
Arsya yang mendengar penjelasan Vina serta Brayen membuat tangannya mengepal, namun Suci yang mulai menyadari kemarahan didalam diri Arsya membuat ia langsung mencoba untuk menggenggamnya secara perlahan.
Arsya menoleh dengan tatapan sedikit menajam, tetapi Suci hanya tersenyum sambil memejamkan kedua matanya sekilas. Sehingga Arsya kembali sedikit tenang.
"Permisi Tuan Nyonya, waktu kalian sudah habis" Ucap polisi yang berjaga di sana membuat semuanya menoleh.
Vina dan Brayen hanya bisa meneteskan air matanya berkali-kali meminta maaf pada Arsya karena kelalaiannya membuat Arsya kehilangan orang yang ia dambakan, tetapi bagi Arsya tidak masalah mungkin memang itu sudah garis takdirnya.
Setidaknya Arsya sudah bisa membongkar dalang dibalik kejadian tersebut supaya arwah mendiang mantan tunangannya tenang, Vina dan Brayen pun kembali ke selnya dengan sedikit tersenyum berterima kasih karena Arsya sudah mau memaafkannya. Walaupun berat tetapi hasil yang Arsya dapatkan saat ini membuat dirinya tidak lagi terbayang akan masa lalunya.
Waktunya sekarang Arsya dan Suci hidup dengan damai tanpa adanya pengganggu yang akan mengusik kebahagiaan keluarga kecil mereka. Satu persatu semua telah terungkap menerima hasil dari perbuatannya, lalu mereka pergi meninggalkan kantor polisi untuk kembali ke rumah dan bermain bersama ke-4 anaknya.
...*...
...*...
1 bulan berlalu, hari ini adalah hari dimana sidang Vina dan Brayen akan di lakukan. Semua orang menghadiri persidangan kecuali Bunda Reni sama Ayah Al karena dia lebih baik di rumah untuk menemani bermain ke-4 cucunya yang selalu membuatnya terhibur.
Selama sidang berlangsung keadaan ruangan benar-benar sunyi, Vina dan Brayen menjawab semua pertanyaan murni kejujuran sehingga mereka tidak membuat sidang berbelit-belit.
Mereka di jatuhkan hukuman dengan pasal 310 ayat 4 berbunyi :
...Dalam hal kecelakaan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) yang mengakibatkan orang lain meninggal dunia, dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan/atau denda paling banyak Rp12.000.000,00 (dua belas juta rupiah)....
Namun karena mereka bersikap tenang dan mengikuti semua prosedur, hakim memberikan sedikit keringannya hingga mereka hanya menerima hukuman 5 tahun di penjara. Rasa syukur menyelimuti diri Brayen dan juga Vina, meskipun 5 tahun adalah waktu yang lama setidaknya mereka akan masih bisa melihat sang anak tumbuh menjadi dewasa.
Sebelum Vina dan Brayen di pindahkan ke rutan, dia meminta izin pada polisi yang berjaga untuk berpamitan ke semuanya, mereka cuman hanya bisa memberikan dukungan pada mereka tanpa memiliki rasa dendam.
Arsya yang awalnya sangat ingin membalas perbuatan orang yang sudah membuat hidupnya hancur sekarang tidak lagi, berkat Suci dan anak-anak Arsya bisa belajar lagi betapa pentingnya menanamkan rasa ikhlas atas semua yang sudah terjadi. Anggap saja ini adalah hadiah yang sudah Allah rencanakan dibalik rasa kesedihan yang mendalam.
Di sisi lainnya, keadaan Elsa semakin hari semakin parah. Bahkan banyak suster dan dokter kewalahan akibat beberapa kali Elsa sering mengamuk hanya karena dia tidak bisa menerima hidupnya menjadi seperti ini. Dimana awalnya dia terlihat bergelamor dan sekarang malah berakhir menyedihkan.
Seketika Elsa yang sudah tidak bisa menerima kenyataan membuat ia benar-benar kalut di dalam mental yang semakin down. Tanpa di sadari Elsa tidak sengaja tersenggol olehnya dan jatuh. Elsa mengambil pecahan tersebut sambil tersenyum, kemudian berjalan lalu terhenti di depan cemin seakan-akan Elsa melihat sosok Suci yang sedang menertawakan nasibnya.
Dari situlah Elsa kembali tertawa begitu puas yang di selimuti oleh rasa dendam beserta hawa nafsu, Elsa menatap pergelengan tangannya sendiri membuat pikiran Elsa kembali terbayang akan wajah Suci hingga akhirnya ia menancapkan pecahan beling tersebut berulang-ulang kali tanpa menjerit kesakitan ataupun meringis.
Elsa malah tertawa dengan air mata yang terus mengalir, sekarang kondisi tangan Elsa sendiri sudah tidak bisa di jelaskan karena siapa pun yang melihatnya akan merasa ngeri akibat luka itu membuat darah segar mengalir deras.
Elsa duduk meringkukkan tubuhnya kembali teringat bagaimana masa kecilnya bersama Suci yang penuh dengan kebahagiaan sampai tak terasa tubuh Elsa mulai melemas akibat kekurangan darah. Lalu Elsa tergeletak di lantai sambil memanggil nama Suci serta ia meminta maaf atas semua yang sudah terjadi bersamaan dengan menutupnya kedua mata rapat-rapat.
Pihak rumah sakit yang baru mengetahui kejadian ini membuat mereka sangat menyesal lantaran Elsa hanya di biarkan bergerak dengan bebas, yang seharusnya jika kondisi pasien sudah tidak terkendali segera di bawa ke ruangan khusus yang tertutup dan juga sunyi supaya membuatnya pasien agar lebih tenang untuk beberapa hari kedepan.
__ADS_1
Setelah itu barulah Elsa bisa kembali di lepas seperti pasien RSJ lainnya, cuman karena mereka berpikir Elsa sudah tidak mengamuk membuat mereka tidak menghiraukannya. Tapi nyatanya malah berakhir sepilu, Elsa meninggal dengan keadaan yang sangat mengenaskan
Elsa di kebumikan di pemakaman umum, dimana banyak orang yang tidak memiliki keluarga dimakamkan di situ termaksud pasien RSJ yang terlantar.
...*...
...*...
6 tahun telah berlalu, Kay sudah tumbuh menjadi pria dewasa yang penuh kewibawaan dengan usia 19 tahun, dari dulu Kay selalu lulus sekolah dengan nilai terbaik serta prestasi-prestasi yang sudah di raih selama ini dapat membawa Kay meneruskan pendidikannya ke luar negeri dengan jalur beasiswa.
Meskipun keluarga Kay terbilang sangat kaya, tetapi berkat prestasinya banyak beberapa pihak yang sangat terkesan, mereka sepakat untuk memberikan beasiswa sampai Kay supaya bisa menjadi serjana S3 melebihi kedua orang tuanya.
Hari ini adalah hari terakhir Kay bisa berkumpul dengan semua keluarganya, karena sebentar lagi Kay akan berangkat pergi meninggalkan keluarga untuk menimba ilmu yang lebih tinggi, Kay memiliki impian untuk menjadi pengusaha sukses seperti Daddy-nya.
Dimana setelah Kay pulang nanti dia akan mengambil alih perusahaan Arsya agar kedua orang tuanya tidak perlu lagi bekerja di usia mereka yang semakin menua. Kay hanya mau kedua orang tuanya cukup duduk manis menikmati masa tuanya dengan senyuman tanpa harus memikir tentang pekerjaan.
Di rumah keluarga Valleanno, Bunda Reni dan Suci sedang sibuk mengurus keperluan Kay selama pergi darinya, sedangkan Kay sendiri dia malah duduk manis sambil menonton tv.
"Ya ampun Bun, sepertinya aku lupa memasukan baju hangat untuk Kay. Sebentar aku ambilkan dulu" Ucap Suci sambil memeriksa lemari Kay.
"Jangan lupa yang lainnya apa lagi di Swiss cuacanya tidak menentu kadang panas, dingin dan sebagainya. Jadi kita harus menyiapkan semuanya. Aku tidak mau cucuku sampai jatuh sakit" Titah Bunda Reni sambil menata beberapa baju di koper Kay.
"Huhhh.. akhirnya selesai juga, ohya Kay. Itu kan ada 5 koper besar jadi nanti kamu berangkat di temenin Paman Dion ya, biar dia bisa membantumu di Apartemen" Ucap Suci yang langsung duduk di sebelah Arsya.
"Ya benar, atau kalau perlu kita semua ikut mengantarmu saja besok bagaimana? Pasti seru kan hehe.." Sahut Bunda Reni.
Ke-3 pria tampan benar-benar terkejut mendengar perkataan ke-2 wanita yang begitu meresahkan, Kay itu hanya ingin menuntut ilmu tetapi mereka seolah-olah malah seperti mengusir Kay dari rumah.
"Li-lima koper besar? A-apa kamu tidak salah, Sayang?" Ucap Arsya sambil menoleh ke arah Suci.
"Perasaan kalian beberapa hari terakhir ini terlihat sangat sedih saat tahu Kay besok akan berangkat ke Swiss. Tetapi kenapa sekarang malah terlihat begitu antusias melepas kepergian Kay?" Tanya Ayah Al dengan bingung.
"Kalian mau mengusir Kay dari rumah?" Celetuk Kay yang tidak percaya dengan semua tingkah Suci dan juga Bunda Reni yang semakin hari terlihat semakin menyebalkan.
"Loh semuanya pada kenapa sih kok wajahnya terlihat seperti tidak suka? Ini juga satu siapa yang mau mengusirmu, hem..?" Ucap Suci menatap Kay.
"Mom, Oma dengerinya Kay itu cuman mau pergi beberapa tahun saja agar bisa menyelesaikan kuliah agar bisa meneruskan perusaan Daddy. Tapi kenapa kesannya seperti Kay akan di buang?" Sahut Kay.
"Yaaakkk.. dasar cucu tidak tahu diri, kalau ngomong itu pakai rem jangan asal jeplak aja. Siapa juga yang akan membuangmu, kalau pun aku akan membuangmu pasti tidak ada orang yang menampung makhluk aneh sepertimu"
Bunda Reni yang duduk di dekat Arsya beserta suaminya langsung menjewer kuping Kay sampai membuatnya memekik kesakitan. Bahkan kuping yang sangat putih kini sudah menjadi merah hanya dengan sentuhan tangan Bunda Reni.
__ADS_1
"Aaawssh.. sa-sakit Oma, sa-sakitt ya ampun kupingku hua... Mommy tolong Kay!" Pekik Kay yang malah membut semuanya tertawa.
"Haha.. terimalah hadiah itu sebagai bukti bahwa Omamu tidak akan pernah melepaskanmu begitu saja, bahkan saat kau menikah nanti pun Omamu akan menjadi bayanganmu" Ucap Arsya.
"Hihi.. sudah Sayang, sudah hentikan semuanya kasihan nanti kuping cucumu bisa melar karena terlalu sering kau jewer seperti itu" Ujar Ayah Al yang mencoba melepaskan tangan istrinya.
"Astaga, Om jahat banget sama Kay. Mommy..." Kay langsung bangkit dan bermanja kepada Suci hingga memeluknya begitu erat. Bahkan Suci hanya terkekeh melihat sikap Kay yang sangat manja padanya.
Suci mengusap kuping Kay dengan perlahan, dan tanpa di sadari Arsya malah memasang wajah cemberut ketika melihat Kay bertingkah sepertinya.
"Mommymu itu milikku, jadi jangan menyentuhnya. Minggir.. lagian juga ngapain kamu udah dewasa enggak pantes manja begitu!" Arsya langsung menghempaskan tubuh Kay agar sedikit menjauh dari Suci.
"Yaaa.. Daddy juga samanya, udah gede masa masih nyusu sama Mommy! Upss.. a-astaga a-aku keceplosan, ma-maafkan Kay ya Allah. Kay tidak sengaja"
Ucapan Kay mampu membuat Arsya dan Suci membolakan matanya, sedangkan Bunda Reni sama Aya Al hanya bisa tertawa ketika cucunya sudah mengetahui kartu As Daddynya sendiri ketika sedang bermanja padanya.
"Kay, kamu tahu dari mana semua itu? Jangan bilang kamu ngintip kami!!" Tegas Arsya.
"Ma-maaf Dad, Ka-kay tidak sengaja ke-kemarin malem Kay mau ke dapur tapi pas lewat kamar Daddy sama Mommy pintunya sedikit kebuka. Kay jadi khawatir dong kirain ada apa-apanya gitu karena kalian tidak terbiasa membuka kamar seperti itu"
"Pas Kay mau masuk, Kay melihat Daddy lagi nyusu ya suda Kay langsung tutup pintunya aja. Lalu Kay ke dapur ambil minum terus Kay shalat taubat, Kay takut nanti saat Kay punya istri sifatnya kaya Daddy haha.."
Kay langsung kabur begitu sana ke arah kamarnya, meninggalkan Oma dan Opanya yang tertawa sangat puas. Begitu juga dengan Suci ia malah tersenyum malu, belum lagi Arsya dia malah berteriak kesal akibat ucapan Kay. Sehingga tanpa di sadari Arsya berucap jika suatu saat nanti Kay menikah dia akan lebih bucin darinya.
Kay hanya bisa menjulukan lidahnya mendengar ucapan Daddy-nya yang seakan-akan tidak akan pernah terjadi lantaran Kay akan tumbuh menjadi pria yang sangat dewasa bahkan ketika memiliki istri pun Kay tidak mau seperti Daddynya.
Padahal Kay belum tahu saja rasanya memiliki istri seperti apa, bahkan jika Kay sudah tahu nikmatnya memiliki istri pasti dia akan merasakan diposisi Arsya. Semoga saja apa yang dikatakan Arsya tidak akan membuat Kay lebih manja darinya
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Terima kasih untuk kalian semua Bestie ❤️ Salam peluk dari author yang receh ini 🤗 Semoga kalian tidak menyesal membaca karyaku yang terkadang masih banyak kekurangan 😔...
...Di aini author akan memberitahu bahkan karya ini sudah akan berakhir jadi author hanya up bab nya jarang-jarang dan hanya menceritakan sedikit kebersamaan keluarga kecil Suci & Arsya....
...Ohya untuk kalian jangan lupa mampir ke karya baru author ya yang hari ini akan rilis, cek branda dengan judul : Learn to Love You...
...Jangan lupa tinggalkan jejaknya bahwa kalian masih setia bersama author receh di sini ❤️❤️🥰...
...Semangat Bestie 💪💪 Lafyuu sekebonn 😍😍...
__ADS_1