
Selang 3 hari dari kepulangan Elsa dari rumah sakit, Suci sudah mulai mengikhlaskan semuanya dan kembali tersenyum. Kini saatnya ia memasukkan berkas ke pengadilan Agama agar semuanya cepat selesai, karena sampai detik ini pun Dimas belum meminta tanda tangan Suci di sebuah surat.
Namun pada akhirnya Sucilah yang harus maju serta mengurus semuanya dengan di bantu oleh keluarga Arsya.
Suci benar-benar sangat beruntung terlepas dari Papah Angga, dia kembali mendapatkan sosok keluarga yang sangat menyayanginya bagaikan seorang keluarga sungguhan.
...*...
...*...
Di Mashar Group
Dimas belum bisa kembali mengurus perusahaan dikarenakan kondisi anaknya yang masih belum benar-benar sehat. Jadi mengharuskannya untuk setiap hari menengoki sang anak. Sedangkan Elsa, dia selalu berpura-pura tidak enak badan jika harus menengok sang anak. Tapi yang anehnya, semua orang percaya begitu saja tanpa mereka sedikit pun menaruh curiga.
Setelah semuanya sibuk ke rumah sakit, Elsa malah sibuk melakukan olah raga serta diet berat untuk mengembalikan bentuk tubuhnya. Saat ini seharusnya Dimas melakukan rapat dengan Arsya, namun ia malah tidak bisa datang dan digantikan oleh Papah Angga.
“Selamat pagi, Tuan Angga...” ucap Arsya dengan datar saat memasuki ruangan dan Papah Angga yang melihat itu langsung berdiri dan tersenyum menyambut Arsya.
“Pagi juga Tuan Arsya, silahkan duduk...” sahut Papah Angga yang mempersilahkan Arsya untuk duduk di kursinya, lalu Arsya tersenyum kecil dan ia pun duduk sambil membenarkan sedikit jasnya.
“Bisa kita mulai sekarang meetingnya, Tuan?” tanya salah satu staf Dimas yang diangguki oleh Arsya dan juga Papah Angga.
Di sini semua staf menjelaskan semuanya kepada Arsya dan stafnya, sehingga Papah Angga hanya menyimak dan memperhatikannya. Arsya sedikit melirik ke arah Papah Angga dengan tatapan bingung karena selama meeting berjalan mungkin tubuh Papah Angga bersamanya, tetapi tidak dengan pikirannya. Terlihat jelas kalau Papah Angga sedang menyembunyikan suatu masalah yang membuat Arsya penasaran.
Sampai akhirnya meeting ditunda, dan Papah Angga masih tetap dengan posisi awal yaitu bersandar di kursinya sambil mencium tangannya sendiri. Arsya yang dari tadi kurang nyaman langsung menyuruh semua orang untuk keluar ruangan meninggalkan mereka berdua. Semua sudah keluar, kini saatnya Arsya mencoba untuk mendekatkan diri dengan Papah Angga untuk menyadarkan dari lamunannya.
“Tuan Angga...” ucap Arsya sambil menepuk pundak Papah Angga dengan pelan agar tidak membuatnya terkejut.
“Ahh... I-iya... Bagaimana, apa Tuan Arsya setuju?” ucapnya dengan terkejut yang membuat Arsya tersenyum kecil.
“Sepertinya meeting harus di tunda Tuan, karena saya lihat kalau Tuan Angga tidak fokus dan seperti ada beban yang disimpan” ucap Arsya yang membuat wajah Papah Angga kembali murung.
“Maaf Tuan... Saya sedang ke pikiran dengan anak saya, sudah berapa hari ini tidak menghubungi saya. Perasaan saya mulai tidak tenang, karena dia pergi dalam keadaan yang begitu menyedihkan” jawab Papah Angga dengan mata berkaca-kaca.
Arsya yang mendengar itu pun di buat bingung, karena yang ia tahu Dimas sedang sibuk mengurusi anaknya di rumah sakit karena Arsya selalu memantau semuanya tanpa sepengetahuan Suci dan yang lainnya.
“Memangnya Tuan Dimas ada masalah apa Tuan?” tanya Arsya dengan pura-pura tidak mengetahui semuanya dan Papah Angga yang mendengar itu semua langsung menggelengkan kepalanya secara cepat.
“Bukan Dimas tapi Suci Tuan, mantu saya yang sudah menjadi anak saya sendiri. Kalau soal Dimas, dia lagi fokus mengurus istrinya yang baru melahirkan secara prematur sehingga anaknya harus berada di dalam inkubator sampai tubuhnya benar-benar kuat” jelas Papah Angga yang hanya diangguki oleh Arsya.
__ADS_1
Di sini Arsya sudah paham, ternyata yang menjadi topik permasalahan membuat Papah Angga tidak fokus bukanlah soal Dimas melainkan kekhawatirannya pada Suci. Arsya yang melihat wajah Papah Angga begitu sedih, ia merasa kasihan terhadapnya karena namanya tak henti-hentinya ada di setiap Suci bercerita pada keluarga Arsya.
“Aduh... maaf ya Tuan, saya jadi curhat hehe... maaf juga jika hari ini meeting di tertunda karena saya yang kurang fokus, sekali lagi maaf Tuan...” ucap Papah Angga dengan perasaan tidak enak dan bersalah.
Di tundanya meeting membuat Papah Angga merasa bersalah karena Arsya merupakan orang terpenting di dalam perusahaan Dimas ini. Jadi ia takut jika Arsya marah akan membuat perusahaan Dimas di ambang kehancuran.
“Tidak apa-apa Tuan, saya paham kok. Tuan tidak perlu khawatir karena Suci dalam keadaan baik-baik saja dan sehat tanpa terluka sedikit pun. Hanya saja hatinya begitu hancur, jadi ia butuh waktu yang sangat lama untuk menyembuhkannya” jawab Arsya yang membuat Papah Angga langsung terkejut dan duduk dengan sangat tegak.
“Ma-maksud Tuan Arsya, Tu-Tuan tahu dimana Suci berada?” tanyanya dengan wajah yang begitu panik.
“Ya Tuan, saat ini Suci berada di rumah keluarga saya. Jika Tuan mau menjenguknya silahkan, asalkan saya mohon dengan sangat cukup Tuan saja yang tahu dimana Suci berada. Jangan biarkan anak Tuan mengetahui semua itu, saya takut akan kembali membuat Suci semakin hancur” ucap Arsya.
“Alhamdulillah Tuan, terima kasih banyak telah merawat Suci. Ta-tapi kenapa Suci bisa ada di rumah Tuan? Bisakah Tuan menceritakan semuanya pada saya, bagaimana Suci bisa ada di sana?” tanya Tuan Angga penuh penasaran.
“Baik Tuan, saya akan ceritakan apa yang terjadi sama Suci selama ini dan bagaimana keluarga saya mengenal Suci, agar tuan tidak salah paham pada keluarga saya” ucap Arsya yang langsung menceritakan semuanya dari awal bertemu Suci, sampai akhirnya Suci datang kepadanya dengan keadaan benar-benar hancur.
Papah Angga yang mendengarkan kisah Suci membuat hatinya begitu hancur hingga meneteskan air mata dengan tatapan menyorot lurus penuh amarah yang sangat besar. Sampai seketika Papah Angga mendengar Suci berusaha untuk mengakhiri hidupnya, di situ membuat Papah Angga menggebrak meja dengan sangat kencang.
Braaaakkkk...
“Kenapa aku harus tahu semua ini dari orang lain, kenapa Suci tidak pernah menceritakan semua ini padaku! Apa karena dia sudah tidak menganggapku sebagai orang tuanya” ucap Papah Angga sambil berdiri dengan kedua tangan bertumpu pada meja serta badannya yang sedikit membungkuk.
“Bukan seperti itu Tuan, Suci sangat menghargaimu bahkan ia sangat bangga memiliki seorang Papah sepertimu yang selalu membelanya meskipun harus berantem dengan istrimu sendiri. Cuma karena Suci tidak mau membuatmu merasa ke pikiran, jadi ia pendam semuanya seorang diri. Suci menganggap jika ia bisa menyelesaikan masalahnya sendiri dan mempertahankan rumah tangganya"
“Lalu kenapa aku tidak bisa menghubunginya?” tanya Papah Angga kembali.
“Ponselnya hilang entah dimana, tapi jika Tuan mau menghubungi Suci silahkan. Ini nomornya...” Arsya menunjukkan nomor baru Suci dari ponselnya dan Tuan Angga segera mungkin mencatatnya menggunakan ponselnya sendiri.
Setelah semua selesai, Arsya berpamitan kepada Papah Angga hingga membuat Papah Angga langsung memeluknya penuh haru. Papah Angga sangat-sangat berterima kasih karena Arsya sudah menjaga Suci dengan baik.
Padahal suci bukan siapa-siapa mereka, namun perlakuan mereka jauh lebih baik dari keluarga suaminya sendiri. Arsya lalu membalas pelukan Papah Angga sambil tersenyum, kemudian ia pergi meninggalkan kantor Dimas.
...*...
...*...
Semua sudah berlalu selama 1 bulan, Dimas pun sudah bisa membawa anak perempuannya yang bernama Kinandiva Nafiza Hartawan kembali ke rumah. Terukir sangat jelas perasaan bahagia di wajah mereka, kecuali Papah Angga.
Terkadang Papah Angga tidur di kantor atau di rumah dengan keadaan hubungannya dengan Mamah Mita tidak sebaik dulu. Bahkan keduanya sama-sama cuek seperti membuat jarak satu sama lain, sehingga Papah Angga lebih sering tidur di kantornya.
__ADS_1
“Wah... cucuku cantik sekali mirip banget sama Elsa hehe...” ucap Mamah Mita sambil menggendong Baby Diva yang tertidur lelap.
“Hehe... ya dong Mah, masa iya mau mirip orang lain “ ucap Elsa dengan wajah manisnya.
“Terima kasih sayang, sudah membuat keluarga ini bahagia atas kehadiran Baby Diva” ucap Dimas sambil menatap Elsa.
“Sama-sama, Mas. Kalau kalian bahagia aku pun bahagia kok, oh yaa... apa kamu sudah menemukan keberadaan Mbak Suci Mas?” tanya Elsa.
Dimas yang mendengar nama Suci, membuat wajahnya yang tadinya senang kini berubah menjadi murung.
“Belum Sa, aku tidak tahu kemana perginya Suci. Bahkan aku selalu menghubunginya tapi ponselnya selalu tidak aktif sampai saat ini” ucap Dimas.
“Memangnya Mbak Suci pergi kemana Mas? Kok semenjak aku masuk rumah sakit sampai saat ini aku tidak pernah melihatnya lagi” ucap Elsa dengan penasaran karena ia belum tahu jika Dimas telah menceraikan Suci dan membuatnya pergi.
“Apa ini saatnya aku menceritakannya pada Elsa? Apa dia akan sedih mendengar ini? Apa lagi Elsa dan Suci bersahabat sejak kecil, pasti jika Elsa mendengar aku telah menceraikan Suci dia pasti akan sangat sedih kan..."
"Tapi mau bagaimana lagi, semakin aku menutupi semua ini aku semakin bersalah dengan Elsa karena dia selalu mencari keberadaan Suci selama satu bulan terakhir ini...” gumam Dimas di dalam hati sambil melamun.
Elsa yang melihat Dimas begitu kebingungan dan cemas itu, membuatnya semakin penasaran dan juga mencurigai Dimas mengenai apa yang terjadi antara Diams dan Suci selama Elsa ada di rumah sakit.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hel... to the Lo... Hello... 😄😄😄
Kembali lagi dengan Author kalian yang banyak kekurangan ini... ☺️☺️😊
Kalian tahu gak Author baru bikin Group Chat loh dan masih kosong 🥳🥳🥳
Jika kalian ingin join ke Group langsung jadi ke beranda Author ya... 😎😎😎
Nama Group Chatnya itu adalah Kang Salto Barbar kayak Author 🤣🤣🤣
Silahkan join aja guys, gak akan di apa-apain kok tenang aja... 🤭🤭🤭
Jangan bosan-bosan ya buat dukung Author Chubby ini... 🤭🤭🤭
Jangan lupa untuk selalu tersenyum dan bahagia ya semuanya... 😁😁😁
__ADS_1
Jaga diri kalian dan sampai jumpa lagi di bab selanjutnya yaaa... 🤗🤗🤗
Papaaayyy~~~ 👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻