Keikhlasan Hati Seorang Istri

Keikhlasan Hati Seorang Istri
Suci Akan Melahirkan


__ADS_3

Hari ini terlihat dengan sangat jelas bahwa hari-hari yang mereka lewati menjadi semakin membahagiakan dan penuh dengan cahaya terang.


Suci dan Arsya semakin di buat tidak sabar untuk bertemu dengan anak mereka yang akan segera terlahir ke dunia ini. Mungkin hari tersebut akan menjadi hari terbaik bagi mereka berdua dan juga Bunda Reni serta Ayah Al.


...*


...


...*


...


Satu bulan kemudian...


Di rumah kediamannya Valleanno, semua orang sedang berkumpul di ruang tamu. Hari ini adalah tanggal merah karena Hari Buruh sehingga mereka tidak perlu pergi ke perusahaan. Saat ini kandungan Suci sudah berusia 37 minggu atau 9 bulan lebih 1 minggu.


“Aduuh... rasanya sekarang aku semakin susah bergerak dengan bebas. Perutku ini semakin besar dan berat sehingga aku kesulitan untuk duduk dan berdiri sendirian. Sepertinya anak Mommy tumbuh dengan sehat ya...” ucap Suci sambil mengelus-elus perutnya.


“Tentu saja dia tumbuh dengan sehat, karena Daddy tidak mau jika jagoan Daddy menjadi anak yang lemah. Jagoannya Daddy harus tumbuh menjadi anak yang cerdas, bijaksana, tegas dan juga gagah sama seperti Daddy hihi...” tawa Arsya sambil mengelus-elus perutnya Suci.


Seperti biasanya, setiap Arsya mengelus-elus perutnya Suci itu pun pasti anak di dalam kandungannya akan ikut menendang.


Suci yang merasakan tendangan tersebut pun sedikit meringis sambil Arsya yang senang saat merasakan keaktifan dari anak mereka dalam perutnya Suci.


Sampai seketika Suci merasakan bahwa tendangan anaknya tersebut sangatlah kuat tidak seperti biasanya.


Suci terus menggerang kesakitan yang mana membuat Arsya kini merasa bingung. Bunda Reni dan Ayah Al yang mendengar erangan Suci pun langsung mencoba untuk mencari penyebab rasa sakitnya tersebut.

__ADS_1


“Ada apa sayang? Apakah tendangannya sangat kuat atau bagaimana? Di bagian mana kamu merasa sakit?” tanya Bunda Reni sambil memegang lengan kanannya Suci dengan wajah khawatir dan cemasnya.


“Aaarghh... a-aku tidak ta-tahu, ra-rasanya sangat sa-sakit Bunda aawghh... a-aku tidak bi-bisa menahannya uuughh... se-seperti ada ya-yang merobek pe-perutku hiks... sa-sakit Mas hiks... a-anak kita Mas aarrgghhh...” erang Suci sambil memegangi perut buncitnya.


“Sa-sabar sayang, di mana ya-yang terasa sakit? A-aku akan mencoba u-untuk me-membuat jagoan ki-kita tidak lagi me-menyakitimu sayang...” ucap Arsya dengan wajah khawatir dan tegangnya sambil mengelus-elus perutnya Suci.


“Tidak bisa di biarkan, kita harus membawa Suci ke rumah sakit. Aku rasa dia mengalami kontraksi dan akan segera melahirkan. Dulu Bundamu juga seperti ini waktu dia ingin melahirkanmu. Lebih baik kita bawa Suci ke rumah sakit sekarang” tegas Ayah Al sambil berdiri.


“Su-Suci akan me-melahirkan? Ta-tapi dokter bi-bilang kalau masih ada wa-waktu sampai minggu depan. Ja-jadi kenapa tiba-tiba Su-Suci jadi mau me-melahirkan sekarang” ucap Arsya dengan segala kebingungannya.


“Lihat... sepertinya air ketubannya sudah mulai pecah! Lebih baik kita ke rumah sakit sekarang juga atau semuanya akan menjadi tidak terkendali nantinya. Arsya, bawa Suci ke mobil sekarang juga!” tegas Bunda Reni setelah melihat cairan bening mengalir dari kedua kakinya Suci.


Arsya yang merasa bingung tersebut langsung menggendong Suci yang masih kesakitan sambil memegangi perutnya. Mereka semua keluar dari rumah menuju mobilnya Arsya yang mana Ayah Al yang akan mengendarai mobil tersebut dan Arsya, Bunda serta Suci akan duduk di kursi belakang.


Ayah Al mengemudikan mobilnya menuju gerbang rumah yang mana tidak jauh dari sana ada sebuah mobil yang ingin masuk ke rumah kediaman keluarga Valleanno. Melihat mobilnya Arsya keluar dengan terburu-buru, mobil yang ingin masuk tersebut pun langsung mengikuti mobilnya Arsya.


“Kemana mereka mau pergi? Lalu kenapa juga Tuan Al mengemudikan mobilnya Arsya dengan sangat kencang. Aku juga melihat Arsya dan Suci di kursi belakang mobil, jadi sebenarnya apa yang sedang terjadi?” tanya Papah Angga di dalam hatinya sambil mengikuti mobilnya Arsya.


Tidak lama kemudian mereka semua sampai di rumah sakit kota yang mana Arsya langsung menggendong Suci keluar dari mobil.


Lalu Suci di baringkan di bangkar dan para suster serta Arsya mendorongnya menuju ruang bersalin. Diam-diam Papah Angga mengikut mereka dan merasa terkejut melihat semua situasi tersebut.


“Ke-kenapa Suci di ba-bawa ke ruang be-bersalin? Tadi a-aku juga melihat pe-perutnya Suci sangat besar. A-apakah Suci akan melahirkan? Tapi mereka ba-baru menikah kurang dari se-setengah tahun, jadi bagaimana ini mungkin?” tanya Papah Angga di dalam hatinya.


Suci sudah di bawa ke dalam ruang bersalin lalu Arsya, Bunda Reni dan Ayah Al berdiy di depan ruangan tersebut. Sedangkan Papah Angga berada di lorong yang tidak jauh dari ruang bersalin, namun mereka tidak menyadari keberadaan Papah Angga karena mereka yang khawatir dengan kondisinya Suci.


Tidak lama kemudian seorang dokter keluar dari ruang bersalin dan berjalan mendekati mereka lalu berkata, “Saat ini pasien akan segera melahirkan dan apakah suami pasien ada di sini? Pasien meminta sang suami untuk masuk dan menemaninya di dalam”

__ADS_1


“Sa-saya adalah suaminya, a-apakah saya boleh masuk dan me-menemani istri saya?” ucap Arsya sambil berjalan dengan kaki gemetaran ke depan dokter sambil wajahnya yang mulai pucat dan keringat yang mengalir deras dari keningnya.


“Anda bisa masuk karena istri Anda terus saja memanggil nama Anda. Namun apakah Anda bersedia masuk ke dalam, maksud saya nanti Anda akan melihat banyak darah dan lainnya saat istri Anda melahirkan” ucap Dokter tersebut sambil menatap Arsya.


“An-Anda pikir sa-saya ini siapa, hahh? Saya ingin masuk dan menemani istri saya di dalam, sekarang biarkan saya masuk ke dalam” tegas Arsya yang mana wajahnya semakin pucat dan keringat dingin.


Arsya pun masuk bersama dokter lalu dia memakai pakaian khusus yang suster berikan sebelum Arsya menemui Suci.


Arsya terkejut saat melihat Suci berbaring di sana dengan wajah pucat dan keringat yang mengalir deras di wajahnya. Bahkan Suci pun berteriak-teriak sambil mencengkeram kuat selimutnya.


Arsya yang melihat itu pun langsung menelan ludahnya dengan segala kesulitannya. Lalu Arsya berjalan mendekati Suci dan menggenggam tangan kanannya Suci yang mana membuat Suci pun menoleh ke arahnya.


Suci langsung memanggil nama Arsya sambil berteriak-teriak mengeluh kesakitan.


Arsya mencoba berbagai cara untuk membuat Suci tenang dan bisa melakukan yang terbaik, namun jeritannya Suci malah semakin parah.


Arsya yang tidak tahu harus bagaimana itu pun hanya bisa pasrah saat Suci malah balik memarahi Arsya sambil mencengkeram kuat tangannya Arsya yang mana membuatnya meringis kesakitan.


Namun Arsya hanya membiarkannya saja karena baginya jika Suci harus merasakan sakit, maka dia rela membagi rasa sakit tersebut.


Suci berteriak sambil menangis yang mana membuat Arsya menjadi lebih bingung dan khawatir. Bahkan kini keringat Arsya jauh lebih banyak dari pada keringnya Suci.


Tidak lama kemudian seorang dokter dan dua orang suster wanita datang mendekati Suci dan Arsya. Sekarang adalah saatnya Suci melahirkan karena dia sudah sampai pembukaan ke-10.


Arsya yang mendengar berita tersebut merasa senang, tapi dia juga takut karena dia tahu bahwa melahirkan itu sangat sakit bagi setiap wanita.


Teriakannya Suci pun semakin kencang dan cengkeraman tangannya juga ikut menguat yang mana membuat Araya terlonjak kaget dan langsung berteriak bersama Suci.

__ADS_1


Ini pertama kalinya Arsya merasa cengkeraman sekuat ini yang mana membuat tangan kanannya Arsya pun memerah dan Arya yang berteriak bersama Suci dengan semua rasa sakit mereka.


__ADS_2