
Belum lagi Suci dan Arsya hanya bisa terdiam terkejut ketika melihat sisi Kay yang jauh dari ekspetasi mereka. Bocah usia 6 tahun bisa berbicara begitu dewasa, yang mana seharusnya anak seusia Kay hanya memiliki tugas bermain, ngambek dan juga belajar. Bukan malah menasehati semua orang yang lebih dewasa darinya.
Tapi ada 2 orang yang hanya bisa tersenyum melihat Kay bersikap seperti ini, siapa lagi jika bukan Ayah Al dan juga Bunda Reni. Mereka sangat kagum menatap Kay, dia sudah tumbuh menjadi anak yang luar biasa berkat didikan Suci dan Arsya.
Dimas yang melihat sosok Kay membuat matanya langsung melirik kearahnya, lalu berjalan mendekati Kay dan menyamaratakan tingginya hingga kini kedua mata mereka saling menatap satu sama lain.
Dimana Suci langsung gelisah tidak karuan melihat Dimas sedekat itu kepada Kay, namun Arsya berusaha memegang tangan Suci sambil memberikan kode gelengan kepala ketika melihat Suci ingin menarik Kay agar menjauhi Dimas.
"Sabar Sayang, jangan tunjukkan wajah yang seperti itu. Bersikaplah dengan tenang agar dia tidak curiga" Bisik Arsya sambil menarik Suci untuk mendekati tubuhnya.
"Ta-tapi Mas, ka-kalau dia tahu Kay itu a-...." Ucapan Suci terputus saat Arsya langsung menaruh jari telunjuknya di bibir Suci.
"Ssssttt.. percaya padaku semua akan baik-baik saja, kalau pun terjadi itu adalah takdir yang tidak akan bisa di hentikan. Kamu paham Sayang?" Jawab Arsya dengan suara kecilnya.
Kemudian Suci mengangguk kecil dan kembali melihat ke arah Dimas serta Kay yang kini masih setia dengan keadaan saling menatap satu sama lain.
"Siapa namamu?" Tanya Dimas yang menunjukkan wajah seriusnya.
"Kau tidak perlu tahu siapa namaku, karena itu tidak penting!" Sahut Kay begitu tegas. Entah kenapa Kay merasa sangat membenci orang yang ada di hadapannya ini, padahal mereka belum pernah ketemu sebelumnya. Tetapi Kay bisa merasakan bahwa Dimas bukanlah orang yang baik seperti keluarganya.
"Kaysan Suarsya Valleanno, nama yang bagus. Pasti Suarsya adalah nama gabungan dari nama kedua orang tuamu. Namun entah kenapa saat aku melihat wajahmu itu sekilas mirip dengan wajahku ketika aku masih kecil" Ucap Dimas yang sudah berhasil membuat Suci ketar ketir rasanya ingin menarik Kay ke dalam dekapannya.
__ADS_1
Cuman lagi dan lagi Arsya melarang Suci agar tidak membuat Dimas semakin menaruh curiga padanya. Ya memang sih wajah Kay campuran dari wajah mereka hanya saja Suci lebih mendominasi Kay sehingga Dimas cuman kebagian mata, alis dan juga bentuk wajah.
Selebihnya Kay mirip dengan Suci, tetapi jangan salah Arsya selaku Daddy sambungnya juga kebagian tapi bukan fisik, melainkan sifat yang ada di dalam diri Kay turun temurun dari sifat Arsya.
Sedari kecil Arsya sama Suci memang menanamkan nilai-nilai yang baik untuk Kay, sampai-sampai tanpa mereka sadari Kay selalu mengcopy sikap Arsya. Mulai dari manja, tegas, dingin dan juga cuek semua Kay borong habis tanpa terkecuali.
"Siapa kau? Berani sekali bilang kalau wajahmu ini mirip denganku!" Ucap Kay aura dinginnya.
"Cukup Kay, sekarang kamu lebih baik ikut Oma pergi dari sini. Bun, tolong bawa Kay pergi dari sini. Suasana sudah tidak baik untuk anak sekecil Kay. Aku tidak mau mentalnya jatuh jika ada pemberitaan jelek diluar sana untuknya!" Titah Arsya ketika melihat keadaan sudah mulai tidak kondusif.
"Kay ikut Oma sama yang lain dulu ya.." Ucap Bunda Reni yang langsung mengambil alih Kay bersama Ayah Al. Lalu mereka semua pergi, hanya menyisakan Suci sama Arsya. Namun mata Kay tak luput dari Dimas begitu pun juga Dimas.
Sampai Dion harus turun tangan bersama Xan untuk membuat semua orang kembali ke sibukannya masing-masing, beserta wartawan pun langsung di alihkan ke acara yang seharusnya. Setelah keadaan mulai aman, Suci langsung menatap Dimas dengan tatapan kesal. Tetapi Suci berusaha menahannya agar ia tidak kelepasan.
"Loh kok marah? Aku kan bertanya sama dia kenapa wajahnya hampir mirip denganku di waktu kecil, kamu juga pernah liat fotoku kan. Apa harus aku sandingkan dia dengan fotoku? Tapi, tunggu dulu! Bagaimana kamu bisa hamil? Bukannya kamu-....." Ucapan Dimas terhenti saat Elsa langsung menyahutnya.
"MANDUL!!" Ucap Elsa dengan beberapa paper bag di pergelangan tangannya. Arsya, Suci dan Dimas langsung menatap Elsa yang berjalan mendekati Dimas sambi berdiri di sampingnya dengan senyuman.
"Jangan pernah sekali-kalinya kau menghina istriku! Jika memang istriku MANDUL bagaimana caranya 6 tahun yang lalu Kay bisa lahir dari rahimnya, hah!!" Pekik Arsya dengan penuh emosi, Suci langsung menatap Arsya dengan tatapan penuh arti.
Deghhhh...
__ADS_1
Jantung Suci berpacu dengan cepat ketika mendengar ucapan Arsya, padahl baru beberapa menit yang lalu Arsya berusaha menahan Suci agar tidak sampai terbawa suasana. Namun sekarang malah Arsya sendiri yang terkena jebakan, dimana dia malah memberitahu umur Kay.
Seketika Arsya yang menyadarinya pun langsung terdiam membeku setelah Suci berhasil menatap Arsya yang mana mata Suci tersirat sebuah kekecewaan. Begitu juga dengan Dimas dia mencerna apa yang dikatakan Arsya, kemudian kembali terbayang akan kejadian 6 tahun lalu dimana Dimas menyaksikan pernikahan Suci dan Arsya.
"6 tahun? Ba-bagaimana mungkin Kay terlahir bersamaan dengan usia pernikahan mereka? Apakah secepat itu mereka baru menikah langsung memiliki anak? Padahal jelas-jelas Suci tidak bisa memiliki anak, jikalau pun Suci bisa mengandung itu pasti akan memerlukan waktu yang tidak instan. Lalu Kay?.."
Dimas berbicara di dalam hatinya dengan wajah yang bingung, bahkan Arsya dia masih terdiam dengan sedikit menundukkan wajahnya dari Suci. Arsya benar-benar merasa sangat bersalah kepada Suci.
Cuman selang beberapa menit ponsel Dimas berbunyi yang berhasil membuyarkan pikiran mereka semuanya. Dimana Dimas segera mengangkat telepon dari orang misterius, kemudian tak lama kedua mata Dimas membola ketika mendengar ucapan yang membuat hatinya begitu hancur.
Kini, sudah bisa di pastikan wajah Dimas terlihat pucat dan juga penuh kekhawatiran, sampai-sampai Suci serta Arsya saling menatap satu sama lain dengan tatapan bingung. Begitu juga Elsa yang langsung mencecar Dimas dengan segala percayaan ketika melihat air mata Dimas mulai runtuh.
Dengan cepat Dimas langsung mematikan ponselnya, lalu ia lari meninggalkan semuanya. Elsa yang merasa kesal langsung menyusul Dimas sambil beberapa kali memanggilnya namanya.
Suci dan Arsya terdiam menatap ke pergian mereka, tapi sedetik kemudian Suci kembali menatap Arsya dan meninggalkannya secara tiba-tiba. Arsya yang mulai menyadari itu semua langsung berlari mengejar kemana arah Suci pergi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Hai guys.. jangan lupa mampir ke karya temen-temanku ya, mungkin selama beberapa hari ke depan author akan mempromosikan semua karya yang sangat memukai. Semoga dari beberapa banner yang aku publish ini ada yang sesuai dengan genre kalian sebagi pembaca 🥰 Terima kasih.....
...Lets go di serbu... 🤸🤸...
__ADS_1