
Waktu terus berjalan hingga akhirnya obat pun sudah berada ditangan Suci, namun Arsya belum saja bangun dari tidurnya. Suci duduk di sofa panjang yang berada di kamar Arsya sambil mengirimkan pesan kepada Dimas.
📱 “Assalammuaikum, Mas. Maaf mengganggu waktu kalian, aku cuma mau kasih tahu kalau hari ini aku tidak pulang. Aku menginap di rumah temanku, jadi jangan khawatirkan aku dan jaga calon anakmu. Semoga kalian bisa pulang secepatnya dan segera melangsungkan pernikahan kalian"
Tak lama ponsel Dimas pun berbunyi.
Kliningg !...
Dimas membuka pesan dari Suci sambil membacanya, lalu ia menatap lurus ke arah depan.
“Suci tidak pulang karena ia menginap di rumah temannya? Teman yang mana? Bukankah selama ini Suci tidak memiliki teman, bahkan Elsa saja sahabatnya baru kembali bertemu akhir-akhir ini. Lalu teman yang Suci maksud siapa?” celoteh Dimas di dalam hati kecilnya.
Elsa yang fokus menatap televisi, kini ia melihat Dimas sedang melamun.
“Ckk!! Pasti Suci yang mengirimkan pesan padanya. Jika bukan Suci, tidak mungkin Mas Dimas terdiam seperti ini cih...” ucap Elsa di dalam hatinya.
Lalu Elsa memegang tangan Dimas yang membuat Dimas menoleh ke arahnya
“Ada apa, Sa? Apa ada yang sakit? Atau apa aku harus panggilkan dokter?” tanya Dimas dengan cemas.
"Aku tidak apa-apa kok, Mas. Kami baik-baik saja, aku hanya ingin mengucapkan terima kasih kamu sudah mau menjadi calon suami yang siaga untukku dan juga anak kita” ucap Elsa yang mencoba mengalihkan pikiran Dimas sambil mengusap perutnya yang belum terlihat buncit.
...*...
Di Istana mewah milik Arsya
Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam, dan Suci pun tetap duduk di sofa panjang sambil menatap ke arah Arsya yang masih tertidur pulas. Sedangkan bodyguard sudah 2 kali ganti, karena harus bergiliran supaya mereka juga ada sedikit waktu untuk beristirahat.
Sehingga tak terasa Suci sudah mulai mengantuk dan tertidur dengan keadaan duduk sambil melipat kedua tangannya di dada. Selang 30 menit kemudian, terdengar suara pintu kamar Arsya yang terbuka.
Ceklek !...
Sang bodyguard segera berjalan untuk membukakan pintu sambil sedikit membungkukkan tubuhnya.
“Selamat malam Tuan Besar, Nyonya” sapa sang bodyguard dengan rasa hormat.
“Malam” jawab Bunda Reni dengan tegas.
__ADS_1
“Kenapa kamu bisa berjaga di sini?” tanya pria tua yang sangat dingin.
“Maaf Tuan, Nona Suci yang menyuruh saya berjaga di sini agar tidak menimbulkan ke salah pahaman di antara mereka” jawab sang bodyguard penuh ketegasan.
Bunda Reni langsung menoleh ke arah Suci, lalu ia tersenyum sangat manis.
“Kasihan sekali kamu sayang, pasti saat ini tubuhmu sangat kecapean dan pegal” gumam Bunda Reni yang membuat pria tersebut bingung.
“Siapa wanita itu, Bun? Kenapa ada orang lain di dalam kamar Arsya?” saut pria tersebut dengan wajah penasaran, namun terdengar seperti nada marah.
Bunda langsung menoleh ke arah suaminya dengan memberikan kode jari telunjuk di tempelkan di bibirnya, “Sssttttt... Jangan banyak berbicara, nanti mereka akan terbangun”
Pria tersebut langsung terdiam seribu bahasa, meskipun ia sangat penasaran namun ia juga tidak tega membangunkan mereka karena bisa ia lihat jika Suci dan Arsya sangat butuh waktu istirahat yang cukup.
“Baiklah, aku tunggu di kamar. Kau masih berhutang penjelasan denganku” ucap pria itu yang langsung pergi ke kamarnya.
Bunda Reni berjalan ke arah lemari Arsya sambil mengambil selimut tebal berwarna putih, lalu ia berjalan mendekati Suci. Saat Bunda Reni mau sedikit membenarkan posisi Suci agar bisa terlentang, tiba-tiba saja sang bodyguard mendekat.
“Biar saya saja, Nyonya” ujarnya sambil mendekat.
“Tidak perlu, lebih baik kembali berjaga di depan. Biarkan mereka beristirahat di sini” saut Bunda Reni dengan sikap tegasnya.
Perlahan demi perlahan Bunda Reni berhasil menidurkan tubuh Suci, lalu mengganjal kepalanya menggunakan bantal yang berada di kasur Arsya dan tidak lupa menyelimutinya.
“Jika seperti ini, kemungkinan tubuh Suci tidak akan terlalu sakit saat terbangun nanti. Maafkan Bunda ya sayang, karena Bunda pulang telat jadi kamu harus menjaga Arsya di sini. Tapi Bunda senang kamu bisa kembali menginap di sini” gumam Bunda Reni sambil mencium kening Suci perlahan.
Kemudian ia beralih ke kasurnya Arsya dan sedikit membenarkan selimutnya, “Cepat sembuh sayang, Bunda hanya bisa berdoa dan berharap semoga kamu bisa segera kembali menjadi Arsya yang dulu. Bunda tidak akan sanggup jika harus selalu melihatmu seperti ini, Sya. Bunda sangat kangen Arsya yang manja dan juga ceria, tidak seperti ini yang terlihat sangat tertutup dan cuek”
“Tapi Bunda sangat yakin, jika suatu saat nanti kamu bisa berubah menjadi Arsya yang penuh canda tawa. Bunda sayang Arsya, cepat pulih putra kecilku”
Bunda Reni mencium kening Arsya, dan pergi begitu saja menuju kamarnya. Bunda Reni berjalan memasuki kamarnya, dan melihat pria tersebut sudah duduk penuh tanda tanya.
“Bisakah kau menungguku sedikit lagi karena tubuhku sudah sangat lengket, jadi aku mau bersih-bersih lebih dulu. Setelah itu baru kita akan membahas soal wanita yang ada di kamar Arsya, oke...” celetuk Bunda Reni yang berjalan menuju kamar mandi.
Pria tersebut hanya duduk dengan tampang yang begitu galak hingga membuat keadaan sekelilingnya menjadi beku. Hampir 1 jam kurang pria itu menunggu Bunda Reni selesai mandi dan bersiap diri. Hingga akhirnya, mereka duduk bersamaan dengan keadaan yang sama-sama datar.
“Bisakah kamu jelaskan ada apa semua ini? Kenapa pria sekuat Arsya bisa jatuh sakit tak berdaya seperti itu? Lalu siapa wanita itu? Bukankah Arsya pernah bilang jika dia memiliki seorang kekasih yang cantik dan juga model?”
__ADS_1
“Tapi wanita itu terlihat biasa saja bahkan penampilannya tidak seperti seorang model?” Pria tersebut berbicara tanpa jeda membuat Bunda Reni menatapnya dengan sangat jengah.
“Bisakah kamu bertanya satu persatu, agar aku bisa menjawabnya dengan penjelasan. Bukan seperti mengeroyokku dengan semua pertanyaan itu, dasar ALARIC VALLEANNO” tegas Bunda Reni yang membuat pria itu tersenyum.
“Hehe... Tidak terasa sudah lama aku meninggalkanmu sayang, dan ternyata semakin ke sini kamu semakin menyaingiku ya...” ucap manja pria itu sambil menarik Bunda Reni agar terjatuh dalam pelukannya.
Alaric Valleanno adalah seorang pengusaha hebat yang sangat terkenal dengan usia 48 tahun. Ia juga merupakan suami dari Bunda Reni dan sekaligus Ayah bagi Arsya. Ayah Al memang dari dulu bersikap sangat cuek, dingin dan juga tidak banyak berbicara.
Tetapi dibalik itu semua, dia memiliki kasih sayang yang sangat luar biasa terhadap keluarganya. Serta ia juga mempunyai jiwa kepedulian yang begitu tinggi. Bunda Reni yang sudah tidak kuat lagi menahan beban seorang diri pun langsung menangis di pelukan Ayah Al yang membuatnya kebingungan.
Namun Ayah Al tahu jika Bunda Reni mungkin sangat lelah menghadapi semua masalah seorang diri tanpa ada dirinya di sampingnya. Sudah hampir 5 tahun lebih, Ayah Al meninggalkan Bunda Reni untuk memperluas perusahaannya hingga ia sudah sukses seperti sekarang.
Kini saatnya ia kembali kepada istri dan juga anaknya yang selama ini selalu merindukannya. Selama 5 tahun itu, Ayah Al hanya bisa mengunjungi mereka beberapa kali saja, tetapi tidak sampai berhari-hari. Jadi waktu berkumpul mereka terbilang sangat singkat.
Sampai akhirnya ia pulang ke Indonesia setelah semua urusannya selesai dan juga ia ingin melihat anaknya menikah dengan wanita yang ia cintai. Setelah selesai melepaskan semua beban di pundaknya, Bunda Reni langsung menghapus air matanya dan duduk tegak.
“Maafkan aku Mas, jika aku terlihat sangat lemah hari ini. Aku benar-benar sudah tidak kuat lagi memikul beban semua ini sendirian” ujar Bunda Reni dengan suara seraknya.
Ayah Al menatap istrinya sambil menggenggam kedua tangannya, “Ada masalah apa, sayang? Kenapa kamu seperti ini, hem... Jika kamu memikul beban sendiri, lantas kenapa kamu tidak pernah memberitahuku tentang masalah yang sedang kamu hadapi ini...”
“Aku ini suamimu, seharusnya kamu bilang padaku agar aku bisa segera pulang untuk membantu menyelesaikan masalahmu. Bukan malah kamu diam saja seperti ini, sayang...”
“Setiap saat aku selalu menanyakan kabar kalian, tetapi kamu selalu bilang baik-baik saja. Namun saat aku pulang? Aku malah melihat istriku yang begitu kuat ini, kini menangis sangat pilu. Hatiku tidak terima itu sayang, sakit rasanya saat aku melihat kamu menangis seperti ini”
“Aku merasa seperti suami yang tidak berguna, aku hanya mementingkan bisnisku dari pada keluargaku. Maafkan aku ya sayang, aku terlalu egois pada kalian, maaf...”
Ayah Al melontarkan semua kata-katanya yang terpendam di dalam hatinya dan membuat matanya pun ikut berkaca-kaca. Tetapi, Bunda Reni malah tersenyum menatap Ayah Al.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hello guys... Selamat beraktivitas dan tetaplah semangat... 💪🏻💪🏻💪🏻
Author sangat berterima kasih karena selalu mendukung Author 🥺🥺🥺
Semoga Author bisa memberikan cerita yang lebih menarik untuk kalian 🤗🤗🤗
Jaga diri kalian dan teruslah tersenyum karena senyum adalah Ibadah 😁😁😁
__ADS_1
Sampai jumpa lagi dan Salam sayang dari Author semuanya... 😆😆😆
Papaaayyy~~~ 👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻