Keikhlasan Hati Seorang Istri

Keikhlasan Hati Seorang Istri
Kita Bukan Mahram


__ADS_3

Arsya yang saat ini sedang asyik membayangkan Suci di masa depan terlihat begitu berkharisma, seketika tersontak kaget dari lamunannya dan membuat ia langsung kembali pada kenyataan.


“Eh... I-iya a-ada apa?” jawab Arsya dengan terbata-bata.


“Kenapa bengong? “ ujar Suci dengan wajah penasaran.


“Dahlah, lupakan saja. Mending kamu tidur sana, aku ngantuk” ucap Arsya sambil berjalan ke ranjangnya.


“Sudah masuk waktu subuh, Mas. Lebih baik shalat dulu Mas enggak baik kalau langsung tidur, nanti rezekinya seret loh” saut Suci dengan nada lembut.


“Mana mungkin, toh hartaku sudah banyak. Bahkan 10 keturunan pun tidak akan habis” jawab Arsya dengan nada ketusnya.


Suci yang mendengar ucapan dari Arsya membuat ia menggelengkan kepalanya sambil mengucapkan kalimat istigfar, “Astaghfirullah, Mas... Ingat jika di langit masih ada langit, jadi jangan pernah bersikap sombong dan juga angkuh. Mau sekaya apa pun kita, tetapi di mata Allah kita semua itu sama”


“Bahkan hanya dengan mengucapkan kalimat KUN FAYAKUN yang artinya terjadilah, maka terjadilah. Dengan sekejam mata Allah bisa merubah apa pun yang hambanya tidak bisa, tolong hati-hatilah dalam berucap karena setiap apa pun yang kita ucapkan itu adalah sebagai doa yang keluar dari mulut kita sendiri”


Suci memberikan sedikit wejangan kepada Arsya di pagi-pagi hari sekali, sehingga membuat Arsya terdiam tak berkutik. Ya memang Arsya dulu sangat rajin melaksanakan perintah-Nya, namun semenjak kejadian meninggalnya calon istrinya itu membuat Arsya diselimuti oleh kabut hitam yang sangat tebal.


“Ya sudah itu Hak Mas Arsya sendiri, lagian juga Suci tidak mau memaksa. Setidaknya Suci sudah memberikan sedikit nasihat agar membuat Mas Arsya kembali ke jalan yang benar” ucap Suci sambil tersenyum, kemudian ia berjalan menuju kamar mandi di dalam kamar Arsya untuk mengambil air wudhu.


“Astaghfirullah, apa yang barusan aku katakan. Kenapa aku seperti orang yang gila akan kekayaan? Ada apa ini, kenapa aku semakin ke sini semakin sadar jika aku sudah melewati batasanku seperti ini ughh...” gumam Arsya di dalam hati kecilnya.


Kemudian tak lama Suci keluar dengan wajah yang basah membuat ia terlihat sangat bersinar. Entah kenapa mata Arsya tak henti-hentinya menatap Suci. Bahkan saat Suci berjalan mendekati sofa tempat tadi ia tertidur pun, Arsya tetap memperhatikan hingga membuat hati Arsya sedikit terketuk untuk kembali menjalankan kewajibannya.


“Mas, bisakah aku meminjam sejadah?” ucap Suci yang membuat lamunan Arsya tergoyahkan.


“Tu-tunggu sebentar, akan aku ambilkan” sahut Arsya sambil menutupi rasa gugupnya.


Arsya berjalan mencari sejadah yang dulu selalu ia gunakan, kemudian ia memberinya kepada Suci. Suci tersenyum menerima sejadah itu dan menggelarnya secara perlahan. Suci mengeluarkan mukena yang selalu ia bawa kemana pun, agar ia selalu ingat waktu panggilan dari sang Pencipta.

__ADS_1


Suci melakukan shalat 2 rakaat dengan begitu khusyuk, sehingga ia tidak tahu jika ada seorang pria gengsi yang selalu memandanginya tanpa berkedip sedikit pun. Saat sujud yang terakhir, Suci mengucapkan semua doa-doanya dengan air mata yang menetes tepat di atas sejadahnya.


Kini, tibalah Suci mengangkat kedua tangannya sambil menatap lurus ke depan dengan mengucapkan kalimat Hamdalah, istigfar dan sebagainya dan di lanjutkan membaca beberapa surah. Setelah semuanya selesai, Suci memanjatkan doa terakhir yang hampir sama dengan doa yang ia panjatkan ketika bersujud.


“Ya Allah, Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang... Ampunilah segala dosa-dosa yang telah Hamba perbuat dan juga dosa semua orang yang Hamba sayangi. Berikanlah pintu hidayah-Mu agar Hamba bisa menghadapi semua cobaanmu penuh keikhlasan. Tabahkanlah hati Hamba, kuatkanlah mental Hamba, dan sehatkanlah tubuh Hamba”


“Jika memang ini adalah takdir Hamba, i


Insya Allah Hamba akan siap menerima semuanya. Namun jika Engkau masih memberikan Hamba kesempatan untuk merasakan kebahagiaan kembali, maka tunjukkanlah jalan-Mu ya Rabb...”


“Hamba tahu, Hamba bukanlah wanita dan juga istri yang sempurna untuk suami berserta keluarga Hamba. Tetapi Hamba memiliki hati yang sangat mencintainya tanpa mengharapkan timbal balik darinya, namun kalau ini yang terbaik maka Hamba akan mencoba untuk lebih bersabar dalam menjalani lika-liku di dalam rumah tangga Hamba”


“Hanya satu pertanyaan Hamba pada-Mu ya Rabb... Apakah Mas Dimas adalah jodoh Hamba yang sesungguhnya ataukah dia hanya sekedar mampir untuk menambah kisah di dalam kehidupan Hamba? Jika benar ia adalah jodoh Hama, maka dekatkanlah kami dan jangan berikan kami ruang untuk saling menjauh"


"Namun jika ia bukan jodoh Hamba yang sesungguhnya, maka Hamba ikhlas apa bila Engkau membuat jarak di antara kami. Terlepas dari semua itu, Hamba serahkan dan percayakan semuanya kepada-Mu karena hanya Engkaulah yang mampu membolak-balikan hati setiap manusia dan hanya kepada-Mu lah kami menyembah, serta meminta pertolongan. Aamin ya Rabbal’alamin...”


Suci berdoa di dalam hatinya sambil tak terasa ia meneteskan air matanya, yang membuat hati Arsya semakin tersentuh. Baru kali ini ia bisa merasakan kembali getaran hati begitu dahsyat saat melihat Suci yang dengan khusyuk shalat dan juga berdoa seperti itu.


“Ohya, Mas. Apa badanmu sudah enakan? Apakah obatnya sudah di minum?” tanya Suci.


“Su-sudah...” sahut Arsya dengan salah tingkah.


“Mas baik-baik saja kan? Kenapa seperti orang ke cacingan begitu? Bahkan dari tadi tidak bisa diam” ucap Suci dengan tatapan aneh.


“E-enggak, sudahlah kamu keluar sana. Tidak baik jika bukan mahram berada di dalam 1 kamar yang sama” ucap Arsya yang mencoba mengalihkan pertanyaan Suci agar tidak semakin membuat jantungnya berdetak sangat kencang.


Padahal Suci hanya menanyakan masalah obat dan juga kondisi tubuhnya, tetapi kenapa membuat Arsya seperti mengira jika Suci perhatian padanya. Bukankah itu pertanyaan yang wajar ya? Tapi sudahlah, mungkin Arsya memikirnya terlalu tinggi makanya malah membuatnya jadi salah tingkah seperti ini.


“Astaghfirullah, ya ampun Mas... Maaf Suci khilaf, Suci lupa jika kita bukan mahram. Ya sudah Suci keluar dulu ya, assalamualaikum...” ucap Suci sambil terburu-buru keluar dari kamar Arsya.

__ADS_1


Sedangkan Arsya, saat ini wajahnya sudah sangat memerah dan detak jantungnya pun berdetak dengan sangat cepat.


“A-apa yang tadi dia bilang? Di-dia mengira jika kita ini sudah mahram? Di-dia lupa jika kita bukan mahram?” gumam Arsya sambil memegangi jantungnya.


“Huaaa... Dasar wanita aneh, bisa-bisanya berpikir jika kita sudah menikah. Wah... Di kasih hati malah minta jantung, padahal dia sudah punya suami tetapi kenapa dia malah menyangka aku yang jadi suaminya” pekik Arsya dengan suara yang tidak terlalu keras.


“Astaghfirullah, sepertinya aku harus shalat ini. Siapa tahu ini teguran untukku lewat wanita aneh itu, jangan sampai aku benaran jadi suaminya isshh... Ogah banget deh...”


“Ya memang sih dia masuk ke dalam tipe wanita yang aku inginkan. Sudah kuat, mandiri, baik, cantik dan juga tidak pernah merendahkan seseorang. Benar-benar sangat sempurna, sayang sekali jika dia di perlakukan seperti itu sama suaminya. Mending buang saja pria itu ke laut, dan cari yang lebih baik toh aku juga mau kok...”


Arsya berbicara tanpa berpikir dua kali, yang mana jelas-jelas tadi dia sudah menolak pikirannya itu. Namun sekarang dia menginginkannya? Lalu siapa yang aneh di sini? Sucikah? Ataukah Arsya?


Dengan hitungan detik, Arsya sudah mulai menyadari kata-kata terakhirnya dan membuat ia langsung menenggelamkan wajahnya ke bawah bantal dalam keadaan menungging dan membuat ia berteriak sekencang mungkin.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Halo semuanya... Ketemu lagi dengan Author cubby kalian 🤗🤗🤗


Terima kasih atas dukungan kalian yang berarti selama ini 🙏🏻🙏🏻🙏🏻


Berikut adalah rekomendasi novel lagi untuk kalian dari Author 😙😙😙


Selamat menjelajah dan jangan lupa tinggalkan jejak imut kalian 😁😁😁


Tinggalkan jejak yang banyak sebanyak banyaknya deh... 😆😆😆


Sayang kalian semua... Sampai jumpa lagi di bab selanjutnya... 👋🏻❤️🤍


...*...

__ADS_1



__ADS_2