Keikhlasan Hati Seorang Istri

Keikhlasan Hati Seorang Istri
3 Hari Lagi


__ADS_3

Saat Elsa masih terus melihat wajah Dimas, tatapan tersebut semakin membuat Dimas tidak nyaman atas sikap Elsa yang seperti tidak menghargai Suci sebagai istrinya.


“Saya perhatikan dari tadi kamu selalu menatap saya seperti ini. Apa kamu tidak merasa takut, jika sampai Suci melihatnya maka ia akan salah paham padamu?” tanya Dimas dengan sangat dingin dan langsung menutup berkas Elsa.


“Eh, ma-maaf Mas. Saya tidak sengaja, lagian wajah Mas ganteng banget. Jadi saya pangling, rasanya kaya baru melihat seorang pangeran hehe...” ucap Elsa sambil menunjukkan sederetan giginya.


“Stop panggil saya Mas. Jika kamu ingin bekerja di sini, maka panggil saya dengan sebutan Tuan. Dan jangan sekali-kali kamu menatap saya seperti itu, karena saya sangat tidak menyukainya. Paham sampai sini!” tegas Dimas yang langsung berdiri, lalu ia berjalan menuju kamar meninggalkan Elsa di ruangan seorang diri.


“Astaga, sebenarnya dia itu siapa sih? Kenapa sifatnya berubah-ubah terkadang baik, ramah, romantis tapi bagian ke orang lain seakan-akan ia adalah seorang monster yang mengerikan. Ya ampun, apakah gua kuat bekerja di sini dengan Bos yang sangat kaku ini. Akhh... Tidak, tidak, tidak! Pokonya gua harus kerja di sini, tahan atau tidaknya gua harus tetap ada di sini karena inilah cara satu-satunya agar gua bisa merubah hidup gua. Lagian juga Mas Dimas memang sangat menarik sih, tapi dia dingin. Akh... Sudahlah lebih baik fokus saja dulu sama pekerjaanku yang baru ini, siapa tahu semakin lama sikap Mas Dimas semakin mencair sama kaya sifatnya ke Mbak Suci hehe...” gumam Elsa.


Di sela-sela Elsa sedang bermain dengan ponselnya, tak lama terdengar suara ketukan pintu.


Tok... Tok... Tok...


“Permisi...” ucap Astrid, seorang OG sambil membuka pintu dan masuk dengan membawa nampan berisikan air minum.


“Ini minumnya, Mbak. Maaf sedikit terlambat, soalnya tadi ada kendala di dapur jadi baru sempat mengantarkannya” ucap Astrid kembali sambil menaruh minuman di depan meja.


“Tidak apa-apa, Mbak. Hoya... Apa tidak ada minuman rasa jeruk? Soalnya aku kurang suka dengan sirop merah” jawab Elsa saat melihat Astrid telah membuatkan sirop merah dengan sedikit es batu.


“Aduh... Maaf, Mbak. Di dapur lagi habis adanya hanya ini, jadi saya buatkan ini saja. Lagian juga Ibu Suci tidak memberi tahu saya jenis minumannya, beliau hanya mengatakan minuman segar. Jadi, saya kira jika saya bawakan ini tidak ada masalah” ucap Astrid dengan ramah.


“Ya, sih Mbak, tapi saya tidak menyukainya. Boleh tolong di belikan minuman es jeruk? Nanti uangnya saya ganti. Atau saya bilang ke Mbak Suci dulu biar Mbaknya percaya kalau saya ini sahabat sekaligus adik angkatnya Mbak Suci” jawab Elsa dengan menegaskan dirinya yang membuat Astrid sedikit kesal.


“Tidak perlu, Mbak. Ya sudah, saya akan belikan minuman es jeruknya. Tunggu sebentar ya” ucap Astrid OB yang berusaha menahan emosinya.


“Itu orang siapa sih, sudah di buatkan minuman bukannya terima kasih malah seenak jidatnya menyuruh orang. Sedangkan Ibu Suci saja kalau memang salah memesan minuman, ia tetap meminumnya tanpa harus merepotkan orang lain untuk menggantinya. Tapi, wanita ini yang mengaku sahabatnya Ibu Suci malah seperti ratu. Dahlah, dari pada nanti kena teguran dari Tuan Dimas lebih baik aku belikan saja ” ucap Astrid di dalam hatinya sambil pergi keluar ruangan.


Elsa pun kembali memainkan ponselnya.


...*...


...*...


Di dalam kamar ruangan Dimas


“Sayang, sudah belum?” ucap Dimas sambil berdiri di depan pintu kamar mandi.


“Sebentar, Mas. Ini sudah kok, lagian perut Suci lagi tidak enak Mas kaya masuk angin gitu. Jadi, maaf ya agak lama” ucap Suci dari dalam kamar mandi.


“Kamu sakit, Dek? Ya sudah, habis ini kita ke rumah sakit ya” ucap Dimas dengan nada panik.


Ceklek !...

__ADS_1


Pintu kamar mandi pun terbuka lebar bersamaan dengan keluarnya Suci.


“Loh, Mas kok ada di sini. Memang Elsa sudah pulang? Kok enggak nunggu aku dulu sih” ucap Suci dengan wajah bingungnya.


“Enggak, dia masih ada di luar” ucap Dimas dengan cuek sambil duduk di pinggir kasur.


Suci yang melihat wajah suaminya seperti sedang kesal, membuat ia pun ikut duduk di sampingnya.


Suci menggenggam tangan Dimas sambil berkata “Ada apa, Mas? Kenapa wajahnya murung seperti orang yang sedang kesal, hem...”


Dimas pun menatap wajah Suci sambil menjawabnya “Aku minta sama kamu, Dek. Tolong nasihati Elsa agar tidak selalu menatapku. Kamu tahu kan, aku paling tidak suka di tatap oleh wanita lain selain kamu. Dan Elsa tuh menatapku sangat lama bahkan ia tidak mengedip sama sekali. Aku benar-benar merasa kurang nyaman dengan sikapnya. Kalau pun aku menolak dia kerja di sini, yang ada aku akan membuat kamu sedih. Jadi, kalau memang dia ingin sungguh-sungguh bekerja di sini suruh dia fokus pada pekerjaan jangan malah fokus dengan hal yang tidak penting”


“Ya sudah, Mas. Sabar ya, siapa tahu dia pangling melihat ketampanan suamiku ini, jadi wajar saja dia begitu. Lagian harusnya Mas senang dong kalau Elsa menatap Mas, jadi kan Mas tahu kalau Elsa sedang memuji ketampanan Mas hehe...” goda Suci yang malah semakin membuat Dimas kesal.


“Apa kamu tidak cemburu pada sahabatmu itu saat aku cerita seperti ini? Apa kamu tidak takut jika dia menggodaku?” tanya Dimas.


“Tidak, buat apa aku cemburu pada sahabatku sendiri. Toh, Mas sudah menjadi milikku seutuhnya jadi apa yang harus aku cemburui. Lagian juga aku percaya kalau Mas itu tidak akan macam-macam di belakang Suci, kan?” ucap Suci sambil tersenyum.


“Astaghfirullah, Dek. Mana mungkin sih Mas macam-macam di belakangmu. Kamu kan tahu bagaimana sikap suamimu ini saat tidak bersamamu. Kaku, dingin, dan cuek jadi buat apa aku macam-macam. Sedangkan aku bisa mendapatkanmu saja itu sudah suatu anugerah untukku Dek, lalu buat apa aku ngelirik yang lain” jawab Dimas dengan tegas sambil meraup wajah Suci.


Suci hanya bisa tersenyum sambil memegang kedua tangan Dimas yang meraup wajahnya. Dan entah di detik ke berapa mereka sudah saling menautkan bibirnya satu sama lain. Terlihat jelas Dimas sangat nyaman dengan sikap agresif Suci saat ini yang selalu membuatnya terkejut. Suci seakan-akan tahu bagaimana caranya membuat emosi Dimas mereda dan mengembalikan moodnya.


Hampir 10 menit mereka melakukan adegan berciuman yang saling menarik serta mengulum satu sama lain. Hingga akhirnya Suci mulai kehabisan nafasnya. Ia langsung memukul kecil dada bidang Dimas dan Dimas pun yang sudah paham, langsung melepaskan bibirnya. Kemudian, Suci menghirup udara sebanyak-banyaknya.


“Ya ampun, Mas Dimas ingin membunuh Suci apa ya. Kenapa ciumannya sangat dalam sih, lagian kan Suci niatnya cuma sebentar ciumnya tapi kenapa malah jadi lama seperti ini” saut Suci yang masih terengah-engah.


“Hehe... Maaf sayang, ke bawa suasana. Lagian benda pusakaku juga sudah mulai berdiri, bagaimana dong” ucap Dimas sambil menatap ke arah celananya yang sudah menonjol.


Suci pun ikut menatap sambil berkata “Ya ampun, Mas. Ke-kenapa benda pusakamu semakin besar saja. Aduh, alamat Suci merem melek ini kalau melayani Mas”


“Hehe... Entahlah sayang, dia semakin hari semakin gagah saja. Aku pun heran di buatnya, sepertinya dia benar-benar ingin di manja olehmu. Tapi kamu lagi lampu merah, bagaimana dong?” ucap Dimas dengan wajah sedihnya.


“Aduh, bagaimana ya Suci bingung, Mas. Lagian memangnya tidak bisa di suruh tidur gitu biar gak nonjol gitu. Kasihan pasti dia sesak kan di dalam sana sempit” jawab Suci dengan kepolosannya.


“Ya sudah, kamu suruh sahabatmu pulang saja. Nanti 3 hari lagi suruh datang ke sini untuk mulai bekerja. Aku tunggu di sini saja kalau aku keluar, nanti malah jadi salah fokus yang ada” ucap Dimas.


“Ya, benar itu. Mas tunggu di sini ya, biar Suci bicara sama Elsa dulu. Dan untuk kamu benda pusaka, jangan nambah besar mulu atau nanti lama-lama kamu meledak loh kaya balon. Sudah ya kecil aja gapapa kok, tapi jangan kecil juga takutnya nanti lobang Suci kegedean jadi sedeng-sedeng aja deh” ucap Suci sambil tanpa sengaja mengelus celana Dimas dan membuatnya harus menahan sesuatu di dalam sana yang ingin berontak ke luar.


“Ya ampun, Suci. Kenapa malah kamu elus seperti itu sih, ya Allah bagaimana ini kan jadi tambah bangun dianya ” ucap Dimas di dalam hatinya sambil memejamkan matanya.


“Lah Mas Dimas kenapa tidur sih, orang Suci lagi mengelus yang bawah biar tidur. Ini malah Mas Dimasnya yang tidur, aneh... Dahlah, Suci keluar dulu” ucap Suci sambil berjalan keluar kamar.


“Aaakhhhh... Suci... Kau benar-benar membuatku tersiksa. Aduh, nasib-nasib punya istri sepolos Suci, kalau tidak di setir pasti ya begini jadinya” ucap Dimas yang mengeluarkan suara paraunya saat Suci sudah keluar dari ruangan.

__ADS_1


...*...


...*...


“Sa, maaf ya lama. Tadi perutku sakit banget, kayanya masuk angin deh” ucap Suci sambil duduk di samping Elsa.


“Oh ya, gapapa kok Mbak. Loh, Mas Dimas enggak keluar bareng Mbak Suci?” tanya Elsa saat melihat Suci keluar sendiri.


“Mas Dimas lagi istirahat sebentar katanya badanya sakit-sakit semua, hoya... Bagaimana kalau kamu pulang dulu. Nanti 3 hari lagi kamu datang ke sini dan mulai bekerja. Jangan lupa siapkan baju-baju serta yang lainnya ya” ucap Suci sambil tersenyum.


“Serius Mbak. Aku di terima kerja di sini? Ya ampun, terima kasih ya Mbak. Pasti semua ini berkat Mbak aduh, aku jadi banyak berutang budi sama Mbak. Tapi...” ucap Elsa sambil menundukkan wajahnya.


“Loh, kenapa kok sedih. Harusnya kamu senang dong sudah di terima kerja di sini” jawab Suci dengan wajah bingungnya.


“Aku senang banget malahan Mbak. Tapi, aku tidak ada uang untuk membeli baju dan beberapa make up lainnya” ucap Elsa dengan wajah yang dibuat sesedih mungkin.


Suci yang merasa kasihan pun langsung mengambil tas kecil di kamar, lalu kembali duduk di samping Elsa.


“Nomor ATM-mu berapa, Sa?” tanya Suci sambil membuka ponselnya.


“Hah? M-mbak se-serius?” tanya Elsa yang pura-pura kaget.


“Ya serius, berapa sebutin. Nanti kalau sudah masuk kamu langsung belanja untuk keperluan kamu bekerja di sini gunakan uangnya sebaik mungkin” jawab Suci.


“Oke, Mbak. Terima kasih...” ucap Elsa sambil menyebutkan nomor ATM-nya.


Lalu, setelah Suci sudah mentransfer uang sejumlah Rp. 5.000.000,00 (lima juta rupiah). Elsa pun langsung memeluk Suci sambil mengucapkan terima kasih. Kemudian, ia keluar dari ruangan itu dengan wajah berseri-seri.


“Gila, ini sih banyak banget. Mbak Suci ternyata mudah ya untuk di rayu hanya dengan menunjukkan wajah sedih sedikit langsung luluh. Haha... Dahlah, waktunya Shopping untuk tampil cantik nanti di depan Mas Dimas eh salah Tuan Dimas hehe...” ucap Elsa di dalam hatinya sambil menatap ponselnya yang layarnya masih menunjukkan bukti transferan Suci.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sampai sini dulu bab untuk hari ini semuanya... 😁😁😁


Kira-kira menurut kalian apa yang Elsa sebenarnya pikirkan 🤨🤨🤨


Kenapa Elsa sangat ingin terlihat cantik di depan Dimas 🤔🤔🤔


Jika kalian penasaran maka nantikanlah bab selanjutnya... 😉😉😉


Jaga diri kalian dan sampai ketemu di bab selanjutnya... 🤗🤗🤗


Papaaayyy~~~ 👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻

__ADS_1


__ADS_2