
“Ya ampun, Tuan... Itu kenapa kok benjol? Ishh serem... Coba Tuan periksa ke rumah sakit sana, siapa tahu itu karena Tuan kebanyakan masuk lobang jadi bengkak kan” celoteh Suci dengan kepolosannya, yang membuat Arsya menatap ke arah celananya sambil tersenyum begitu lebar.
Betapa bangganya Arsya hari ini, ia tidak menyangka bahwa si dedek gemas terlihat begitu perkasa. Padahal setiap hari ia selalu terlihat begitu kecil, bahkan sampai-sampai Arsya jijik sendiri melihatnya. Lalu Suci? Dia yang memang tidak pernah melihat suaminya seperti Arsya membuat ia seolah-olah berpikir yang lain karena jika Dimas ke pengen, pasti langsung memintanya tanpa mau menundanya.
Kini hujan yang memang masih deras pun seperti enggan untuk berhenti, bahkan cuacanya semakin dingin. Arsya yang melihat tubuhnya serta tubuh Suci basah akibat hujan, membuat ia langsung menoleh ke kursi belakang dan menutup tubuh Suci dengan Jas hitamnya.
Suci yang awalnya hanya fokus menatap ke arah luar jendela mobil sambil memeluk tubuhnya yang terasa dingin itu pun membuat ia langsung menoleh ke arah Arsya dan lalu melihat Jas milik Arsya yang sudah melekat di tubuhnya dan membuat tubuhnya sedikit hangat.
“Pakailah itu, cuaca sangat dingin sekarang!” ucap Arsya yang kembali dengan nada dinginnya.
“Terima kasih, tapi ini bukan modus Tuan yang seakan-akan membuat saya luluh dan mau menjadi istri Tuan untuk yang ke sekian kan?” tanya Suci dengan tatapan aneh.
“Jangan berisik, sudah pakai saja. Laly diam di situ, saya akan membawa kamu bertemu dengan seseorang yang akan membuatmu tidak lagi berpikir untuk mengakhiri hidupmu dengan ke bod*dohan milikmu itu” saut Arsya.
“Bertemu dengan seseorang? Apakah Suci mengenal orang itu? Lalu orang itu apakah mengenali Suci? Tapi Tuan ini siapanya ya? Jadi Tuan bukan juragan tanah yang sedang mencari gadis-gadis muda kan?” Suci melontarkan semua pertanyaan yang ada di dalam kepalanya.
“Bisa tidak sih kamu itu jangan banyak bertanya. Suaramu tidak begitu indah untuk di dengar tahu...” jawab Arsya dengan datar.
Suci yang mendengar itu hanya bisa bergerutu dan kembali menatap ke arah samping sambil bergumam sangat pelan, “Dasar pria aneh menyebalkan. Tapi untung saja dia bukan pria me*sum seperti juragan tanah. Jika dia seperti itu, maka habislah riwayatku. Pasti aku akan di serbu oleh istri-istrinya yang mendapat julukan the power is emak-emak”
Arsya yang mendengar gumamam Suci itu pun hanya bisa tersenyum kecil, lalu ia melihat sesuatu yang membuat dirinya langsung mendekati tubuh Suci. Suci yang menyadari itu pun seketika terkejut dengan aksi Arsya yang kini sudah tepat berada di depan wajahnya. Kini wajah mereka saling menatap satu sama lain.
“Tu-Tuan... Ja-jangan macam-macam ya, atau Suci akan kasih perhitungan karena Tuan su-...” ucapan Suci terhenti saat ia mendengar sesuatu.
Kreeekk...
Arsya berhasil memasangkan sabuk pengaman untuk Suci, dan kini tubuhnya pun kembali ke posisi awalnya dengan tegak. Kemudian Arsya memasang sabuk pengaman untuk dirinya lalu menghidupkan mesin mobil serta langsung pergi meninggalkan tempat di mana Suci ingin mengakhiri hidupnya. Suci yang merasa malu pun segera membuang mukanya ke samping sambil menatap jalanan yang gelap.
“Kenapa sekarang diam? Bukannya tadi kamu mengancam saya jika saya macam-macam kamu akan kasih saya perhitungan? Ayo lanjutkan saja, tadi sampai karena Tuan su... Su apa?” tanya Arsya sambil matanya fokus pada jalanan di depannya yang begitu gelap.
Suci sedikit melirik dan kembali menatap ke samping, “Ti-tidak, lupakan saja. Cepat bawa aku ketemu orang itu, aku penasaran dengan siapa yang akan aku temui nanti” ujar Suci berusaha mengalihkan pembicaraannya.
“Kamu kira saya sopirmu yang bisa kamu suruh-suruh seperti ini!” tegas Arsya sambil sedikit melirik Suci.
Suci hanya bisa terdiam karena ia sangat malu atas pikirannya yang seolah-olah berpikir jika Arsya akan menciumnya seperti Dimas yang selalu menciumnya. Namun saat Suci mengingat tentang Dimas, kini membuat ia kembali merasakan sesak di dadanya hingga air mata kembali terjatuh. Hanya saja kali ini tidak di sertai isakkan dan cuma ada air mata yang mengalir dengan deras.
“Aku tidak tahu orang ini akan membawaku kemana. Tapi jika benar aku mengenal orang yang akan aku temui nanti, kemungkinan aku akan menenangkan diriku dulu di sana dan tidak pulang dengan cepat. Aku masih butuh waktu untuk sedikit menyembuhkan luka hatiku atas perlakuan mereka. Nanti saat aku sudah tenang barulah aku akan kembali pulang ke sana huft...” ucap Suci di dalam hatinya.
__ADS_1
Mobil Arsya melaju dengan kecepatan sedang untuk menerobos malam hari yang semakin larut.
...*...
...*...
Di rumah kediaman keluarga Dimas.
Saat ini jam sudah menunjukkan pukul 2 pagi, dan Suci pun tidak memberikan kabar apapun sama sekali. Bahkan beberapa kali Dimas meneleponnya, namun tidak diangkat sama sekali. Dimas mengelilingi kamarnya ke sana ke sini dengan perasaan penuh kekhawatiran, cemas hingga ia tidak bisa tidur. Namun saat ia sedang dalam kebingungan mencari Suci, tiba-tiba saja ponselnya bergetar ditangannya.
Drrttttt...
Drrttttt...
Drrttttt...
Dimas langsung buru-buru melihatnya, dan sedetik kemudian ia sangat kecewa dengan apa yang ia lihat di notif ponselnya.
- Elsa -
“Sudahlah, biarkan saja. Lebih baik aku fokus mencari Suci, tapi kemana aku harus mencari dia? Namun jika aku berhasil menemukannya, pasti dia akan marah dan menyangka kalau aku mengikutinya lalu ancaman itu? Astaga... Tidak! Aku tidak mau kehilangan Suci” ucap tegas Dimas sambil menatap lurus ke depan.
Saat Dimas sedang memikirkan tentang Suci kembali, Elsa terus saja meneleponnya tanpa henti seperti ada sesuatu yang penting. Dimas yang sudah sangat kesal langsung mengangkat telepon dari Elsa dan menempelkan ponselnya di telunganga, serta sedikit membentak Elsa.
📱 “Mau apa lagi kamu, hah! Belum puas kamu membuat Suci kabur dari rumah? Bahkan Suci mengancamku jika aku mengikutinya maka ia akan selamanya menghilang dariku”
📱 “Hiks... Mas...” ucap Elsa sambil menangis yang membuat Dimas melototkan matanya.
📱 “Sa... Ka-kamu nangis? Apa aku terlalu keras membentakmu” jawab Dimas dengan nada kasihan, entah kenapa Dimas semakin hari semakin peduli dengan keadaan Elsa.
📱 “Hiks... Mas, bi-bisa ke sini sekarang gak... Ke-ke kontrakanku” ucap Elsa dengan isak tangisnya yang terdengar ketakutan dan Dimas langsung saja panik saat mendengar Elsa seperti dalam keadaan ketakutan.
📱 “Saa... Kamu kenapa? Bilang sama aku, ada apa sebenarnya dan kenapa kamu menangis kaya orang lagi ketakutan begitu?” cecer Dimas dengan rasa cemasnya sambil berjalan bolak-balik ke sana ke sini.
📱 “Hiks... A-aku takut Mas, se-sepertinya ada orang jahat yang ingin masuk rumah. Karena dari tadi aku melihat ada bayangan orang, mungkin mereka adalah maling? Apa lagi di sini sangat sepi hiks... A-aku takut jika mereka mau mem*per*ko*saku hiks...” jawab Elsa yang menjelaskan semuanya.
📱 “Tunggu aku Sa, aku akan segera kesana! Kamu kunci semua pintu dan jendela dengan sangat rapat. Bahkan taruh benda berat di belakang pintu, 15 menit lagi aku akan sampai ke sana. Jaga dirimu baik-baik, aku tutup dulu teleponnya” ujar Dimas dengan segala kepanikannya.
__ADS_1
Lalu Dimas bergegas berganti pakaian dan segera mencari kunci mobil, kemudian pergi secepat mungkin untuk menolong Elsa. Sedangkan Elsa yang sudah menutup ponselnya, kini tertawa dengan sangat keras. Bahkan ia dalam keadaan posisi terlentang di tempat tidurnya dengan begitu nyaman.
“Haha... Dasar pria bo*doh! Gampang sekali menarik perhatianmu Mas, tapi tidak apa-apa. Aku tetap suka kamu yang seperti ini Mas, ketimbang kau yang sangat dingin”
“Perlahan demi perlahan namun pasti, dan saat ini kamu sudah berhasil berada di dalam kendaliku, DIMAS! Tinggal tunggu permainan berikutnya, aku akan membuatmu jatuh cinta padaku dan segera meninggalkan Suci. Lalu kita bisa hidup bahagia dengan semua kemewahan yang kamu punya haha...”
Elsa tertawa dengan nada puas hingga selang beberapa detik kemudian Elsa mengingat apa yang pertama kali Dimas katakan padanya dengan nada bentakan.
“Tu-tunggu dulu...” Elsa langsung bangun dan duduk di sisi ranjang sambil mengingat perkataan Dimas.
“Tadi sepertinya Mas Dimas bilang jika Suci kabur dari rumah atas perbuatanku? Berbuatan yang mana?” tanya Elsa sambil kembali memikirkan sesuatu apa yang sudah ia lakukan.
Lalu tiba-tiba saja Elsa tersenyum sangat lebar saat mengingat sesuatu bahwa ia sempat beberapa kali menempelkan bibirnya di kemeja Dimas dengan tujuan agar Suci mengetahuinya jika mereka ada main di belakang. Dimas yang tidak menyadari itu pun, hanya bisa menikmati setiap sentuhan Elsa hingga membuatnya tidak tahu tentang noda bibir merah di kemejanya sendiri.
“Pasti karena bekas bibirku yang dengan sengaja aku ukir di kemejanya. Jadi saat Suci mencuci baju suaminya dia akan menemukan bekas bibirku haha... Kau sangat pintar Elsa, tidak sia-sia kamu memiliki otak yang pintar”
Elsa menyombongkan kepintarannya dalam menipu Dimas dan juga menyakiti hati Suci secara tidak langsung dengan sangat senang, lalu sedetik kemudian ia kembali berbaring di kasurnya sambil menunggu kedatangan Dimas.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hello semua pembaca setia kesayanganku... 😊😊😊
Bagaimana kabar kalian semua di mana pun kalian berada 😃😃😃
Semoga kalian sehat selalu dan terus bahagia semua... 😇😇😇
Semoga kalian menyukainya dan enjoy your life guys... 😆😆😆
Mohon terus dukung Author yang masih banyak kekurangan ini 🥺🥺🥺
Jaga diri kalian dan sampai jumpa lagi semuanya... 🤗🤗🤗
Terima kasih atas semua dukungan kalian selama ini 🙏🏻🙏🏻🙏🏻
Author sangat sangat menyayangi kalian semuanya... ❤️❤️🤍🤍
Papaaayyy~~~ 👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻
__ADS_1