Keikhlasan Hati Seorang Istri

Keikhlasan Hati Seorang Istri
Flashback Vina dan Brayen


__ADS_3

Di dalam kamar Dimas dan Suci


Dimas memasuki kamar dengan perlahan, lalu ia melihat bahwa ruangan itu sangat kosong dan tak lama terdengar suara pintu terbuka.


Ceklek !...


Suci baru saja keluar dari kamar mandi dengan wajah yang sedikit lebih tenang, karena ia sudah membasuh wajahnya agar terlihat lebih segar.


“Dek, apa kamu masih marah sama aku?” ucap Dimas sambil berjalan mengikuti Suci yang duduk di sofa kamar mereka.


“Aku tidak marah, hanya saja aku merasa kecewa dengan semua ini. Padahal aku selalu bilang jika Mas ingin menikah lagi maka silahkan, tapi tidak dengan cara main belakang seperti ini. Kita juga harus ada perjanjian di atas materai kalau aku sama wanita itu harus saling berbagi hak kami, serta Mas juga harus bisa berlaku adil pada kami” jawab Suci.


Dimas pun terdiam sejenak, lalu ia kembali mengutarakan semua perasaannya, “Jujur ya Dek, sepertinya Mas tidak bisa jika kita menjalani rumah tangga hanya berdua saja. Mas juga butuh keturunan karena anak itu bisa menjadi obat di saat kita merasa lelah, cape dan sebagainya. Apa lagi saat kita melihat canda tawa anak, pasti akan membuat hidup kita semakin lebih berwarna”


“Tapi Mas selalu berpikir 2 kali untuk itu, Mas hanya ingin jika nanti Mas sudah menemukan wanita itu, kamu tidak boleh menghakiminya karena itu murni pilihan, Mas. Mas melakukan ini semua bukan seolah-olah demi kepuasan diri Mas sendiri, tapi demi keluarga kita dan juga kamu supaya kamu dan Mamah bisa kembali akur. Mungkin dengan cara ini, Mamah bisa menerimamu sebagai menantu tertuanya”


Dimas berbicara dengan sedikit kegugupannya, ia merasa sangat takut dan juga hati-hati dalam mengutarakan perasaannya pada Suci. Belum lagi yang mana Elsa itu adalah sahabat dari Suci. Apakah jika Dimas menyebut namanya nanti, Suci tidak akan syok dan hancur? Jadi Dimas mengurungkan niatnya lebih dulu supaya bisa menunggu waktu yang pas.


“Ya kamu benar Mas, mungkin dengan aku mengizinkan kamu menikahi wanita lain itu bisa membuat hubungan aku dan Mamah kembali membaik. Aku juga akan sangat senang jika wanita itu bisa membagi hak anaknya yang juga akan menjadi anakku, jadi kita bisa merawat mereka bersama-sama” ucap Suci dengan hati yang berdetak dengan kencang.


Seolah-olah pikiran Suci mengatakan iya atas ucapan Dimas, namun beda dengan hatinya yang berusaha keras menolak semuanya. Tapi ya begitulah Suci, dia tetap kekeh dengan pendiriannya untuk mempertahankan hubungan dan juga cintanya yang tulus demi kebahagiaan rumah tangga.


Dimas tersenyum bahagia saat mendengar jika Suci tidak keberatan dengannya menikah lagi, hanya saja Dimas masih ragu menyebutkan nama perempuan itu. Mungkin Dimas perlu waktu untuk menyebutkan satu nama yang nantinya akan membuat Suci syok.


“Terima kasih sayang, kamu memang istri terbaik yang aku miliki. Meskipun nanti aku memiliki istri lagi, tapi aku janji aku akan bersikap adil kepada kalian dan juga aku akan mengutamakan kamu, Dek” ucap Dimas sambil mencium tangan Suci berkali-kali.


Suci hanya bisa tersenyum kecil, ia merasa senang saat melihat suaminya bisa sebahagia itu hingga tanpa Suci sadari hatinya terasa begitu sakit.


...*...


Di kamar Vina


Vina yang sudah pulang dari liburannya membuat ia sedikit kelelahan, akibat Brayen yang terus menguras tenaganya saat berhubungan. Lalu Vina tanpa sengaja kembali teringat di malam yang mana ia menyerahkan seluruh hidupnya kepada Brayen.


Flashback Vina dan Brayen


Di pagi hari Brayen terbangun dari tidurnya, ia sedikit memegangi kepalanya yang masih terasa pusing.


“Ssttthh... aww... Kepalaku kok puyeng banget ya” ujar Brayen yang mencoba membuka kedua matanya sambil memijit kecil keningnya.


Tanpa sengaja Brayen menoleh ke arah sampingnya, yang mana Vina tertidur dalam keadaan polos yang hanya tertutup selimut. Brayen kembali mengingat kejadian panasnya bersama Vina dan membuat ia tersenyum bangga.

__ADS_1


“Akhirnya aku bisa memilikimu seutuhnya, Vin. Inilah yang aku tunggu-tunggu ya meskipun kamu begitu sombong dan angkuh, tapi entah kenapa aku begitu mencintaimu” ucap Brayen sambil membenarkan rambut Vina yang sedikit menutupi wajahnya.


Brayen mengusal pipi Vina, sambil ia memiringkan tubuh polosnya yang tertutup selimut sampai batas perut. Ia sedikit mengangkat kepalanya dengan menadahkan satu tangannya sebagai tumpangan kepalanya. Kemudian Brayen tersenyum sambil menatap wajah cantik Vina yang terlihat begitu cantik saat tidur.


Bahkan sifat keangkuhannya seketika hilang dan menjadi seperti bayi yang sangat lucu. Akibat tangan Brayen yang terus mengusap wajah Vina, membuatnya sedikit tergeliat. Brayen yang menyadari Vina sudah terbangun, membuat ia langsung mencium kening Vina.


“Good morning, Baby. Bagaimana tidurmu, nyenyak?” tanya Brayen saat melihat Vina mulai membuka matanya serta menyesuaikan cahaya di ruangan itu.


“Errghh... Morning too, Bray” jawab Vina dengan suara khas bangun tidur, dan Vina belum menyadari jika kini tubuhnya sama-sama polos.


“Apa punyamu masih sakit?” tanya Brayen dengan tutup poin yang membuat Vina bingung, lalu saat ia ingin bergerak tiba-tiba saja Vina menjerit.


“Aarrrghhh... Sttth awhhh... Aduh, kenapa rasanya sakit banget” keluh Vina sambil menutup matanya.


Brayen hanya bisa tersenyum melihat wajah Vina yang lucu, apa lagi sampai detik ini Vina belum menyadari semuanya.


“Heheh... Maaf sayang, mungkin semalam aku mainnya sangat kasar. Jadi punyamu pasti akan terasa sangat sakit” jawab Brayen yang membuat Vina segera menoleh ke arahnya dengan mata membola.


“Ma-main? Ma-maksudmu...” ucap Vina dengan kepanikannya, dengan sekilas Vina menatap tubuhnya yang polos hanya tertutup dengan selimut.


Bahkan baju-baju serta dalaman mereka semua berserakan dimana-mana dan kasur yang mereka tempati juga sudah tidak terbentuk akibat pergulatan panas keduanya.


“Bra-Bray, ja-jangan bilang se-semalam kita melakukan hal itu?” ucap Vina sambil melihat tubuhnya dan langsung beralih menatap wajah Brayen yang tersenyum.


“Jujur, hari ini aku merasa bahagia banget Vin. Aku sudah berhasil memilikimu, ya meskipun kamu itu orangnya angkuh tapi aku enggak bisa membohongi diriku sendiri jika aku mencintaimu dan itu murni dari hati bukan sekedar omongan” Brayen mengusap sayang wajah Vina agar membuatnya sedikit tenang.


“Tapi Bray, apa ini tidak akan jadi masalah ke depannya? Bagaimana jika aku hamil? Lalu bagaimana jika orang tuaku tahu aku sudah tidak pera*wan? Lalu kamu, apa kamu akan meninggalkanku setelah mendapatkan semua ini?” Vina mencecar Brayen dengan semua pertanyaan yang seakan-akan menyudutkannya.


“Selama kita melakukannya, aku janji akan bermain bersih dan kamu juga harus siap melayaniku karena hanya dengan ini aku bisa melupakan wanita lain serta bisa fokus menjalani hubungan denganmu, Vin”


“Kalau untuk kedua orang tuamu, jika kamu tidak mengatakannya mereka juga tidak akan tahu kok. Nanti juga ada saatnya aku datang ke rumahmu untuk melamarmu, tapi nanti bukan sekarang karena aku masih belum siap untuk menjalani rumah tangga yang sepertinya sangat menyulitkan. Aku harus kuat mental jika ingin terjun ke hubungan yang seserius itu”


“Apa kamu siap menungguku? Apa lagi aku juga baru mulai merintis usaha untuk modal kedepannya agar bisa menghidupkan keluarga kecil kita. Jadi aku benar-benar butuh kamu untuk mensupport dan juga bisa membuat aku merasa nyaman”


Lagi dan lagi Brayen mengutarakan isi hatinya yang membuat Vina meneteskan air matanya, ini kali pertama Vina mendengar ucapan seserius ini dari Brayen. Bahkan Brayen pun sama, dia tidak menyangka jika cintanya kepada wanita sombong dan angkuh seperti Vina ini begitu kuat. Dengan semua keterharuan Vina langsung memeluk tubuh polos Brayen dengan begitu erat, sedangkan Brayen tak henti-hentinya menciumi wajah Vina.


“Ya sudah sekarang kita mandi ya biar bisa gabung sama anak-anak lainnya. Kasihan kalau mereka menunggu kita terlalu lama” ucap Brayen.


“Ta-tapi Bray, punyaku...” ucap Vina dengan ragu.


Brayen yang mengerti kemana arah omongan Vina membuat ia terkekeh geli, “Hehe... Aduh kasihan, masih sakit ya. Ya sudah aku gendong ya, kita mandi bareng”

__ADS_1


“Tapi jangan macam-macam ya kan punyaku masih sakit” ucap Vina dengan wajah waspada.


“Kita lihat saja nanti, sayang hehe...” ucap Brayen yang langsung menggendong Vina dan membawanya ke kamar mandi dengan keadaan keduanya sangat polos.


Bukan Brayen namanya jika ia tidak pandang bulu dalam menggoda lawan jenisnya, bahkan Vina pun sampai terbuai dengan sentuhannya. Jadilah mereka melakukan hubungan intim kembali sambil mandi. Bahkan saat ini mereka melakukannya dalam keadaan sadar serta sama-sama menyukainya.


Vina yang awalnya ketakutan kini malah ketagihan dan juga menikmati setiap pergulatan mereka di dalam bathtube. Sampai seketika keduanya sudah rapi dengan setelan bajunya, lalu tak sengaja keduanya melihat ke arah kasur yang terdapat bekas darah di mana-mana yang membuat mereka saling menatap dan tertawa bersama.


Dengan langkah kecilnya Brayen membantu Vina untuk berjalan ke arah ruang tamu untuk berkumpul bersama yang lain. Saat mereka hampir sampai, semua teman-temannya melihat ke arah Vina dan Brayen.


“Wihh... Sepertinya semalam ada yang habis jebolin gawang nih haha...” ledek Farrel.


“Haha... Gimana? Gimana? Rasanya sakit campur enak kah?” ucap Kai sambil tertawa bersama Nela saat melihat Vina yang kesusahan berjalan.


“Ckk!! Kalian ini bisa enggak sih jangan menggodaku. Lagian juga namanya baru pertama ya beginilah, kaya kalian enggak pernah merasakannya saja” saut Vina dengan kesal sambil duduk di antara sofa mereka.


“Sudah jangan goda mereka lagi toh kita juga semalam sama-sama melakukannya kan, hanya bedanya kita mende*sah mereka menjerit hahaha...” ucap Kenzie yang membuat semua tertawa termasuk Brayen.


Vina yang melihat Brayen tertawa pun malah langsung merasa kesal, lalu ia mencubit perutnya hingga memelintirnya supaya Brayen bisa merasakan rasa sakit yang ia rasakan saat ini.


“Aw... aww... awwwhhh... Sa-sakit sayang, sakit...” keluh Brayen sambil meringis.


“Makanya ketawain aja aku terus, biar kamu bisa ikut merasakan apa yang aku rasakan” saut Vina dengan wajah kesalnya menatap tajam ke arah Brayen.


“Hehe... awwhhh... Ya ya ya, ma-maaf deh aku janji enggak ketawa lagi” ucap Brayen sambil sedikit tertawa dan menahan rasa sakitnya.


Vina yang sudah cukup puas pun langsung melepaskannya, sedangkan mereka semua malah tertawa melihat Brayen yang biasanya terlihat pemberani kini menjadi sangat takut di depan singa betinanya. Pada akhirnya mereka pun melanjutkan sarapannya dengan memesan beberapa makanan, dan tak lupa Kai yang memberikan salep untuk Vina agar bisa mengurangi rasa sakitnya karena nanti siang, mereka akan kembali jalan-jalan sambil menuju arah pulang.


Flashback Off


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hello guys... Selamat beraktivitas dan tetaplah semangat... 💪🏻💪🏻💪🏻


Author sangat berterima kasih karena selalu mendukung Author 🥺🥺🥺


Semoga Author bisa memberikan cerita yang lebih menarik untuk kalian 🤗🤗🤗


Jaga diri kalian dan teruslah tersenyum karena senyum adalah Ibadah 😁😁😁


Sampai jumpa lagi dan Salam sayang dari Author semuanya... 😆😆😆

__ADS_1


Papaaayyy~~~ 👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻


__ADS_2