Keikhlasan Hati Seorang Istri

Keikhlasan Hati Seorang Istri
Pernikahan Suci dan Arsya


__ADS_3

Di parkiran mobil, Arsya yang sudah merasa kesal langsung mengoceh pada mobilnya sendiri.


“Arrggghhh...” teriak Arsya dengan kesal sambil menendang ban depan mobil dan membuatnya mengeluh kesakitan.


“Awsshh... awshh... arrghh... sia*lannn... kenapa sakit banget sih...” pekik Arsya sambil terpincang-pincang, dan tanpa ia sadari jika Suci sudah berada tepat di belakangnya sambil tertawa kecil serta menutupi mulutnya.


“Makanya kalau cemburu bilang, jangan tiba-tiba marah-marah tidak jelas begitu, bagaimana? Sakit kakinya hem... aduh... kasihan haha...” ucap Suci yang malah meledek Arsya hingga membuat Arsya mengerang menatap tajam ke arahnya.


Lalu hanya dalam hitungan detik, Arsya berhasil menangkap serta memeluk Suci dan menyandarkannya di mobil hingga Arsya menggelitiki tubuh Suci dengan sangat kesal.


“Bhuahaha... aduh Mas... gelih... haha... ampun haha...” ucap Suci sambil terus tertawa akibat ulah Arsya.


“Haha... rasain, teruslah tertawa sampai ngompol, baru aku akan melepaskanmu hahaha...” ujar Arsya yang ikut tertawa bersama Suci.


Sampai ketika hanya bertahan sebentar, kini tubuh Suci sudah mulai lemas dan ia hampir terjatuh akibat tertawa cukup lama hingga Arsya menggendong Suci untuk masuk ke dalam mobil.


“Ma-maafkan aku Suci, a-aku sudah keterlaluan padamu yaaa...” ucap Arsya dengan penuh kekhawatiran saat sudah mendudukkan Suci di kursi depan tepat di kursi sampingnya.


Kemudian Arsya memakaikan sabuk pengaman sambil mengelus wajah Suci yang sedikit pucat.


“Tidak apa-apa Mas, terima kasih sudah membuatku selalu tersenyum...” ucap Suci sambil tersenyum manis menatap Arsya.


“Ya sudah kita ke rumah sakit aja ya biar kamu di periksa, soalnya wajahmu itu sedikit pucat dan mungkin karena aku sudah keterlaluan membuatmu ketawa lepas seperti tadi” jawab Arsya.


“Tidak usah Mas, kita pulang saja ya... aku sudah enakkan kok, mungkin aku ini cuma butuh tidur saja sebentar di rumah hem...” ucap Suci.


“Baiklah kalau begitu kamu tidur saja. Nanti aku banguni jika sudah sampai rumah” ucap Arsya dengan tersenyum yang diangguki kecil oleh Suci.


Kemudian perlahan Suci memejamkan kedua matanya dan ia tertidur di mobil. Arsya lalu memundurkan kursi Suci agar ia bisa tertidur dengan nyaman, terus Arsya juga menutup pintu mobil dengan perlahan dan ia segera pergi ke kursinya serta menyalakan mobilnya lalu mereka pergi meninggalkan restoran itu dengan kecepatan pelan.

__ADS_1


Arsya yang merasa bersalah pun tidak mau mengganggu Suci dari tidurnya itu. Bahkan persekian menit, Arsya selalu memantau Suci untuk mengecek jika ia baik-baik saja dan sesekali tangan Arsya terarah untuk mengusap kepala Suci.


“Entah sejak kapan aku bisa merasakan cinta kembali, tapi yang jelas saat ini aku sudah benar-benar yakin kalau aku memang mencintaimu Suci. Semoga aja seiring berjalannya waktu, Suci juga bisa membalas perasaanku ini supaya tidak membuatku merasakannya sendirian...” gumam Arsya sambil sesekali menoleh ke arah Suci yang sudah tertidur.


Kini waktunya Arsya fokus menyetir dan membawa mereka pulang, supaya Suci bisa segera tertidur dengan nyamannya di ranjang empuk yang sangat luas di kamarnya yang tidak seperti di dalam mobil karena pasti akan membuat tubuh Suci sedikit pegal


...*...


...*...


Satu bulan telah berlalu...


Hari ini adalah hari yang sangat bahagia untuk semua orang, karena tepat di hari ini Arsya dan juga Suci melangsungkan ijab kabul mereka dengan nuansa yang sangat mewah, megah, elegan, dan juga privasi.


Kenapa dilakukan privasi? Kenapa tidak secara umum? Jawabannya simpel saja, karena Arsya hanya memperbolehkan para tamu undangannya yang memiliki barkot undangan yang telah ia berikan untuk bisa masuk ke dalam istana yang begitu indah.


Di sana benar-benar di jaga sangat ketat oleh anak buat Arsya, supaya tidak ada satu orang pun yang akan berani untuk membuat kegaduhan di acaranya yang sangat spesial itu. Terutama bodyguard itu menjaga ketat Suci dari mara bahaya yang entah datang dari mana, yang jelas ia telah mewanti-wanti semuanya.


Apa lagi Arsya adalah pengusaha intan berlian yang sangatlah terkenal, jadi dia sangat mengetahui bagaimana caranya merawat berlian agar terus bisa bersinar serta terlihat sangat indah dan tak lupa juga harganya akan semakin melonjak tinggi.


“Nj*irr... mewah banget pernikahan Suci dan Arsya, ini sih kalah jauh banget dari pernikahanku sama Dimas. Apa benar yang dibilang Dimas kemarin, jika Arsya calon suami Suci ini adalah pengusaha berlian yang sangat kaya raya itu? Jika benar, kenapa Suci itu selalu beruntung dariku sih..."


"Padahal dulu aku pikir bahwa Dimas itu orang yang paling kaya, ternyata masih ada yang di atas Dimas? Astaga... jadi aku salah pilih gitu maksudnya? Ckkk... dahlah yang penting sekarang aku bisa beli apapun yang aku inginkan. Palingan juga nanti Suci pasti akan di sandingkan dengan wanita-wanita simpanan suami barunya itu haha..."


"Lagian mana ada coba pria kaya tidak memiliki simpanan itu pasti mustahil, Dimas saja yang kekayaannya di bawah Arsya itu aja bisa selingkuh, apa lagi dia yang begitu kayanya. Siap-siap saja ya Suci... kau pasti akan merasakan yang lebih hancur dari ini, dan pasti kau akan kembali bertekuk lutut di depan Dimas dengan merengek-rengek untuk minta kembali padanya"


"Maka di saat itu juga aku akan tertawa sepuasnya melihat nasib hidupmu yang sangat malang sekali haha...” gumam Elsa di dalam hati kecilnya sepanjang ia melangkahkan kaki sambil merangkul tangan Dimas yang sekarang ini hatinya hancur karena harus menyaksikan orang yang pernah hadir dalam kehidupannya, kini telah menjadi milik orang lain yang mana itu adalah rekan bisnisnya sendiri.


“Apa ini yang dinamakan karma ya... Aku menikahi sahabat mantan istriku, dan mantan istriku menikahi rekan kerjaku sendiri...” gumam Dimas di dalam hati kecilnya saat melihat Arsya telah duduk di kursi tepat di depan bapak penghulu dan beberapa saksi.

__ADS_1


Lalu Dimas dan Elsa duduk di kursi yang tidak jauh dari Arsya hingga Arsya bisa melihatnya serta dia tersenyum penuh kemenangan yang membuat Dimas pun tersenyum canggung ke arahnya Arsya. Sedangkan Mamah Mita, ia tidak ikut dan tidak mau menghadiri acara yang tidak penting baginya itu. Ia malah sibuk merawat cucunya itu, bagaikan seorang Baby sitter.


Di dalam ruangan pengantin ini, terdapat seorang wanita yang sangatlah cantik bagaikan boneka Barbie hidup dengan begitu anggun dan juga manis. Saat ini wanita dengan status jandanya itu, kini akan berganti kembali menjadi istri dari seorang pangeran yang sangat tampan rupawan.


Putri cantik yang bernama Suci Permata Sari ini telah kembali dipertemukan oleh seorang pangeran berkuda putih yang sama sekali tidak pernah dia bayangkan jika dirinya akan kembali menikah untuk kedua kalinya. Meskipun pada awalnya karena pangeran yang bernama Arsyaka Atthallah Valleanno itu menawarkan diri untuk menikahi dirinya itu karena ingin membantu membalaskan dendamnya.


Kini malah Arsya sendiri yang terjebak dengan rasa cintanya, namun Suci yang merasakan kalau hatinya tidak karuan membuat ia enggan untuk meneruskan perasaannya saat ini kepada Arsya. Dia hanya ingin fokus pada tujuannya yang pertama, yaitu memberikan pelajaran berharga kepada mereka semua yang telah berhasil membuatnya hancur.


“MasyaAllah Suci sayang... kamu cantik banget deh ya ampun... Bunda sampai pangling loh lihatnya. Bunda kirain Arsya akan menikahi wanita lain, tapi nyatanya dia akan menikahi seorang bidadari tak bersayap sepertimu ini hehehe...” canda Bunda Reni yang baru saja masuk untuk mengecek persiapan Suci.


Suci yang mendengar perkataan Bunda Reni itu pun membuatnya sangat tersipu malu, hingga pipinya memerah bagaikan blush on yang terlalu banyak digunakan.


“Hei kalian... lihatlah pipi menantuku ini, kenapa bisa memerah seperti itu? Apa kalian menaruh blush on terlalu banyak? Ataukah pipinya memerah karena malu sebentar lagi dia akan bertemu dengan seorang pangeran haha...” ledek Bunda Reni yang semakin membuat Suci salah tingkah hingga wajahnya sudah tidak bisa lagi di deskripsikan betapa lucunya.


Semua perias yang ada di sana pun ikut tertawa bersamaan dengan Bunda Reni karena muka Suci yang menggemaskan. Suci memonyongkan bibirnya itu dengan kesal, namun pipinya masih saja merah merona akibat rasa malunya yang sudah sampai di ubun-ubun.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hel... to the Lo... Hello guys... 😄😄😄


Kembali lagi dengan Author kalian yang banyak kekurangan ini... ☺️☺️😊


Kalian tahu gak Author baru bikin Group Chat loh dan masih sepi nih 😁😁😁


Jika kalian ingin join ke Group saja ke beranda Author ya... 😎😎😎


Nama Group Chatnya itu adalah "Kang Salto Barbar" kayak Author 🤣🤣🤣


Silahkan join aja guys, gak akan di apa-apain kok tenang aja... 🤭🤭🤭

__ADS_1


Jaga diri kalian dan sampai jumpa lagi di bab selanjutnya yaaa... 🤗🤗🤗


Papaaayyy~~~ 👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻


__ADS_2