Keikhlasan Hati Seorang Istri

Keikhlasan Hati Seorang Istri
Wanita yang Sangat Baik


__ADS_3

Suci mengoceh di depan cermin dengan penuh harapan yang begitu besar, ia percaya jika ini adalah suatu jalan yang Allah berikan padanya untuk bisa kembali meluluhkan hati mertuanya.


Cuman butuh beberapa menit saja, Suci sudah siap dengan hijabnya yang di bentuk secantik mungkin hingga membuat Suci kagum dengan dirinya Sendiri. Ia pun tersenyum sambil memutar-mutari badannya agar terlihat sangat sempurna dan cocok.


Kini setelah di pastikan semua pas, Suci langsung memakai body lotion di kedua tangannya. Lalu memakai jam tangan kecil yang terkesan sangat cantik di pergelangan tangan Suci. Terakhir, ia menyemprotkan beberapa kali minyak wangi di seluruh tubuhnya penuh dengan senyuman.


Entahlah, kali ini Suci terlihat seperti seorang gadis yang ingin berkencan pertama kalinya bersama kekasihnya. Padahal ini merupakan kencannya untuk pertama kali bersama mertuanya setelah sekian lama tidak bisa berdekatan dengannya.


“Alhamdulillah, selesai juga. Ya ampun, Suci hampir 2 jam menghabiskan waktu cuma untuk berdandan seperti ini. Astaghfirullah, semoga Mamah tidak marah karena Suci terlalu lama di dalam kamar” ucap Suci sambil melihat jam di pergelangan tangannya.


Suci yang sudah mulai paniknya langsung gusrak-gusruk memasukkan dompet hingga ponsel di dalam tas kecilnya. Lalu ia segera mengganti sendal rumah dengan sepatu sendal yang sedikit memiliki hak.


Kemudian Suci berlari kecil keluar kamar dan menuruni anak tangga dengan sangat cepat menuju ruang keluarga. Wajah Suci terlihat sangat ketakutan jika mertuanya kembali marah dan tidak jadi pergi dengannya, maka perjuangan Suci semuanya akan sia-sia. Namun saat Suci sudah sampai di ruang keluarga ia tidak melihat Mamah Mita di sana dan itu membuat Suci sangat lega.


“Hah... hah... Alhamdulillah, ternyata Mamah belum selesai siap-siapnya” ucap Suci sambil menarik nafas yang sedikit memburu.


“Kata siapa?” ucap Mamah Mita tepat di samping Suci, yang membuat ia terkejut hingga menoleh.


“Astaghfirullah... Mamah ini buat Suci kaget saja” ucap Suci sambil memegangi dadanya yang berdetak sangat kencang.


Ketika Suci asyik menarik nafas tadi, Mamah Mita sudah keluar dari kamarnya dan langsung mendekati Suci. Tetapi karena Suci masih di landa ketakutan, jadi ia sampai tidak sadar bahwa Mamah Mita sudah berdiri tepat di sampingnya.


“Kenapa? Kamu ini kaya lihat hantu saja, lagian ngapain berdiri di situ sambil melamun. Nanti kesambet, baru tahu rasa” celetuk Mamah Mita yang langsung meninggalkan Suci.


Suci yang melihat itu pun, langsung mengejar mertuanya dengan langkah kecilnya sampai mereka berjalan berdampingan.


“Mah, bagaimana penampilan Suci? Apa ini masih terlihat memalukan saat jalan sama Mamabh?” tanya Suci di sela-sela langkah mereka yang ingin berjalan keluar rumah.


Mamah Mita yang mendengar pertanyaan itu pun seketika membuat langkah kakinya terhenti dan menatap Suci dari mulai ujung kepala hingga ujung kaki. Tak di sangka, kini reaksi Mamah Mita benar-benar sangat terkejut menatap penampilan Suci yang begitu berbeda hari ini.


“Cantik...” gumam Mamah Mita dengan suara kecilnya sambil tersenyum, namun masih bisa terdengar di telinga Suci.


“Apa yang tadi Mamah bilang? Cantik? Benarkah hari ini Suci terlihat cantik? Wah... Senangnya Suci bisa melihat Mamah tersenyum seperti ini. Suci kangen deh, lihat senyuman ini” Suci bertanya-tanya tentang apa yang ia dengar, untuk memastikan jika dia tidak salah mendengar ucapan mertuanya.

__ADS_1


Tetapi dibalik itu semua, Suci benar-benar sangat bahagia karena akhirnya ia bisa sedekat ini dengan mertuanya. Sampai-sampai Suci mendapat senyuman atas penampilannya hari ini. Suci tak menyangka dengan reward yang telah ia terima hari ini, ya meskipun hanya senyuman dari sang mertua tapi itu adalah hal yang begitu langka untuk ia dapatkan setiap harinya.


Kebahagiaan yang Suci rasakan hari ini, berasa seperti sebuah hadiah yang ia dapatkan dari buah kesabarannya untuk menghadapi semua cobaan. Suci tersenyum sangat lebar dengan wajahnya semakin bersinar yang menandakan bahwa ia benar-benar tidak menyangka kalau kerja kerasnya hari ini begitu membuahkan hasil yang cukup baik.


“Apa tadi kamu bilang? Cantik? Ti-tidak, sejak kapan saya bilang kamu cantik” pekik Mamah Mita dengan gengsinya.


“Loh, bukannya tadi Mamah sendiri yang bilang kalau Suci cantik?” tanya Suci dengan wajah bingungnya.


“Ti-tidak, ngapain juga saya bilang kamu cantik. Jangan geer ya. Ma-maksud saya, hem... i-itu, e... a-anu... ba-baju kamu, iya baju kamu yang cantik. Jadi tidak perlu sombong seperti itu” saut Mamah Mita dengan terbata-bata.


Suci terdiam sejenak sambil menatap penuh intens wajah Mamah Mita. Suci sebenarnya sudah tahu jika Mamah Mita berbicara seperti itu karena ia sangat gengsi untuk mengatakannya. Apa lagi kepada Suci, yang mana hubungan mereka sudah lama tidak baik-baik saja tidak seperti pada awal pernikahan Suci.


“Oh gitu, Mah. Ya sih, baju ini memang sangat cantik seperti yang memberikannya” ucap Suci sambil melihat ke baju gamisnya, kemudian menatap Mamah Mita penuh senyuman.


“Kenapa ngelihatin saya seperti itu? Apa ada yang salah dengan penampilan saya?” tanya Mamah Mita yang langsung menatap dirinya sendiri.


Suci hanya bisa tersenyum sambil berkata, “Tidak kok, hari ini dan sampai kapan pun Mamah tetap terlihat cantik bagi Suci dan Mamah juga merupakan Ibu terbaik untuk anak-anaknya”


Mamah Mita yang mendengar itu pun langsung terdiam, hatinya bergetar sangat kuat yang membuat dirinya tidak bisa berkata apa-apa lagi. Mamah Mita merasa bahwa ia sudah terlalu banyak membuat kesalahan terhadap Suci, namun Suci masih bisa bersikap baik kepadanya .


“Mah... Mamah kenapa diam?” ucap Suci yang langsung menyadarkan Mamah Mita dari lamunannya.


“Sudah, ayo cepat pergi. Eh tunggu, ini mau naik mobil siapa?” tanya Mamah Mita.


“Naik mobil Suci aja, yuk Mah. Biar Pak Dandi yang mengantarkan kita kemana pun Mamah mau” ucap Suci sambil tersenyum.


Mamah Mita pun tidak menjawab apa pun dan langsung saja pergi lebih dulu untuk memasuki mobil Suci, kemudian Suci agak sedikit berlari kecil supaya bisa menyusul mertuanya itu. Setelah mereka masuk ke dalam mobil, Pak Dandi pun menutup pintu mobil hanya dengan menekan tombolnya lalu ia berlari menuju pintu kemudi.


Tak butuh waktu lama lagi, mobil sudah bersiap untuk menelusuri setiap jalan yang akan mereka lewati. Di sepanjang perjalanan, suasana di dalam mobil begitu hening dan tidak ada obrolan sedikit pun dari mereka semua dan tiba-tiba saja Pak Dandi yang tidak tahu mau kemana, langsung menanyakan tujuan mereka.


“Maaf Nyonya, Nona... Sebenarnya ini kita mau pergi kemana ya, saya lupa untuk menanyakan kemana saya harus mengemudikan mobil ini?” ucap Pak Dandi dengan ramah sambil menatap ke arah spion atas.


Suci yang juga tidak tahu mau kemana, langsung menatap mertuanya yang seolah-olah ingin meminta jawaban.

__ADS_1


“Mah...” ucap Suci terpotong saat Mamah Mita menyelang pembicaraannya.


“Kita ke Mall Margapuri saja, Pak” ucap Mamah Mita dengan sangat cuek yang membuat Pak Dandi hanya bisa menganggukkan kepalanya.


Suci yang melihat mertuanya diam-diam tidak henti-hentinya tersenyum meskipun ia masih di cuekin, namun tidak merubah apa pun di dalam diri Suci. Dia benar-benar masih terlihat bahagia bisa pergi berdua dengan mertuanya. Kini mereka sudah menghabiskan waktu selama 20 menit di perjalanan hingga akhirnya mereka sampai di sebuah Mall terbesar dan juga sangat lengkap.


Di Mall Margapuri...


Mereka turun dari mobil dengan di bukakan pintu oleh Pak Dandi selaku sopir pribadi Suci. Mamah Mita keluar mobil dengan sangat elegan, sedangkan Suci ia masih saja menunjukkan senyuman manisnya bahkan tak lupa ia selalu mengucapkan terima kasih pada Pak Dandi karena sudah mau melayaninya begitu baik dan ramah. Mereka berdua memasuki Mall sambil berjalan beriringan.


“Wah... Mall-nya sangat besar ya, Mah. Suci baru pertama kali ke sini, apa Mamah sering ke sini bersama Vina?” tanya Suci sambil membuka obrolan supaya tidak terlihat sangat kaku.


“Jelaslah kamu tidak pernah ke sini, orang kamu tidak bisa jauh-jauh dari dapur. Apa lagi kamu selalu lengket dengan Dimas” saut Mamah Mita.


“Ya memang benar sih, Mah. Cuma kan Mamah tidak pernah mengajak Suci, jadi lebih baik Suci di rumah saja mengurus yang lainnya dan jika sempat ya Suci ke kantor Mas Dimas” jawab Suci yang membuat Mamah Mita menolehnya sebentar dan kembali menatap ke depan.


“Ya kan saya sudah sama Vina, jadi buat apa saya mengajak kamu? Nanti siapa yang akan memasak makanan di rumah? Bi Tin? Bi Tin sudah cukup tua, kasihan dia jika mengerjakan pekerjaan terlalu berat” ucap Mamah Mita beralasan.


“Tapi kan tidak masalah Mah jika hanya sesekali mengajak Suci untuk pergi bersama kalian. Lagian Suci juga tidak akan minta yang aneh-aneh kok. Asalkan Suci bisa berjalan bersama kalian saja, itu sudah membuat Suci sangat senang kok” jawab Suci.


Mamah Mita yang mendengar itu pun langsung menghentikan langkahnya dan menatap Suci penuh intens.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hello semua pembaca setia kesayanganku... 😊😊😊


Semoga kalian sehat selalu dan terus bahagia semua... 😇😇😇


Terima kasih atas semua dukungan kalian selama ini... 🙏🏻🙏🏻🙏🏻


Mohon terus dukung Author yang masih banyak kekurangan ini 🥺🥺🥺


Sayang kalian banyak banyak para pembaca setiaku ❤️❤️❤️

__ADS_1


Jaga diri kalian dan sampai jumpa lagi semuanya... 🤗🤗🤗


Papaaayyy~~~ 👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻


__ADS_2