan jika bibirnya baik-baik saja tidak seperti yang Suci katakan tadi. Lalu kedua tangan Suci langsung memegang rahang Dimas, dan tanpa aba-aba Suci mencium bibir Dimas sangat lembut. Dan ia pun sedikit **********. Kemudian, Suci membisikkan sesuatu di telinga Dimas.


“I Love You, My Husband” ucap Suci dengan sangat lirih sambil menggigit kecil telinga Dimas.


Dimas yang tersontak kaget hanya bisa terdiam seperti patung, dan tak lama ia tersenyum sangat lebar karena baru kali ini Suci melakukan hal seromantis ini kepada Dimas.


“Hem... Mulai nakal ya sekarang kamu, Dek.” ucap Dimas dengan senyumannya.


“Hehe... Piss, Mas. Habisnya Suci bingung bagaimana caranya untuk membuat Mas bisa tersenyum lagi. Jadi, Suci ingat saat Mas melakukan ini ketika Suci sedang ngambek hehe... Ya sudah Suci coba praktikkan saja, hal hasil berhasil kan yey...” ucap Suci dengan sangat senang serta bersorak yang membuat Dimas semakin tertawa.


“Haha... Dasar, kamu tuh ada saja tingkahnya yang buat Mas jadi tambah kelepek-kelepek kaya gini” jawab Dimas sambil mengusap lembut kepala Suci.

__ADS_1


“Hehe... Ya dong, apa sih yang enggak untuk suamiku tercinta ini. Apa pun akan Suci lakukan asalkan Mas Dimas selalu tersenyum seperti ini” saut Suci sambil memeluk Dimas.


“Uluhh... Uluhh... cayangkuh, terima kasih sudah selalu bersamaku suka mau pun duka. Aku benar-benar sangat bahagia dan beruntung sekali saat Allah kirimkan bidadari surga sepertimu. Sekali lagi terima kasih sayang, I love you so much” ucap Dimas yang langsung membalas pelukan Suci sangat erat sambil menciumi seluruh wajah Suci dengan gemas.


“Haha... Aduh, Mas. Ish... Sudah akhh, ayo teruskan jalannya biar cepat sampai kantor. Ini sudah jam berapa loh, nanti ke siangan” ucap Suci yang langsung melepaskan pelukannya dan sedikit merapikan hijabnya yang berantakan.


“Siap istriku, let’s go... Ayo kita berangkat... Bismillahhirahmannirahim” ucap Dimas yang kembali melajukan mobilnya dengan penuh semangat.


“Bismillah, nah... Gitu dong sambil tersenyum kan enak di lihatnya. Dari pada tadi mukanya sudah kaya baju belum di setrika hehe...” saut Suci.


“Hehe... Kan tadi sudah di kasih vitamin, jadi harus tambah semangat dong. Lagian juga, aku tuh enggak bisa marah lama-lama sama kamu Dek, berasa kaya ada yang hilang gitu” ucap Dimas.


“Hem... Mulai deh, sudah akhh... Mas fokus menyetir saja biar kita cepat sampai kantor” jawab Suci.


“Hehe... Oke siap komandan cantik” ucap Dimas yang membuat Suci merasa malu.


Akhirnya mereka tertawa bersama.Tak lama mereka sampai di kantor Dimas. Kedua satpam menyambut Dimas dan Suci sambil membukakan pintu untuk mereka. Lalu, Dimas keluar sambil sedikit membenarkan jasnya dan berjalan gagah untuk menjemput Suci.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sampai disini dulu ya cerita untuk hari ini semuanya... 😁😁😁


Mohon dukung Author yang masih banyak kekurangan ini 😗😗😗


Jangan lupa jaga diri kalian dan sampai jumpa lagi... 🤗🤗🤗


Terima kasih juga untuk yang sudah mendukung Author 🙏🏻🙏🏻🙏🏻


Dukungan kalian sangat berarti besar untuk Author selama ini 🥰🥰🥰


Sayang kalian semuanya... ❤️❤️❤️

__ADS_1


Papaaayyy~~~ 👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻


__ADS_2