
Ara dan Kay berkuliah di satu Universitas dengan jurusan yang berbeda, Kay mengambil jurusan perbisnisan sedangkan Ara mengambil jurusan sekretaris agar dia bisa selalu berada di samping Kay. Apa pun yang terjadi ke depannya Ara hanya bisa memanjatkan doa supaya mereka selalu bersama, dan tak henti-hentinya Ara menyelipkan doa agar Kay bisa menjadi jodohnya.
...*...
...*...
5 tahun berlalu, tepat di usia Key 25 tahun dia sudah menyelesaikan gelar S2 dan waktunya Key untuk kembali ke Indonesia melepas rindu bersama dengan semua keluarganya.
Namun ada seseorang yang masih harus terpaksa meneruskan pendidikannya selama 1 tahun lagi agar dia bisa mendapatkan gelarnya. Siapa lagi jika bukan Ara, si gadis manja dan selalu menggemaskan.
"Huhhh.. Appa memangnya Ara enggak bisa ya, pulang bareng Bang Kay? Kan Ara udah dapet gelar S1 loh?" tanya Ara sambil menatap Dion yang saat ini mereka sedang ada di kamar Apartemen Ara karena besok pagi adalah hari kepulangan Kay ke Indonesia.
"Ya bisa-bisa saja, tapi kan sayang. 1 tahun lagi kamu bisa dapat gelar S2 loh, masa kamu mau menyia-nyiakan itu. Tenang saja, Appa akan jaga jodohmu biar enggak diambil orang" ucap Dion sambil mengusap pelan kepala Ara yang saat ini memeluknya begitu erat.
Dion dan Ara sedang duduk di sofa sambil menonton film drama, tapi Ara malah sedih ketika mengingat besok dia akan menjalani kehidupannya sendiri di negeri orang tanpa adanya Kay di sisinya.
Ara melepaskan pelukan Dion lalu menatapnya dengan mata yang sudah berlinang sambil berkata. "Appa beneran akan jagain Bang Kay buat Ara? Tapi kalau Bang Kay sampai menemukan dambaan hatinya lalu menikah dengan wanita itu? Terus nasib Ara bagaimana?"
Dion yang memang gemas melihat Ara begitu mencintai Kay membuat dia tersenyum sambil mencolek hidung anaknya.
"Jika semua itu terjadi, itu artinya kalian tidak berjodoh. Mau tidak mau, Ara harus belajar mengikhlasakan takdir. Kalau suatu saat nanti kalian tidak berjodoh, Ara tidak boleh putus asa dengan apa yang sudah Allah takdirkan"
"Mungkin Ara bisa berandai-andai kalau Ara akan menikah dan berjodoh dengan Bang Kay, cuman jika takdir yang di tulis jodoh Ara bukan Bang Kay bagaimana? Kan Ara tahu kematian, kehidupan, jodoh, rezeki itu semua tidak bisa dirubah karena sudah tertulis sebelum kita di lahirkan"
Dion menasehati Ara yang membuat Ara tersenyum menganggukkan kepalanya dan kembali memeluk Appa-nya, sedangkan Dion cuman bisa tersenyum mengelus kepada Ara.
"Sekarang waktunya Ara semangat buat menuntut ilmu, bikin Amma di rumah bangga kalau anak yang selama ini di anggap nakal bisa menjadi wanita hebat. Masalah jodoh Ara tenang saja, jika Ara berjodoh dengan Bang Kay insyaAllah suatu saat nanti mau sebesar apa pun rintangan kalian akan tetap bersatu" jawab Dion.
"Terima kasih, Appa karena Appa sudah buat Ara mengerti bahwa kita berharap dengan sesuatu itu boleh cuman semua kembali lagi dengan takdir Ilahi. Jika berpihak Alhamdulillah, jika tidak ya kita harus ikhlas"
Dion mengecup kening Ara sambil mengusap air matanya. Lalu mereka kembali menonton film sambil sesekali menyemil dengan perasaan Ara yang sudah semakin tenang.
__ADS_1
Tak lama hari sudah semakin larut, jadi mereka segera beristirahat karena Dion besok akan melakukan perjalan jauh kembali ke Indonesia bersama dengan Kay. Sedangkan Ara dia kembali meneruskan kuliahnya agar bisa segera pulang bertemu dengan yang lain.
...*...
...*...
Keesokan harinya Key dan Dion sudah berpamitan kepada Ara lantaran Ara tidak bisa menemani mereka ke bandara karena Ara tiba-tiba ada kelas di jam 10 pagi.
Dengan berat hati Ara mulai mengikhlaskan semuanya apa yang akan terjadi ke depannya setelah dia pulang ke Indonesia sesuai dengan nasehat Dion.
Kay dan Dion langsung pergi ke bandara untuk segera kembali ke tanah kelahiran mereka bertemu dengan semua keluarganya.
Lalu Ara bergegas pergi ke Universitas mengikuti pelajaran seperti biasanya, meski tak ada semangat tetapi Ara harus bisa membuat Dion sama Lisa bangga kalau anaknya bisa menjadi wanita berpendidikan.
...*...
...*...
Namun, karena Dion tidak bisa membayar hutang tersebut membuat dia harus menjodohkan Ara dengan anak rentenir.
[Ara hiks.. To-tolongin Amma dan Appa hiks..] ucap Lisa dari sambungan teleponnya.
[Ada apa Amma? Kalian kenapa? Kalian baik-baik aja kan, terus bagaimana? Apa Appa bisa mendapat minjeman dari Daddy Arsya sama Mommy Suci?] sahut Ara dengan segala kepanikannya ketika mendengar Lisa menangis seperti itu.
[Hiks.. Appa lagi sakit Ara, Appa drop karena dia kepikiran dengan hutangnya. Jika Appa tidak membayar hutangnya itu maka Appa hanya di berikan 2 pilihan, sedangkan Daddy Arsya tidak bisa menolong Appa karena hutangnya semakin hari semakin bertambah. Kamu tahu kan bagaimana liciknya rentenir]
[Ini semua gara-gara Appamu yang bo*doh itu, bisa-bisanya dia tertipu investasi bodong dan malah membayar hutangnya ke Bank dengan meminjam uang rentenir. Kalau bukan karena Appamu mungkin kita tidak akan hidup seperti ini hiks..]
Lisa mengumpati suaminya sampai membuat Ara sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi, lalu dia sedikit membentak Lisa karena telah menyalahkan semuanya kepada Dion.
[Cukup Amma, cukup! Jangan salahkan Daddy atas semua kejadian ini. Semua ini musibah, harusnya Amma bisa menguatkan Appa agar Appa bisa kembali sehat bukan malah menyalahkan semuanya pada Appa!]
__ADS_1
[Memangnya 2 pilihan apa yang di berikan rentenir itu Amma, kasih tau Ara sekarang biar kita bisa cari solusinya buat Appa hiks.. Ka-kasihan Appa, Amma kasihan Appa hiks..]
Ara menangis dengan semua ketidak berdayaannya lantaran di saat seperti ini dia tidak ada di samping kedua orang tuanya, harusnya dia ada bersama Lisa agar bisa membuat Dion kembali bersemangat menghadapi semua ujian ini.
Cuman, entahlah Ara sudah tidak tahu harus bagaimana lagi. Bahkan Kay pun sudah jarang menghubunginya karena dia sibuk membantu Arsya mengurus perusahaannya.
[Jawab Amma, jawab!!] tegas Ara dengan sangat penasaran.
[Di-dia minta kalau Appa-mu tidak bisa melunaskan hutangnya dalam waktu 5 bulan maka Appa akan di penjara, atau jika tidak mau di penjara maka Appa harus menjodohkan Ara dengan anaknya tepat di saat Ara sudah pulang dari Swiss kalian akan melangsungkan pernikahan hiks..]
Degh..
Degh..
Degh..
Ara terjatuh lemas duduk di atas kasur dalam keadaan pandangan kosong, dimana Ara mengharapkan bahwa jodohnya adalah Kay. Tetapi semuanya pupus setelah mendengar perjodohan ini, cuman Ara tidak mau jika Dion harus masuk masuk ke dalam penjara.
[Hiks.. Amma mohon kamu jangan nerima perjodohan itu, biarin saja Appa-mu di penjara biar tahu rasa dia. Karena dia kita hidup diambang ancaman rentenir gila itu! Kalau Appa-mu nanti menelponmu untuk memintamu menyetujui semua ini, Amma mohon jangan kamu setujui semua itu. Paham!]
[Tidak Amma, tidak! Semua ini bukan salah Appa, tapi ini takdir. Ara tidak mau sampai Appa di penjara, jadi Ara akan terima semua perjodohan itu yang penting Appa sehat dan bisa bersama kita. Ara ikhlas karena Ara enggak bisa jauh dari kalian hiks..]
[Tapi Ara, kamu enggak bisa se-...]
Tutt.. Tutt.. Tutt..
Ara mematikan sambungan telepon dari Lisa secara sepihak, kemudian Ara tengkurep menangisi takdirnya yang pahit ini dengan sesegukan. Ara memukul-mukul ranjang dan sesekali melirik ponselnya yang terus berdering, karena Lisa kembali menghubunginya berkali-kali.
Ara tidak mau mengangkatnya bukan karena dia kecewa dengan semua ini, tapi lebih teoatnya Ara tidak mau kembali mendengar Lisa yang selalu saja menyarahkan Dion.
Mungkin mulai sekarang Ara harus segera menyelesakan kuliahnya dan kembali ke Indonesia untuk melakukan sebuah pernikahan yang tidak pernah terbayangkan bahwa Ara harus menikah dengan cara seperti ini.
__ADS_1