Keikhlasan Hati Seorang Istri

Keikhlasan Hati Seorang Istri
Selalu Salah Di Mata Mamah


__ADS_3

“Itu semua karena aku yang meminta Mamah supaya kamu saja yang memasaknya, karena aku sedang mengidam masakan kamu untuk acara spesial besok” ucap Elsa yang tiba-tiba datang entah dari mana dengan perut yang semakin buncit.


“Sudah aku duga memang kamu yang ada di balik semua ini, Saa... Jadi aku sudah tidak kaget lagi jika kamu mengatakan ini semua” ucap Suci.


“Astagfirullah Non Elsa, apa Non tidak kasihan dengan Non Suci. Lihatlah dia yang setiap hari harus bekerja tanpa istirahat, di tambah lagi harus memasak dalam jumlah banyak seperti ini. Dimana hati nurani Non Elsa? Bukannya kalian bersahabat?"


"Bibi tidak tau kenapa tapi kesannya Bibi melihat kalau Non Elsa seperti ingin sekali untuk menyingkirkan Non Suci dari rumah ini dan dari sisi Den Dimas” sahut Bi Tina dengan tidak terima.


“Lah ini kan bukan kemauanku Bi, tapi semua ini kemauan anak dari Mas Dimas. Jadi aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi, dari pada anakku dan Mas Dimas mengences lebih baik aku turuti saja. Malu dong cucu pertama, masa ia ileran sih kan enggak banget deh” ucap Elsa dengan gampangnya.


“Ya tapi kan Non-...” ucap Bi Tina terhenti saat Suci memberikan aba-aba untuk tidak lagi melanjutkan perdebatan yang mana tidak akan ada habisnya jika harus berdebat dengan Elsa yang licik dan penuh dengan tipu muslihatnya seperti ini.


Bi Tina kembali melanjutkan untuk masakan, dan Suci pun juga kembali membantu Bi Tina. Namun tiba-tiba saja Elsa menyerobot untuk mengambil alih pekerjaan Suci.


“Sini biar aku saja, aku juga mau merasakan bagaimana rasanya memasak. Pasti seru deh hehe...” ucap Elsa sambil mengaduk-adukan rendang yang saat ini berada di atas kompor.


“Sudahlah, Saa... Please jangan ganggu aku untuk hari ini saja, aku mohon dengan sangat Saa... Aku udah cape dan juga lelah, jadi aku mohon untuk mengertilah sedikit saja” ucap Suci dengan nada memohon serta kembali merebut spatula yang ada ditangan Elsa.


“Issshhh... Enggak mau, pokoknya aku mau coba memasak. Lebih baik kamu tidur saja sana, biar aku yang menemani ini dengan Bi Tina karena aku kuat kok” sahut Elsa yang membuta Bi Tina mengeluskan dadanya.


“Non, Bibi mohon dengan sangat pada Non Elsa untuk kembali ke kamar ya. Kasihan kandungan Non Elsa kan masih lemah jadi harus banyak istirahat. Lagian juga bukannya tadi Non sendiri yang bilang jika Non sedang mengidam” ucap Bi Tina sambil membantu Suci untuk mencegah Elsa.


Namun saat spatula sudah berada di tangan Suci, tiba-tiba Elsa melihat Mamah Mita yang melewati dapur sehingga ia langsung merebutnya kembali. Pada akhirnya mereka saling berebut sehingga membuat Elsa sedikit tersungkur dan berpura-pura terjatuh.


“Aaarrrgghhhh... Mbak Su-Suci kenapa kamu tega sama aku, Mbak hiks...” ucap Elsa sambil memulai aktingnya.


Sedangkan Mamah Mita yang mendengar itu pun segera berlari ke arah dapur untuk melihat siapa yang berteriak.


“Astagfirullah, Elsaaa... Kenapa kamu nyalahin aku sih!” pekik Suci sambil menatap Elsa yang berada di lantai.


“Sini Non, Bibi bantu...” ucap Bi Tina sambil membantu Elsa.


Padahal Bi Tina sendiri sudah kesal melihat tingkahnya Elsa, tapi mau bagaimana lagi setidaknya ia berusaha untuk membantu anak yang ada di dalam perut Elsa agar tidak terjadi sesuatu.


“Ada apa ini?” ucap Mamah Mita yang membuat semuanya menoleh ke arahnya.


“Astaga, Elsaaaa... Kamu kenapa sayang” pekik Mamah Mita kembali saat melihat Elsa di papah oleh Bi Tina menuju kursi.

__ADS_1


“Ssstttthhh... aaawshhh...” keluh Elsa sambil duduk di salah satu kursi yang ada dengan wajah kesakitan serta mengintip ke arah Suci.


“Jadi ini maksudmu, kamu rela membahayakan anakmu sendiri demi merencanakan sesuatu untukku, Saa? Dasar wanita licik, bisa-bisanya dia tidak memikirkan nasib anaknya sendiri cihh...” gumam Suci di dalam hatinya.


“Ini ada apa, Bi? Ke-kenapa Elsa bisa seperti ini?” sahut Mamah Mita menoleh ke arah Bi Tina dengan wajah paniknya.


Namun Bi Tina hanya setia menundukkan kepalanya, ia tidak tahu harus mau jawab apa. Jika salah menjawab, maka ia akan kehilangan pekerjaannya. Tetapi jika ia jujur, maka pasti ia akan melukai hati Suci.


Mamah Mita yang tidak mendapatkan jawaban apa pun langsung menoleh ke arah Elsa dan mengusap perutnya, “Saa... Kamu baik-baik aja kan, bagaimana kandunganmu apakah aman? Atau kita ke rumah sakit ya, Mamah khawatir dengan cucu kesayangan Mamah ini, takut ada apa-apa”


“Aku baik-baik aja kok, Mah. Mungkin tadi Mbak Suci tidak sengaja mendorongku karena aku bersikeras untuk membantunya dan aku juga yang ngeyel sih hehe...” celetuk Elsa sambil tertawa kecil yang malah membuat Mamah Mita langsung melirik tajam ke arah Suci.


“Ssuuuucccciiiii...” geram Mamah Mita dan langsung berjalan mendekati Suci.


“Mah, sudahlah Elsa enggak apa-apa kok. Jangan menyalahkan Mbak Suci, ini semua salah Elsa kok” ucap Elsa berusaha menunjukkan raut wajah sedihnya sambil ingin berdiri, cuma langsung ditahan oleh Mamah Mita.


“Baguslah kalau kamu sudah mengakui kesalahanmu, jadi aku tidak perlu menjelaskannya lagi” ucap Suci dengan wajah cueknya.


Bi Tina hanya bisa berdoa dan berdoa semoga tidak ada hal buruk yang terjadi pada Suci.


Suci memejamkan matanya perlahan lalu kembali membukanya serta menarik nafasnya dan tersenyum, “Suci mau tanya sama Mamah, sejak kapan Mamah bisa mengenal Elsa sesempurna itu? Sedangkan Suci jauh lebih lama menjadi istri Mas Dimas saja Mamah tidak pernah seperti ini"


"Apa pun yang sudah Suci lakukan selama ini selalu salah di mata Mamah. Bahkan sampai detik ini saja pun, Suci tetaplah salah di mata Mamah” ucap Suci sambil tersenyum menatap Mamah Mita.


Mamah Mita yang mendengar itu pun ikut tersenyum remeh kepada Suci, “Aku jauh lebih tua darimu, jadi aku bisa menilai seseorang dengan sangat baik. Tidak seperti dirimu, yang hanya selalu menyalahkan serta melempar semua kesalahanmu pada orang lain”


“Baiklah... Jadi Mamah merasa jika apa yang Mamah liat semuanya adalah kenyataan ,begitukah?” ucap Suci.


“Ya memang itu faktanya, jadi jangan pernah menyalahkan Elsa atas semua kesalahanmu, mengerti!!” bentak Mamah Mita.


“Ya sudah, kita lihat saja ke depannya nanti. Mamah atau Suci yang jauh lebih mengenal siapa Elsa sebenarnya” ucap Suci sambil melirik Elsa dengan tajam.


Tetapi Elsa bukannya takut, melainkan dia malah tersenyum ke arah Suci. Mamah Mita tidak mau menggubris ucapan Suci, ia malah menganggapnya seperti angin lalu. Jadi Mamah Mita segera membantu Elsa dan memapahnya untuk di antarkan ke kamarnya.


Setelah kepergian mereka, Suci yang dari tadi mencoba menahan air matanya kini seketika menetes bersamaan dengan tatapan menyorot ke depan penuh amarah. Bi Tina yang melihat pun, segera memeluk serta memberikan semangat kepada Suci agar ia bisa sedikit lagi untuk bersabar dan kini tumpahlah air mata itu di baju Bi Tina.


Bi Tina selalu memberikan saran kepada Suci, jika ia sudah tidak kuat lagi lebih baik menyerah saja pada keadaan saat ini. Lalu ia bisa dengan bebasnya mencari kebahagiaan, namun Suci tetap kekeh untuk mempertahankan semua ini karena dia yakin jika cintanya akan menang melawan Elsa.

__ADS_1


...*...


...*...


3 bulan telah berlalu kembali...


Elsa sama Dimas semakin hari semakin terlihat dekat dan juga romantis, dan kehamilan Elsa benar-benar membuat Dimas sangat bahagia. Setiap Dimas lelah pulang kerja, Dimas langsung di suguhkan oleh perut buncit Elsa yang semakin membesar.


Belum lagi hasrat Elsa juga ikut membesar di masa kehamilannya yang tidak muda lagi, sampai-sampai Dimas sendiri pun merasa cemas dengan kandungan Elsa karena ia melihat Elsa terlalu bersemangat dan juga energik saat melakukan hubungan intim.


Sedangkan Dimas selalu kewalahan untuk menyeimbangkan semua pergerakan Elsa. Yang lebih mirisnya lagi setiap Dimas ingin menghabiskan waktu bersama Suci, Elsa selalu saja mempunyai akal agar bisa menggagalkannya, tapi tidak dengan malam ini karena Dimas berhasil melarikan diri dari terkaman singa betina yang saat ini sedang tertidur pulas.


Dimas dengan perlahan melangkahkan kakinya untuk bisa melepas rindu bersama Suci. Dimas benar-benar sangat merindukan sosok Suci yang selalu ada di saat ia merasa lelah, maka sucilah yang bisa menjadi obatnya. Sedangkan Elsa? Ia hanya bisa menuntut Dimas untuk membelikan apa pun yang ia inginkan dengan alasan mengidam.


Tetapi Dimas tetap menuruti kemauannya Elsa karena ia tidak mau terjadi sesuatu dengan anaknya. Ya meskipun Dimas harus menghela nafas panjang atas pengeluaran Elsa yang melebihi uang bulanannya setiap bulan, cuma ia senang saat melihat Elsa bahagia.


Semua itu Dimas lakukan semata-mata tidak ingin membuat Elsa bersedih karena akan fatal akibatnya untuk kandungannya yang lemah. Semakin hari semakin membuat Dimas dan Suci memiliki jarak layaknya 2 insan yang baru saja menyatu, sehingga keduanya begitu gugup saat berada di dalam satu kamar yang sama.


Padahal dulu Dimas dan Suci sangat bahagia tanpa adanya jarak sedikit pun, cuma sekarang semuanya sudah berubah semenjak datangnya duri di dalam pernikahan mereka. Suci berusaha bersikap sebaik mungkin dan juga menghargai sosok yang ada di depannya saat ini, karena bagaimana pun keadaannya Dimas tetaplah suaminya.


“Sudah lama kita tidak bisa sedekat ini ya, Dek” ucap Dimas sambil duduk di sebelah Suci tepat di samping ranjang.


Dimas dan Suci saling menatap satu sama lain tanpa mengalihkan pandangannya. Terlihat jelas dari mata keduanya terdapat kerinduan yang aman menyiksa, tapi apa daya mereka yang hanya bisa mengerti jika keadaan saat ini bukanlah keadaan waktu dulu saat mereka masih berdua. Jadi siap tidak siap, pasti akan ada rasa yang menyakitkan di dalam hati mereka.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hello guys... Selamat beraktivitas dan tetaplah semangat... 💪🏻💪🏻💪🏻


Author sangat berterima kasih karena selalu mendukung Author 🥺🥺🥺


Semoga Author bisa memberikan cerita yang lebih menarik untuk kalian 🤗🤗🤗


Jaga diri kalian dan teruslah tersenyum karena senyum adalah Ibadah 😁😁😁


Sampai jumpa lagi dan Salam sayang dari Author semuanya... 😆😆😆


Papaaayyy~~~ 👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻

__ADS_1


__ADS_2