Keikhlasan Hati Seorang Istri

Keikhlasan Hati Seorang Istri
Bunda Reni dan Ayah Al


__ADS_3

Dengan hitungan detik, Arsya sudah mulai menyadari kata-kata terakhirnya dan membuat ia langsung menenggelamkan wajahnya ke bawah bantal dalam keadaan menungging dan membuat ia berteriak sekencang mungkin.


AAAaaaAAAaaa...


“Dasar Arsya bod*doh!! Kenapa kau berbicara seperti itu!!! Apa kau lupa, jika wanita itu bilang kalau jika omongan yang keluar dari mulutmu itu sama saja seperti kamu sedang berdoa. Be-berarti aku...?”


“Huuuuaaaaaaa... Tidak, tidak, tidak!! Sebelum ucapan itu terkabul, lebih baik aku segera shalat dan menarik ucapanku. Ya itu yang terbaik uwaa...”


Arsya berbicara dengan semua kepanikannya di dalam hatinya, setelah itu dia berjalan dengan cepat menuju kamar mandi. Dapat kita lihat jika wajah Arsya terlihat sangat memerah, apa lagi kulitnya yang putih membuat kupingnya ikut memerah seperti habis di jewer begitu keras. Entah lah Arsya kerasukan apa sampai membuat ia kembali mengingat tentang kewajibannya.


Arsya keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang cukup basah, saking ia terburu-buru hingga membuat ia tidak sadar jika hampir seluruh pakaiannya basah. Arsya mengambil sejadah dan juga peci yang biasa ia gunakan, bahkan ia memakai sarung dan terlihat betapa tampannya ia sampai membuat wajah sangarnya kini terlihat sangat kiyut.


2 rakaat sudah selesai Arsya laksanakan, kini tinggal doa khusus yang belum ia panjatkan. Meskipun Arsya sudah lama tidak menjalankan kewajibannya sebagai Umat Muslim, tetapi ia tidak lupa sedikit pun dengan surah atau Dzikri yang lainnya. Satu demi satu Arsya ucapkan dengan sungguh-sungguh, hingga di ujung waktunya ia berdoa.


“Ya Allah, dzat yang wajibul wujud yang bersifat dengan segala sifat kesempurnaan... Hamba datang untuk memohon serta meminta pertolongan pada-Mu dengan segenap semua kesalahan dan dosa yang pernah Hamba lakukan. Hamba mohon ampunilah segala dosa Hama dan juga kedua orang tua Hamba. Berikanlah kami kesehatan, kesejahteraan dan juga umur yang panjang”


“Hamba tahu, Hamba termasuk ke dalam golongan Umat yang tidak pernah taat kepada-Mu. Namun terlepas dari semua itu, Hamba hanya belum bisa mengikhlaskan apa yang terjadi pada kehidupan percintaan Hamba ini. Berikanlah Hamba petunjuk agar Hamba bisa menemukan siapa dalang di balik kematian Thirta ya Rab...”


"Hamba juga memohon dengan sangat, cabutlah omongan Hamba yang tadi. Hamba memang sangat mengagumi dia, tetapi Hamba juga tahu diri siapa dia dan siapa Hamba. Namun jika memang Hamba berjodoh dengannya Hamba terima, ehh... E-enggak maksudnya Hamba tidak terima, ta itu maksudnya”


“Ya ampun Arsya... Ini kenapa sih kamu doa saja sampai enggak khusyuk begini. Niat mau ngebatalin ucapan tadi malah sekarang mengucap untuk kedua kalinya. Astaghfirullah... Maafkan Hamba ya Allah karena tidak bisa Khusyuk. Ini ada apa Ya Allah, kenapa Hamba selalu memikirkan istri orang yang jelas-jelas Hamba saja tidak begitu mengenalnya”


“Apa ini pertanda dari-Mu, jika Hamba harus melupakan semua yang sudah terjadi dan mencoba mengikhlaskan kepergiannya. Dengan begitu Hamba akan bisa melanjutkan hidup Hamba kedepannya? Tetapi kenapa rasanya sangat sulit Ya Rab... Bayang-bayang akan kenangan indah bersamanya selalu saja memenuhi memoriku”


“Namun jika memang itu yang terbaik Hamba akan coba mengikhlaskan dia dengan perlahan. Mohon bantu Hamba untuk melepaskan rasa trauma ini, buatlah Hamba kembali menjadi Hamba yang selalu taat pada-Mu serta melupakan balas dendam yang melekat di dalam hati Hamba ini”


“Hamba mohon, bimbinglah Hamba untuk kembali ke jalan-Mu supaya Hamba tahu langkah apa yang harus Hamba ambil untuk ke depannya amin ya Rabbal’alamin...”


Arsya menyudahi doanya yang sedikit membuatnya tidak fokus, bahkan jantungnya pun sudah jauh lebih baik dari tadi. Saatnya Arsya kembali rebahan di atas kasur karena tubuhnya masih sedikit lemas dan kepalanya pun kembali pusing dan tak terasa akhirnya ia ketiduran.


Sedangkan Suci, ia sudah berada di dapur membantu Bi Atun membuat sarapan istimewa untuk menyambut kehadiran Ayah Al yang baru saja kembali ke Indonesia.

__ADS_1


...*...


...*...


Tepat pukul 7 pagi, Suci dan Bi Atun sedang menyusun makanan di atas meja makan dan terlihat sangat menggiurkan. Mereka membuat menu nasi goreng dengan suwiran ayam, udang, bakso, sosis dan juga beberapa potongan sayur lainnya. Tak lupa di tambahkan dengan telur mata sapi, serta air putih.


Suci menata semua piring, sendok, garpu dan gelas di depan kursi mereka masing-masing. Namun kedatangan Bunda Reni dan juga Ayah Al mampu membuat Suci sedikit terkejut.


“Pagi!!” sapa Ayah Al terhadap Bi Atun dan juga Suci dengan menggunakan nada dinginnya.


Suci yang tidak melihat siapa yang datang, ia langsung berbicara sambil membalik tubuhnya menatap orang tersebut.


“Pagi Mas...” Suci terdiam dan tidak melanjutkan ucapannya saat melihat pria paruh baya berdiri dengan penuh ketegasan dan juga wajahnya sangat datar.


“Pagi Tuan, dan selamat datang kembali di rumah ini. Silahkan di cicipi makanan yang sudah Non Suci buatkan. Semoga kalian semua menyukai masakannya, saya pamit permisi...” ucap Bi Atun sambil tersenyum membungkukkan tubuhnya, kemudian ia pergi begitu saja.


Bunda Reni dari tadi hanya bisa senyum-senyum menatap Suci yang menunjukkan wajah gemasnya.


Bunda Reni mencoba meledek Suci sambil bergelayut di tangan kanan Ayah Al.


“Eh... E-enggak kok, Bun. Bu-bukan begitu maksud Suci, cuma tadi Suci kira itu Mas Arsya... Maafkan Suci, Tuan. Suci tidak tahu jika yang berbicara adalah Tuan sendiri. Maaf juga jika Suci salah telah lancang memanggil Tuan dengan sebutan Mas”


Suci menundukkan kepalanya, karena ia merasakan bahwa ia telah melakukan kesalahan besar terhadap orang yang lebih tua darinya.


“Stop panggil saya Tuan, dan mulailah belajar memanggil saya dengan sebutan Ayah. Jika kamu bisa menganggap istriku sebagai Bundamu, lalu kenapa kamu tidak bisa menganggapku sebagai Ayahmu juga?” saut Ayah Al sambil duduk di mejanya sendiri.


Suci benar-benar terkejut dengan perkataan Ayah Al, sedangkan Bunda Reni cuma bisa senyum-senyum sendiri sambil menghidangkan semua makanan untuk berada di atas piring Ayah Al. Ayah Al memang sudah tahu cerita pernikahan Suci saat Bunda Reni menceritakannya tadi pagi sehabis shalat.


Untungnya dibalik ketegasan itu, Ayah Al masih memiliki jiwa kemanusiaan yang tinggi. Apa lagi dia hampir sama dengan Arsya yang tidak bisa melihat seorang wanita di rendahkan atau pun di sakiti.


“Be-benarkah, Tuan?” ucap Suci dengan wajah terkejutnya.

__ADS_1


“Hem...” saut Ayah Al menganggukkan kepalanya sambil makan, bahkan ia mengukir sedikit senyuman untuk Suci.


“Bagian lihat yang bening saja, senyum! Bagian lihat yang butek dingin. Dasar pria tidak konsistem” celetuk Bunda Reni dengan nada bercanda.


“Sebening apa pun wanita, dia akan kalah dengan ketulusan hatimu. Sebanyak apa pun wanita mendekatiku, pilihanku hanyalah satu. Bidadari tak bersayap yang selalu berada di sampingku, tanpa kata menyerah” ucap Ayah Al sambil fokus pada makanannya, namun bisa membuat kedua wanita di hadapannya meleleh bagaikan es batu di bawah terik matahari.


“Huuaa... Sayang terima kasih, muachh...” saut Bunda Reni sambil mencium pipi Ayah Al dengan wajah bahagianya, sedangkan Ayah Al hanya meliriknya hingga mengukirkan senyuman termanis hanya untuk istri tercinta.


Meskipun sifatnya tidak begitu romantis, tetapi Ayah Al selalu mengungkapkannya sesuai dengan tindakannya yang membuktikan jika omongannya bukanlah sekedar omongan, melainkan seperti mewakili ketulusan cinta mereka.


“Bunda dan suaminya terlihat sangat bahagia, padahal mereka sudah tidak muda sepertiku. Pernikahan mereka pun jauh lebih harmonis ketimbang diriku. Bahkan suaminya saja sudah bertahun-tahun meninggalkan anak dan juga istrinya, cuma karena mereka saling mencintai dan tak bisa saling menyakiti maka hubungan mereka benar-benar membuatku iri. Apa inikah yang dinamakan cinta sejati ?”


“Mereka terlihat sangat beruntung mendapatkan satu sama lain yang selalu mengisi kekosongan di dalam hatinya. Coba saja Mas Dimas bisa seperti Ayah Al, mungkin nasib pernikahan kita tidak akan rapuh seperti ini. Tapi ya sudahlah... Setiap manusia memiliki cobaannya masing-masing, jadi aku harus tetap semangat menghadapi semuanya”


"Ayo Suci... Tunjukkan jika dirimu bukanlah wanita yang lemah. Lawan mereka semua yang sudah berani menginjak harga dirimu, kasih mereka pemahaman kalau wanita lemah juga bisa bangkit menjadi wanita yang kuat emm...”


Suci tersenyum menatap kemesraan Bunda Reni dan Ayah Al, sampai membuat matanya sedikit berkaca-kaca. Lalu Bunda Reni menyuruh Suci untuk makan bersama mereka. Setelah semuanya selesai, Suci bergegas untuk pamit pulang karena masih banyak urusan yang harus ia kerjakan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hello guys... Selamat beraktivitas dan tetaplah semangat... 💪🏻💪🏻💪🏻


Author sangat berterima kasih karena selalu mendukung Author 🥺🥺🥺


Semoga Author bisa memberikan cerita yang lebih menarik untuk kalian 🤗🤗🤗


Jaga diri kalian dan teruslah tersenyum karena senyum adalah Ibadah 😁😁😁


Sampai jumpa lagi dan Salam sayang dari Author semuanya... 😆😆😆


Papaaayyy~~~ 👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻

__ADS_1


__ADS_2