
Xan hanya bisa mengikuti mereka yang mencoba masuk ke dalam dan masih di suguhkan dengan adegan yang cukup romantis. Tak lupa juga Lisa mengambil beberapa foto dari berbagai sisi yang berbeda-beda serta mengabadikannya menggunakan video.
“Aduh... aduhh... romantisnya pasangan sejoli ini. Lihatlah hidung mereka sudah saling menempel satu sama lain. Pasti saat ini ada sesuatu lagi yang akan saling berpautan hahaha..."
"Bagaimana Tuan Arsya dan Mbak Suci, apakah kalian ingin sesegera mungkin menikah? Atau mau besok langsung ijab kabul hahah...” ucap Lisa yang membuat Dion dan Xan ikut tertawa kecil melihat tingkah Lisa yang sangat lucu.
Lisa memvideokan Arsya dan Suci dari berbagai sisi serta sedikit mendekatkan cakupan kameranya hingga terlihat jelas wajah mereka. Suci dan Arsya yang mendengar itu pu langsung terbangun, yang tanpa sengaja membuat Suci terpeleset hingga kembali Arsya refleks menangkapnya yang hampir terjatuh.
“Ciiiieee... sigap bener Pangeran Es satu ini, yang langsung sigap menolong sang Bidadari tak bersayapnya agar sia tidak terluka. Uluhh... uluhhh... sosweet hihi... jadi pengen cepat-cepat nyaksiin malper mereka deh eh... salah deh, maksudnya ijab kabul mereka haha...” ledek Lisa yang masih merekan semua adegannya.
Suci dan juga Arsya lagi dan lagi di buat salah tingkah hingga wajah mereka mulai memerah bagaikan tomat yang sudah busuk saking malunya. Arsya yang menyadari jika dari tadi Lisa selalu merekamnya, langsung mencoba untuk menyerobot ponselnya Lisa, namun Lisa lebih cepat darinya.
“Eiittssss... hahaha... tidak semudah itu Tuan. Hitung-hitung ini buat kenangan buat nanti kalau kalian sudah menikah, ini jadi flashback haha...” Lisa langsung memasukkan ponselnya ke dalam tas kecilnya.
“Ekhem... selamat Tuan Arsya, kau telah mendapatkan berlian yang sangatlah mahal bahkan tidak ada duplikatnya di dunia. Jadi jagalah dia sebaik mungkin dan jangan seperti mantan sahabatku yang rela menukar berlian demi imitasi. Saya pamit, permisi...” sahut Dion yang langsung pergi sambil menarik tangan Lisa.
“Yaaaakkk... kenapa kamu pulang malah ngajak-ngajak aku woi...” pekik Lisa yang tertarik dengan sangat kesal.
“Sudahlah jangan cerewet deh, harusnya kau berterima kasih padaku. Jika aku tidak menarikmu, pasti sekarang ini kau sedang berurusan dengan Tuan Arsya karena kau sudah memvideokan mereka tanpa izin” celoteh Dion yang membuat Lisa langsung tertawa.
“Hehe... i-iya juga ya eh... ta-tapi gak gini juga woii...” ucap Lisa.
“Ckkk... berisik banget, mau aku sumpel mulutmu?” ucap Dion dengan tegas yang membuat Lisa langsung terdiam.
Lalu Dion melepaskan tangannya dan ia segera memencet tombol lift, ia masuk dengan kembali menarik tangan Lisa namun kali ini lebih pelan. Entah kenapa Dion malah menggandeng Lisa yang membuat Lisa tanpa sadar tersenyum kecil hingga wajahnya mulai memerah.
Tapi Dion? Dion belum menyadari jika tangan mereka saling menggenggam sepanjang mereka berjalan menuju parkiran.
“Ayo masuk, aku enggak punya banyak waktu” ucap Dion yang membukakan pintu dengan tangan satunya.
Lisa yang mencoba menetralkan rasa malunya, kini dia langsung memasang wajah yang sedikit kesal.
“Kenapa dengan wajahmu?” tanya Dion sambil mengeritkan dahinya.
“Apa kau lupa? Lihatlah ini... bagaimana aku bisa masuk ke dalam mobil jika kau terus menggandeng tanganku seperti ini hemm... jangan bilang kalau kau-...” Lisa menghentikan ucapannya dan membuat Dion terkejut lalu dia segera melepaskan tangannya dengan tampan malu.
__ADS_1
Tapi Dion kembali mengingat ucapan Lisa yang terakhir. Di situ dia terlihat sangat gelisah, panik dan juga takut. Ia takut jika Lisa tahu jika dirinya sudah mulai merasakan benih-benih cinta yang tumbuh di dalam hatinya.
“Jangan bilang kalau Kau, kau apa huh? Ingat ya, aku tidak memiliki perasaan sama sekali padamu dan aku juga tidak mencintaimu, paham!” tegas Dion yang berhasil membuat wajah Lisa berubah menjadi datar.
“Ckkk... apaan sih! Aku juga tidak bilang begitu ya, aku cuma mau bilang kalau kau kedinginan di dalam lift jadi tadi kau refleks memegang tanganku dan bukan seperti yang kau ucapkan itu! Jika kau benar tidak memiliki perasaan padaku, ya bagus dong aku malahan senang"
"Aku juga tidak mau memiliki pasangan yang sangat gengsi sepertimu!! Cihhh...” ucap Lisa yang langsung pergi begitu saja, dan ia menyetop sebuah taksi yang lewat serta menoleh ke arah belakang dengan mata memerah berkaca-kaca.
Lalu Lisa masuk ke dalam taksi dengan sedikit membanting pintunya. Dion yang melihat itu membuat hatinya terasa sangat sakit. Entahlah kenapa dia bisa berbicara seperti itu hanya karena dia takut jika Lisa mengetahui perasaannya sebelum Dion mengungkapkannya. Namun entah kenapa Dion enggan untuk untuk bergerak cepat.
Dion selalu berfikir berulang-ulang kali jika dirinya takut kalau sampai di saat dia sudah sangat yakin dan menyatakan perasaannya, Lisa malah menolaknya dan semakin menjauhinya. Dion tidak bisa melihat jika Lisa menjaga jarak darinya, Dion sudah terlanjut merasa nyaman dengan Lisa. Dion takut akan kenyataan jika cintanya bertepuk sebelah tangan.
“Ma-maafkan aku Lis... a-aku ti-tidak bermaksud berbicara seperti itu, a-aku kelepasan, maaf... semoga kamu tidak memasukkannya ke dalam hati. Aku tidak mau lihat kamu menangis, hanya karena kebo*dohanku...” gumam Dion sambil menatap kepergian taksi Lisa yang entah mengapa Dion melihat Lisa sedang menangis dari balik taksi yang kacanya terbuka.
“Li-Lisa nangis? Se-serius? Ja-jadi aku sudah benar-benar sangat keterlaluan dengannya? Astaga... argghhh... Dion!!!! Kenapa kau bod*doh sekali sih!! Kenapa kau mengatakan hal itu, bukannya kau memang mencintainya? Jadi kenapa sih susah banget untuk mengatakan jika aku mencintainya..."
"Kenapa juga harus kata-kata sekejam itu yang keluar, aargghhh... sia*laannn...” Dion merasa kesal sambil menjambak rambutnya penuh frustasi hingga dia menendang ban mobilnya begitu keras.
“Aawwhh.. sssttt.... arrrghhhh.. si*allll... kenapa sakit sekali rasanya. Tapi ini tak sebanding dengan rasa saat hatiku saat aku melihat Lisa menangis seperti itu” ucap Dion sambil mengangkat satu kakinya.
“Ckk... aku harus segera membicarakan ini pada Lisa, cepat atau lambat. Mau di tolak atau tidak, seenggaknya aku harus berusaha mengatakannya agar aku bisa tenang, ya aku harus berani. Mungkin ini udah saatnya untukku memikirkan masa depanku untuk membina rumah tangga"
...*...
...*...
Suci dan Arsya sudah berganti pakaian yang mana Suci telah di belikan baju oleh Xan atas perintah dari Arsya. Kini mereka sudah kembali segar, namun wajah mereka masih sedikit memerah akibat rasa malunya.
“Mas ayo kita makan, aku lapar tahu...” rengek Suci dengan segala kelucuannya.
“Ckk... sabar kenapa sih, lagian kayak kamu enggak pernah makan aja” ucap Arsya dengan kesal karena dari tadi Suci selalu merengek ingin makan, makan dan makan.
“Sudah Tuan, tidak usah mengerjakan pekerjaan itu. Biar nanti saya saja yang mengeceknya, jika ada yang harus Tuan tanda tangani maka lakukan besok saja. Kasihan Nona Suci dari tadi wajahnya sudah cemberut, mungkin dia memang sudah sangat lapar” ucap Xan yang melihat Suci duduk di sofa dengan keadaan kesal, sedangkan Arsya duduk di kursi kebesarannya dengan mengecek hasil meeting tadi.
“Ya ya ya... ayo kita makan sekarang” sahut Arsya sambil berdiri dari kursinya dan membuat Suci menoleh dengan wajah senyumnya.
__ADS_1
“Yeeeeeyyyy... ayo kita makan, calon suamiku...” ucap Suci yang mampu membuat wajah Arsya kembali merah, hingga kali ini kupingnya ikut memerah.
Suci berjalan terlebih dahulu dengan wajah senangnya, hingga ia melupakan jika Arsya masih terdiam di tempatnya.
“Ekhem... sudah Tuan, cepat susul dia. Jangan sampai dia cemberut lagi, atau bisa-bisa dia malah memeluk pria lain di luar tanpa sepengetahuanmu” ucap Xan yang membuat mata Arsya membelalak terkejut.
Pada akhirnya Arsya berjalan pergi dengan tergesa-gesa dan berdiri di samping Suci. Suci menoleh menatap Arsya sambil berjalan dengan tatapan yang begitu aneh.
“Kenapa lari-lari seperti itu? Nanti jatuh kan kasihan...” ucap Suci yang membuat Arsya tersenyum ke arahnya.
“Terima kasih atas perhatiannya...” ucap Arsya yang seketika mendapat lirikan bingung dari Suci.
“Perhatian? Memang siapa yang kasih perhatian?” tanya Suci.
“Ya kamulah, siapa lagi. Orang yang ada di sampingku cuma kamu” jawab Arsya dengan datar.
“Ya ampun Mas, kamu itu salah paham. Maksudku kasihan ubinnya nanti kalau sampai retak karena ulahmu. Apa lagi badanmu sangat besar, tinggi dan kekar, pasti jika Mas terjatuh akan membuat ubinnya gompal” celetuk Suci yang membuat Arsya melongok.
“Ja-jadi kalau aku jatuh kamu lebih mementingkan ubinnya dari pada diriku?” tanya Arsya dengan wajah terkejut.
“Ya iya dong... kan secara ubin di kantor ini pasti harganya sangat mahal, jadi kalau rusak kan sayang. Tapi kalau Mas yang terluka ya tinggal di obatin, kasih plester selesai... lah kalau ubinnya yang sakit bagaimana cara nyembuhinnya? Pasti akan merombak semuanya kan...” ucap Suci dengan polosnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hel... to the Lo... Hello guys... 😄😄😄
Kembali lagi dengan Author kalian yang banyak kekurangan ini... ☺️☺️😊
Kalian tahu gak Author baru bikin Group Chat loh dan masih kosong 🥳🥳🥳
Jika kalian ingin join ke Group langsung saja ke beranda Author ya... 😎😎😎
Nama Group Chatnya itu adalah "Kang Salto Barbar" kayak Author 🤣🤣🤣
Silahkan join aja guys, gak akan di apa-apain kok tenang aja... 🤭🤭🤭
__ADS_1
Jaga diri kalian dan sampai jumpa lagi di bab selanjutnya yaaa... 🤗🤗🤗
Papaaayyy~~~ 👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻