Keikhlasan Hati Seorang Istri

Keikhlasan Hati Seorang Istri
Aku Harus Bertanggungjawab


__ADS_3

Suci tersenyum menatap kemesraan Bunda Reni dan Ayah Al, sampai membuat matanya sedikit berkaca-kaca. Lalu Bunda Reni menyuruh Suci untuk makan bersama mereka. Setelah semuanya selesai, Suci bergegas untuk pamit pulang karena masih banyak urusan yang harus ia kerjakan.


Di sini Suci belum menceritakan perselingkuhan Dimas dengan Elsa, ia tidak mau melibatkan siapa pun di dalam masalahnya. Ia mau berusaha menghadapinya seorang diri, karena Suci ingin mencari siapa jati dirinya yang sebenarnya.


Apakah ia sanggup untuk melawannya? Ataukah ia akan tetap menerima semua hal buruk mengenai hidupnya. Akhirnya Suci pulang diantarkan oleh sopir yang biasa mengantarkannya, sedangkan Bunda Reni dan juga Ayah Al mereka meluangkan waktu bersama untuk pergi ke taman rumahnya agar bisa menikmati waktu yang bertahun-tahun ia lewatkan seorang diri.


Kini saatnya mereka kembali mengenang masa-masa indah mereka. Apa lagi umur mereka yang tidak semuda dulu, jadi bagaimana pun mereka harus tetap menjaga keharmonisan rumah tangganya. Meskipun Ayah Al bertahun-tahun telah meninggalkan keluarganya, tetapi Bunda Reni tak sedikit pun mencurigai apa saja hal yang dilakukan suaminya setiap hari.


Bunda Renu sangat mempercayai semuanya kepada Ayah Al sepenuh hatinya, sehingga Ayah Al menjaga ketat kepercayaan yang telah di berikan istrinya agar tidak sampai melukainya karena mereka tahu. Jika sudah tidak ada lagi kepercayaan di dalam rumah tangga, maka perlahan demi perlahan kisah cinta mereka akan memudar dan menjadi sebuah perpisahan yang begitu menyakitkan kedua pihak.


Di kamar Arsya, seseorang telah mengetuk pintu dari luar yang membuat Arsya sedikit terganggu.


Tokk... Tokk... Tok...


Arsya yang tertidur pun seketika terbangun, “Ckkk! Siapa sih yang mengganggu tidurku, jangan bilang kalau itu adalah wanita aneh”


Tokk... Tokk... Tokk...


“Masukk!!” saut Arsya dengan wajah kesalnya, lalu ia bangun dan duduk di tepi ranjangnya dan pintu pun terbuka dengan sangat lebar.


“Ckk! Mau ngapain lagi sih, bukannya pulang sana urusin tuh suaminya. Ngapain ngurusin pria lain, kan saya yang bukan siapa-siapa. Jadi enggak usah cari perhatian deh” ucap Arsya sambil mengucek kedua matanya dengan suara kesalnya.


Seorang wanita berdiri tepat di depan Arsya dengan membawakan nampan yang berisikan sarapan pagi untuknya, namun ia malah di kejutkan dengan ucapan Arsya yang seolah-olah ia paham maksud ucapan Arsya.


“Maaf, Tuan Arsya. Ini saya Bi Atun, dan suami saya kan sudah meninggal dunia. Lalu saya harus mengurus suami yang mana lagi tooh saja janda tua hehe...” ucap Bi Atun sambil tertawa.


Arsya yang mendengar itu seketika langsung menatap wajah Bi Atun dengan tatapan terkejut, “Bi-bi Atun?”


“Iya Tuan, ini Bi Atun memangnya siapa lagi yang mau membawakan makanan untuk Tuan. Nyonya dan Tuan besar lagi pergi ke taman, lalu Tuan mengharapkan siapa yang datang?” tanya Bi Atun dengan wajah penasaran, padahal Bi Atun sudah tahu jawabnnya.


Arsya dibuat salah tingkah, hingga membuat wajahnya kembali memerah.


“E... i-itu... a-anu... e... Dahlah, taruh situ saja Bi. Saya mau mandi dulu” jawab Arsya yang langsung mengibrit ke kamar mandi, dan membuat Bi Atun tertawa.


“Haha... Tuan Arsya, Tuan Arsya. Kenapa dia terlihat sangat menggemaskan jika salah tingkah seperti ini. Pasti dia tadi mengira jika yang datang adalah Non Suci, namun pada kenyataannya malah kembarannya yang datang hihi...” gumam Bi Atun sambil menaruh makanan di meja dekat sofa.

__ADS_1


Kemudian Bi Atun berjalan keluar kamar untuk mengerjakan yang lainnya. Di dalam kamar mandi, Arsya menggerutui kebod*dohannya sendiri karena ia mengira jika Suci yang datang.


“Arrrghhh... Si*al!! Kenapa aku selalu keingat wanita aneh itu mulu sih, ada masalah apa sih dengan pikiranku ini. Jangan-jangan dia memakai pelet ajian untuk memeletku? Huaaa... Ridak, tidak! Pokoknya aku harus jaga jarak darinya, titik!!”


Arsya langsung menyiram tubuhnya dengan pancuran shower agar membuat tubuhnya kembali segar dan pikirannya pun ikutan normal.


...*...


...*...


Beberapa hari kemudian...


Elsa sudah di bolehkan pulang dari rumah sakit dengan keadaan mulai membaik, kemudian ia di bawa oleh Dimas untuk bertemu dengan kedua orang tuanya. Sedangkan Suci, ia tidak tahu harus berbuat apa lagi.


Di satu sisi ia merasa jika dirinya tidak bisa melepaskan Dimas begitu saja dengan wanita jahat seperti Elsa, namun di sisi lainnya Suci juga tidak bisa melarang Dimas menikahi Elsa. Apa lagi, di dalam perutnya ada seorang bayi yang menginginkan sebuah kehidupan bahagia bersama kedua orang tuanya.


Di dalam mobil Dimas


“Mas, apakah ini serius jika Mas mau menikahiku? Lalu bagaimana dengan Mbak Suci dan juga keluargamu? Apakah mereka setuju?” ucap Elsa dengan wajah polosnya sambil melirik Dimas.


“Terima kasih sayang, I love you...” saut Elsa sambil merangkul tangan kiri Dimas.


“I love you to, Sa...”jawab Dimas sambil tersenyum.


Jarak dari rumah sakit menuju rumah kediaman keluarga Dimas hanya memerlukan waktu 35 menit. Kini mereka sudah sampai di depan rumah Dimas. Kemudian Dimas membukakan pintu mobil untuk Elsa dan menggandengnya dengan perlahan. Di sini terlihat jelas jika Dimas benar-benar menjaga Elsa.


“Bang, lihat deh itu. Bukannya itu Tuan Dimas? Kenapa dia menggandeng wanita lain, bahkan mereka terlihat sangat romantis. Apa jangan-jangan ini pertanda tidak baik untuk Non Suci?” ucap Satpam 1 dengan wajah cemasnya.


“Aku juga berpikir seperti itu, tapi ya sudahlah. Itu kan urusan mereka semua, kita sebagai pekerja lebih baik fokus saja sama pekerjaan dari pada di pecatkan. Lagian juga jaman sekarang mencari pekerjaan itu susah banget. Jadi, jangan sampai kita sia-siakan” jawab satpam 2 yang kembali menutup gerbang bersama satpam 1 yang hanya bisa menganggukkan kepalanya.


Dimas dan Elsa memasuki rumah dan berjalan beriringan menuju ruang keluarga.


“Dimana suamimu, Suci? Kenapa lama sekali menjemput calon mantuku” ucap Mamah Mita dengan wajah tidak sabaran.


“Mah, cukup ya! Di sini ada Suci, jadi jaga bicara Mamah. Jangan sampai ucapan Mamah melukai hatinya kembali, lihatlah anak kesayanganmu itu. Dia dengan mudahnya ingin menikahi wanita lain tanpa memikirkan hati istrinya. Bagaimana jika semua itu di balik? Kalau Papah yang menjadi Dimas, apa yang akan Mamah rasakan?” saut Papah Angga yang sudah sangat emosi dengan tingkah istri dan juga anaknya.

__ADS_1


“Ngomong apaan sih Papah ini, mana mungkin Papah memiliki istri lagi toh Mamah sudah memberikan 2 anak sepasang pula, sedangkan Suci? Dia tidak bisa memberikan keturunan untuk keluarga kita. Jadi wajar saja Dimas menikah lagi toh hukumnya sah-sah saja jika suami berpoligami” jawab Mamah Mita dengan percaya diri.


“Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Juka sifat Mamah selalu seperti ini, Papah juga bisa muak dan mencari wanita lain yang lebih memiliki HATI, bukan BATU seperti dirimu!” tegas Papah Angga.


“Apa!? Jadi hanya karena Papah ingin membela Suci, sampai-sampai Papah mau menikah lagi, begitu?” pekik Mamah Mita sambil berdiri penuh emosi.


“Ya kenapa? Apa masalahnya denganmu. Bukankah kamu yang bilang jika seorang pria boleh melakukan poligami? Lalu kenapa sekarang kamu marah?” jawab Papah Angga dengan datar sambil berdiri tepat di depan Mamah Mita.


Sedangkan Suci pun ikut berdiri menyaksikan mertuanya yang seperti sedang merebutkan dirinya.


“Jika Papah berani menikah lagi, awas saja! Akan aku buat perhitungan kepada wanita itu. Bahkan aku bisa membunuhnya dengan kedua tanganku sendiri, paham!!” bentak Mamah Mita.


“Silahkan toh jika kau membunuhnya yang rugi dirimu, bukan aku!! Jika dia meninggal, kamu masuk penjara dan aku akan dengan bebas hidup bersama wanita yang benar-benar memiliki ketulusan hati bukan seperti dirimu yang sama sekali tidak memiliki hati” tegas Papah Angga sambil sedikit mengencangkan suaranya.


Dimas dan Elsa yang mendengar suara keributan itu langsung saja segera menuju ruangan keluarga.


“Pah, Mah. Sudah hentikan keributan ini, tidak baik jika sampai kedengaran orang rumah atau pun tetangga yang lain. Papah juga kan jantungnya tidak begitu sehat, jadi Papah enggak boleh marah-marah. Mendingan Papah duduk dulu ya, Suci ambilkan air putih” ucap Suci sambil memegang tangan Papah Angga dan membawanya untuk kembali duduk.


Namun saat Suci sedang membantu menenangkan Papah Angga, kini ia malah di dorong sangat keras oleh Mamah Mita sehingga membuatnya tersungkur ke lantai.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sampai sini dulu bab untuk hari ini ya semuanya... 🤗🤗🤗


Mohon terus dukung Author yang masih banyak kekurangan ini 🥺🥺🙏🏻


Dan teruslah beri komen dan ulasan gregetan imut kalian haha... 😁😁😁


Author juga ingin memberikan kalian rekomendasi novel lagi neh... 🤭🤭🤭


Silahkan dijelajah dan jangan lupa tinggalkan jejak kalian 😆😆😆


...*...


__ADS_1



__ADS_2