
Fajar yang dari tadi sudah mulai emosi, seketika ia menutup matanya perlahan sambil menarik nafasnya lalu kembali ia membuka matanya dan menatap Elsa penuh senyuman.
“Mungkin saat ini kamu bisa tertawa dengan sangat manis di atas penderitaan seseorang, tapi sekarang aku sudah sadar Saa... Jika Elsa yang dulu, bukanlah Elsa yang sekarang gila akan harta"
"Aku seperti sedang berkenalan dengan sosok baru yang ada di dalam tubuhmu itu entahlah... Aku cuma bisa berdoa semoga kamu segera sadar atas apa yang sudah kamu lakukan, sebelum waktunya terlambat Sa...” sahut Fajar.
“Cihhh!... Tidak udah sok-sok’an untuk mengajariku. Aku tahu mana yang terbaik untuk hidupku, jadi aku hanya menjalankan apa yang membuatku bahagia” ucap Elsa.
“Baiklah, jika seperti itu semua terserah padamu. Tapi satu pertanyaanku, siapa Ayah dari anak yang ada di dalam perutmu itu, Sa?” ucap Fajar sambil menatap perut Elsa sekilas.
Lalu Fajar kembali menatap lurus ke arah depan untuk menunggu jawaban dari Elsa. Sedangkan Elsa yang mendengar semua itu seketika menjadi sangat diam, ia juga bingung satu sisi ia tahu jika selama 1 bulan terakhir ia hanya bermain bersama Fajar. Cuma di sisi lainnya ia juga tidak menutup kemungkinan kalau anak itu juga anak dari Dimas.
“Kenapa diam? Susah menjawabnya, atau sedang berpikir keras karena kamu sendiri juga ragu untuk mengatakan jika anak itu benar-benar anak dari hasil hubungan gelap kalian berdua” sahut Fajar dengan tatapan remeh, dan benar-benar berhasil membuat Elsa ketakutan hingga berkeringat dingin.
“E-enggak, si-siapa bilang aku ragu. A-aku yakin kok, sa-sangat yakin malahan. Jika a-anak ini adalah anakku dan juga suamiku” jawab Elsa dengan dahinya yang mulai berkeringat dingin, serta bibirnya begitu gemetar.
“Saaa... Saaa... Sudah deh, jangan bohong. Aku tahu jika anak itu adalah anakku kan? Tapi kamu malah mengikat orang yang tidak bersalah untuk meminta pertanggung jawaban atas apa yang tidak ia lakukan” ucap Fajar yang semakin membuat Elsa menjadi gelisah.
“A-apaan sih, a-aku tidak bohong ya. Be-benar kok ini anak dari suamiku, lagian juga mana mungkin aku punya anak darimu toh waktu kita melakukannya juga kamu mengeluarkannya di luar kan?” tanya Elsa dengan wajah penasaran.
“Di luar? Haha... Apa kamu benar-benar sudah melupakannya, jika aku dengan sengaja mengeluarkannya di dalam karena aku ingin memiliki seorang anak dan dengan cara begitu aku bisa memilikimu seutuhnya” ucap Fajar yang terus-menerus membuat Elsa semakin ketakutan.
“Ti-tidak, i-itu bohong kan. Ka-kamu bohong kan, ji-jika kamu mengeluarkannya di dalam kenapa aku tidak tahu?” tanya Elsa.
“Jelas tidak tahu, karena aku menahannya agar tidak membuatmu sampai curiga sehingga aku bisa mengeluarkannya di dalam rahimmu dengan berkata aku belum keluar. Namun pada kenyataannya aku sudah keluar dan terus melanjutkan permainan kita beberapa kali”
“Apa kamu masih ingat jika kamu pernah bilang 'Mas kenapa punyamu lama sekali keluarnya, sedangkan punyaku sudah beberapa kali keluar. Apa kamu begini karena habis minum obat kuat' Nah... Di situ aku merasa bingung mau jawab apa, jadi ya aku iyakan saja dan ini hasilnya terbukti” jelas Fajar sambil tersenyum bangga, tetapi tidak dengan Elsa ia malah benar-benar mulai terkena mental atas ucapan Fajar.
Padahal niatnya Elsa ingin menjatuhkan mental Fajar, namun semuanya malah berbanding terbalik. Elsa dengan perlahan mencoba untuk mengendalikan tubuhnya agar ia bisa terlihat sangat tenang tanpa membuat Fajar sedikit menaruh curiga padanya. Elsa tersenyum menatap Fajar dan sedikit mencondongkan tubuhnya sehingga ia berbicara tepat di telinga Fajar.
“Jangan mimpi untuk semua omong kosongmu itu, karena anak ini bukanlah anakmu. Anak ini adalah anak dari suamiku MAS DIMAS, bukan FAJAR” tegas Elsa dengan menatap tajam wajah Fajar.
Kemudian Elsa berdiri dan pergi meninggalkan Fajar begitu saja. Fajar pun ikut berdiri menatap Elsa yang semakin menjauh laku ia sedikit mengeraskan suaranya.
__ADS_1
“Kau boleh berbicara seperti itu, Sa. Tapi lihatlah takdirmu nanti, jika itu benar-benar anakku maka aku akan mengambilnya dengan paksa” teriak Fajar dan Elsa tersenyum lalu berbalik menatap Fajar.
“Apa buktinya jika ini adalah anakmu? Adakah buktinya?” tanya Elsa sambil menunjuk perutnya yang sedikit membuncit.
“Aku memang tidak ada buktinya sekarang, tapi ingatlah satu hal ini. Serapat-rapatnya bangkai di tutupi, maka baunya pun akan tetap tercium juga” ucap Fajar yang hanya di anggap remeh oleh Elsa dan kemudian ia kembali berbalik dan berjalan meninggalkan Fajar.
“Cepat atau lambat, kebohonganmu akan segera terbongkar Elsa. Kamu tunggu saja, hanya waktu yang akan bisa menjawab semuanya” pekik Fajar dengan berteriak.
Sedangkan Elsa malah menutup rapat-rapat kupingnya, lalu mereka semua pergi kembali ke rumahnya masing-masing. Tapi tanpa di sadari oleh keduanya, ada seseorang yang sudah dari tadi memantau mereka dari kejauhan bahkan dia pun bisa mendengar suara percakapan di antara mereka.
“Ja-jadi itu anaknya Fajar? Benar-benar berita yang sangat mengejutkan. Tinggal tunggu saja tanggal mainnya di mulai haha...” ucap seseorang dengan senyuman manisnya dari belakang pohon.
Lalu orang itu pergi meninggalkan taman dengan memegang rahasia terbesar Fajar dan Elsa.
*
*
2 bulan telah berlalu...
“Succciiiii...” teriak Mamah Mita dari ruang keluarga.
Suci yang lagi menyiapkan undangan, seketika langsung berlari kecil ke arah Mamah Mita.
“Ya Mah, ada apa memanggil Suci? Apa Mamah butuh bantuan?” tanya Suci dengan lembut.
“Siapkan semua masakan yang ada di dalam daftar ini, jika kamu kerepotan ajak Bi Tina untuk membantumu. Tapi ingat baik-baik, jangan sampai kamu memperbolehkan Elsa untuk membantumu paham!” bentak Mamah Mita yang membuat Suci hanya bisa tersenyum.
“Suci paham kok, Mah. Lagian jika Elsa mau membantu Suci, itu karena dia yang memaksanya bukan Suci yang menyuruhnya. Jadi bisakah Mamah tidak selalu menyalahkan Suci atas semua yang Elsa lakukan dengan niatannya tersendiri” ucap Suci.
“Kamu kalau di bilangin selalu saja menjawab! Dimana sopan santunmu terhadap mertuamu sendiri, kenapa semakin ke sini kamu semakin berani menantang saya hah!” pekik Mamah Mita.
“Suci tidak ada niatan untuk menantang atau pun melawan Mamah. Suci berbicara sesuai dengan fakta yang ada, Mah. Apa pun yang Elsa lakukan Mamah selalu menyalahkan Suci, namun jika seandainya Suci yang menjadi Elsa apakah Mamah akan membela Suci atau tetap membela Elsa?” ucap Suci yang membuat Mamah Mita semakin geram.
__ADS_1
“Jika kamu bisa memberikan kami keturunan, mungkin semua ini tidak akan terjadi. Bahkan pernikahanmu sama anakku akan semakin bahagia, tapi pada dasarnya mandul ya tetaplah mandul. Sampai kapan pun tidak akan bisa memberikan keturunan bagi keluargaku"
"Masih untung kamu tidak di ceraikan anak saya, coba kalau kamu di ceraikan? Mungkin di dunia ini tidak akan ada yang mau menerima wanita yang tidak sempurna seperti dirimu ini cihh...”
Mamah Mita pergi begitu saja dengan tatapan yang sangat remeh, sedangkan Suci telah mengepalkan kedua tangannya sambil menahan semua amarahnya.
“Sabar Suci, Sabar... Akan ada saatnya kamu melawannya, tapi bukan saat ini” gumam Suci sambil mengelus dadanya dan kembali melanjutkan pekerjaannya.
Setelah surat undangan selesai, Suci membantu Bi Tina untuk menyiapkan beberapa menu yang ada di daftar kertas tersebut. Bahkan Suci rela harus begadang bersama Bi Tina untuk menyiapkan semuanya, karena jam 9 pagi acara sudah di mulai.
“Sepertinya Non Suci terlihat sangat cape, Non duduk dulu minum terus makan ya. Baru nanti di lanjutkan, Bibi enggak mau lihat Non sampai jatuh sakit” ucap Bi Tina dengan wajah cemasnya.
“Ya Bi, tenang saja aku kuat kok hehe... Ya sudah aku izin istirahat sebentar ya Bi, kakiku pegal banget dari tadi berdiri terus” sahut Suci sambil duduk di kursi sambil menatap punggung Bi Tina.
“Ya Non, nanti kita bisa gantian kok. Tenang saja Bibi akan membantu menyiapkan semuanya agar selesai tepat pada waktunya” ucap Bi Tina sambil menoleh dengan senyuman.
“Aduh, Bi Tina ini bisa saja membuat Suci semakin tenang. Mungkin jika tidak ada Bi Tina, Suci tidak tahu lagi harus bagaimana menghadapi semua cobaan ini” ucap Suci.
“Sabar ya, Non. Bibi yakin suatu saat nanti Non akan merasakan kebahagiaan yang benar-benar tiada hentinya. Lagian juga Nyonya kan orang kaya kenapa dia tidak memesan katering saja. Kenapa harus repot-repot memasak seperti ini. Biasanya tiap ada acara pun dia selalu sigap langsung memesan langganan” jawab Bi Tin dengan heran.
“Entahlah, Bi. Suci juga bingung enggak tahu lagi harus berkata apa” ucap Suci sambil minum air putih.
“Itu semua karena aku yang meminta Mamah supaya kamu saja yang memasaknya, karena aku sedang mengidam masakan kamu untuk acara spesial besok” ucap Elsa yang tiba-tiba datang entah dari mana dengan perut yang semakin buncit.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hello guys... Selamat beraktivitas dan tetaplah semangat... 💪🏻💪🏻💪🏻
Author sangat berterima kasih karena selalu mendukung Author 🥺🥺🥺
Semoga Author bisa memberikan cerita yang lebih menarik untuk kalian 🤗🤗🤗
Jaga diri kalian dan teruslah tersenyum karena senyum adalah Ibadah 😁😁😁
__ADS_1
Sampai jumpa lagi dan Salam sayang dari Author semuanya... 😆😆😆
Papaaayyy~~~ 👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻