Keikhlasan Hati Seorang Istri

Keikhlasan Hati Seorang Istri
Beli Obat Demam


__ADS_3

Suci dan Arsya terdiam menatap ke pergian mereka, tapi sedetik kemudian Suci kembali menatap Arsya dan meninggalkannya secara tiba-tiba. Arsya yang mulai menyadari itu semua langsung berlari mengejar kemana arah Suci pergi.


...*...


...*...


Suci pergi ke ruangannya di mana Arsya sudah berada tepat di belakangnya sambil memeluk Suci. Suci hanya bisa menatap ke arah jendela luar sambil melipat kedua tangannya dengan air mata yang terus menetes.


"Sa-sayang, ma-maafkan aku karena sudah melakukan kesalahan yang fatal hiks.. aku tidak ada niatan untuk berbicara seperti itu, semua refleks keluar begitu saja. Ma-maaf hiks.."


Arsya memeluk erat Suci sambil menaruh wajahnya di pundak Suci. Arsya menangis meratapi kesalahan yang baru kali ini membuat Suci semarah ini bahkan dia sama sekali tidak mengeluarkan satu kata pun.


Suci cuman bisa menangis, bukan berarti Suci marah dengannya tapi Suci hanya masih belum siap untuk memberitahu siapa Dimas dan siapa Kay, karena di umur Kay yang terbilang sangat kecil dia belum bisa mengerti semuanya dan mencerna ucapan orang dewasa.


Hampir 30 menit Suci berdiam dengan posisi mereka yang masih sama dan tidak berubah, bahkan beberapa kali Arsya mencoba berinteraksi dengan Suci namun tetap gagal. Sampai seketika Arsya melepaskan pelukannya dengan wajah yang sangat sedih.


Kemudian Arsya berbalik berjalan menjauhi Suci yang mana Suci pun ikut berbalik menatap punggung Arsya sambil berkata, "Aku tidak marah sama kamu Mas, aku cuman kecewa saja karena tadi kamu berusaha mengingatkanku tetapi kamu sendiri yang mengatakannya"


"Aku hanya belum siap kalau mereka mengetahui semuanya di saat usia Kay masih sangat kecil. Aku takut Kay akan marah padaku setelah dia mengetahui selama ini kita merahasiakan sesuatu padanya. Aku tidak mau kehilangan Kay Mas, aku juga enggak mau Kay marah lalu dia malah memilih hidup bersama Ayah kandungnya aku tidak rela, dan tidak akan pernah relaaaaaa hiks.."


"Aku Ibunya, aku yang mengandung, dan aku pula yang membesarkannya jadi aku tidak mau sampai Dimas mengambil anakku. Kay itu anakku bukan anaknya, meskipun darahnya mengalir di dalam tubuh Kay tetapi tetap saja Kay adalah anakku sampai kapan pun itu hiks.."


Suci berteriak meluapkan yang tadi ia pendam hingga Arsya yang melihatnya langsung berlari memeluknya untuk berusaha menenangkan Suci, Arsya tahu memang berat bagi Suci untuk memberitahu semua kenyataan ini pada Kay.

__ADS_1


Tetapi apa pun itu Kay berhak mengetahui semuanya, tidak baik kalau Suci terus menerus menyembunyikan rahasia ini sampai dimana Kay sendiri yang mengetahuinya maka itu akan jauh lebih fatal akibatnya.


"Biarlah yang berlalu tetaplah berlalu, bagaimana pun Kay sudah berumur 6 tahun namun pola pikirnya melebihi anak umur 16 tahun. Cepat atau lambat Kay memang harus sudah mengetahui tentang ini, karena dia juga berhak mengetahui kebenaran tersebut"


"Lebih baik kita yang memberitahukannya lebih cepat dari pada dia mengetahuinya dari orang lain yang mana akan membuatnya merasa dikhianati. Mendingan kita memikirkan apa yang harus kita lakukan kedepannya agar Kay bisa selalu bersama dengan kita selamanya"


Arsya berkata sambil melepaskan pelukannya dan menghapus air mata Suci di pipinya. Suci pun mulai berhenti menangis serta tersenyum menatap Arsya.


Arsya menuntun Suci menuju sofa lalu mereka duduk berhadapan sambil berpegangan tangan. Arsya terus mencoba membuat Suci mengerti akan situasi mereka. Suci dan Arsya menghabiskan waktu di ruangan kerja sambil menunggu yang lainnya datang ke sana.


...*...


...*...


"Kamu kenapa sih Mas tiba-tiba main lari aja ninggalin aku, memang siapa sih yang nelpon? Sepenting itukah dia dari pada aku sebagai istrimu, sampai-sampai kamu meninggalkanku begitu saja di depan mereka. Bukannya bantuin aku buat bawain belanjaan yang banyak ini atau apa kek, ini malah main pergi gitu aja. Kesel tahu enggak!!" Cecar Elsa.


"Sudahlah diam jangan selalu mengeluh tidak jelas seperti ini, aku sedang pusing memikirkan sesuatu yang lagi terjadi. Kamu tahu tidak tadi itu Mamah nelpon aku, Mamah bilang kalau Diva sakit dari pagi panasnya enggak turun-turun. Sekarang kita pulang ke rumah, lalu segera membawa Diva ke rumah sakit, aku takut terjadi sesuatu dengannya" Jawab Dimas dengan segala kepaniannya.


"Enggak usah ke rumah sakit Mas, kita beli obat demam saja di Apotek kan bisa. Kamu tahu sendiri kalau Diva itu memang kondisi tubuhnya lemas dan juga sering sakit-sakitan, jadi lebih baik kita beli obat seperti biasanya saja. Mungkin obat di rumah sudah habis makannya Mamah menelpon kamu saking paniknya" Sahut Elsa.


Dimas yang mendengar ucapan Elsa langsung menoleh ke arah Elsa dengan tatapan tajam. Elsa yang mendapatkan tatapan tersebut pun membalasnya sambil menggerakan kedua bahunya.


Dimas yang pikirannya sangat kacau dan sudah tidak tahu lagi apa yang harus di lakukannya itu hanya bisa menghela nafasnya secara kasar. Kemudiannya Dimas langsung menjalankan mobilnya menuju sebuah Apotek terdekat untuk membeli obat demam untuk Diva.

__ADS_1


Sementara Elsa malah sibuk bermain dengan ponselnya dan tidak memikirkan bagaimana kondisi Diva yang saat ini sedang demam tinggi.


"Ngapain sih repot-repot bawa anak penyakitan ke rumah sakit, buang-buang duit aja. Mendingan duitnya buat memanja tubuh itu jauh lebih bermanfaat dan juga berguna untukku. Siapa tahu nanti ada pencari bakat yang akan merekutku untuk menjadi model majalah mereka" Ucap Elsa di dalam hatinya.


Tidak lama Dimas melihat adanya sebuah Apotek di pinggir jalan, lalu ia segera menepikan mobilnya dan langsung keluar dari mobil dengan sangat cepat meninggalkan Elsa yang sibuk dengan ponsel.


5 menit kemudian Dimas keluar sambil membawa kantong kecil yang berisikan obat-obatan untuk Diva. Dimas pun kembali masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya secepat mungkin agar mereka segera sampai di rumah.


Sesampainya di rumah Dimas turun dari mobil dengan membawa kantong berisikan obat tersebut yang mana dia meninggalkan Elsa di dalam mobil begitu saja. Elsa yang melihat tingkah Dimas seperti itu hanya mengeluh kesal di dalam hatinya, lantaran Dimas selalu saja mementingkan Diva dan mengacuhkan dirinya seperti sekarang.


"Apaan sih perasaan itu anak memang suka bikin panik orang serumah, lagian anak itu kan cuman demam bukan sekarat. Jadi ngapain harus buru-buru kaya orang lari dari kebakaran, bahkan Dimas sampai melupakan kehadiranku di sini"


"Tapi tunggu deh, kalau Dimas sekhawatir ini pada Diva mungkin saja Diva memang anak Dimas dong bukan Fajar. Kalau pun ini benar adanya maka bukannya ini sangat bagus untukku, jadi aku tidak akan kehilangan semua kehidupan mewah ini"


Elsa berbicara sambil menunjukkan senyum penuh arti, yang mana memang sejak awal Elsa hanya menginginkan kekayaan serta hidup mewah bersama dengan Dimas.


Jadi, jika Diva adalah anak kandung Dimas tentu saja Elsa akan sangat bahagia karena dia tidak akan kehilangan semuanya. Elsa pun turun dari mobilnya sambil membawa semua belanjaan yang ia dapatkan secara geratis di acara peresmian Brand terbaru yang di keluarkan oleh Perusahan Suci.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Hai guys.. jangan lupa mampir ke karya temen-temanku ya, mungkin selama beberapa hari ke depan author akan mempromosikan semua karya yang sangat memukai. Semoga dari beberapa banner yang aku publish ini ada yang sesuai dengan genre kalian sebagi pembaca 🥰 Terima kasih.....


...Lets go di serbu... 🤸🤸...

__ADS_1



__ADS_2