
Arsyaka mulai berubah menjadi pria yang sangat tertutup hingga dingin yang membuat semua wanita enggan mendekatinya. Berbagai usaha sudah Bunda Reni lakukan dengan menjodohkannya dengan anak dari sahabat-sahabatnya. Sampai-sampai Arsya juga pernah di jodohkan dengan Vina anak dari Mamah Mita dan adik dari Dimas. Hanya karena kedinginannya, membuat Vina tidak mau menerima itu.
Buat apa tampan, tapi sifatnya mengalahkan dinginnya salju. Begitulah perkataan Vina yang membuat ia menolak perjodohan itu. Seketika Arsya terdiam saat melihat sang Bunda menangis. Meskipun Arsya bersifat cuek, namun ia sangat tidak bisa melihat seorang wanita menangis. Kemudian Arsya langsung terjatuh dengan keadaan dengkul yang menempel di lantai dan kepala yang menunduk.
“Bunda, maafkan Arsya jika hari ini Arsya kembali membuat Bunda menangis atas sikap Arsya yang belum bisa sepenuhnya melupakan masa lalu ini. Arsya tahu Bunda sangat kecewa dengan sikap Arsya yang sekarang, namun Arthur juga tidak tahu harus bersikap seperti apa, Bunda...”
“Seakan-akan Arsya yang dulu telah mati ikut bersama Thirta. Dan yang sekarang di hadapan Bunda adalah Arsya yang berbeda. Aku adalah Arsya yang cuek, tidak peduli, egois, pemarah, dingin dan juga sangat irit dalam berbicara”
“Bertahun-tahun Arsya mencoba melupakan Thirta, tapi Arsya enggak bisa Bun. Arsya malah kembali mengingat kenangan indah bersamanya. Bunda sangat tahu, bukan bagaimana Arsya mencintai Thirta? Begitu pun sebaliknya, Thirta yang mencintai Arsya sampai-sampai kami tidak bisa di pisahkan oleh siapa pun kecuali maut”
“Tapi Arsya janji sama Bunda. Setelah Arsya mengetahui siapa penyebab kecelakaan itu, maka Arsya akan mencoba menjadi Arsyanya Bunda yang dulu”
Arsya berbicara sambil mendongak menatap Bunda Reni yang menangis tidak karuan, ia bisa merasakan betapa hancurnya putranya itu saat cinta pertamanya meninggalkan dia dengan keadaan tragis. Padahal Bunda Reni sangat tahu perjalanan cinta mereka yang begitu kuat, sampai-sampai hanya maut yang bisa memisahkan mereka.
Arsya meneteskan air matanya dalam keadaan mata yang sangat merah, hingga rahangnya mengeras. Bisa Bunda Reni rasakan jika saat ini Arsya sedang menahan sesuatu di dalam hatinya yang terasa sangat menyakitkan. Bunda Reni yang sudah tidak bisa melihat Arsya menderita, kini langsung memeluknya begitu erat sambil menempelkan pipinya ke atas kepala Arsya.
Arsya memeluk perut Bunda Reni. Tidak bertahan lama, Bunda Reni menyuruh Arsya untuk berdiri hingga kembali memeluknya. Arsya sangatlah tinggi sehingga Bunda Reni hanya bisa bersandar di dada bidang putranya itu. Arsya yang sudah berusaha menahan air matanya seketika hari ini runtuh tak tersisa yang membuat keduanya sama-sama menangis penuh kehancuran.
Bunda Reni hancur karena melihat anaknya seperti ini, lalu Arsya hancur karena ia sudah tidak bisa bersanding dengan cinta pertamanya yang menjadi impiannya untuk membangun rumah tangga kecilnya dengan sangat bahagia. Hal ini karena Arsya bermimpi akan membuat rumah sebesar ini ramai akan suara-suara anak kecil yang berlari ke sana ke sini dengan suara-suara cemprengnya.
Saat di rasa sudah cukup, Bunda Reni menyuruh Arsya untuk kembali ke kamarnya agar ia bisa beristirahat supaya pikiran dan hatinya bisa kembali tenang. Sedangkan Bunda Reni juga akan beristirahat di kamarnya sekalian mencoba untuk menanyakan kabar suami tercintanya yang jauh di sana. Kemudian mereka berjalan menuju kamar masing-masing dengan keadaan yang masih sedih.
*
*
Suci yang baru saja sampai di ujung jalan dekat rumahnya, langsung memperhatikan sekelilingnya agar tidak ada yang melihatnya turun dari mobil semewah ini. Saat semua sudah aman, Suci segera mengucapkan terima kasih kepada sang sopir, lalu ia bergegas keluar turun dari mobil dan berjalan menuju rumah.
“Alhamdulillah, sepertinya aku aman karena saat aku turun tadi jauh dari rekaman CCTV yang ada di rumah. Semoga saja di rumah tidak ada masalah yang sudah menantiku di dalam rumah, amin...” ucap Suci penuh dengan harapan sambil berjalan.
Saat Suci sudah sampai tepat di depan gerbang, kemudian ia memanggil salah satu satpam yang ada di dalam. Dengan langkah cepat satpam yang ada di dalam pun keluar sambil membuka gerbang kecil khusus untuk keluar masuk orang.
“Loh Non, kok jalan kaki? Memangnya tidak naik mobil driver lagi?” tanya satpam itu dengan melihat ke sekeliling jalan.
Namun satpam tersebut tidak menemukan mobil satu pun yang mengantarkan Suci. Awalnya Suci gugup karena ini kali pertama Suci berbohong pada seisi rumah. Tapi saat ia tahu jika mobil Bunda Reni sudah hilang entah kemana membuat ia kembali tenang.
__ADS_1
“Naik kok, Pak. Tapi sayangnya mobil yang Suci tumpangi mogok, jadi Suci harus naik angkot dan turun di ujung jalan hehe...”
“Habisnya jika Suci memesan mobil driver lagi, pasti bayarnya mahal. Jadi mending naik angkot cuma bayar 5ribu sudah sampai. Untungnya lagi mobil itu mogok tidak jauh dari rumah” Suci menjawab ucapan satpam itu dengan sangat ramah penuh senyuman yang membuat satpam itu tidak mencurigai apa pun dari Suci.
“Oh begitu, Non. Ya sudah silakan masuk Non, Tuan Dimas juga sudah pulang dari tadi tapi...” ucap satpam itu terhenti saat ia ragu mengatakannya pada Suci.
Lalu Suci yang mendengar itu malah membuatnya penasaran. Ada apa dengan Dimas? Lalu Suci segera bertanya kepada satpam itu dengan raut wajah yang panik.
“Tapi apa, Pak? Mas Dimas pulang dalam keadaan baik-baik saja kan, Pak? Tidak terluka?”
Satpam yang melihat Suci sudah mulai panik langsung kembali melanjutkan ucapannya, “Tuan Dimas baik-baik saja kok, Non. Tapi saya cuma merasa heran saja karena kan biasanya Tuan Dimas saat pergi atau pun pulang selalu menegur kami dengan senyuman..."
“Namun kali ini berbeda Non. Tuan Dimas seperti lagi banyak masalah, jadi saat pulang dia tidak sedikit pun menegur atau tersenyum. Tuan malah menyelonong masuk ke dalam rumah dengan keadaan yang lusuh”
Satpam itu menjelaskan apa yang ia lihat saat Dimas pulang tadi. Siapa tahu dengan begini, bisa membuat Suci membantu meringankan masalah yang sedang Dimas hadapi.
“Aneh... Kenapa bisa begitu ya, Pak. Suci jadi semakin penasaran ada apa dengan Mas Dimas. Ya sudah Pak, terima kasih atas informasinya ya Suci masuk dulu. Siapa tahu Mas Dimas mau membagi masalahnya sama Suci” ucap Suci.
Satpam itu pun menganggukkan kepalanya sambil tersenyum, “Sama-sama Non. Semoga masalah Tuan Dimas cepat selesai ya Non, dan bisa kembali tersenyum, kasihan Tuan Dimas”
“Non Suci sudah pulang?” ucap Bi Tin dari arah belakang sehingga membuat Suci sedikit terkejut dan langsung membalikkan tubuhnya.
“Eh, Bu Tin. Iya nih, Bi. Baru saja Suci sampai, cuman dari tadi Suci ucapkan salam tidak ada yang menjawab. Memangnya semua lagi pada pergi ya, Bi?” tanya Suci.
“Tidak, Non. Tuan Angga sepertinya lagi beristirahat di kamar, hanya Nyonya Mita yang lagi pergi keluar” jawab Bi Tin.
“Oh gitu, Bi. Terus apa Mas Dimas juga keluar ikut sama Mamah atau apa ada di kamar Bi?” tanya Suci kembali.
“Kalau soal Tuan Dimas, Bibi tidak tahu Non karena Bibi tadi lagi sibuk di belakang. Cuma Bibi tahu kalau Tuan Dimas sudah pulang” jawab Bi Tin.
“Ya sudah Bi, Suci ke kamar dulu ya...” ucap Suci sambil tersenyum.
“Sepertinya ada yang lagi senang habis dari luar. Bahkan wajahnya terlihat sangat bersinar, ada apa ya?” ledek Bi Tin sambil mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya di dagu seraya dengan orang berpikir.
“Hehe... Bi Tin ini pintar sekali menebak-nebak ya, Suci jadi tidak bisa merahasiakan semuanya dari Bibi deh...” saut Suci.
__ADS_1
“Oalah, jadi Non Suci mau main rahasiaan sama Bibi hem... Sepertinya ini tidak bisa di biarkan” jawab Bibi yang membuat Suci langsung memeluk Bi Tin.
“Aaa... Bibi... Ya sudah nanti kalau ada waktu Suci cerita sama Bibi ya, tapi sekarang Suci harus melihat keadaan Mas Dimas dulu. Siapa tahu dia lagi kurang enak badan karena kata Pak satpam di depan, Mas Dimas pulang dengan wajah yang murung gitu kaya lagi banyak masalah” ujar Suci sambil melepaskan pelukannya dari Bi Tin.
“Apa Non mau makan dulu? Kan dari pagi Non belum makan sama sekali” tanya Bibi dengan wajah khawatir.
Suci pun tersenyum sambil berkata, “Nanti saja, Bi. Suci ke kamar dulu ya... daahh...” Suci pergi ke lantai atas dengan wajah tersenyum bahagia.
Bi Tin yang melihat Suci dari jauh sebahagia itu membuat hatinya sangat senang karena ini kali pertamanya Bi Tin bisa melihat senyum indah yang terukir jelas di wajah cantik Suci.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hai para readers semuanya 🤗
Perkenalkan ini adalah karya novel ke-3 Author loh 🤩
Semoga kalian menyukainya ya 🤝
Dukung Author terus dengan cara berikut :
Like 👍
Komen 📨
Favorite ❤️
Rate 🌟
Dan tidak lupa selipkan hadiahnya ya 😍🙏
Bunga, kopi atau sebagainya pun tak apa kok malah lebih bagus lagi pundi-pundi receh yang berterbangan di karyaku ini hihi... 😆😜
Terima kasih 🙏🙏
Papaaayyy~~~ 🤗🤗
__ADS_1