
Mamah Mita sangat menjaga Baby Diva karena dia tidak mau jika Elsa akan kembali memarahinya jika sampai Baby Diva terluka. Padahal Mamah Mita bisa melawan Elsa, tapi dia selalu tetap diam karena Mamah Mita tahu jika Elsa itu sangat egois dan juga keras kepala jadi sia-sia saja jika meladeninya.
Di saat Mamah Mita dan Baby Diva sedang tertidur, tiba-tiba pintu kamar terbuka dan seseorang masuk ke sana lalu keluar lagi. Awalnya Dimas ingin bermain dengan Baby Diva, tapi melihat Baby Diva dan Mamah Mita sedang tertidur akhirnya Dimas kembali keluar.
“Sepertinya Mamah sangat kelelahan sampai-sampai ikut tertidur bersama dengan Baby Diva. Ini semua karena Elsa yang terlalu sering pergi ke luar daripada menjaga Baby Diva. Bahkan sekarang saja dia sudah pergi entah ke mana”
“Jika semua ini terus berlanjut, yang ada semua harta yang aku berikan pada Elsa tidak akan cukup. Lalu hubungan Elsa dan Baby Diva akan terlihat seperti orang asing, daripada Ibu dan anak. Lalu Mamah yang selalu saja kelelahan dan kurang tidur”
“Sekarang apa yang harus aku lakukan supaya Elsa bisa berhenti bergaul dengan teman-teman yang seperti itu. Kalau tidak mungkin saja Elsa akan benar-benar tidak bisa lagi di kendalikan. Aku tidak ingin keluarga kecil kamu terasa sangat hampa dan tidak ada harapan”
Dimas bergumam di depan pintu kamar Mamah Mita sambil berjalan menuju ruang belajarnya. Dimas yang merasa pusing pun mencoba untuk menyibukkan dirinya dengan pekerjaan kantornya. Namun tetap saja fokusnya terpecah antara pekerjaan kantor, Baby Diva dan juga Elsa.
*
*
Di rumah sakit..
Semua orang yang sudah puas bermain bersama Baby Kay pun akhirnya membaringkan Baby Kay di keranjang bayi kecil di samping kasurnya Suci. Sementara itu Suci tertidur pulas setelah selesai makan siang bersama dengan semuanya di ruang rawatnya.
“Kamu sudah bekerja keras istriku, terima kasih atas anugerah yang indah ini Suci. Kamu hadir sebagai cahaya dalam dunia gelapku dan sekarang kamu bahkan memberikan warna dalam hidupku yang selalu saja sepi”
“Kamu sungguh wanita yang kuat dan luar biasa, aku sangat kagum padamu Suci. Dengan semua kebaikanmu dan kesabaranmu, akhirnya Allah mengirimkan aku dalam hidupmu. Itu sebabnya aku akan selalu membuat kamu dan anak-anak kita bahagia”
__ADS_1
“Apa pun yang akan terjadi di masa depan, maka aku akan selalu ada di sisimu dan menggenggam tanganmu. Tidak akan aku biarkan ada seekor pun serangga yang berani untuk mengusik kehidupan keluarga kecil baru kita. Terima kasih sayang, I love you Suci...”
Arsya berbicara di dalam hatinya sambil memegang tangan kanannya Suci. Lalu Arsya berdiri dari kursinya dan langsung saja mencium keningnya Suci yang mana membuat Suci tersenyum dalam tidurnya. Arsya merasa sangat bahagia saat Suci bisa merasakan kehadirannya.
“Tuan Arsya, aku titip Suci dan juga Baby Kay padamu dan kalian semua. Tolong jaga Suci dengan baik karena aku belum bisa memberikan dia kehidupan yang jauh lebih baik sebelumnya. Bahkan kami malah membuatnya selalu bersedih dan kesulitan”
“Kalau begitu saya pamit dan tolong sampaikan salam saya pada Suci saat dia bangun nanti. Saya harus pergi ke luar kota untuk satu bulan, itu sebabnya saya berencana untuk menemui Suci sebelum terlambat. Tapi Allah malah memberikanku kejutan yang luar biasa”
Papah Angga berbicara sambil kedua tangannya mengelus Baby Kay di keranjang bayi. Lalu dia tersenyum saat melihat Baby Kay merespons sentuhan Papah Angga dengan suara bayinya dan sedikit tersenyum.
Kemudian Papah Angga tersenyum sambil menatap Arsya yang juga tersenyum kembali pada Papah Angga.
“Baiklah kalau begitu, akan saya sampaikan hal ini pada Suci saat dia bangun nanti. Semoga perjalanan Anda menyenangkan dan tidak ada banyak hambatan yang akan menggangu Anda di perjalanan. Terima kasih juga karena sudah sempat untuk menemui kami”
Arsya berbicara sambil mengangkat Baby Kay dari dalam keranjang tidurnya dan menggendongnya. Lalu Arsya memberikan Baby Kay pada Papah Angga untuk di gendong dan di potret dengan ponselnya Arsya yang nantinya akan di kirim ke nomornya Papah Angga.
Papah Angga tersenyum sambil mencium kening dan juga pipinya Baby Kay. Arsya memotret semua momen bahagia tersebut supaya Papah Angga bisa selalu melihat foto Baby Kay kapan pun dan di mana pun yang Papah Angga inginkan.
Setelah selesai memotret lalu Papah Angga kembali meletakkan Baby Kay di keranjang bayinya lalu berpamitan dengan semuanya kecuali Suci.
Hal ini karena Suci masih tidur dan Papah Angga tidak tega jika harus membangunkannya, jadi Papah Angga tidak bisa berpamitan dengan Suci.
Papah Angga keluar dari ruang rawat Suci dan pergi ke lobby rumah sakit dan berjalan menuju parkiran mobil. Lalu Papah Angga pergi ke perusahaan untuk menyiapkan berkas-berkas yang harus dibawa untuk perjalanan bisnisnya.
__ADS_1
Sementara itu Arsya, Bunda Reni dan Ayah Al menikmati waktu mereka bersama dengan Baby Kay dan membicarakan banyak hal tentang Baby Kay.
Kemudian, Suci yang masih tertidur karena dia sangat kelelahan dan dia juga baru saja melahirkan jadi dia membutuhkan banyak istirahat.
“Menurut Bunda dan Ayah, lebih baik kita mengadakan akikahan Baby Kay secara terbuka atau tertutup? Tapi sebenarnya Arsya ingin secara terbuka, tapi sepertinya Suci tidak akan menyukainya jika di lakukan secara terbuka”
“Apalagi Suci juga tidak mau jika keluarga Dimas mengetahui hal ini karena dia takut mereka akan mengambil Baby Kay darinya. Aku juga tidak mau jika Baby Kay terpisah dariku karena bagiku Baby Kay adalah anak kandungku dan juga Suci”
Arsya berbicara sambil mengelus pipi Baby Kay yang sedang tertidur pulas di keranjang bayinya. Bunda Reni dan Ayah Al bisa melihat cinta tulus dan indah yang terpancarkan dari sorot matanya Arsya pada Baby Kay.
“Kalau memang begitu, kita bisa melakukan akikah secara tertutup dan hanya mengundang keluarga dan orang-orang terdekat saja. Atau melakukannya di panti asuhan sama seperti waktu 7 bulanan” ucap Ayah Al.
“Apa yang Ayahmu katakan memang benar Arsya, kita bisa melakukannya bagaimana pun yang kamu dan Suci inginkan. Bagaimana pun Baby Kay adalah anak kalian, jadi itu sudah hak kalian untuk menentukannya” ujar Bunda Reni dengan penuh senyuman.
“Kalau begitu kita akan membicarakan hal ini lagi nanti saat Suci sudah bangun. Aku tidak akan bisa memutuskan semua ini sendirian karena Suci adalah Ibu dari anakku, jadi dia juga punya hak besar dalam semua keputusan tentang anak kami”
Arsya berbicara sambil melihat ke arah Suci yang masih tertidur lelap di kasurnya. Lalu Arsya berjalan mendekati Suci dan dia duduk di kursi yang ada di samping kasurnya Suci serta memegang tangannya Suci sambil menunduk.
Tanpa Arsya sadari Suci pun terbangun dari tidurnya dan dia menatap ke arah Arsya secara perlahan. Arsya yang merasakan bahwa Suci bergerak lalu melihat Suci yang sedang tersenyum padanya. Lalu Arsya pun tersenyum pada Suci dan dia mencium punggung tangan Suci.
Entah kenapa Suci merasa sangat bahagia saat ini karena dia bisa mendapat keluarga yang luar biasa seperti ini. Apalagi saat ini dia sendiri sudah memiliki keluarga kecil bersama dengan suaminya yang selalu menyayangi dan mencintainya serta anaknya dengan tulus dan murni.
Suci menarik tangan Arsya ke arah wajahnya lalu Suci pun mencium punggung tangan Arsya yang membuat Arsya, Bunda Reni dan Ayah Al tersenyum. Kemudian Arsya berdiri dan dia mencium keningnya Suci dengan lembut dan penuh kasih sayang.
__ADS_1