
Kemudian mereka melepaskan pelukan mereka dan menatap manik mata satu sama lainya. Tatapan mereka semakin lama semakin dalam saja hingga tanpa mereka sadari wajah mereka semakin dekat dan kini jarak wajah mereka hanya sekitar dua centimeter jauhnya, namun tiba-tiba saja...
Om Telolet... Teloleett... Om Teloleettt...
Ponselnya Dion berbunyi dan membuat mereka pun menjadi canggung dan juga tegang. Kemudian Dion sedikit menjauh dari Lisa dan mengeluarkan ponselnya lalu melihat ID dari nama pemanggil.
"Apa sih yang Tuan inginkan sekarang... mengganggu waktuku dengan Lisa saja, atau jangan-jangan Tuan itu ingin balas dendam padaku karena waktu itu aku pernah mengganggu waktunya dengan Suci saat bulan madu mereka?" gumam Dion di dalam hatinya.
"Siapa yang menelponmu di malam hari seperti ini?" ucap Lisa dengan bingung.
"Tuan Arsya... aku tidak tahu kenapa dia meneleponku di malam hari seperti ini. Padahal kan saat ini di masih di tahap bulan madu bersama Suci kan..." jawab Dion dengan wajah anehnya sambil dia menatap layar ponselnya.
"Kalau begitu kamu angkat saja, siapa tahu jika ada sesuatu yang penting. Lagi pula tak mungkin kalau Tuan Arsya akan memanggilmu di malam hari seperti ini jika tidak ada sesuai yang darurat kan?" ucap Lisa yang membuat Dion langsung menganggukkan kepalanya.
Dion pun lalu menjawab panggilan dari Arsya yang malah membuat Dion kaget saat mendengar suara Arsya yang mana tidak pernah dia dengar sebelumnya.
π± "Di-Diiioon... ka-kau ada di ma-mana sekarang? Ce-cepatlah da-datang ke sini se-sekarang juga..." ucap Arsya dengan suara khawatirnya.
π± "Ada apa denganmu Tuan? Kenapa kau terdengar sangatlah khawatir dan cemas seperti ini? A-apakah semuanya baik-baik saja di sana? Apakah sesuatu terjadi pada kalian di sana?" ucap Dion dengan nada yang ikut khawatir.
π± "A-aku tidak tahu... ta-tapi Su-Suci... di-dia tiba-tiba saja terbangun di malam hari sambil memegangi perutnya da-dan dia menjerit kesakitan. A-aku tidak tahu apa yang harus a-aku lakukan sekarang Dion..." jawab Arsya sambil dia memeluk Suci yang meringkuk sambil memegangi perutnya.
π± "Sa-saat ini Bunda dan Ayah sedang pe-pergi dan aku tidak bisa menjangkau me-mereka. A-aku ti-tidak tahu apa yang harus a-aku lakukan... Su-Suci terus saja menangis sambil menahan rasa sakit di perutnya. Tolong aku Dion..." ucap Arsya dengan nada pasrahnya.
π± "APAAA!? Ke-kenapa Mbak Suci bisa sakit perut? Apakah dia makan sesuatu yang aneh? A-atau apakah Tuan sudah melakukan se-sesuatu yang kasar pada Mbak Suci yaaa..." ucap Lisa yang ikut khawatir saat mendengar suara Arsya yang mana Dion menggunakan speaker.
__ADS_1
π± "Itu tidak mungkin... a-aku dan Suci makan makanan yang sama jadi kenapa cuma Suci yang sakit perut. La-lagi pula ka-kami juga belum melakukan i-itu jadi bagaimana mungkin Su-Suci sakit perut karena hal itu" ucap Arsya dengan wajah memerahnya.
"Maaasss... sakit hiks... pe-perutku sakit Maasss... ra-rasanya seperti a-ada yang menusuk-nusuk dan be-bergerak dalam perutku uugghh... a-aku tidak tahan Mas, ra-rasanya sangatlah sakit hiks..." Suci meringis sambil memegangi perutnya.
"A-aku tahu sayang... to-tolong tahanlah sebentar ya... a-aku se-sedang meminta bantuan pada Dion sekarang, jadi tolong tahanlah sebentar lagi sayang..." ucap Arsya sambil mengelus wajahnya Suci yang kini mulai memucat.
Dion dan Lisa bisa mendengar suaranya Suci yang terdengar sangat kesakitan itu pun menjadi semakin khawatir dengan kondisinya Suci. Namun Dion tersadar akan sesuatu, jadi Dion langsung saja mengatakannya pada Arsya.
π± "Tuan... Kau bawalah Suci ke rumah sakit sekarang juga. Bukannya mobilmu ada diparkiran bawah tanah Apartemen? Kalau begitu pergilah ke sana dan bawa Suci ke rumah sakit sekarang. Aku dan juga Lisa akan menyusul kalian ke sana sekarang juga" ucap Dion dengan nada yang sedikit tenang.
π± "Ka-kau benar... aku sa-sampai lupa akan hal itu. Terima kasih Dion dan Lisa, tolong datanglah cepat ke rumah sakit karena a-aku tidak tahu ha-harus pada siapa lagi aku meminta bantuan" jawab Arsya dengan sedikit lebih tenang.
π± "Ti-tidak perlu berterima kasih Tuan Arsya, bagaimana pun Mbak Suci sudah seperti kakak kami sendiri jadi sudahlah pasti kami akan selalu membantu Anda yang mana Anda adalah suaminya Mbak Suci" ucap Lisa dengan senyuman.
"Sabarlah sebentar lagi sayang... a-aku akan membawamu pergi ke rumah sakit sekarang juga" Arsya lalu memakaikan kerudung pada kepala Suci yang saat ini sedang memakai baju tidur panjangnya.
"Sa-sakit Maaass... a-aku sudah ti-tidak bisa menahan rasa sakitnya hiks... aku ta-takut Mas, ba-bagaimana jika terjadi se-sesuatu padaku hiks... ba-bagaimana jika a-aku punya pe-penyakit kronis Mas" ucap Suci sambil dia menangis dalam pelukannya Arsya.
"Aku tidak peduli apa yang akan terjadi padamu, karena aku akan selalu ada di sisimu. Sekarang lebih baik kau berpikir positif saja karena selama aku masihlah hidup, maka aku tidak akan membiarkan apapun yang buruk akan terjadi padamu, paham!" tegas Arsya dan menggendong Suci keluar dari kamar mereka.
Arsya pun berjalan menuju Lift dan dia masuk ke dalam sambil menggendong Suci yang mulai lemas dan pucat. Arsya pun memencet tombol B3 yang artinya parkiran bawah tanah yang terbawah.
Ting !
Pintu Lift akhirnya terbuka dan mereka sudah sampai di parkiran terbawah di mana mobilnya Arsya di parkirkan. Lalu Arsya pergi menuju mobilnya dan ia pun membaringkan Suci di kursi belakang. Arsya kemudian masuk ke kursi supir dan dia mengemudi menuju rumah sakit dengan kecepatan penuh.
__ADS_1
Sementara itu dengan Lisa serta Dion, mereka juga langsung masuk ke mobil Dion dan pergi ke rumah sakit di mana Suci akan dirawat. Rumah sakit tersebut adalah rumah sakit terkenal di mana itu menjadi rumah sakit utama yang selalu menangani anggota keluarga Valleano.
Dion mengemudikan mobilnya dengan cepat sambil Lisa yang terus menerus mencoba menghubungi Bunda Reni dan Ayah Al yang masih saja belum bisa di jangkau saat ini. Sepertinya Ayah Al dan Bunda Reni berada di tempat terpencil yang sulit mendapatkan sinyal.
Tak butuh waktu lama pun akhirnya Dion dan Lisa sampai di rumah sakit terlebih dahulu. Di saat mereka baru saja keluar dari mobilnya, tiba-tiba mereka melihat mobil Arsya yang baru saja sampai dan berhenti di samping mobilnya Dion.
Tentu saja Dion dan Lisa langsung saja berjalan menuju pintu mobil Arsya dan tidak lama kemudian Arsya keluar dari mobil. Lalu Arsya membuka pintu mobil bagian belakang di bantu oleh Dion dan Lisa lalu Arsya pun menggendong Suci keluar dari mobil, tapi Suci sudah dalam kondisi lemas dan dia pun pingsan.
...β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦...
Hel... to the Lo... Hello guys... πππ
Kembali lagi dengan Author kalian yang banyak kekurangan ini... βΊοΈβΊοΈπ
Kalian tahu gak Author baru bikin Group Chat loh dan masih sepi nih π₯³π₯³π₯³
Jika kalian ingin join ke Group langsung saja ke beranda Author ya... πππ
Nama Group Chatnya itu adalah "Kang Salto Barbar" kayak Author π€£π€£π€£
Silahkan join aja guys, gak akan di apa-apain kok tenang aja ya... π€π€π€
Jaga diri kalian dan sampai jumpa di bab selanjutnya semuanya... π€π€π€
Papaaayyy~~~ ππ»ππ»ππ»ππ»ππ»
__ADS_1