Keikhlasan Hati Seorang Istri

Keikhlasan Hati Seorang Istri
Sayang mau susu...


__ADS_3

Padahal Kay belum tahu saja rasanya memiliki istri seperti apa, bahkan jika Kay sudah tahu nikmatnya memiliki istri pasti dia akan merasakan diposisi Arsya. Semoga saja apa yang dikatakan Arsya tidak akan membuat Kay lebih manja darinya.


...*...


...*...


Hari ini adalah hari kepergian Kay untuk menimba ilmu, dimana dia harus meninggalkan semua keluarganya demi mengejar apa yang selama ini Kay impikan. Kay ingin suatu saat nanti dia bisa menjadi orang yang bermanfaat bagi semua orang, meskipun Kay memang tipe pria yang dingin tetapi dia memiliki jiwa ksatria.


Semua keluarga hanya bisa melepas kepergian Kay dengan isak tangis serta pelukan, selama beberapa tahun ke depan mereka harus menjalani hari-harinya tanpa sosok Kay. Bahkan mereka akan menahan rasa rindunya sampai Kay kembali ke tanah air.


3 hari berlalu..


Suasana rumah kediaman Valleanno tetap sama seperti biasa, hanya saja tidak akan ada yang bisa melerai perdebatan ke-3 kurcaci kembar karena biasanya Kaylah yang menjadi penengah.


Saat ini semua orang tengah ngumpul di ruangan keluarga sambil menonton film.


"Mom kapan Bang Kay akan pulang?" Tanya Zean yang saat ini sudah berusia 12 tahun sambil memakan camilan.


"Ya ampun, Zean. Kamu itu bagaimana sih, baru juga Bang Kay berangkan sudah menanyakan pulang saja. Kamu kira dia pergi ke rumah temannya apa!" Sahut Dean dengan sedikit sewot.


"Ya memangnya kenapa, kan aku adiknya jadi wajar saja kalau aku kangen dengan Abangku sendiri. Memangnya Bang Rean, masih kecil sudah pacar-pacaran!" Jawab Zean.


Rean yang baru saja minum langsung tersendat hingga membuat semuanya menoleh ke arahnya. Sedangkan Rean malah memberikan sinyal bahwa dirinya tidak tahu apa-apa.


"Haaahh? A-aku? Sejak kapan aku pacar-pacaran coba, lagian juga itu dilarang sama Agama. Lebih baik aku langsung saja melakukan taaruf, abis itu nikah selesai. Tidak dosa, malah akan menjadi ladang pahala buatku"


Ucapan Rean mampu membuat semuanya syok akibat umur Rean yang masih kecil sudah bisa berpikir sejauh itu, bahkan Kay saja yang usianya 6 tahun di atas mereka tidak ada sama sekali memikirkan hal menikah.


"Rean!! Apa yang kamu katakan barusan, bagaimana mungkin kamu bisa memikirkan semua itu? Asal kamu tahu ya di novel yang baru rilis milik author Mphoon dengan tema pernikahan dini yang berjudul Learn to Love You itu saja usia tokohnya 17 sampai 18 tahun!"


"Sekarang lihatlah dirimu, usiamu masih 12 tahun tapi pikiranmu sudah sejauh itu. Bahkan Bang Kay saja yang sudah besar masih ingin meneruskan pendidikannya, lah kamu malah pengen cepat-cepat nikah. Mau di kasih makan apa keluargamu nanti hem..?"


Suci berbicara dengan nada yang sangat tegas menatap Rean, tetapi Rean malah acuh tak memperdulikan jika Mommynya saat ini sedang mengamuk.


"Author Mphoon itu siapa, Mom? Kok Zean baru dengar karena setiap Zean baca novel tidak pernah menemukan author dengan nama yang aneh itu" Jawab Zean dengan wajah bingungnya.

__ADS_1


"Author Mphoon itu adalah author imut yang baru saja merintis karirnya, bahkan novelnya pun bisa kehitung jari. Tapi tidak apa-apa, karena Mommy yakin kok suatu saat nanti author Mphoon bisa bangkit hingga semua novelnya akan muncul di branda. Jadi kita doakan saja semoga author Mphoon selalu sehat dan bisa terus bersemangat untuk merilis karya baru. Aamiin Allah Humma Aamiin.."


...*Terima kasih semua atas doanya hihhi..*...


Semasa kecil Rean memang selalu saja berhasil membuat semua keluarganya cenat-cenut. Apa lagi saat usia Rean sekitar 5 tahun dia sudah sempat memikirkan kalau dia ingin memiliki istri seperti Suci yang baik, cantik dan juga penyayang hanya karena Rean selalu memperhatikan kedua orang tuanya semakin tua malah menjadi semakin romantis.


"Sayang mau susu.." Ucap Arsya mampu membuat Suci, Bunda Reni dan juga Ayah Al melototkan matanya ketika mendengar kata susu.


Mereka seakan-akan pikiran mereka travelling kemana-mana, padahal Arsya hanya meminta susu. Memang apa yang salah dengan kata susu? Entahlah..


"Daddy stop ya, jangan mulai lagi. Apa kamu lupa kemarin karena ulahmu pikiran Kay menjadi ternodai, lalu sekarang apa kamu juga mau menodai ke-3 anak kembar kita?" Jawab Suci.


"Ternodai? Memangnya kami ini pakaian apa bisa ternodai segala. Lagian kalau Daddy minta susu memangnya kenapa sih Mom, toh kita saja setiap hari selalu minum susu" Celetuk Zean.


"Tahu nih, atau jangan-jangan..." Ucapan Dean terhenti ketika Bunda Reni langsung membalasnya.


"Jangan-jangan apaan, katakan apa yang kamu ketahui Dean!" Bunda Reni begitu penasaran, apa Dean juga sudah ternodai sama seperti Abangnya Kay.


"Jangan-jangan Daddy memiliki susu khusus, apa lagi kan Daddy sudah tua jadi mungkin dia harus minum sesuai dengan anjuran usia" Sambung Dean.


Suci, Bunda Reni dan juga Ayah Al merasa sedikit lega karena mereka salah menduga. Untung saja Dean berpikir seperti itu, jika dia berpikir sama seperti mereka bertiga pasti Suci akan langsung membuat Arsya berpuasa selama 1 minggu.


"Ahyaa.. hehe.. ya-yaudh Mommy ambil dulu sebentar!"


Suci langsung bergegas ke arah dapur dengan wajah yang begitu gelisah, kalau bukan Suci langsung mengalihkan pasti Arsya akan mengatakan hal yang bisa-bisa membuat ke-3 kurcaci kembarnya menjadi bingung.


Suci membawa 4 botol susu dengan rasa pisang 3 dan satunya rasa coklat lantaran Suci sangat tahu kalau mereka memang sangat menyukai susu. Berbeda dengan Bunda Reni dan juga Ayah Al, mereka lebih menyukai teh atau pun kopi.


Belum saja Suci sampai ke sofa dan memberikan susu tersebut, tiba-tiba saja ke-3 kurcaci berebut hingga hanya tersisa susu rasa coklat. Bahkan Dean sama Zean dia sudah meminumnya, sedangkan Rean dia masih membuka segelnya dengan perlahan.


"Mana susuku Sayang, kenapa malah mereka duluan yang dapet sih!" Celoteh Arsya dengan kesal. Entah kenapa semakin bertambahnya usia malah semakin membuat Arsya bertingkah seperti anak-anak.


"Ma-maaf, su-susu pisangnya su-sudah habis. Ta-tadi hanya tersisa 3 dan ini hanya ada rasa coklat. Gapap kan, untuk sekarang minum ini dulu. Besok kita akan belanja lagi oke.." Suci duduk di samping Arsya berusaha memberi pengertian padanya.


Tapi Arsya yang sudah kesal langsung melirik ke arah botol susu rasa pisang di tangan Rean. Ketika Rean ingin meminumnya Arsya malah merebut paksa susu tersebut hingga mereka berdua saling berebut dan tidak mau mengalah.

__ADS_1


"Yaaa.. Daddy ini susu punya Rean, lepaskan!" Pekik Rean berusaha mengambil susu ditangan Arsya.


"Issshh.. kan Daddy duluan yang minta sama Mommy susu pisang, kamu susu coklat saja biar Daddy yang ini. Ayolah Rean mengalah ya.." Sahut Arsya.


"Enggak mau, harusnya Daddy yang ngalah bukan Rean. Kan Daddy orang tua dan Rean anak Daddy, jadi berikan susu ini pada Rean!" Jawab Rean.


"Yaaaa.. enggak mau ini milik Daddy!" Balas Arsya.


Semua yang ada di sana hanya bisa melihat keributan yang memang sudah menjadi makanan sehari-hari, dimana Arsya tidak akan bisa berdebat lagi dengan Kay. Maka masih ada titisan Kay yang menurun di Rean.


"Daddy, Rean stop hentikan semua ini atau susu itu akan-.. nahkan baru mau Mommy bilang susunya akan tumpah dan sekarang malah berceceran dimana-mana kan. Lagian juga Daddy udah besar bukannya ngalah sama anak malah anaknya yang di suruh ngalah, gimana konsepnya sih!" Ucap Suci.


"Kok Daddy yang di salahin, harusnya kan mereka karena Daddy duluan yang menginginkan susu pisang. Tapi kenapa mereka yang dapat! Ckkk.. ka-kalian jahat sama Daddy, Mommy juga hiks.. dahlah Daddy mau tidur aja"


Arsya menangis dan langsung bangkit berjalan ke arah kamarnya, sedangkan semuanya yang melihat itu langsung tercenga melihat sikap Arsya yang benar-benar seperti big baby.


"Mas, i-itu anak kita Arsya kan? Ke-kenapa dia semakin tua malah semakin manja seperti ini?" Bisik Bunda Reni.


"Entahlah Sayang, aku juga bingung. Bahkan aku saja yang sudah tua tidak seperti itu, atau jangan-jangan dia itu begitu karena dia tidak mau di cuekin olah Suci. Kamu tahu sendiri kan bagaimana repotnya Suci mengurus ke-4 anaknya yang masih kecil, jadi ketika sudah besar Arsya malah semakin merasakan tersaingin jadi ya begitulah dia. Pasti itu jurus andalannya biar Suci bisa selalu berada di dekatnya" Jawab Ayah Al dengan suara kecilnya.


Dan benar saja, di dalam kamar Arsya terkekeh kecil menghapus air matanya. Ia menghitung 1 sampai 10 karena pasti sebentar lagi Suci akan datang menemuinya.


Terbukti, Suci meminta izin pada mereka semua untuk mencoba membujuk Arsya terlebih dahulu, sedangkan ke-3 kurcacinya juga berpamitan akan bersiap-siap untuk pergi ke les. Dimana waktu libur mereka akan di isi dengan hal-hal yang bermanfaat. Setelah itu mereka langsung pergi ke arah kamarnya masing-masing.


Bunda Reni dan juga Ayah Al akan kembali ke kamarnya akibat bujukan maut Ayah Al yang saat ini ingin dimanjakan oleh sentuhan istrinya.


Suci berusaha keras untuk membujuk Arsya yang masih mengambek, bahkan Arsya selalu membelakanginya. Namun Suci tahu bagaimana cara membuat Arsya kembali takluk padanya.


"Sayang, mau susu pisang atau cucu murni yang dihasilkan dari sumbernya?" Ucap Suci mampu membuat Arsya menoleh serta berbalik dengan kedua mata berbinar.


"Ma-mau cucu bukan susu, boyeh?" Lagi dan lagi wajah Arsya begitu menggemaskan. Hingga Suci hanya bisa mengangguk sambil terkekeh, sedangkan Arsya bergegas mencari sumber susu yang memang itulah tujuan yang sebenarnya.


Awalnya Asya keceplosan ketika mengatakan soal susu tetapi ketika anaknya mengatakan hal itu membuat Arsya berhasil mengalihkan semuanya. Dan pada akhirnya dia berhasil mencapai tujuannya.


Suci mengelus pelan kepala Arsya sambil tersenyum, entah kenapa dia tidak pernah membayangkan hidupnya akan sebahagia ini. Apa lagi sikap Arsya yang selalu berubah-ubah mampu membuat Suci merasakan jatuh cinta berulang-ulang kali pada orang yang sama.

__ADS_1


Begitu juga dengan Arsya, dia sangat bersyukur bisa memiliki keluarga yang jauh dari harapannya selama ini. Sampai kejahilan Arsya baru di mulai, Suci hanya bisa pasrah. Suci selalu tidak bisa menolak ajakan suaminya soal bercinta, apa lagi mereka hampir setiap hari melakukannya tanpa rasa lelah.


Bagi mereka menyatuan hubungan suami-istri sama halnya seperti menyirami cinta yang ada di dalam hati agar terus tumbuh tanpa membiarkannya layu sedikit pun.


__ADS_2