
“Astaghfirullah, kenapa rasanya pusing banget ya kepalaku. Ini benar-benar sangat berat untuk aku jalani sendirian, semoga saja aku bisa lebih kuat menerima semua cobaan-Mu ini ya Rab... amin...” Suci berbicara sambil mengingat semua perkataan Jeng Reni, yang malah membuat hatinya bimbang harus bagaimana lagi.
Lalu seketika Suci langsung pergi ke kamar mandi dengan mengambil wudhu untuk membuat hati serta pikirannya sedikit tenang. Dia langsung Shalat tahajud untuk meminta pertunjuk dari Yang Maha Kuasa agar ia tahu jalan manakah yang harus di pilih.
...*...
...*...
Hari Minggu di pagi hari...
Saat ini semua karyawan tidak hadir di kantor karena ini merupakan hari libur mereka untuk bisa bersama keluarga atau pun pasangan, namun tidak dengan Dimas dan Elsa. Mereka masih tertidur pulang dengan keadaan toples, lalu Elsa terbangun lebih dulu.
Elsa membuka matanya secara perlahan untuk menyesuaikan penglihatannya dengan cahaya ruangan. Lalu ia menoleh ke arah samping di mana saat ini Dimas masih tertidur pulas dan itu membuat Elsa tersenyum puas.
“Aku suka sikapmu semalam, Mas. Terlihat jelas betapa jantannya benda pusakamu itu, bahkan sampai membuatku merem melek saat merasakannya. Tidak masalah jika badanku terasa sangat pegal akibat pertempuran kita semalam, tetapi rasa puas yang aku dapatkan jauh lebih besar hihi...”
“Jika begini sih, aku harus benar-benar merebut Mas Dimas dari tangan Mbak Suci. Mungkin saja dengan adanya kejadian ini, aku akan dengan mudah mendapatkan semuanya. Kekayaan dan kejantanannya melekat di dalam diri Mas Dimas, jadi apa lagi yang aku tunggu. Bahkan Mas Dimas jauh melebihi Mas Fajar, tapi bagaimana dengan janjiku dengannya ya...”
“Sudah 1 bulan ini dia belum juga mengabariku tentang perpisahannya, bahkan sudah 1 minggu tidak ada kabar. Tapi ya sudahlah aku tidak peduli dengan semua itu sekarang. Lebih baik aku fokus untuk mendapatkan Mas Dimas agar bisa menjadi milikku seutuhnya. Dengan perlahan tapi pasti, aku akan menggeser posisi Suci dari kehidupan Mas Dimas haha...”
Gerutu Elsa di dalam hatinya, lalu ia kembali memasang wajah sedih dan menangis untuk menarik perhatian Dimas agar ia terbangun. Elsa mengambil selimut yang sudah berserakan di lantai untuk menutupi tubuhnya sambil bersandar di sandaran kasur, dan bersikap seolah-olah ia sangat malu dengan perilakunya itu.
“Hiks... A-aku sudah kotor, tega sekali Tuan Dimas memaksaku seperti ini. Padahal dia tahu jika aku ini adalah... Aku adalah sahabat istrinya, ta-tapi bagaimana bisa dia berbuat seperti ini padaku hiks...”
“Mbak Suci hiks... Maafkan Elsa karena telah mengkhianatimu Mbak. Elsa enggak tahu harus bagaimana lagi melawan Mas Dimas semalam hiks... Dia begitu kasar memaksakan dirinya padaku hiks...”
__ADS_1
Elsa menangis dengan sejuta kedramaannya dan membuat Dimas yang sedang tertidur pulas akhirnya terbangun akibat mendengar suara isak tangis tepat di telinganya. Dengan perlahan Dimas membuka matanya dan menatap ke arah sampingnya.
Dimas dikejutkan dengan keadaan Elsa di sampingnya dan berkata, “Ka-kamu? Nga-ngapain ada di sini, Elsa?”
“Hiks... Tu-Tuan jahat, Tuan sudah mengotoriku. Aku tahu aku ini sudah tidak pera*wan, tetapi bagaimana mungkin Tuan bisa memperlakukan saya seenaknya untuk memuaskan nafsu Tuan hiks...” teriak Elsa.
Dimas yang mendengar itu pun langsung terdiam seribu bahasa, ia menatap tubuhnya sendiri yang saat ini sedang dalam keadaan tidak menggunakan sehelai kain pun. Lalu dengan secepat kilat, Dimas mengambil bantal untuk menutupi benda kesayangannya.
“Kenapa Tuan setega itu sama saya? Apa salah saya, Tuan hiks... Saya adalah sahabat istri Tuan, lalu di mana otak Tuan. Kenapa Tuan bisa setega itu pada saya, bagaimana jika saya hamil hah!! Lalu apa kata orang nanti jika saya hamil di luar nikah hiks... Terus belum lagi bagaimana perasaannya Mbak Suci nanti”
“Saya sangat bersyukur kejadian waktu malam itu tidak sampai kelewat batas karena itu benar-benar murni kekhilafan kita berdua, tapi sekarang? Tuan malah memaksa saya untuk melayani hasrat Tuan itu hiks...”
“Apa Tuan kurang belaian dari Mbak Suci, sampai-sampai Tuan seperti ini pada saya hiks... Bukankah Tuan bilang kalau Tuan sangat mencintainya, lalu ini apa? Apa ini yang dinamakan cinta? Tuan malah berkhianat dengan sahabatnya sendiri hiks...”
“Cukup! Oke saya ngaku saya salah. Semalam mungkin karena saya pusing dan bayak tugas jadi saya membutuhkan sedikit ketenangan yang mana pada saat itu saya melihat belahan dadamu yang sangat menggiurkan. Dari situlah saya tidak bisa mengontrol apa yang ada di dalam tubuh saya semalam"
“Saya janji sama kamu kalau saya akan tanggung jawab, jika kamu hamil. Nanti saya akan mengurus anak itu bersama dengan Suci, jadi kamu tenang saja okay...”
Dimas berbicara dengan entengnya yang membuat Elsa memuncak dan berteriak, “Apa!! Dengan mudahnya Tuan berbicara seperti itu pada saya, lalu saya ini apa? Pela*cur? Ja*lang? Ataukah pemuas nafsu Tuan? Jadi jika Tuan butuh maka Tuan akan memaksa saya, namun jika tidak membutuhkan saya maka Tuan hanya menanggung setengahnya. Tidak!! Saya tidak mau! Jika Tuan mau bertanggung jawab maka Tuan harus menikahi saya!”
“Apa? Tidak! Apa kamu sudah gila Elsa! Saya sudah mempunyai istri, jadi mana mungkin saya menambah istri lagi! Jangan bo*doh kamu ya Elsa! Kamu harusnya bersyukur karena aku mau bertanggung jawab sama anak itu jika benar adanya, bagaimana jika aku lepas tangan?” bentak Dimas dengan wajah marahnya.
“Oke, baik! Jika Tuan tidak mau menikahi saya maka saya akan mengirimkan semua bukti-bukti itu pada Mbak Suci, keluarga Tuan, dan juga semua orang di sosial media. Biar kita sama-sama malu!” tegas Elsa dengan nada mengancam.
“Apa!!!!!! Ja-jadi kamu punya bukti atas perbuatan kita semalam? Ba-bagaimana bisa kamu melakukan itu?” ucap Dimas dengan wajah terkejut.
__ADS_1
“Ya karena saya berpikir jika kejadian ini akan membuat Tuan jadi semena-mena pada saya. Jadi dengan sengaja saya merekam semua perlakuan kasar Tuan pada saya” ucap Elsa yang membuat Dimas bungkam.
“Baiklah, nanti akan saya pikirkan lagi. Saya harus segera pulang ke rumah karena pasti Suci sudah menunggu saya di rumah” ujar Dimas dengan wajah lesunya.
“Lalu? Bagaimana dengan nasib saya? Baju yang saya gunakan sudah berserakan dimana-mana bahkan robek. Jadi saya harus pulang menggunakan apa sekarang?” gerutu Elsa dengan sangat kesal.
“Ambillah baju kemeja di lemari saya, pakai itu dan pulanglah. Nanti kita bicarakan lagi” saut Dimas dengan nada begitu lemas.
“Antarkan saya pulang, Tuan. Bagaimana mungkin saya pulang menggunakan kemeja Tuan? Bagaimana jika orang melihat saya dengan pakaian seperti itu dan berpikir aneh pada saya?” ucap Elsa yang malah membuat Dimas langsung pergi begitu saja menuju kamar mandi.
“Si*al! Pokoknya apa pun yang terjadi nanti, Mas Dimas harus menjadi milikku. Aku tidak akan pernah rela jika dia masih memilik untuk bersama dengan Mbak Suci. Sudah cukup Mbak Suci merasakan hidup enak selama ini, sekarang saatnya gantian denganku” gumam Elsa dengan tatapan menyorot.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hello guys... Selamat beraktivitas dan tetaplah semangat... 💪🏻💪🏻💪🏻
Author sangat berterima kasih karena selalu mendukung Author 🥺🥺🥺
Semoga Author bisa memberikan cerita yang lebih menarik untuk kalian 🤗🤗🤗
Jaga diri kalian dan teruslah tersenyum karena senyum adalah Ibadah 😁😁😁
Sampai jumpa lagi dan Salam sayang dari Author semuanya... 😆😆😆
Papaaayyy~~~ 👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻
__ADS_1