
Papah Angga, Bunda Reni dan Ayah Al yang mendengar pertanyaan Suci pun langsung ikut menatap Arsya. Lalu Arsya yang mendapatkan tatapan penasaran dari semuanya pun tersenyum penuh Arti. Arsya tiba-tiba merasa seperti dia baru saja memenangkan suatu yang besar.
“Apa kamu ingat waktu ijab kabul itu aku memberikan kamu mahar sebuah perusahaan? Nahh... itu adalah perusahaan kamu yang mana akan kamu kelola sendiri saat kamu sudah pulih setelah melahirkan dan saat kamu siap”
“Untuk sementara ini perusahaan itu di monitoring oleh Xan sebagai Asisten Pribadimu, jadi kamu bisa datang kapan pun kamu mau. Itu adalah perusahaan pakaian dan aksesoris brand baru dengan nama ‘Suars’. Nama itu juga mirip dengan nama Baby Kay, karena itu nama gabungan kami”
Arsya berbicara dengan wajah bangganya yang tidak tahu berasal dari mana. Suci yang mendengar penjelasan dari Arsya pun hanya duduk diam dengan wajah kagetnya. Suci tidak pernah menyangka bahwa maharnya dari Arsya akan menjadi seperti ini.
“Ta-tapi aku ti-tidak tahu apa-apa tentang fashion Mas, a-aku tidak akan bisa mengelola perusahaan itu. Lebih baik jangan aku yang mengelolanya, aku takut perusahaan itu akan bangkrut di tanganku nanti” ucap Suci dengan wajah bingung dan herannya.
“Kamu tenang saja karena kamu memiliki aku di sini, aku pasti akan membantumu membuat perusahaan itu menjadi salah satu brand terkenal. Untuk masalah pengetahuan, tidak ada yang melarang seorang Ibu untuk belajar lebih tinggi, bukan?”
“Jika kamu mau maka kamu bisa mengambil kursus atau kelas khusus tentang fashion. Aku akan selalu ada di sampingmu dan anak-anak kita nanti, jadi kamu tidak usah merasa terlalu terbebani. Kamu bisa melakukan semua itu kapan pun yang kamu inginkan”
Arsya berbicara sambil mengelus kepala Suci yang mana membuat Suci merasa seperti dirinya di perlakukan secara khusus untuk kedua kalinya. Pertama oleh kedua orang tuanya, dan sekarang oleh suaminya yang selalu memperlakukannya bagaikan seorang ratu.
“Te-terima kasih Mas, terima kasih banyak hiks... a-aku tidak tahu ba-bagaimana aku bisa me-membalas semua kebaikanmu. Ka-kamu selalu memperlakukan aku seperti ratu, ta-tapi aku tidak pernah memberikan apa pun padamu hiks...” tagis Suci pecah dalam pelukannya Arsya.
“Kamu hanya perlu selalu ada di sampingku dan bahagia bersama dengan anak-anak kita nanti. Selama kalian semua bahagia, maka itu akan membuatku merasa bahagia. Jadi aku harap kamu bisa selalu bahagia dan tersenyum untukku” jawab Arsya sambil memeluk Suci.
Suci dan Arsya pun berpelukan dengan sangat manis yang mana membuat Papah Angga, Bunda Reni dan Ayah Al ikut tersenyum. Akhirnya mereka bisa melihat keharmonisan yang semakin manis dalam hubungan Suci dan Arsya setelah putra pertama mereka lahir.
__ADS_1
“Teruslah bahagia dan tersenyum seperti ini Suci, Papah merasa bahagia untuk kalian. Semoga ke depannya kehidupan kalian akan selalu penuh kebahagiaan dan tidak akan ada yang bisa menghancurkannya” gumam Papah Angga dalam hatinya.
Kemudian mereka menghabiskan waktu bersama dengan bahagia bersama dengan Baby Kay. Sementara itu di sebuah rumah yang terlihat mewah, terdapat pasangan orang tua muda yang selalu penuh pertengkaran dan juga tangisan bayi kecil.
Lagi dan lagi Dimas serta Elsa bertengkar karena sifat egoisnya Elsa yang selalu membuat Dimas merasa kesal. Elsa lebih memilih pergi shopping bersama teman-temannya dari pada tetap di rumah dan mengurus anak mereka yang akan berusia satu tahun.
“Sudah aku bilang kan Mas kalau aku ini pergi shoppy untuk keperluan pesta ulang tahun anak kita nanti. Aku ingin ulang tahun pertama anak kita menjadi ulang tahun paling meriah yang pernah ada. Aku tidak mau anakku mendapatkan pesta biasa”
“Bagaimana pandangan orang-orang nanti saat melihat pesta ulang tahun pertama dari penerus keluarga Hartawan hanya pesta standar. Itu sebabnya aku harus pergi berbelanja sekarang juga Mas”
Elsa berbicara sambil sedikit meninggikan suaranya karena rasa kesalnya pada Dimas yang selalu melarangnya untuk pergi berbelanja dengan teman-temannya. Sementara itu Mamah Mita pergi dari ruang keluarga menuju kamarnya sambil membawa Baby Diva yang masih menangis.
“Aku tidak melarangmu untuk mengadakan pesta yang meriah untuk Baby Diva, aku hanya tidak suka kamu pergi dengan teman-temanmu itu. Kenapa kita tidak pergi bersama saja semuanya bersama Baby Diva juga” ujar Dimas yang sudah mulai emosi.
“Apakah janjimu dengan teman-temanmu jauh lebih penting daripada menghabiskan waktumu dengan anak kita dan aku? Jika kalian adalah teman, maka mereka tidak akan pernah meninggalkan dirimu Elsa” tegas Dimas yang juga semakin tinggi suaranya.
Dimas dan Elsa selalu saja saling sahut menyahuti perkataan satu sama lain, dan tidak mau mengalah. Mereka berdua selalu mendahulukan ego masing-masing sehingga mereka akan selalu beradu argumentasi tanpa henti.
Sementara itu dengan Mamah Mita dan Baby Diva di kamar Mamah Mita, mereka sedang berbaring di kasur dengan Baby Diva yang tengkurap. Mamah Mita berbaring sambil memandangi Baby Diva dari setiap sudutnya tanpa kurang sedikit pun.
“Sepertinya kamu itu sangat mirip dengan Mamahmu baik itu wajah, mata, bibir bahkan hidungmu. Aku hanya berharap jika sifatmu tidak akan sama dengan Mamahmu yang selalu saja egois dan tidak mau kalah dengan orang lain yang lebih unggul”
__ADS_1
“Jadilah seperti Ayahmu yang keren, penurut pada orang tua, selalu mendahulukan orang tuanya dari pada orang lain. Tapi kamu tidak boleh menjadi budak cinta seperti Ayahmu yang selalu salah dalam memilih wanita dalam hidupnya selama ini”
Mamah Mita berbicara sambil membenarkan anakan rambut Baby Diva yang sedang tengkurap. Baby Diva memang memiliki wajah yang sangat mirip dengan Elsa di bandingkan dengan wajah Ayahnya. Namun kita tidak akan tahu bagaimana sifatnya sampai Baby Diva tumbuh dewasa.
Mamah Mita dan Baby Diva bermain banyak permainan dan Mamah Mita juga memberikan segala macam mainan agar Baby Diva tidak menangis lagi.
Bagaimana pun Mamah Mita juga merasa pusing setiap kali mendengarkan tangisannya Baby Diva.
Meskipun Baby Diva menangis karena sifat dan kelakuan dari Ibu kandungnya, tapi Ibu kandungnya malah tidak bisa membuatnya berhenti menangis.
Setiap kali Elsa mencoba untuk dekat dengan Baby Diva, maka Baby Diva sering merasa tidak nyaman dan akhirnya menangis.
Hal ini membuat Dimas merasa sangat kesal karena bagaimana bisa seorang anak malah lebih memilih bersama dengan Omanya daripada Ibu kandungnya sendiri. Itu sebabnya Dimas selalu melakukan segalanya agar bisa membuat Elsa dan Baby Diva menjadi dekat.
Mamah Mita pun selalu membantu Elsa, namun hasilnya selalu saja nihil. Baby Diva sering menolak pelukan dari Elsa karena bagi Baby Diva pelukannya Elsa terasa tidak nyaman sehingga dia sering menangis setiap kali Elsa berusaha untuk menggendongnya sesuai dengan perkataannya Dimas.
Namun karena merasa tidak tega saat melihat cucunya menangis pun akhirnya Mamah Mita kembali menjaga Baby Diva dan selalu menenangkannya. Walaupun waktu istirahatnya harus terpotong, tapi Mamah Mita tidak peduli karena ini adalah impiannya untuk memiliki seorang cucu.
Hingga akhirnya Baby Diva merasa mengantuk karena waktu sudah menunjukkan siang hari. Baby Diva tertidur pulas karena lelah menangis dan bermain, begitu juga dengan Mamah Mita.
Mereka berdua tertidur bersama sambil Mamah Mita menempatkan bantal guling di samping Baby Diva.
__ADS_1
Mamah Mita sangat menjaga Baby Diva karena dia tidak mau jika Elsa akan kembali memarahinya jika sampai Baby Diva terluka.
Padahal Mamah Mita bisa melawan Elsa, tapi dia selalu tetap diam karena Mamah Mita tahu jika Elsa itu sangat egois dan juga keras kepala jadi sia-sia saja jika meladeninya.