
Elsa yang melihat Dimas begitu kebingungan dan cemas itu, membuatnya semakin penasaran dan juga mencurigai Dimas mengenai apa yang terjadi antara Diams dan Suci selama Elsa ada di rumah sakit.
“Mas Dimas kok diam aja sih...” ucap Elsa langsung membuat Dimas tersadar.
Di saat Dimas ingin menjelaskan semuanya tentang Suci yang pergi karena Dimas menceraikannya waktu di rumah sakit itu pada Elsa, tiba-tiba Vina datang dari arah luar.
“Bang, ini ada surat buat Abang. Tapi Vina enggak tahu dari siapa, bilangnya sih dari pengadilan gitu...” ucap Vina sambil memberikan surat tersebut pada Dimas dan ia langsung mengambilnya dari tangan Vina.
“Surat apa itu, Dim? Apa kamu ada masalah sampai membuat seseorang menuntutmu?” tanya Mamah Mita dengan cemas.
“Entahlah, Dimas juga belum tahu Mah...” ucap Dimas sambil membuka surat tersebut secara perlahan.
Saat surat tersebut terbuka dan membuat semuanya merasa penasaran saat Dimas mencoba untuk membaca isi surat tersebut.
“Su-surat ce-cerai...” gumam Dimas dengan wajah yang sangat terkejut.
Bahkan matanya Dimas pun mulai berkaca-kaca. Ya meskipun dia tahu memang mereka sudah bercerai secara agama, tapi Dimas memiliki niatan untuk kembali rujuk dengan Suci namun sekarang? Ia malah mendapat surat gugatan dari Suci.
Hatinya begitu hancur hingga ia meremas kuat surat tersebut sambil menjambak rambutnya sendiri. Terlihat betapa menyesalnya Dimas, karena ia tidak bisa mengesampingkan egonya waktu itu. Coba saja jika Dimas bisa sedikit bersabar, pasti kejadian ini tidak akan pernah terjadi.
“Mas, ada apa? Kenapa wajahmu seperti itu? Memangnya itu surat apa, Mas?” tanya Elsa yang benar-benar kepo, sehingga ia menarik kertas tersebut dari tangan Dimas dan segera membacanya.
“Surat cerai? Jadi Suci dan Dimas sudah bercerai? Tapi kapan kok aku tidak tahu. Lalu ini adalah surat panggilan untuk mereka meditasi, berarti ada kejadian seru yang aku lewatkan selama melahirkan anak yang tidak aku harapkan itu” gumam Elsa, ia segera melirik Dimas dan meminta jawaban darinya.
Dimas yang sudah tidak bisa mengelak lagi, langsung menceritakan semua kejadian tersebut secara detail sehingga membuat Elsa menangis.
“Hiks... kenapa kamu jahat sama Mbak Suci, Mas... kenapa...” pekik Elsa dengan air mata yang sudah membasahi pipinya.
“Ma-maafkan aku, Saa... aku terbawa emosi pada saat itu karena Suci menuduhmu serta memfitnahmu jika Diva bukanlah anakku. Di situ aku sangat sakit Sa hiks... aku tidak tahu harus melakukan apa lagi, pikiranku benar-benar tidak fokus"
"Di satu sisi aku memikirkan kondisi kalian, namun di sisi lain aku juga tidak tahu kenapa Suci bisa mengatakan semua hal buruk itu tentangmu...” jelas Dimas sambil mengeluarkan air matanya dan Mamah Mita yang melihat itu langsung berdiri.
“Mamah ke kamar Diva dulu ya, kasihan jika dia terbangun karena suara kalian” ucap Mamah Mita sambil pergi begitu saja, sedangkan Vina juga pergi ke kamarnya untuk beristirahat.
__ADS_1
Di sini Elsa mencoba menjadi pembela untuk Suci bagaikan super hero kesiangan, namun anehnya Dimas selalu saja percaya dengan apa yang Elsa katakan tanpa sedikit pun menaruh curiga. Padahal sudah jelas jika Dimas lebih lama mengenal Suci dari pada Elsa, namun kenapa seolah-olah Dimas lebih mempercayai Elsa ketimbang Suci?
Entahlah... mungkin karena Dimas terlalu bo*doh dalam memilih pasangan, ia malah terjebak masuk ke dalam perangkap singa yang kelaparan. Sampai ketika akhirnya Elsa telah selesai membela Suci dan kini ia berusaha menjadi penguat untuk Dimas agar ia bisa mengikhlaskan kepergian Suci dari hidupnya.
Dimas yang benar-benar lelah, kini bersandar di bahu Elsa dalam keadaan mata yang sudah berair. Sedangkan Elsa, dia tersenyum sangat lebar penuh kemenangan. Inilah saat-saat yang sudah Elsa tunggu, kehancuran Suci sudah di mulai dan kebahagiaannya sudah di depan mata.
...*...
...*...
Pagi hari, di Istana mewah dan megah.
Semua orang sedang bersiap-siap untuk melakukan liburan keluarga ke Bali karena Ayah Al mendapatkan proyek besar di sana, sehingga Bunda Reni mengajak Suci serta Arsya untuk ikut bersamanya. Hitung-hitung mereka melakukan liburan sekeluarga untuk menghilangkan beban yang saat ini Suci pikul.
Bagaimanapun itu tidak mudah menjadi Suci yang tetap berusaha tersenyum dan juga tegas menghadapi berbagai cobaan yang telah menguras habis mentalnya. Setelah semuanya siap, kini saatnya mereka berangkat ke Bali dengan hari yang gembira.
Di dalam pesawat mereka sedikit bercanda untuk membuat Suci tetap tersenyum, karena entah mengapa setelah ia memasukkan berkas tersebut ke pengadilan Suci selalu saja melamun dan terkadang tiba-tiba saja ia menangis. Jadi di sini Bunda Reni ingin membuat Suci kembali cerita.
Mungkin Suci sangat perlu liburan agar membuat ia bisa melupakan masalahnya sejenak dan bisa merasakan bagaimana menghirup udara bebas. Sesampainya di Bali, mereka pergi untuk makan malam terlebih dahulu sebelum ke Apartemen dan setelah semuanya selesai mereka ke Apartemen untuk beristirahat.
Suci berjalan keluar dari Apartemennya menuju Pantai di dalam kegelapan, bahkan tidak ada satu pun yang melihat Suci berjalan layaknya orang yang sudah tidak sadarkan diri. Tepat pada pukul 8 malam Bunda Reni dan Ayah Al tidak ada di hotel, mereka pergi ke sebuah acara penting klien Ayah Al jadi hanya tertinggal Arsya dan juga Suci.
Bahkan Arsya pun telah di sibukkan mengerjakan pekerjaan di kamarnya, dan lupa untuk tetap mengawasi Suci sehingga Suci bisa terlepas dari pengawasan dengan sangat mudah. Arsya lupa jika Suci memiliki trauma yang cukup berat, sehingga sewaktu-waktu trauma itu bisa menghantui Suci dan membuat ia bisa melakukan apa pun yang membahayakan dirinya.
Bahkan Suci pernah untuk melukai tangannya, yang untung saja dengan sigap Arsya menolongnya. Tapi kali ini? Apakah Arsya mampu menolong Suci, sedangkan dia saja tidak tahu jika Suci tidak ada di kamarnya dan sudah berjalan keluar Apartemen begitu saja tanpa arah dan tujuan.
Suci berjalan ke arah Pantai yang airnya begitu tenang, seolah-olah seperti sedang menyambut kedatangan Suci. Sedangkan Suci yang sudah tidak sadar atas apa yang ia lakukan terus saja berjalan melewati pesisir Pantai. Langkah demi langkah Suci pijakkan ke dalam air pantai dengan pandangan kosong, kali ini Suci seperti tidak sudah kehilangan harapan.
Hanya karena cinta, Suci menjadi terlihat seperti orang depresi berat tanpa mengingat kembali jika dirinya masih memiliki Allah yang selalu bersamanya dan juga orang-orang terdekatnya yang begitu mengharapkan jika Suci bisa kembali sembuh dari mentalnya.
Kini air sudah mencapai batas lutut kakinya, namun ia belum juga sadar jika nyawanya lagi dalam bahaya. Sedangkan Arsya yang baru saja selesai mengerjakan pekerjaan, ia merasa sedikit suntuk hingga ia keluar dari kamarnya dan melihat kamar Suci tertutup berarti itu tandanya Suci baik-baik saja dan sedang beristirahat.
“Huuuhh... sepertinya aku butuh udara segar” gumam Arsya yang berjalan keluar Apartemen menuju Pantai.
__ADS_1
Apartemen yang mereka tinggali saat ini berada di belakang Pantai, jadi Arsya dengan mudahnya bisa sampai ke sana hanya memerlukan waktu beberapa menit saja.
“Wahh... sumpah ini sih nikmat banget, baru kali ini aku merasakan angin yang begitu menyejukkan. Berbeda dengan di Jakarta yang hanya terdapat polusi dimana-mana” gumam Arsya sambil berjalan dengan sangat cool di pesisir Pantai sambil tersenyum menikmati desiran ombak kecil yang menyapu kakinya.
Sampai seketika mata Arsya melihat jika ada seorang perempuan berhijab yang berdiri di tengah Pantai dengan keadaan air yang sudah mencapai batas leher.
“I-itu... bu-bukannya Suci?” ucap Arsya spontan karena ia dapat mengenali Suci dengan mudahnya tanpa harus melihat wajahnya.
“Succciiiiii...” teriak Arsya dengan sekuat tenaga sambil berlari masuk ke pantai ke arah Suci.
Namun Suci tidak menggubris itu semua hingga akhirnya tidak ada cara lain lagi. Arsya harus berenang secepat mungkin agar bisa menolong Suci, tapi sayangnya Arsya sedikit terlambat dan Suci sudah tidak terlihat lagi. Kini membuat Arsya semakin cemas dan terus melawan air Pantai yang sangat dingin.
Hingga 5 menit lamanya Arsya mencari keberadaan Suci, sampai seketika ia berhasil menemukan Suci. Lalu Arsya memeluk Suci serta menariknya untuk segera ke pinggir Pantai. Setelah air sudah sebatas perut, Arsya menggendong Suci sekuat tega dengan wajah paniknya. Kemudian Arsya membaringkan Suci tepat di pinggir Pantai serta memompa dada Suci yang sepertinya sudah sangat banyak menelan air Pantai.
“Tidak ada cara lain lagi, maafkan aku Suci... hempp...” Arsya langsung membuka mulut Suci dan memberikan nafas buatan agar kembali memompa jantung Suci yang sempat terhenti.
Berkali-kali Arsya mencobanya, namun hasilnya nihil. Tak di sangka air mata mulai mengucur dari mata Arsya yang penuh dengan kepanikan.
“Hiks... please Suci... please bangun... aku mohon... ayo bangun...” ucap Arsya yang sudah menangis dan terus berusaha memberikan pertolongan pada Suci.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hello semua pembaca setia kesayanganku... 😊😊😊
Semoga kalian sehat selalu dan terus bahagia semua... 😇😇😇
Terima kasih atas semua dukungan kalian selama ini... 🙏🏻🙏🏻🙏🏻
Mohon terus dukung Author yang masih banyak kekurangan ini 🥺🥺🥺
Sayang kalian banyak banyak para pembaca setiaku ❤️❤️❤️
Jaga diri kalian dan sampai jumpa lagi semuanya... 🤗🤗🤗
__ADS_1
Papaaayyy~~~ 👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻