Keikhlasan Hati Seorang Istri

Keikhlasan Hati Seorang Istri
Tidak Memiliki Rahim Sempurna


__ADS_3

Di ruang makan.


Vina sedang sibuk dengan ponselnya sambil menunggu sarapannya siap.


“Ck!! Perasaan di rumah ini ada 2 orang pembantu deh, kenapa nyiapin sarapan lama banget sih!” gumam Vina dengan raut wajah yang sangat kesal.


Tak lama terdengar suara langkah kaki yang mendekat ke arah Vina.


“Ada apa sih sayang, hem... Kenapa wajahmu terlihat kesal seperti itu?” tanya Mamah Mita dengan lembut sambil duduk di kursinya.


“Biasa Mah, tuh para pembantu kerjanya enggak becus. Sudah siang begini sarapan belum ada di meja makan, padahal aku sudah menunggu lama loh di sini sampai-sampai perutku keroncongan” jawab Vina yang memasang wajah disedih-sedihkan sambil mengelus perutnya seolah-olah dia benar-benar sangat lapar.


“Aduh, aduh... Kasihan sekali anak kesayangan Mamah ini. Memangnya Bi Tin kemana? Apa dia habis pergi berbelanja?” tanya Mamah Mita sambil mengelus kepala Vina dengan lembut.


“Enggak. Bi Tin ada di dapur baru ingin nyiapin sarapan, terus di bantu sama Biraskapar juga” saut Vina dengan cuek.


“Apa? Bi-biras... Apa tadi?” tanya Mamah Mita yang kurang mendengar ucapan Vina.


“Biraskapar, Mah...” jawab Vina sambil memainkan ponselnya.


“Bikapar? Biraskapar itu apa sayang? Kok Mamah baru dengar dan baru tahu juga” saut Mamah Mita penuh tanda tanya.


“Biasalah, Mah. Biraskapar itu berasal dari kata Bibi Rasa Kakak Ipar haha...” tawa Vina seketika pecah yang membuat Mamah Mita sedikit terkejut, namun kemudian ikut tertawa bersama.


“Haha... Astaga, Vina. Kamu ini bisa saja, lagian juga memang pantasnya sih seperti itu ya. Dari pada dia sebagai istri Abangmu kan, mana enggak bisa memberikan anak pula. Di kata nikah hanya hidup berdua saja, lalu jika tidak bisa memberikan anak mengapa pernikahan ini diteruskan ya kan. Lagian juga Abangmu sangat tampan, pasti banyaklah wanita lain yang mengantre untuknya apa lagi yang rahimnya sempurna” sindir Mamah Mita saat melihat Suci dan Bi Tin datang dari arah dapur membawa beberapa makanan.


Vina yang dapat mengerti tatapan mata sang Mamah, membuat ia mengikuti arah pandangan Mamah Mita dan terhenti tepat pada sasaran.


“Ya begitulah, Mah. Lagian juga Abang kaya enggak ada wanita lain saja, ngapain masih mau sama wanita yang TIDAK MEMILIKI RAHIM SEMPURNA. Mending dulu Abang sama temanku saja sudah cantik, baik, dan yang pasti jauh dari kata MANDUL” sindir Vina dengan menekankan kata-katanya.


Suci hanya terdiam mencoba untuk menahan air mata yang seakan-akan memberontak untuk segera turun, namun ia mencoba untuk menerima itu dengan sabar dan juga ikhlas.


Suci sadar memang pada kenyataannya seperti itu, dia adalah wanita yang tidak beruntung karena memiliki rahim yang tidak sehat, tidak seperti wanita lainnya. Bahkan mereka bisa memberikan anak kepada sang suami dengan jumlah yang begitu banyak, sementara Suci? Dia tidak bisa satu pun untuk memberikan anak kepada Dimas.


Bi Tin yang mendengar kata-kata itu terus terucap setiap harinya membuat ia tidak heran, betapa jahatnya mulut-mulut yang tidak bersekolah itu. Padahal mereka termasuk keluarga yang sangat di pandang baik oleh semua orang, namun bagaimana jika semua orang tahu sifat yang seperti ini ada di lingkungan keluarga Dimas mau pun Papah Angga.


Bi Tin langsung menata makanan di meja. Sedangkan Suci menuangkan air putih ke dalam gelas sambil memutari meja makan. Namun saat Suci sudah selesai menuangkan air ke dalam gelas, dia berjalan menuju kursinya.

__ADS_1


Tiba-tiba saja Mamah Mita dengan sengajanya menyandung kaki Suci hingga membuatnya terjatuh dengan keadaan tangan yang masih memegang teko kaca yang berisikan air putih.


Prangggg !...


Pyaaaarr !...


Teko kaca pun terlepas dari genggaman tangan Suci, sehingga terjatuh dan pecahan beling berserakan dimana-mana. Bi Tin yang melihat kejadian itu langsung mencoba menolong Suci agar tidak terkena pecahan beling.


Tetapi sayangnya, kini telapak tangan Suci sudah berdarah akibat terjatuh dengan keadaan terlentang. Dengan posisi jatuh seperti itu, membuat telapak tangannya menatap di pecahan beling tersebut.


Hiks... hiks... hiks...


Suci menangis dengan diiringi suara isak tangisnya yang cukup nyaring.


“Astaghfirullah, Non Sucii!!!!!” teriak Bi Tin yang langsung menolong Suci untuk segera bangun dari pecahan beling yang berserakan tepat sekeliling tubuh Suci.


“Upss... Aduh, kasihan. Sakit ya, makanya kalau jalan pakai mata dong. Lagian juga sayang kan tekonya, pasti harganya sangat mahal itu, ya kan Mah...” saut Vina sambil menatap ke arah Suci, dan sedetik kemudian menatap sang Mamah.


“Bagaimana? Enak? Sakit? Perih? Rasanya sebanding tidak dengan apa yang kamu perbuat padaku ini yang sebagai MERTUA kamu! Aku adalah Ibu yang mengandung dan melahirkan Dimas suamimu. Kamu menganggap aku ini apa, hah ?!!!"


Mamah Mita membentak Suci penuh emosi sambil berdiri dari kursinya dan menatap tajam ke arahnya yang masih terduduk di lantai dengan di rangkul oleh Bi Tin.


“Hiks... Ma-maafin Suci, Mah. Suci tidak tahu apa-apa, semua ini rencana Mas Dimas Mah. Bukan dari Suci, Suci awalnya menolak namun Mas Dimas tetap memaksa agar kita bisa sedikit bernafas dari hiks...dari semua masalah untuk mencari sedikit ketenangan agar tidak membuat kami begitu stres” ucap Suci dengan wajah yang sudah basah dengan air mata.


“Apa kamu bilang, hah!!! Bernafas? Memang di sini kamu tidak bisa bernafas? Jika tidak bisa maka kamu seharusnya sudah ada di kuburan bukan di rumah ini, paham!! Ketenangan dan stres? Memangnya kami ngapain kalian sampai bisa seperti itu? Kami hanya ingin kalian menghargai kami sebagai orang tua kalian” bentak Mamah Mita.


“Cukup Nya, cukup hiks... Non Suci sudah cukup menderita, Nya. Jangan biarkan dia seperti ini, tolong jangan siksa dia lagu. Ini bukan salahnya, Nya. Mereka berhak bahagia dengan cara mereka sendiri, mereka sudah berkeluarga jadi tidak seharusnya kita mengikut campuri urusan mereka. Sebagai keluarga atau pun orang tua, sebaiknya kita hanya bisa mendukung dan memberi tahu jika mereka berbuat salah” saut Bi Tin sambil memeluk Suci yang sudah terisak.


“Apa katamu? Menyiksa?”


“Vinaaa...”


“Apakah Mamah ini telah menyiksa Suci? Bukankah ini memang salahnya, jadi sudah pantaskan dia mendapat hukuman atas kesalahannya kan?”


“Jika memang Mamah menyiksanya, kenapa dia tidak melaporkannya ke polisi saja dan pergi dari sini ya kan. Lalu kenapa harus tetap bertahan di rumah ini”


Mamah Mita bertanya kepada Vina seolah-olah meminta jawaban yang akan membuatnya semakin besar kepala di bela oleh sang anak.

__ADS_1


“Tidak, Mamah tidak salah. Dianya saja yang tidak tahu di untung, sudah miskin belagu pula. Masih untung dia bisa menikah dengan Abang, coba kalau kamu nikah sama orang miskin juga pasti aku yakin hidupnya akan jauh menderita dari pada ini” tegas Vina sambil berdiri di samping sang Mamah.


“Hiks... Suci tahu, Mah... Vin. Suci ini belum bisa memberikan kalian keturunan, tapi apa dengan kalian bersikap seperti ini bisa membuat kalian bahagia tanpa adanya keturunan? Jika benar, maka Suci ikhlas jika diperlakukan seperti ini asalkan Mamah dan Vina bisa bahagia” ucap Suci.


“Bahagia? Bhaha... Mimpi loe ketinggian, bangun woi bangun haha... Mana ada keluarga tanpa seorang anak bisa bahagia, yang ada malah kesepian kali. Harusnya loe tuh sadar, sudah tidak bisa memiliki keturunan jadi harusnya pergi dari sini dan tinggalin Abang Dimas biar dia bisa kembali menikah dengan wanita yang bisa membuat orang tua gua bahagia saat menimbang seorang cucu, paham lor!!” saut Vina.


“Lalu kamu, Bi! Jika kamu masih ingin bekerja di sini, maka jangan pernah ikut campur urusan kami bahkan sampai mengadu kepada Dimas atau pun suamiku, paham!!!” ancam Mamah Mita yang membuat Bi Tin terdiam tak berkutik selain mencoba membuat Suci agar merasa tenang.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hai para readers semuanya 🤗


Perkenalkan ini adalah karya novel ke-3 Author loh 🤩


Semoga kalian menyukainya ya 🤝


Dukung Author terus dengan cara berikut :


Like 👍


Komen 📨


Favorite ❤️


Rate 🌟


Share 📲


Dan tidak lupa pula selipkan hadiahnya ya 😍🙏


Bunga, kopi atau sebagainya pun tak apa kok malah lebih bagus lagi pundi-pundi receh yang berterbangan di karyaku ini hihi 😆😜


Sayang kalian banyak banyak ❤️❤️❤️


Terima kasih semuanya 🙏🙏


Papaaayyy~~~ 👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻

__ADS_1


__ADS_2