
Bagi mereka menyatuan hubungan suami-istri sama halnya seperti menyirami cinta yang ada di dalam hati agar terus tumbuh tanpa membiarkannya layu sedikit pun.
...*...
...*...
Di Mansion kediaman keluarga Dion
Hari ini Ara baru saja pulang sekolah, kemudian dia kembali ke kamarnya karena merasakan suhu tubuhnya sedikit panas akibat beberapa hari ini dia tidak bisa tidur nyenyak, dia selalu merasa kesepian ketika Kay sudah pergi ke luar negeri.
Sampai Lisa yang baru selesai masak makan siang pun segera bergegas ke kamar Ara untuk membawakan bubur agar membuat perutnya terisi.
Ceklek! ...
Lisa masuk ke dalam kamar Ara sambil memberikan salam serta berjalan mendekatinya dan menaruh nampan kecil di atas meja samping kasur.
"Sayang apa masih pusing kepalanya? Lalu tadi sekolahnya bagaimana ulangannya, bisa mengerjakannya atau-...
"Amma tenang aja, semua sudah beres kok. InsyaAllah nilainya tidak akan mengecewakan Amma dan Appa, meskipun Ara anak yang membuat kalian selalu mengeluh tetapi Ara janji dibalik kenakalan Ara. Ara akan membuat kalian bangga"
Ara duduk menyender di senderan kasur sambil menatap Lisa dan menggenggam tangannya. Ara sadar selama ini dia selalu membuat pusing kedua orang tuanya karena mereka selalu mendapat pangilan dari guru BK akibat Ara suka menjahili teman sekelasnya.
Cuman kejahilan Ara bukan berarti dia suka membully temannya, melainkan dia suka jahil mengumpeti atau sekedar bercanda dengan temannya. Sampai-sampai kadang mereka kesal dan langsung mengadu pada guru BK karena sikap Ara selalu meresahkan.
Tapi tidak perlu khawatir, meskipun Ara terkenal anak yang jahil keluar masuk ruang BK. Tapi dia merupakan murid yang sangat pintar, nilai semua mata pelajaran selalu di atas rata-rata. Hingga akhirnya berkat nasehat Kay sebelum pergi meninggalkannya, Ara bertekat akan berubah menjadi anak yang jauh lebih baik dari sebelum.
"Aamiin.. ya sudah Ara makan dulu ya, Amma suapin mau?" Ucap Lisa sambil tersenyum yang langsung di angguki oleh Ara.
Baru 2 suap Ara memakan makanannya, tiba-tiba ponselnya berdering. Ara menoleh melihat seseorang menelponnya dengan panggilan video call. Namun Ara tidak mengenal nomor tersebut, akhirnya dia kembali menaruh ponselnya di samping dan melanjutkan makannya.
__ADS_1
"Kok enggak di angkat?" Tanya Lisa sambil menyuapini Ara.
"Ara enggak kenal, orang salah sambung kali" Ucapnya sambil mengunyah.
Ponsel Ara kembali berdering berkali-kali hingga membuat Ara kesal dan langsung mengangkatnya.
[Hallo, ini siapa sih ganggu orang lagi makan aja! Kalau salah sambung mending jauh-jauh deh] Jawab Ara sambil menatap layar ponselnya yang belum terlihat wajah seseorang.
"Siapa?" Tanya Lisa dengan penasaran, Ara hanya mengangkat kedua bahunya seolah-olah dia tidak mengenalnya.
[Assalammualaikum...] Salam seseorang membuat Ara kembali menatap layar ponselnya bersamaan dengan munculnya wajah Kay yang sangat tampan.
[Waaaaa... Bang Kay, Ara seneng banget Bang Kay menghubungi Ara lagi. Ara kira beberapa hari ini Bang Kay sudah lupa dengan Ara, tapi tahunya Ara menjadi orang yang spesial haha.. Amma, Amma lihatlah ternyata yang nelpon Bang Kay hihi..] Cerocos Ara dengan sangat bahagia.
[Jika seseorang memberikan salam, maka jawab salamnya lebih dulu barulah mengoceh sesuka hatimu!] Sahut Kay dengan dingin.
[Ya ampun Ara lupa saking senangnya hihi.. Waalaikumsalam Bang Kay] Jawab Ara sambil cengengesan.
Lisa kembali menyuapini Ara bubur yang membuat Kay melihatnya menjadi bingung, lalu ia berkata [Tumben makan bubur, apa kamu lagi sakit?]
[Eee-enggak kok hehe.. a-aku cuman lagi mau makan bubur aja, ohya.. Bang Kay lagi enggak kuliah] Tanya Ara dengan mengalihkan arah pembicara Kay. Sedangkan Kay bisa mengetahui kalau saat ini Ara menyembunyikan sakitnya, terlihat jelas dari wajah Sra yang sedikit pucat.
[Aku mau bicara sama Amma] Titah Kay yang langsung membuat Ara memberikan ponselnya.
[Hai Kay, bagaimana kabarmu di sana? Apa kamu sudah mendapatkan teman?] Ucap Lisa sambil tersenyum.
[Alhamdulillah Kay baik-baik aja Amma, Amma bagaimana?] Tanya balik Kay.
[Alhamdulillah Amma baik-baik aja kok, cuman ini si Ara lagi meriang katanya rindu sama Bang Kay. Dia mau cepat-cepat lulus biar bisa menyusul kamu ke sana hihi..]
__ADS_1
Ucapan Lisa mampu membuat Ara yang tadinya sedang makan langsung tersendak dan minum dengan cepat, lalu langsung mengambil alih ponsel di tangan Lisa.
[Yaaaak.. Amma apaan sih, ja-jangan di percaya Bang Kay. Orang Ara baik-baik aja, lagian juga Ara enggak ada bilang begitu] Ara menatap tajam ke arah Lisa yang membuat Lisa hanya terkekeh ketika wajah anaknya semakin merah.
[Jika aku boleh jujur, maka aku lebih mempercayai Amma dari pada dirimu] Jawab Kay spontan membuat Ara melototkan matanya.
[Yaaaa.. kenapa Bang Kay lebih percaya sama Amma sih, harusnya Bang Kay percaya sama Ara dong] Pekik Ara dengan kesal.
[Bagaimana aku bisa percaya denganmu, sedangkan wajahmu terlihat pucat. Lalu setiap sakit kamu selalu di buatkan bubur oleh Amma, namun jika kamu sehat kamu malah tidak suka dengan bubur. Lantas siapa yang bohong di sini hem? Amma atau dirimu?] Jawab Kay mampu membuat Ara menggaruk kepalanya dan menyengir sangat lebar.
"Begitulah Ara Kay, apa lagi dia itu dari kecil menganggap kamu adalah jodohnya. Jadi saat kamu jauh maka dia akan merasa kesepian hihi" Ucap Lisa sambil mengambil semua mangkuk dan gelas yang sudah habis.
"Amma!!" Tegas Ara yang membuat Lisa langsung berjalan keluar kamar Ara sambil membawa alat makan.
Namun Lisa kembali berhenti dan sedikit berteriak agar Kay mendengar ucapannya, "Kay Amma pergi dulu ya, hati-hati jangan buat Ara sampai nangis ya. Nanti Appa pasti akan menyeretmu untuk langsung menikahinya haha.. dahh.. assalammualaikum"
Lisa menutup pintu bersamaan dengan Ara dan Kay yang mengucapkan salam. Lalu Ara kembali menatap ponselnya dengan wajah yang sudah memerah bagaikan tomat kematengan.
[Sudah jangan malu seperti itu, bukannya kau sendiri yang bilang jika aku ini jodohmu hem.. jadi cepat selesaikan sekolahmu dan datang ke sini untuk menemui jodohmu sebelum ada yang mengambilnya] Canda Kay yang berhasil membuat Ara merengek manja padanya.
Kay hanya bisa terkekeh mendengar suara Ara, hampir beberapa hari Kay tidak mendengar suara Ara membuatnya sedikit hampa. Entahlah, ini cinta atau bukan. Tetapi Kay tidak mau mengambil pusing, karena Kay percaya jika mereka berjodoh pasti suatu saat akan bersatu.
Di sini Ara terlihat bahagia dengan Kay karena beberapa hari yang lalu dia memang sangat merindukan Kay hingga akhirnya jatuh sakit, bahkan di sini pun Ara sudah tidak lagi malu. Dia mengatakan semua yang ia rasakan hingga membuat Kay hanya bisa tersenyum, sampai seketika Kay melihat Ara tertidur pulas dengan wajah imutnya.
[Selamat tidur Princes, semoga lekas sembuh. Maaf jika aku harus meninggalkanmu, tapi percayalah jika memang kita berjodoh maka sejauh apa pun kita melangkah kita akan tetap bersama]
Kay berbicara sambil menatap wajah Ara yang terlihat begitu menyejukkan hatinya, sehingga tanpa Ara ketahui kalau Kay juga merasakan hal yang sama dengannya. Cuman mau bagaimana lagi Kay harus meneruskan pendidikannya agar dia bisa membuat kedua orang tuanya bangga.
Kay menutup ponselnya sambil merebahkan tubuhnya di ranjang, lalu dia tertidur dengan menatap foto masa kecil mereka yang Kay simpan di ponselnya. Entah mengapa foto itu selalu membuat Kay semangat untuk terus menuntut ilmu agar dia bisa menjadi orang sukses.
__ADS_1
Mungkin jika suatu saat nanti mereka berjodoh maka Kay akan berjanji untuk selalu membuat Ara bahagia ketika bersamanya.