
Keesokan harinya dii rumah sakit...
Dimas dan Suci sudah sampai dari jam 7 pagi untuk mendaftar karena ini mendadak, jadi mau tidak mau mereka harus mematuhi peraturan yang mana harus mengantre lebih dulu.
Hampir 2 jam lebih mereka menunggu giliran, sampai saat nama mereka di sebut oleh sang suster. Kemudian mereka langsung berjalan masuk ke dalam ruangan.
“Selamat pagi, Tuan dan Nyonya. Ada yang bisa saya bantu?” ucap sang dokter sambil tersenyum di kursinya.
Dimas dan Suci pun langsung duduk tepat di depan sang dokter sambil menjelaskan maksud hingga tujuan mereka datang ke rumah sakit. Sang dokter hanya bisa menyimak apa yang sedang Dimas katakan.
“Jadi begini, Dok. Saya dan istri saya sudah menikah selama hampir 2 tahun ini, tetapi kami belum juga di karuniai seorang anak. Padahal kami selalu berusaha untuk melakukannya hampir seminggu 3 kali, bahkan jika tidak lelah kami melakukannya setiap hari. Sedangkan yang saya lihat banyak pasangan baru menikah beberapa bulan sudah langsung di karuniai seorang anak, namun kenapa kami berbeda?” tanya Dimas dengan wajah seriusnya.
“Ya memang, Tuan. Banyak sekali pasangan baru menikah langsung dikaruniai seorang anak hanya dalam hitungan beberapa bulan saja, tetapi ada juga kok yang lama. Semua itu tergantung dengan kesuburan sper*ma dan juga kesehatan rahim. Apa sebelumnya Tuan dan Nyonya sudah berkonsultasi dengan dokter yang ahli di bidang reproduksi?” tanya sang Dokter.
“Belum, Dok. Ini baru yang pertama kalinya makanya kami ke sini hanya ingin mencari tahu apa penyebabnya sampai membuat kami sampai detik ini belum di karuniai seorang anak” ucap Dimas.
Suci hanya bisa terdiam sambil mendengarkan semua obrolan sang dokter kepada Dimas, yang mana Suci merasa kalau perasaannya tidak enak seperti akan ada hal buruk yang akan terjadi padanya. Tetapi Suci berusaha menangkis semua itu agar bisa berpikir positif kalau mereka berdua baik-baik saja.
“Baiklah, Tuan dan Nyonya harus melakukan beberapa tes terlebih dahulu agar kami bisa mengecek serta mencari tahu apa penyebabnya” ucap sang dokter.
“Apa nanti hasilnya akan jadi hari ini juga, Dok?” tanya Dimas dengan wajah yang sangat penasaran.
“Maaf, Tuan. Kami harus mengeceknya terlebih dahulu sampai sedetail mungkin, jadi semua ini membutuhkan waktu sekitar 2 sampai 3 hari. Jika hasilnya sudah keluar, maka pihak kami akan menghubungi Anda” ucap sang Dokter.
“Ya sudah, Dok. Tidak apa-apa yang penting kami bisa mengetahui apakah ada yang salah dari kami atau memang kami baik-baik saja, setidaknya kami sudah berusaha untuk semua itu” ucap Suci sambil tersenyum.
Kemudian sang dokter memeriksa Bruan dan Suci secara bergantian yang di bantu oleh beberapa suster sebagai asistennya. Lalu perlahan demi perlahan mereka menjalani serangkaian tes satu persatu hingga selesai.
Sudah 2 jam lebih mereka menjalani semua tes yang dokter berikan dan sedikit membuat Suci dan juga Dimas lelah. Setelah selesai semua tes, kemudian mereka kembali ke rumah sambil menunggu hasilnya beberapa hari lagi.
...*...
...*...
__ADS_1
Di rumah kediaman keluarga Dimas
Saat ini mereka sudah sampai di rumah, kemudian berjalan memasuki rumah dengan mengucapkan salam serta bersalaman kepada orang tua Dimas yang mana mereka sedang berkumpul di ruang keluarga. Lalu mereka duduk bersamaan dengan orang tua Dimas dan juga Vina yang sudah pulang.
“Bagaimana? Apa pemeriksaan lancar? Terus apa hasilnya? Kalian baik-baik saja kan, enggak ada apa-apa juga kan?” tanya Mamah Mita dengan wajah cemasnya karena tidak sabar dengan hasilnya.
Vina yang mendengar itu pun sedikit terkejut, karena memang Vina selalu jarang berada di rumah jadi dia tidak tahu kabar tentang semua ini.
“Pemeriksaan? Siapa yang sakit, Mah? Abang sakit?” saut Vina sambil menatap Dimas.
“Isssshh... bukan sakit, Vina. Tapi Abang dan Kakak iparmu habis melakukan pemeriksaan tentang reproduksi gitu deh pokonya. Supaya kita tahu penyebab kenapa mereka sampai detik ini belum juga memiliki anak” jawab Mamah Mita yang membuat Vina terkejut.
“A-apa? Mereka melakukan pemeriksaan itu? Kenapa enggak ada yang ngasih tahu ke Vina sih...” ucap Vina dengan wajah terkejut.
“Makanna jangan keluyuran mulu, jadi jika ada kabar apa-apa di rumah kamu akan selalu terlambat mendapat infonya” ucap Papah Angga.
“Hehe... maaf, Pah. Habisnya kan Vina bete kalau di rumah mulu, jadi mendingan Vina pergi main saja biar bisa cari suasana baru kan” jawab Vina sambil menyengir.
Dengan semua yang sudah mereka lakukan di rumah sakit, membuat mood Dimas menjadi sangat berantakan. Hingga akhirnya ia berpamitan untuk langsung berangkat kerja tanpa membahas apa pun.
“Loh, kok kamu kerja sih. Bukannya istirahat saja, apa lagi ini sudah hampir mau jam makan siang loh. Apa enggak sebaiknya berangkatnya setelah makan siang atau kamu libur saja Dim” ucap Mamah Mita mencoba mencegah Dimas.
“Tidak usah, Dimas bisa makan di kantor kok. Ya sudah Dimas mau siap-siap dulu...” ucap Dimas sambil berjalan ke arah kamarnya untuk mengganti pakaian.
Suci yang melihat ekspresi wajah Dimas seperti tidak baik-baik saja, membuat hatinya merasa bersalah karena sudah sedikit memaksakan Dimas agar mau mengikuti ucapan sang Mamah.
“Pah, itu Dimas kenapa ya kok mukanya kaya begitu. Apa dia kesal?” tanya Mamah Mita sambil menatap heran ke arah Dimas yang hampir tidak terlihat.
“Ya, Mamah pikir saja sendiri. Sudah tahu anak tidak mau melakukan tes-tes apalah itu, malah di paksa. Ya jadinya begini pasti dia masih sangat kesal karena dia sangat yakin kalau mereka akan memiliki anak tanpa harus melakukan hal apa pun” ucap Papah Angga dengan cuek.
“Maaf semuanya, Suci pamit ke atas dulu ya...” ucap Suci yang langsung menyusul Dimas ke dalam kamar.
“Tuh, lihat kan. Akibat ulahmu, mereka jadi sedikit ada gesekan kaya gini. Bagaimana kalau sampai mereka berantem, hem...? Bisa kan, Mamah tuh jangan ikut campur rumah tangga mereka. Biarkan mereka menjalaninya mau seperti apa, toh masalah anak itu rezeki dari Allah bukan seolah-olah mereka menunda akan hal itu kan..."
__ADS_1
"Dimas dan juga Suci juga pasti sangat menginginkan seorang anak untuk menemani di masa tua mereka, tapi bukan seperti ini caranya. Mau mereka sehat atau tidak yang penting hubungan pernikahan mereka akan selalu baik-baik saja, meskipun ada atau tidaknya anak di tengah-tengah keluarga kecil mereka" ucap Papah Angga dengan kesal dan langsung meninggalkan ruang keluarga.
Kini hanya tinggal Mamah Mita dan Vina saja yang tersisa. Lalu Mamah Mita mulai merasa ragu-ragu dan bergumam, “Apa iya aku salah? Tapi tidak kok, toh kalau mereka melakukan tes seperti itu kan kita semua jadi bisa tahu apa penyebabnya Suci belum juga hamil. Lagian juga tujuanku baik kok, kenapa seolah-olah aku yang salah”
“Mamah enggak salah kok, Abangnya saja yang lagi sensitif mungkin. Lagian siapa tahu Abang tahu sesuatu tentang Kak Suci kalau dia tidak bisa memiliki seorang anak, jadi Abang sedikit khawatir akan hal itu” jawab Vina yang mencoba untuk memanas-manasi keadaan.
“Kalau memang Abangmu tahu kalau Suci tidak bisa memiliki anak, kenapa dia malah nekat menikahinya? Padahal banyak di luar sana wanita yang bisa memberikan anak pada suaminya, kenapa harus memilih wanita yang tidak bisa memberikan anak. Dimana pikiran Dimas itu sih? Kalau sampai benar Suci tidak bisa memberikan anak pada Dimas, Mamah akan langsung menyuruh mereka untuk berpisah” ucap Mamah Mita dengan keadaan emosi lalu pergi begitu saja.
Vina yang melihat Mamahnya sudah seperti kebakaran jenggot membuat dirinya malah tertawa penuh arti.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hai para readers semuanya 🤗
Perkenalkan ini adalah karya novel ke-3 Author loh 🤩
Semoga kalian menyukainya ya 🤝
Dukung Author terus dengan cara berikut :
Like 👍
Komen 📨
Favorite ❤️
Rate 🌟
Dan tidak lupa selipkan hadiahnya ya semua... 😍🙏
Bunga, kopi atau sebagainya pun tak apa kok malah lebih bagus lagi pundi-pundi receh yang berterbangan di karyaku ini hihi 😆😜
Sayang kalian banyak banyak ❤️❤️❤️
__ADS_1
Terima kasih 🙏🙏
Papaaayyy~~~ 🤗🤗