
Dimas yang mendengar setiap kata yang keluar dari mulut Suci, kembali membuat Dimas mengingat kesalahannya.
“Andai kamu tahu, Dek. Jika laki-laki yang mengaku sangat mencintaimu dan juga menjagamu dengan sangat baik itu bukanlah laki-laki yang sesempurna itu. Bahkan dia tanpa sengaja mengkhianati pernikahan kalian. Ya, meskipun hanya karena kekhilafan, tetapi semua itu tetaplah kesalahan untuknya jadi aku mohon maafkan aku, Suci. Aku janji suatu saat nanti aku akan menceritakan semua ini saat aku sudah benar-benar siap mengatakannya Dek...” pekik Dimas di dalam hati kecilnya.
“Mas... heii... Ada apa? Kenapa Mas melamun seperti itu?” tanya Suci dengan melambaikan tangannya di depan wajah Dimas dan membuat dia seketika dasar dari lamunannya.
“Eh... i-iya, apa?” tanya balik Dimas dengan wajah gugupnya.
“Mas kenapa tadi kok melamun kayak gitu, padahal kan Suci lagi menceritakan betapa beruntungnya Suci mempunyai suami seperti Mas” ucap Suci dengan rasa bahagianya.
“Aduh... Sepertinya aku kesiangan ini, sebentar ya aku ganti baju dulu” ucap Dimas sambil tergesa-gesa mengambil pakaian dinasnya, kemudian berlari ke arah kamar mandi untuk mengalihkan pembicara Suci yang mana itu membuat Dimas selalu terbayang-bayang akan kesalahannya.
“Mas Dimas kenapa sih, sejak semalam seperti aneh begitu sikapnya. Biasanya kalau Suci memujinya, pasti dia akan balik memuji Suci. Tapi ini malah kayak mengalihkan pembicaraan kita, aduhh... Suci apa-apaan sih kamu, kenapa bisa berpikir seperti itu kan mungkin memang suamimu lagi buru-buru jadi ya dia tidak sempat memujimu ”
“Lagian apa kamu kurang pujian karena selama pernikahan ini tak henti-hentinya suamimu memujimu bagaikan seorang ratu di hatinya. Lalu kenapa sekarang sehari tidak memujimu langsung saja kamu berpikir negatif. Astaghfirullah... Maafkan Suci ya Allah...” ucap Suci di dalam hatinya.
Tak lama Dimas kembali keluar dari kamar mandi dengan pakaian dinasnya, namun Suci melihat bahwa kerah baju Dimas sangatlah berantakan. Lalu Suci mendekati Dimas yang sedang berdiri mengaca di meja rias.
“Sini Suci benarkan kerahnya, sekalian Suci pasangkan dasi ya...” ucap Suci sambil mengambil dasi yang sudah ia siapkan.
“Aku bisa sendiri kok sayang” ucap Dimas.
“Ini tugas sebagai istri, jadi Mas cukup berdiam diri saja” tegas Suci sambil membenarkan kerah Dimas, lalu ia melingkarkan dasi ke leher Dimas.
Dengan telaten Suci memasang pola dasi agar terbentuk sangat indah, di sela-sela itu Dimas kembali menunjukkan sikap jahilnya.
Cuppp !...
Cuppp !...
Cuppp !...
Dimas mencium kening Suci berulang kali membuat Suci tidak bisa konsentrasi pada dasi Dimas.
“Mas, ayolah jangan ganggu Suci. Ini lihat karena ulah Mas, Suci salah kan membuat dasinya. Masa ia malah bikin dasi kupu-kupu” keluh Suci yang malah membuat Dimas tertawa cekikikan saat melihat dasi yang harusnya di bentuk sedemikian rupa kini di sulap Suci dengan menjadi seekor kupu-puru yang sanggat gemas.
“Sayang, memangnya Mas ingin ngedate makanya kamu buatkan dasi kupu-kupu? Lagian dasi kupu-kupu kan tinggal pakai loh, masa ia harus di rombak seperti ini haha...” tawa Dimas seketika pecah yang membuat Suci sedikit kesal.
__ADS_1
“Mas Dimas... ishhhh... Diam tidak, jangan ketawain Suci dong. Suci juga kan lagi usaha, lagian juga Suci kurang konsentrasi jadinya bentuknya aneh deh” ucap Suci yang lagi dan lagi membuat Dimas gemas terhadapnya.
Namun di saat Dimas sedang asyik menertawakan keanehan Suci. Tanpa di sengaja Suci melihat ada 2 tato merah di leher Dimas yang membuat Suci penasaran.
“Mas... i-ini leher Mas merah-merah kenapa?” tanya Suci dengan wajah bingungnya sambil sedikit melebarkan kerah Dimas yang mana Dimas langsung melototkan matanya.
“Mas... Jawab dong, ini tanda apa? Atau jangan-jangan Mas semalam ketemu sama hantu Drakula yang mengisap darah itu ya? Ya Allah Mas, lain kali jangan pulang malam-malam ya, takut nanti kena begal Drakula kan bahaya” ucap Suci dengan polosnya.
“Dra-drakula?” gumam Dimas dengan wajah yang terkejut.
“Lah ini buktinya merah-merah, atau Mas semalam di gigit nyamuk? Kalau begitu nanti coba Suci semproti semprotan khusus nyamuk deh biar Mas tidurnya tidak terganggu. Pasti sakit ya rasanya mas, mau Suci kasih salep?” tawar Suci.
“Bo-boleh...” ucap Dimas dengan gugup.
Lagi dan lagi, Dimas semakin merasa bersalah terhadap Suci karena kepolosannya sampai-sampai dia tidak bisa membedakan mana tanda nyamuk dan mana tanda cinta. Suci yang sedang mencari keberadaan salep itu, membuat ia juga merasa sedikit aneh dengan bekas itu.
“Sepertinya Suci kaya kenal tanda merah itu deh, tapi apa ya? Kok Suci lupa, cuma kalau nyamuk kan bentol atau bintik merah lah itu bukan. Lalu itu tanda apa ya? Akhh... Sudahlah, lebih baik Suci fokus untuk mencari salep itu saja deh...” ucap Suci di dalam hati kecilnya.
Saat sudah ketemu dengan salepnya, Suci langsung mengoleskannya dengan perlahan, kemudian kembali memasangkan dasi di leher Dimas. Setelah selesai, Dimas langsung buru-buru berangkat ke kantor tanpa sarapan lebih dulu.
Suci yang memang benar-benar polos, membuat dirinya tidak sampai menaruh curiga apa pun terhadap sang suami. Berbeda dengan wanita lain, yang mana saat suaminya pulang kerja dan mencium bau parfum wanita pasti akan curiga apa lagi di tambah dengan tanda merah itu yang semakin memperkuat bukti bahwa ada wanita lain di belakang mereka.
Tetapi Suci berbeda, ia memang sempat mencium aroma parfum perempuan tetapi Suci mengira namanya orang bekerja pasti bertemu dengan klien wanita atau siapa tahu mereka bertabrakan sehingga parfumnya menempel di baju Dimas.
Lalu tanda itu? Bisa saja tanda merah gatal, atau di gigit nyamuk lalu digaruk dan berbekas jadi bisa saja bukan? Itulah seberapa besar polosnya Suci, dia tidak bisa membedakan apa pun yang aneh dengan Dimas .
Ya meskipun sempat menaruh curiga, tetapi kepercayaan Suci kepada Dimas memang benar-benar sangat kuat. Jadi Suci tidak sampai menuduh sang suami yang tidak-tidak.
...*...
...*...
Di perusahaan Mashar Group
Dimas baru saja sampai di depan gedung perusahaan, yang mana ia turun dari mobil mewahnya dengan di bukakan pintu oleh security yang berjaga di depan.
Lalu Dimas meninggalkan mobilnya begitu saja agar langsung bisa di parkirkan oleh security tersebut. Satu demi satu Dimas melangkahkan kakinya dengan wajah datarnya sambil sedikit membetulkan kerahnya agar tanda merah itu tidak sampai terlihat oleh seseorang.
__ADS_1
Namun di sisi lain Dimas merasakan bahwa hatinya selalu bergetar sangat kuat dengan perasaan yang benar-benar gugup, jika sampai saat ingin memasuki ruangannya dia bakalan bertemu dengan Elsa maka wajahnya mau taruh dimana.
Dimas malu jika sampai Elsa mengungkit kejadian semalam atau mengadukannya kepada Suci. Dimas tidak tahu harus berbicara apa nantinya karena saat ini jujur saja Dimas belum siap menceritakan kejadian terbod*doh dalam hidupnya semalam bersama Elsa. Namun jika memang Elsa mau melaporkannya pada Suci, maka Dimas harus ikhlas menerima semua itu.
Sesampainya di lantai paling atas di tempat ruangan khusus untuk dirinya bersama Dion dan juga Elsa berada, kini jantung Dimas semakin berdetak sangat cepat.
“Jika ketemu Elsa, maka aku harus bersikap seperti apa ya? Apa aku harus cuek? Atau aku harus ramah? Kalau Aku cuek nanti takutnya malah di mata dia aku seolah-olah laki-laki yang tidak tahu diri karena hampir saja aku menyetubuhinya. Namun jika aku ramah, pasti dia akan besar kepala. Tapi kenapa semalam aku bisa bereaksi seperti itu ya? Padahal saat sama Suci saja ketika mandi bareng, tubuhku tidak secepat itu bereaksi. Lalu kenapa semalam aku seperti sangat liar ingin menerkam wanita yang bukan hakku...” ucap Dimas di dalam hatinya sambil berjalan menuju ruangannya.
Namun di sela-sela Dimas berjalan sambil melamun memikirkan semua kebingungannya, membuat ia tidak sadar jika dirinya hampir saja menabrak pintu. Elsa yang melihat itu pun langsung menarik Dimas hingga mereka pun berdiri dengan keadaan yang cukup dekat. Bahkan wajah mereka hanya berjarak 2 senti meter jauhnya. Mereka terdiam beberapa menit saling menatap satu sama lain hingga akhirnya Dimas tersadar.
“Astaghfirullah, Elsa! Apa-apaan ini, hah! Kenapa kamu bisa senekat itu pada bosmu sendiri! Kau tahu tidak jika ini masih di dalam lingkungan pekerjaan. Bagaimana jika ada seseorang yang melihat kita seintim itu? Pasti mereka akan berpikir yang tidak-tidak tentang kita, bahkan bisa-bisa cerita ini akan terdengar di telinga Suci. Kamu itu sebenarnya punya pikiran dan malu tidak sih!” bentak Dimas dengan sangat keras.
Elsa yang mendengar itu hanya bisa terkejut dan terlonjak sedikit. Ini baru kali pertama Elsa merasakan betapa sakitnya di betak oleh seorang laki-laki yang mana selama ini Elsa yang selalu membentak para laki-laki itu.
“Ma-maaf, Tuan. Sa-saya salah, sa-saya hanya mau menolong Tuan saja. Soalnya tadi saya lihat Tuan ingin menabrak pintu karena berjalan sambil melamun hiks...” ucap Elsa dengan air mata yang berjatuhan sambil menundukkan kepalanya.
Dimas yang melihat Elsa menangis seketika hatinya menjadi sangat kasihan, lalu ia berkata di dalam hatinya sambil menatap Elsa yang menunduk, “Apa aku sudah keterlaluan ya sama dia? Apa jangan-jangan karena ulahku kemarin, jadi Elsa seperti mengalami trauma ketakutan. Jika benar begitu, maka aku benar-benar merasa bersalah padanya sekarang...”
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sampai di sini dulu ya cerita untuk hari ini guys... 😁😁😁
Semoga kalian menyukai ceritanya dan enjoy your time... 🤗🤗🤗
Mohon dukungan kalian semua untuk karya baru Author ini 😊😊😊
Serta karya-karya Author lainnya yang semoga kalian juga sukai 😄😄😄
Terima kasih kepada kalian semua yang sudah mendukung Author 🙏🏻🙏🏻🙏🏻
Juga terima kasih bagi kalian yang setia membaca karya Author 🥰🥰🥰
Jaga diri kalian dan sampai jumpa di bab selanjutnya semua... 😆😆😆
Sayang kalian semuanya... ❤️❤️❤️
Papaaayyy ~~~ 👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻
__ADS_1