
Meskipun Papah Angga mengerjakan semuanya dengan sangat cepat, namun dia tidak melakukan semuanya dengan tergesa-gesa dan tidak teliti.
Fokus yang Papah Angga miliki semakin tajam sehingga dia tahu mana dokumen yang harus di setujui, dan mana yang harus di tolak karena akan merugikan perusahaan.
Setelah selesai berkutat dengan semua dokumennya, Papah Angga kembali bersandar di kursinya sambil menatap foto Baby Kay di ponselnya. Sementara itu dengan Baby Kay, dia baru saja terbangun dari tidurnya dan sedang bermain bersama Mommy dan Daddynya.
“Ulululuuu... bayiku sangat tampan dan keren seperti Daddy ya, kamu juga memiliki rambut yang lebat seperti Daddy. Sepertinya besar nanti kamu akan menjadi pria tertampan kedua setelah Daddy hihi...”
Arsya tertawa sambil menoel ujung hidungnya Baby Kay yang mana membuat Baby Kay mengerutkan keningnya dalam pelukannya Suci. Semua orang yang melihat Baby Kay pun merasa sangat gemas dan ingin mencubit pipinya Baby Kay.
“Aduh aduuhh... anaknya Mommy imut sekali sih, rasanya jadi pengen karungin dan bawa pulang saja deh hihi... Tapi Mommy maunya Baby Kay tumbuh menjadi anak yang manis seperti Mommy”
“Lalu Baby Kay juga tidak boleh jadi pria yang cuek serta dingin pada siapa pun seperti Daddy. Nanti yang ada kamu akan susah bergaul dan jadi tidak punya banyak teman seperti pria yang ada di sampingnya Mommy”
Suci berbicara sambil melirik sekilas pada Arsya yang mana membuat Bunda Reni dan Ayah Al hanya menahan tawa mereka. Sedangkan Arsya langsung menatap balik Suci dengan wajah bingung dan juga kagetnya.
“Apa maksudmu berbicara seperti itu di depan putraku, apa kamu ingin membuat image-ku jadi buruk di depannya? Awas saja ya jika kamu membuat putraku jadi tidak suka padaku”
“Lagi pula aku ini punya banyak teman yang bahkan tidak bisa kamu hitung dengan jari-jari kecilmu itu. Kamu saja yang tidak pernah bertemu dengan mereka, makanya kamu bisa bilang kalau aku tidak punya teman”
Arsya berbicara sambil memalingkan wajahnya yang mana membuat Suci tersenyum menatap Arsya. Entah kenapa setelah hadirnya Baby Kay dalam hidup mereka, membuat Arsya semakin lembut dan penuh perhatian.
Bagi Suci, Arsya seperti menjadi pria yang berbeda dari sebelum mereka mengenal satu sama lain. Suci merasa sangat bahagia karena dia bisa mendapatkan suami seperti Arsya, dan juga putra yang tampan yaitu Baby Kay.
“Terima kasih ya Rab... Engkau telah memberikan hamba-Mu ini seorang imam yang selalu membuat hamba bahagia. Engkau bahkan memberi kami seorang anak yang selalu aku harapkan selama ini”
“Ya Allah... ini adalah momen terbaik dalam hidupku setelah kepergiannya Ibu dan Bapak. Hamba berharap momen ini tidak akan pernah menghilang dalam hidup hamba, amin allahumma aamiinn...”
__ADS_1
Suci berdoa di dalam hatinya sambil menatap Arsya dan Baby Kay secara bergantian sambil tersenyum. Melihat Suci tersenyum bahagia, Arsya pun tanpa sadar ikut tersenyum sambil membelakangi wajahnya Suci.
“Alhamdulilah akhirnya aku hisa melihat senyuman indahmu ini kembali Suci. Aku harap Allah akan selalu memberikan kita kebahagiaan dan membuat senyuman indahmu ini tidak akan lagi menghilang”
“Semoga dengan adanya Baby Kay, bisa membuat hubungan kami menjadi lebih dekat lagi. Aku sangat berharap kalau Suci bisa menjadi lebih terbuka dan bersandar padaku. Terima kasih ya Rab atas semua nikmat yang Engkau berikan”
Arsya berbicara di dalam hatinya sambil tersenyum yang mana membuat Bunda Reni serta Ayah Al ikut tersenyum. Mereka merasa bahwa saat ini akan menjadi momen bahagia mereka yang tidak akan pernah terlupakan.
...*
...
...*
...
...
...
Saat ini Suci sudah berada di ruang tamu kediaman keluarga Valleanno yang mana memang pagi ini Suci sudah boleh pulang bersama dengan Baby Kay. Arsya dan Ayah Al pun tidak masuk kantor karena mereka ingin menghabiskan waktu di rumah.
Apalagi hari ini adalah hari pertama Baby Kay pulang ke rumah sehingga Bunda Reni sudah menyiapkan segala hidangan yang enak dan mewah untuk semuanya. Bahkan Bunda Reni juga membagikan makanan pada tetangga yang lainnya untuk menyambut kepulangan Baby Kay.
“Hahh... akhirnya semua pembagian makanan sudah selesai, sekarang saatnya bagiku untuk beristirahat. Tentu saja aku beristirahat sambil bermain dengan cucuku yang imut dan menggemaskan ini”
Bunda Reni berbicara sambil mencubit kecil pipinya Baby Kay yang sedang tertidur dalam pelukannya Suci. Merasakan adanya sentuhan, membuat Baby Kay terusik dalam tidurnya dan dia pun sedikit mengerutkan dahinya.
__ADS_1
“Aaawwh... imut banget sih cucuku ini, rasanya jadi pengen punya Baby Kay yang lainnya deh. Bukan begitu sayang...” ucap Bunda Reni sambil menatap Ayah Al yang di balas dengan anggukan penuh bangga.
Sementara itu Arsya hanya duduk diam sambil wajahnya yang sedikit memerah setelah mendengar perkataan Bunda Reni. Sedangkan Suci yang tidak mengerti apa pun itu hanya menatap Bunda Reni dengan wajah bingungnya.
“Baby Kay yang lainnya? Maksud Bunda apa ya, kok Suci tidak mengerti sih... memangnya ada Baby lain yang bernama Kay yang baru saja lahir ya?” tanya Suci dengan wajah bingungnya.
“Bukan seperti itu sayang... Maksud Bunda itu, Bunda sama Ayah ingin memiliki bayi lainnya dari kamu dan juga Arsya. Kami tidak puas jika hanya memiliki satu orang cucu saja, bagaimana hemm...” goda Bunda Reni.
Suci yang mulai mengerti perkataannya Bunda Reni pun seketika itu wajahnya langsung memerah malu. Bahkan kini Suci hanya menundukkan kepalanya karena dia tidak berani menatap siapa pun apalagi Arsya saat ini.
“Hihihi... sepertinya ada yang malu nih, enggak yang cewe enggak yang cowo sama aja. Mungkin kita membutuhkan waktu lagi untuk bisa menggendong cucu kita yang lainnya, sayang” ucap Bunda Reni sambil melirik Ayah Al.
“Sepertinya memang begitu sayang, apalagi putra dan putri kita ini sangatlah pemalu. Mungkin saja kita malah harus menunggu belasan tahun lagi sebelum mereka mulai mencoba membuatkan kita cucu lainnya”
Ayah Al pun berbicara sambil melirik Arsya dengan senyuman jahatnya yang mana membuat Arsya dan Suci semakin malu.
Arsya yang tidak bisa menahan rasa malunya itu pun langsung mencoba untuk membawa Suci pergi dari sana.
“Ka-kalau be-begitu kita a-akan pergi ke kamar sekarang ka-karena Suci pasti masih lelah. Baby Kay juga butuh istirahat, ja-jadi permisi...” ucap Arsya sambil membantu Suci berdiri yang mana saat ini dia sedang menggendong Baby Kay.
“I-itu benar Bunda, Ayah... Su-Suci merasa se-sedikit lelah ja-jadi Suci ingin beristirahat di kamar bersama dengan Baby Kay. Ka-kalau begitu permisi...” sahut Suci sambil berbalik dan berjalan menuju tangga bersama Arsya.
Suci berjalan pergi sambil menggendong Baby Kay, di mana Arsya yang merangkul pinggulnya Suci dengan nyaman. Setelah melihat Suci dan Arsya masuk ke dalam kamar mereka, seketika itu Bunda Reni dan Ayah Al pun langsung tertawa puas.
Mereka tidak mengira jika Arsya dan Suci akan menjadi malu parah seperti ini. Mungkin saja karena mereka yang belum melakukan malam pertama mereka setelah menikah, membuat Suci dan Arsya merasa sangat malu dan gugup.
Sekarang Suci dan Arsya sudah duduk di pinggir kasur sambil Baby Kay yang sudah di baringkan di keranjang tidurnya yang ada di samping kasur mereka. Suci dan Arsya hanya duduk diam tanpa mengatakan satu patah kata pun sejak masuk ke dalam kamar.
__ADS_1