Keikhlasan Hati Seorang Istri

Keikhlasan Hati Seorang Istri
Belum Melihat Anak Kita


__ADS_3

Bunda Reni dan Ayah Al pun berpelukan sambil saling mengucapkan selamat pada satu sama lain. Lalu tanpa sadar Ayah Al melepaskan pelukannya dan langsung memeluk Papah Angga serta mengucapkan selamat yang mana membuat Papah Angga menjadi bingung dengan segalanya dan hanya bisa membalas ucapan selamat dari Ayah Al tersebut.


Lalu Bunda Reni yang sadar dengan apa yang Ayah Al lakukan pun langsung saja menepuk punggung Ayah Al yang mana membuatnya tersadar.


Ayah Al melepaskan pelukannya dan dia melihat Papah Angga yang menatap ke arah Ayah Al dengan segala kebingungannya.


“Sebenarnya apa yang terjadi saat ini? Kenapa kalian mengucapkan selamat padaku dan kenapa Suci ada di sini? Bisakah kalian mengatakan sesuatu padaku saat ini?” ucap Papah Angga yang membuat Bunda Reni serta Ayah Al bingung untuk menjawabnya.


“Aduuh... bagaimana kami akan menjelaskan semua ini kepada Tuan Angga. Aku juga tidak tahu apakah Suci ingin Tuan Angga tahu akan kehamilannya atau tidak. Uuugh... aku bingung...” geram Bunda Reni di dalam hatinya.


Lalu tiba-tiba beberapa suster keluar dari ruang bersalin sambil mendorong bangkar Arsya dan juga Suci. Lalu semua mata tertuju pada mereka yang kemudian ikut mendorong bangkar Arsya dan Suci ke dalam ruangan VVIP yang sudah di siapkan.


Di dalam ruangan tersebut, Suci di baringkan di kasur rumah sakit dengan nyaman. Sedangkan Arsya di baringkan di sofa dalam ruangan Suci atas perintah dari Bunda Reni dan Ayah Al.


Sementara itu Papah Angga hanya berdiri di dekat Suci dengan diam seperti patung. Tidak lama kemudian Arsya terbangun dan dia langsung duduk sambil mencari keberadaan Suci serta anaknya.


Setelah melihat Suci berbaring di kasur, Arsya langsung berdiri dan berjalan mendekati Suci lalu duduk di kursi samping kasurnya Suci.


“Maaf sebelumnya tapi Tuan Arsya, sebenarnya apa yang terjadi? Apakah Suci baru saja melahirkan? Tapi kalian baru saja menikah setengah tahun yang lalu bukan? Tadi aku lihat juga perutnya Suci sangat besar seperti hamil tua”


“A-apakah mungkin a-anak itu adalah anaknya Suci de-dengan Dimas? Ma-maksudku mungkin saja di saat Suci cerai dengan Dimas, dia sedang mengandung? Itu sebabnya sekarang Suci melahirkan?”


Papah Angga berbicara dengan wajah kaget dan bingungnya karena dia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Namun, Arsya sama sekali tidak menyadari hal tersebut serta malah fokus terhadap keadaan Suci yang mana Arsya tidak sama sekali melihat keberadaan Papah Al.

__ADS_1


Bunda Reni dan Ayah Al yang mendengarnya pun hanya bisa menatap wajah satu sama lainnya tanpa tahu apa yang mereka harus lakukan dan jelaskan kepada Papah Angga.


Di saat semuanya sedang bingung dan tenggelam dalam pikiran mereka, tiba-tiba terdengar suara rintihan kecil yang mana saat ini Suci sudah terbangun dari tidurnya.


Kemudian, Suci mengelus perutnya yang sudah tidak terlalu besar saat masih terdapat sang bayi di dalamnya dan dia pun segera menatap ke semua orang yang ada di sana.


“Ma-Mas... di ma-mana anak ki-kita? Kenapa a-aku ti-tidak mendengar su-suara tangisannya?” ucap Suci dengan suara lemas dan wajahnya yang mana masih sedikit pucat namun tetap terlihat sedikit lebih segar dari pada tadi.


“Ka-kamu sudah bangun sayang? A-aku tidak tahu, mungkin anak kita sedang di bersihkan oleh para suster dan dokter. Kita tunggu saja di sini karena dokter pasti akan mengantarkan anak kita pada kita hemm...” ucap Arsya sambil mengelus wajahnya Suci.


“Pa-Papah... ka-kapan Papah da-datang ke sini? A-apakah kamu yang me-memanggil Pa-Papah dan memintanya u-untuk datang ke sini Mas?” tanya Suci sambil melihat Papah Angga lalu kembali menatap Arsya dengan bingung.


“Tu-Tuan Angga? Ka-kapan Anda ada di sini? A-aku tidak tahu ka-kapan Tuan Angga datang ke sini dan bagaimana sayang. A-aku saja baru bangun dari tidurku, jadi bagaimana aku bisa tahu” jawab Arsya yang terkejut saat melihat Papah Angga ada di belakangnya.


“I-itu juga ka-karena kamu ya, sehingga a-aku pingsan di dalam ruangan tadi. Jika kamu tidak mencengkeram adik kecilku dengan sangat kuat, maka a-aku tidak akan kesakitan dan pingsan saat kamu melahirkan” geram Arsya sambil menutupi bagian bawahnya tanpa sadar.


“Ppfft... Ka-kamu pingsan karena hal itu? Hahaha... aku tidak pernah berpikir bahwa hal seperti ini akan pernah terjadi. Aduuh perutku haha... aku pikir kamu pingsan karena melihat darah, tapi ternyata karena benda pusakamu”


“Aku harap bendamu itu tidak sampai remuk dan menjadi gepeng haha... cobalah kamu pergi dan periksalah ke dokter kelamin karena aku takut bendamu itu tidak bisa lagi di gunakan hahaha...”


Ayah Al tertawa dengan puas setelah mendengar cerita apa yang Arsya alami saat bersama dengan Suci di dalam ruang bersalin.


Sementara itu Arsya yang merasa kesal hanya tertunduk malu karena dia tidak bisa menutupi aibnya sendiri di depan kedua orang tuanya dan juga Papah Angga.

__ADS_1


“A-aku ju-juga tidak bisa berbuat banyak karena rasanya sangat sakti, bahkan sampai sekarang pun masih terasa. Jadi bagaimana bisa aku tidak pingsan, padahal aku ingin segera melihat anak kita” ucap Arsya sambil menatap Suci dengan wajah malu dan sedih.


“Maaf jika Papah lancang Suci, tapi apakah anak yang lahir itu adalah anak kamu dan Dimas? Maksudku kamu dan Tuan Arsya menikah baru setengah tahun yang lalu, jadi bagaimana mungkin...” ucap Papah Angga sambil menatap Suci dengan bingung.


“Maaf sebelumnya Pah karena Suci tidak memberitahukan hal ini pada Papah. Apa yang Papah pikirkan itu memang benar, anak itu anaknya Mas Dimas. Tapi aku tidak mau ada yang mengetahui hal ini terutama Mas Dimas”


“Aku harap Papah mengerti, karena saat ini suamiku adalah Mas Arsya dan bukan putra Papah itu. Mas Arsya juga sudah menerima anak itu sebagai anaknya, jadi aku tidak mau lagi ada masalah dalam kehidupan rumah tanggaku sekarang” jawab Suci sambil sedikit tersenyum pahit.


“Baiklah jika itu yang kamu kamu Nak, tapi Papah harap kamu dan juga Tuan Arsya tidak akan keberatan jika Papah ingin melihat anak itu. Bagaimana pun Papah ingin sekali melihat anaknya putri Papah yang sangat kuat ini”


“Walaupun cuma hari ini saja juga Papah sudah sangat berterima kasih. Papah berjanji kalau Papah tidak akan mengatakan hal ini pada siapa pun. Bahkan Papah juga tidak akan lagi datang menemuimu jika kamu tidak memperbolehkannya”


Papah Angga berbicara dengan wajah datarnya namun dari suaranya itu, Suci bisa merasakan kesedihan yang Papah Angga rasakan.


Lalu Suci mencoba untuk duduk dan Arsya dengan sigap membantu Suci untuk duduk serta bersandar dengan nyaman.


Di saat Suci ingin berbicara, tiba-tiba saja pintu kamar rawatnya Suci terbuka lalu seorang suster dan dokter masuk. Suster tersebut sedang menggendong seorang bayi yang sangat lucu, imut dan juga menggemaskan.


“Permisi semuanya... saya di sini untuk memberikan anak ini kepada sang Ibu yang melahirkannya. Bayi Anda terlahir dengan sangat sehat dan juga lengkap. Sekarang sang Ayah bisa mengadzani sang bayi” ucap dokter tersebut sambil berjalan mendekati Suci dan Arsya bersama sang suster.


Dokter dan suster tersebut berdiri tidak jauh dari tempat tidurnya Suci, lalu Suci tersenyum lebar melihat bayi yang ada dalam pelukannya suster. Arsya, Bunda Reni, Ayah Al serta Papah Angga juga menatap bayi tampan tersebut.


Lalu Suci menjulurkan kedua tangannya ke depan, serta dokter tersebut menatap suster di sampingnya. Suster tersebut mengerti arti tatapan dokter itu dan dia langsung memberikan bayi tampan itu kepada Suci dengan perlahan.

__ADS_1


Kini bayi mungil, lucu, menggemaskan dan juga tampan sudah berada di gendingan Suci. Tak lupa Suci langsung menciumi seluruh wajah bayi tampannya yang baru saja ia lahirkan. Sedangkan semuanya menatap bayi mungil itu, dengan tangan Arsya yang terah untuk mengusap kepala bayi yang masih sangat merah itu.


__ADS_2