
“Begini nih, jika sudah berurusan dengan seorang wanita. Apa pun yang di lakukan semua serba salah, padahal niatku baik. Biar dia enggak terus-terusan berjemur di bawah matahari, tapi ini malah marah-marah enggak jelas. Dasar Lioness” gumam Dion sambil berjalan mengikuti Lisa ke dalam gedung.
...*...
Hari sudah semakin malam, dan acara pun sudah selesai dari jam 9 malam. Kini saatnya mereka kembali beristirahat di kamar mereka masing-masing.
Di kamar Elsa & Dimas
Mereka berdua sudah selesai membersihkan tubuh mereka yang begitu lengket, namun entah mengapa saat Dimas ingin rebahan di atas ranjang Elsa langsung melarangnya.
“Mas jangan tidur di sini, lebih baik Mas tidur bersama Mbak Suci saja untuk saat ini. Kasihan dia, pasti dari tadi dia sudah sangat sakit melihat pernikahan kita. Ayolah, Mas cobalah hibur Mbak Suci ya. Aku enggak apa-apa kok"
"Apa lagi kan kita sudah berkeluarga sekarang, jadi aku harus membagi hakku padanya. Begitu juga dengan Mas Dimas yang harus adil pada kami berdua” ucap Elsa sambil tersenyum duduk di samping ranjang.
Dimas menatap Elsa serta melihat ketulusan dari hatinya yang membuat ia sangat bangga padanya, karena ia bisa memiliki 2 istri sekaligus yang hebat dan juga baik.
“Terima kasih, sayang. Kamu benar-benar istri yang baik, aku sangat beruntung bisa memiliki kalian berdua” ucap Dimas sambil memeluk Elsa.
Dimas mencium pundak Elsa yang sedikit terekspor, sedangkan Elsa malah tersenyum penuh arti. Entahlah apa yang ada di pikiran Elsa saat ini, yang jelas sepertinya dia sedang mencoba menarik ulur Dimas agar selalu berpihak padanya.
“Ya sudah, aku ke kamar Suci dulu ya. Kau baik-baik di sini, kalau ada apa-apa segera hubungi aku” ucap Dimas sambil mengusap perut Elsa dan mencium keningnya.
Kemudian Dimas pergi meninggalkan Elsa. Dengan perlahan Dimas melangkahkan kakinya menuju kamar Suci dan dia langsung membuka pintu kamarnya.
Ceklek !...
Dimas masuk dengan langkah kecil, serta ia melihat Suci baru saja selesai mandi.
“Ada apa, kenapa kamu ke sini? Bukannya ini malam pertama kalian, jadi kenapa malah ke sini. Apa kamu salah masuk kamar, Mas?” sindir Suci sambil duduk merias dirinya di depan cermin.
Dimas tersenyum mendekati Suci serta memeluk lehernya Suci dari belakang.
“Maaf sayang, seharian ini aku sudah membuatmu merasakan sakit hati. Jadi untuk malam ini aku akan menghibur” ucap Dimas sambil mencium pucuk kepala Suci dengan rambut yang masih basah.
“Tidak perlu Mas, aku baik-baik saja. Lebih baik kamu kembali ke kamar Elsa, kasihan dia pasti merasa sangat sedih. Di malam pertamanya malah suaminya memilih bersama istri pertamanya” sahut Suci.
“Tenang saja sayang, ini juga atas permintaan Elsa kok. Tadinya aku berpikir seperti itu, namun Elsa malah menyuruhku untuk menemanimu di sini. Baik banget ya, Elsa. Aku jadi tambah beruntung deh bisa memiliki 2 istri yang saling pengertian seperti kalian” jawab Dimas dengan wajah bahagianya.
__ADS_1
Tapi tidak dengan Suci, ia terdiam mencerna setiap ucapan yang keluar dari mulut Dimas.
“Jadi jika Elsa tidak berbicara seperti itu, maka kamu tidak akan mengecek keadaanku dengan inisiatifmu sendiri Mas? Padahal kamu tahu kan hari ini benar-benar hari yang tidak pernah aku lupakan, betapa sakitnya hatiku saat melihat suamiku menikahi sahabatku sendiri” tanya Suci yang membuat Dimas melepaskan pelukannya dan berdiri dengan wajah cemasnya.
“Bu-bukan begitu sayang, aku memang ingin menemuimu tapi kamu tahu kan dari tadi aku sibuk menyambut para tetangga yang lain. Di tambah lagi ini malam pertamaku dengan Elsa, jadi aku bingung harus bagaimana"
"Aku bingung apakah aku harus menemani yang sedang terluka? Ataukah aku harus membuat Elsa bersedih di malam pertamanya karena aku lebih memilih dirimu” jawab Dimas yang membuat Suci tersenyum di cermin besar, kemudian ia berdiri dan berbalik menatap Dimas.
Suci berjalan mendekati Dimas, ia membenarkan kerah baju Dimas sambil tersenyum.
“Sudahlah tidak usah di perjelas lagi Mas, karena aku juga sudah tahu jika jawabannya akan seperti ini. Ternyata melakukan tindakan itu tidak semudah saat kita berbicara begitu lantang ‘aku janji, aku akan bersikap adil pada kalian’ namun pada kenyataannya ‘aku bingung harus bagaimana lagi’” sindir Suci yang seolah-olah memberikan tamparan keras pada pipi Dimas hingga ia tidak bisa berkata apa pun.
Suci melepaskan kerah baju Dimas secara perlahan, lalu ia berjalan menuju ranjangnya. Meskipun berat, Suci harus bisa bersikap tegas pada Dimas jika ia tidak mau selamanya ditindas oleh yang namanya cinta.
“Sayang, ma-maafkan aku. Jika aku tidak bisa memberikan keadilan untuk kalian, tapi aku janji kok aku akan bersikap seadil mungkin tanpa harus menyakiti siapa pun di antara kalian” sahut Dimas sambil duduk di ranjang sebalah Suci.
“Sudah cukup, Mas. Kamu selalu berkata janji, janji, dan janji tapi mana buktinya? Belum ada satu hari kalian menikah, kamu sudah lupa dengan aku. Lalu satu lagi, jika kamu tidak mau menyakiti siapa pun di antara kami berdua maka seharusnya kamu lakukan itu dari awal Mas. Kamu bisa mencari wanita lain untuk menjadi maduku, bukan malah memilih sahabatku”
“Asal kamu tahu ya, Mas. Rasa sakitnya itu tidak akan sesakit ini jika kamu menikahi wanita lain. Tapi nyatanya kamu malah memilih untuk menyakitiku berkali-kali lipat, dan yang parahnya lagi kalian sudah melakukan dosa besar sehingga membuat satu nyawa tak berdosa hadir di dalam rahimnya”
Suci berbicara dengan sangat tegas hingga tak terasa air matanya menetes membasahi pipinya. Sedangkan Dimas ia hanya bisa menatap Suci yang penuh dengan amarah.
“Sudahlah, Mas. Aku mau sendiri dulu, lebih baik kamu temani istri barumu itu. Kasihan dia, pasti dia sangat membutuhkan perhatian yang lebih untuk bayi yang ada di dalam kandungannya” ucap Suci sambil berdiri dan mengelap air matanya dengan kasar.
Dimas pun ikut berdiri menatap Suci dari samping dengan tatapan menyedihkan.
“Ta-tapi Suc-...” ucap Dimas terhenti saat Suci langsung mendorongnya dengan perlahan untuk membawa Dimas keluar dari kamarnya.
Brakkk !...
Ceklek !...
Suci menutup kamarnya, dan langsung menguncinya dari dalam. Kini runtuhlah air mata yang begitu deras membasahi wajah Suci bersamaan dengan jatuhnya tubuh Suci ke lantai sambil bersandar di belakang pintu.
“Hikss... Ma-maafkan aku, Mas hiks... Aku tidak bermaksud untuk mengusirmu, ta-tapi aku belum siap untuk kembali menerimamu di kamar ini hiks...”
“Biarlah aku te-tenang dulu Mas, aku masih butuh waktu untuk menerima semua kenyataan pahit ini hikss... Se-sekali lagi maafkan aku Mas karena aku sudah tidak sopan kepadamu hiks..."
__ADS_1
Suci menangis sejadinya membuat dadanya terasa semakin sesak dan juga sakit, lalu ia memegangi dadanya serta mengucapkan kalimat istigfar untuk sekian kalinya. Setelah selesai, Suci mencoba untuk bangkit serta berjalan dengan perlahan menuju ranjangnya sambil menghapus air matanya.
Sedangkan Dimas, ia sudah kembali ke kamar Elsa dengan wajah lesunya. Bahkan dari tadi Dimas hanya bisa mengucapkan kalimat maaf dan maaf tanpa berpikir jika di sini yang menjadi korban hanyalah 1 orang bukan 2 orang.
...*...
Di dalam sebuah mobil
Saat ini Dion sedang mengantarkan Lioness-nya untuk kembali ke kontrakannya. Selama di perjalanan terasa sangat sunyi, apa lagi hari semakin gelap dan juga perjalanan dari gedung pernikahan menuju kontrakan Lisa memakan waktu hingga 1 jam. Jadi apakah mereka tidak jenuh jika berdiam diri seperti tidak ada kehidupan saja di dalam mobil Dion.
“Ekhem... ekhem...” Lisa berdehem untuk memecah kesunyian, sehingga berhasil sedikit menarik perhatian Dion.
Dion melirik Lisa sekilas dan kembali fokus pada setir mobilnya dan bertanya, “Kamu kenapa? Haus?”
“Hemmm...” sahut Lisa dengan kesal.
“Ya sudah, sebentar. Aku akan carikan warung atau toko yang masih buka untuk membelikan air minum untukmu” jawab Dion tanpa menoleh.
“Ckkk! Nih orang enggak peka banget sih, masa orang berdehem di bilang haus. Udah tahu orang jenuh pakai di bilang haus lagi, dasar gak peka...” gumam Lisa di dalam hatinya sambil melirik Dion dengan tatapan kesal.
Saking Lisa sudah mulai jenuh, ia langsung menyalakan box musik di dalam mobil Dion dengan suara yang agak kencang.
“Aku bete sama kamu, aku sebel sama kamu, aku keki sama kamu, aku bete, bete, bete akhh... BETE...” Lisa menyanyi dengan sangat heboh sambil berjoget ria membuat Dion yang melihatnya sedikit ketakutan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hello guys... Author harap kalian baik-baik sama sepertiku... 😁😁😁
Mohon dukung Author yang masih banyak kekurangan ini 😗😗😗
Jangan lupa jaga diri kalian dan sampai jumpa lagi... 🤗🤗🤗
Terima kasih juga untuk yang sudah mendukung Author 🙏🏻🙏🏻🙏🏻
Dukungan kalian sangat berarti besar untuk Author selama ini 🥰🥰🥰
Sayang kalian semuanya... ❤️❤️❤️
__ADS_1
Papaaayyy~~~ 👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻