
Papah Angga berbicara sambil meneteskan air matanya. Entah mengapa ini kali pertamanya Dimas melihat sosok Papah Angga yang biasanya terlihat tegar dan juga sabar, kini menangis hanya karena ia sangat ingin membela menantunya yang tak bersalah.
“Paahh...” ucap Dimas menatap Papah Angga dengan mata berair, namun Papah Angga malah mengangkat tangannya.
“Tidak perlu meminta maaf padaku, lebih baik kau urusi istrimu itu. Lalu untukmu Vina, aku sudah tahu jika selama aku tidak ada kamu selalu menghabiskan waktu remajamu di tempat Bar yang sangat menjijikkan itu, ya kan?!” ucap Papah Angga yang membuat Vina melototkan matanya hingga terukir jelas wajah paniknya itu sehingga membuat Dimas menoleh ke arahnya.
“Apa benar yang dikatakan Papah itu, Vina!!!” ucap Dimas penuh penekanan.
“Tidak, Vina tidak pergi ke tempat menjijikkan itu. Dia selalu pamit padaku jika dia ingin main bersama teman-temannya di rumah mereka atau pun nongkrong di sebuah Cafe. Jadi jangan mengada-ada tentang anakku, bisa saja itu dirimu sendiri yang pergi ke sana ya kan!” bentak Mamah Mita yang masih tidak mempercayai penjelasan Papah Angga.
“Rupanya kau masih tidak percaya dengan penjelasanku? Baiklah...” ucap Papah Angga dengan menahan segala emosinya.
“Apa, hah!! Kau juga ingin menceraikan aku seperti Dimas yang menceraikan Suci, iya begitu kan? Supaya kamu bisa bebas bersama Suci kan hahaha... Silahkan, aku tidak takut padamu” ucap Mamah Mita dengan tertawa sambil meneteskan air matanya.
“Mamahhhh...” pekik Dimas dan Vina sambil menatap Mamahnya.
“Kenapa? Kalian takut jika kalian hanya hidup bersamaku? Tenang saja karena Dimas sudah memiliki perusahaan, jadi kita sudah tak membutuhkan dia lagi. Biarkan dia menceraikan aku dan menikahi mantan istrimu itu Dim, dan aku akan mendoakan karma yang lebih sakit dariku segera menimpa mereka berdua” ucap Mamah Mita dengan menatap tajam ke arah Papah Angga.
Sedangkan Papah Angga malah tersenyum sangat lebar menatap istrinya, “Cerai? Kau kira pernikahan adalah suatu ajang permainan yang mana di saat ada masalah langsung berujung perpisahan? Maaf, aku bukan anakmu yang karena ada masalah bukannya masalahnya yang di selesaikan, tetapi malah hubungannya”
“Apa kalian kira pernikahan seremeh itu, sehingga dengan mudahnya kalian mengatakan kata pisah tanpa memikirkan perasaan orang yang sudah kalian sakiti dan mencoba untuk bersabar menghadapi semuanya?”
Papah Angga menatap remeh kepada mereka bertiga, sehingga entah mengapa Dimas merasa jika dirinya telah bersalah karena dengan mudahnya ia mengatakan semua itu. Sedangkan Papah Angga saja yang sudah di hina oleh istri dan anaknya masih tetap untuk mempertahankan hubungannya.
Namun di sela perbincangan mereka, kini sang dokter dan juga suster keluar dari ruangan dimana Elsa berada yang langsung membuat perhatian mereka semua langsung teralihkan menuju dokter dan suster itu.
“Dok, bagaimana mantu dan juga cucuku? Apakah mereka baik-baik saja?” ucap Mamah Mita dengan wajah cemas.
“Kenapa wajah dokter seperti itu? Apakah mereka tidak baik-baik saja? Jawab Dok, jawab!!” sahut Dimas yang penuh dengan kepanikan.
“Tenang Bang, tenang. Kita dengarkan dokter berbicara dulu...” ucap Vina.
Papah Angga yang sudah terlanjut sakit, kini ia malah pergi begitu saja tanpa mau mendengarkan kabar tentang Elsa dan juga anaknya. Fokus Papah Angga saat ini iyalah Suci, ia sangat mengkhawatirkan Suci di luaran sana entah kemana dia akan pergi. Apa lagi Suci tidak memiliki keluarga satu pun, ia hanya hidup sebatang kara setelah Bapaknya meninggal.
Maka dari itu Papah Angga sudah menganggap Suci seperti anak kandungnya sendiri. Bahkan ia pun lebih menyayangi sosok Suci yang sopan dan Sholehah ketimbang anak perempuannya yang susah di atur. Papah Angga pergi meninggalkan rumah sakit dalam keadaan raut wajah yang begitu lelah, dan juga sedih.
__ADS_1
Untung saja riwayat jantung Papah Angga baik-baik saja saat menghadapi semua ini. Jika tidak, mungkin tubuhnya sudah berkunjur kaku tanpa bisa membuka kembali kedua matanya. Papah Angga berusaha meneleponi Suci berulang-ulang kali, tapi tetap saja Suci tidak mengangkatnya.
“Astagfirullah Suci... Kamu dimana Nak, jangan bikin Papah khawatir seperti ini. Ayolah angkat teleponnya...” gumam Papah Angga di depan parkiran mobil.
Hampir 20 kali Papah Angga berusaha menghubungi Suci namun tetap saja hasilnya nihil, jadi Papah Angga segera pergi pulang ke rumah. Papah Angga berpikir mungkin Suci masih berada di rumah, namun jika tidak ada mungkin Suci masih butuh waktu untuk sendiri dan kalau dia sudah mulai tenang juga pasti akan kembali menghubungi Papah Angga setelah melihat beberapa notif panggilan serta pesan singkat.
Sementara itu di dalam Rumah Sakit, dokter yang merawat Elsa menatap semuanya secara bergantian, lalu ia sedikit menghela nafasnya dengan perlahan.
“Maaf Tuan, sepertinya kita harus segera mengeluarkan anak yang ada di dalam kandungan Bu Elsa. Jika tidak segera dilakukan, mungkin akan bisa membahayakan nyawa mereka berdua” ucap sang dokter sambil menatap Dimas.
Sedangkan Dimas yang mendengar itu membuat jantungnya berdetak dengan sangat cepat, saat ia mendengar ke-2 nyawa yang ia sayangi harus berada di antara hidup dan juga mati.
“Tapi Dok, cucu saya bukannya masih berusia 7 bulan? Apakah tidak ada cara lain untuk menyelamatkan mereka?” ucap Mamah Mita.
Sang dokter pun menatap Mamah Mita sambil menggelengkan kepalanya, “Tidak ada Nyonya. Hanya ini yang bisa kami lakukan untuk menyelamatkan keduanya, atau jika terlambat maka salah satu di antara mereka tidak bisa kami tolong”
“Segera lakukan yang terbaik untuk anak dan juga istriku Dok, jadi cepatlah kembali ke dalam mohon selamatkan keduanya saya mohon Dok hiks...” sahut Dimas dengan air mata yang mengucur.
“Baiklah Tuan, saya permisi...” ucap sang dokter yang kembali masuk bersama sang suster.
*
Malam hari...
Papah Angga masih mengkhawatirkan kondisi Suci di luar sana yang tidak tahu kemana perginya, bahkan sampai saat ini pun Suci tidak bisa di hubungi karena ponselnya sudah tidak aktif lagi. Entah kenapa hujan turun begitu deras hingga terdengar suara petir yang menggelegar sangat keras di sertai kilatan.
Sementara itu dengan Suci, ia tak henti-hentinya menangis sepanjang perjalanan meratapi kehidupannya yang sudah tidak ada artinya lagi. Ia terduduk di pinggir jalan dengan keadaan meringkuk memeluk tubuhnya sambil mendongak ke atas untuk meresapi derasnya air hujan yang membasahi tubuhnya.
“Hiks... Ke-kenapa kamu tega sama aku Mas, kenapaaaaa! Bertahun-tahun kita bersama, tapi kamu malah memilih orang yang baru saja hadir di kehidupanmu hiks... Apa kamu tahu Mas, dia itu sebenarnya adalah wanita ular yang ingin menghancurkan kita hiks...”
“Tapi kamu enggak pernah percaya sama aku. Apa salahku Mas, apaaaa hikss... Aku kira saat aku mengatakan perpisahan kamu akan sadar dan mempertahankan aku, namun pada kenyataannya aku salah menilaimu Mas hiks...”
“Kamu tega mengiyakan perpisahan ini, padahal jelas-jelas aku yang ada lebih dulu menemanimu ketimbang dia. Namun pada akhirnya hiks... Kamu sekarang bisa menentukan pilihan, setelah berkali-kali kamu bilang bahwa kamu tidak bisa memilih di antara kita"
"Tetapi yang aku dapat sekarang adalah hiks... Jawaban atas pilihan yang sudah kamu ambil dengan memilih dia. Baiklah tidak apa-apa, aku ikhlaskan semuanya. Tapi aku berjanji akan membalaskan semua rasa sakit yang ada di dalam hatiku dengan cara lebih halus hiks... Aku hanya ingin kalian melihat jika aku bukanlah wanita lemah yang selalu kalian hina”
__ADS_1
“Aku adalah Suci, wanita kuat yang mampu berdiri dengan segala kemampuanku hiks... Aku akan buktikan pada kalian semua dan membuat kalian benar-benar sangat menyesal karena telah memperlakukanku bagaikan sampah ini hiks...”
Suci mengoceh, berteriak hingga menangis dengan keadaan tubuhnya yang sudah basah kuyup. Bahkan badannya pun menggigil, namun Suci tidak menggubris itu karena yang ia rasakan adalah sakit hati yang benar-benar sangat sakit di dalam hatinya. Seketika ia mengingat satu nama yang membuatnya tersenyum.
“Bu-Bundaaa...” ucap Suci dengan suara kecil.
Suci berdiri dan berjalan lurus menuju rumah Bunda Reni yang tempatnya tidak jauh dari saat ini Suci berada. Entah mengapa, setelah dari rumah sakit itu Suci berlari sekuat tenaga sampai ia tidak sadar jika ponselnya terjatuh bersamaan dengan tas kecilnya.
Suci terus berlari seperti ada yang mengarahkan dirinya untuk pergi ke arah rumah Bunda Reni, namun di tengah perjalanan Suci malah terduduk serta meratapi kehidupannya di bawah deresnya hujan. Kini saatnya Suci untuk kembali meneruskan perjalanannya menuju rumah Bunda Reni.
Setelah beberapa puluh menit Suci berjalan dalam keadaan yang sempoyongan, akhirnya Suci sudah sangat dekat dengan rumah Bunda Reni yang kini hanya berjarak 3 rumah jauhnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hai para readers semuanya 🤗
Perkenalkan ini adalah karya novel ke-3 Author loh 🤩
Semoga kalian menyukainya ya 🤝
Dukung Author terus dengan cara berikut :
Like 👍
Komen 📨
Favorite ❤️
Rate 🌟
Dan tidak lupa juga selipkan hadiahnya ya... 😍🙏
Bunga, kopi atau sebagainya pun tak apa kok malah lebih bagus lagi pundi-pundi receh yang berterbangan di karyaku ini hihi... 😆😜
Terima kasih 🙏🙏
__ADS_1
Papaaayyy~~~ 🤗🤗