
Sekarang Suci dan Arsya sudah duduk di pinggir kasur sambil Baby Kay yang sudah di baringkan di keranjang tidurnya yang ada di samping kasur mereka. Suci dan Arsya hanya duduk diam tanpa mengatakan satu patah kata pun sejak masuk ke dalam kamar.
"Sayang, bisakah kita berbicara serius?" ucap Arsya dengan wajah penuh keseriusan. Suci yang tadinya menatap ranjang Baby Kay kini langsung menoleh menatap Arsya dengan tatapan bingung.
"Ada apa Mas, apa ada masalah serius di perusahaan?" tanya Suci dengan penuh penasaran, namun ia terkejut saat Arsya memegang tangannya serta menggenggamnya perlahan.
"Bukan itu sayang, tapi ini tentang hubungan kita" jawab Arsya dengan tersenyum yang semakin membuat Suci merasa bingung.
"Ma-maksudnya tentang hubungan kita itu apa, Mas? Suci tidak paham, bisakah Mas berbicara langsung saja ke intinya soalnya Suci bingung" ujar Suci dengan wajah yang mulai panik serta kedua alisnya mengerut secara bersamaan.
"Tidak usah cemas sayang, aku tidak akan meninggalkan kamu dan anak kita. Bahkan aku akan selalu ada di samping kalian serta menjaga kalian semua dari apa pun sampai tidak akan ada satu orang pun yang berani menyentuh kalian sedikit pun"
"Aku juga tidak akan membuat istriku yang cantik ini sakit hati serta kecewa, aku malah akan membuat istriku ini merasa menjadi wanita yang paling bahagia dan juga beruntung bisa mendapatkan seorang pangeran sepertiku ini, hem..."
Arsya berbicara sambil tersenyum serta tangan kirinya yang masih menggenggam tangan Suci, serta tangan kanannya mengusap pelan pipi Suci hingga membuat wajah Suci merah merona dengan senyuman yang penuh malu.
"Ya ampun Mas Arsya... ayolah serius, kenapa Mas bercanda mulu sih. Katanya tadi ada yang mau dibicarakan serius denganku, lalu kenapa kamu jadi menggombal seperti ini sih hump... menyebalkan!"
"Padahal Suci sudah sangat cemas, gelisah, bingung, khawatir dan juga penasaran. Ini malah Mas Arsya membuat Suci semakin gelisah, udahlah Mas please... serius dulu dong, Suci penasaran apa yang mau Mas bicarakan pada Suci"
Suci berbicara dengan wajah kesalnya yang mana terlihat begitu menggemaskan di mata Arsya hingga membuat Arsya terkekeh kecil. Suci mengetahui itu semua malah memajukan bibirnya hingga Arsya langsung mengecupnya sekilas.
Suci yang menerima perlakuan manis itu membuat kedua matanya melotot, jantungnya berdebar sangat cepat, dan wajahnya bagaikan kepiting rebus.
__ADS_1
"Udah akh... waktunya untuk serius. Dengarkan aku baik-baik ya sayang, kalau aku ini sangat-sangat mencintaimu dan benar-benar menyayangimu. Kamu adalah belahan jiwaku yang tidak akan pernah aku lepaskan. Jika aku melepaskanmu, maka sama saja aku melepaskan jiwaku untuk meninggalkan diriku sendiri yang akan membuatku menjadi gila haha..."
Arsya lagi dan lagi berhasil membuat Suci semakin kesal dan juga mati kutu lantaran malam ini Arsya begitu menggodanya hingga berhasil membuat Suci terbang ke langit ke-7.
Suci yang berusaha menutupi rasa malunya itu, pun langsung saja memukul-mukul kecil dada bidang Arsya yang semakin membuat Arsya tertawa geli.
"Yaaaakkkk... dasar meyebalkan! Sudah aku bilang bicara yang benar dan serius, ini masih saja menggodaku" pekik Suci tanpa sadar jika suaranya bisa membuat Baby Kay terbangun.
"Ssstttt... sayang, suaramu itu jangan keras-keras nanti akan membangunkan Baby Kay loh haha... sudah-sudah baiklah, aku minta maaf sudah menggodamu deh habisnya wajahmu itu menggemaskan sih hihi..."
Arsya berceloteh sambil menahan kedua tangan Suci dengan lembut yang mana membuat Suci pun langsung cemberut serta membuang wajahnya ke samping. Kini di rasa sudah cukup bagi Arsya untuk bercanda serta menggoda istrinya, langsung memeluk Suci dari samping dengan penuh kasih sayang.
"Maafkan aku sayang, baiklah aku akan berbicara jujur. Beberapa hari ini aku kepikiran akan suatu hal tentang kita yang mana pada saat kita menikah itu kan kita tidak tahu jika kamu sedang hamil Baby Kay, kan?" ucap Arsya yang membuat Suci langsung menoleh menatap wajah Arsya yang kini berada di pundah Suci.
"Bukan itu sayang, jika aku tidak bisa menerimanya buat apa aku kasih nama kita di dalam namanya. Cuma yang jadi pikiranku saat ini itu, apakah pernikahan kita sah? Karena yang aku tahu jika seorang wanita sedang hamil itu pernikahan tidak akan sah, meskipun secara negara sah tapi secara agama itu belum sah"
Arsya menjelaskan apa yang selama beberapa hari ini mengganjal di dalam pikirannya, sehingga Suci yang baru saja menyadari bahwa apa yang dikatakan Arsya ada benarnya maka membuatnya terdiam seribu bahasa yang mana Suci langsung menunjukkan wajah sedihnya.
"Loh kok sedih sayang, kamu kenapa? Sudahlah jangan bersedih aku tidak bisa melihat istriku kaya gini. Aku berbicara seperti ini bukan karena apa-apa, tapi karena aku tidak mau kamu di pandang remes oleh siapa pun. Jadi..." ucap Arsya terpotong saat Suci langsung menoleh dengan air mata yang mengalir serta langsung menjawabnya.
"Jadi selama ini kita kumpul kebo, Mas? Terus kita ini bukan suami istri begitu? Jadi aku sudah melakukan jinah dengan pria yang bukan mahramku hiks... ma-mafkan aku Mas, karena aku pernikahan kita yang mewah itu sia-sia hiks..." ucap Suci sambil menangis.
"Ssttt... sayang, heii... dengarkan aku baik-baik ya. Kita tidak seperti apa yang kamu ucapkan barusan, bahkan kita juga tidak pernah melakukan hubungan intim hanya bersentuhan badan bukan?"
__ADS_1
"Ya mungkin menurut agama kita bukan suami istri lantaran kamu sedang mengandung Baby Kay, tapi secara negara kita adalah suami istri. Jadi untuk memastikan semuanya itu aku mau kita melakukan pernikahan ulang yang mana hanya akan ada keluarga, saksi dan juga penghulu saja"
"Maka dengan begitu, pernikahan kita akan benar-benar sah secara agama dan juga negara. Bagaimana? Apa kamu mau menikah lagi untuk kedua kalinya dengan orang yang sama?"
Arsya mengusap air mata yang ada di pipi Suci dengan meraup wajah Suci dan mengusap jarinya perlahan yang mana membuat Suci mengangguk pelan sambil tersenyum bahagia.
"Terima kasih Mas... karena Mas Arsya, Suci bisa merasakan apa itu artinya kebahagiaan yang sesunggunya dan karena Mas juga Suci bisa merasakan bagaimana rasanya benar-benar di perlakukan bagikan seorang istri yang begitu di syukuri oleh suaminya sendiri"
"Bahkan baru kali ini Suci bisa menjadi menantu yang mana dianggap bagaikan seorang anak oleh Bunda dan juga Ayah. Suci benar-benar sangat bersyukur kepada Allah, apa yang Suci lewati selama ini seperti dibayar lunas oleh-Nya"
Sucu tersenyum sangat bahagia, yang membuat Arsya ikut tersenyum sambil mengecup kening Suci sekilas dan kembali menatap tangan Suci yang kini di genggamnya serta kembali menatap wajah Suci.
"Ini belum lunas sayang, semua ini masih dalam proses yang mana semua akan terbayar lunas di saat MEREKA sudah menerima apa yang seharusnya MEREKA terima" ucap Arsya dengan menekankan katanya sehingga membuat Suci paham kemana arah ucapan Arsya.
Tanpa di sadari Arsya tersenyum penuh arti, yang mana Arsya tahu jika sebentar lagi Suci akan menjadi wanita yang tidak bisa lagi di remehkan oleh siapa pun termaksud orang-orang yang telah menyakitinya.
"Ya sudah, ini sudah sangat malam jadi kita istirahat ya... Besok kita akan bicarakan pada Bunda, Ayah, dan juga Papah agar mereka bisa membantu kita untuk mengurus pernikahan kita untuk yang kedua dan juga terakhir kalinya" ucap Arsya.
"Baiklah Mas, Suci manut saja. Apa pun yang Mas lakukan demi kebaikan kita Suci terus mensuport, menyemangati dan juga selalu mendoakan agar hubungan kita serta keluarga kecil kita bisa selalu dalam lindungan-Nya yang penuh kebahagiaan" jawab Suci dengan tersenyum.
Arsya hanya menganggukkan kepalnya kecil, dan langsung membuat mereka menatap ke ranjang Baby Kay untuk memastikan jika Baby Kay sudah tertidur pulas tanpa terganggu akibat ulah kedua orang tuanya.
Setelah di rasa aman semuanya, Suci dan Arsya langsung merebahkan dirinya dengan keadaan dada serta lengan Arsya yang menjadi bantal untuk Suci yang kini memeluk Arsya begitu erat. Hingga akhirnya mereka tertidur memasuki alam bawah sadarnya dengan keadaan yang sangt romantis.
__ADS_1