
Ayah Al memang sangat pandai dalam memainkan tempo, sehingga Bunda Reni dari tadi tidak henti-hentinya mengeluarkan suara indahnya bersama dengan Ayah Al. Hingga kini tak terasa mereka sudah melakukan 10 hingga 15 kali pelepasan dan membuat keduanya seketika tertidur pulas akibat pergulatan panas mereka.
...*...
Jam menunjukkan pukul 3 malam menjelang pagi. Arsya terbangun dari tidurnya dengan sedikit meringis merasakan kepalanya yang pusing. Lalu ia dengan perlahan terbangun dan duduk sambil sedikit menggelengkan kepalanya. Ia melihat di meja kecil ada air minum serta obat yang sudah di siapkan oleh Suci sebelum tidur.
Arsya belum menyadari jika Suci tertidur tepat di depannya dengan beralasan sofa panjang yang empuk, kini membuat ia meminum obat itu. Setelah selesai, ia sedikit menggeleng-gelengkan kepalanya agar rasa sakitnya sedikit berkurang. Di rasa sudah mendingan, ia mencoba untuk membuka matanya dengan perlahan dan yang pertama kali ia lihat adalah Suci.
“Di-dia masih ada di sini? Kenapa dia tidur di kamarku? Bukannya di rumah ini ada banyak kamar yang kosong ya...” tanya Arsya di dalam hatinya.
Lalu Arsya beranjak dari ranjangnya dan berjalan mendekati Suci. Kemudian Arsya sedikit berjongkok di depan Sucu seraya mencoba untuk membenarkan selimut yang sedikit terbuka.
“Eeerrrggghhh...” erangan suara Suci yang sedikit mengigau serta membalikkan tubuhnya menghadap Arsya.
Arsya terdiam seribu bahasa dengan wajah merah merona, “Ca-ca-cantik...” ucapnya tanpa sadar saat menatap wajah Suci dengan sangat dekat.
Tidak lama kemudian Arsya terlena dengan wajah Suci yang begitu cantik, dan terlihat sangat alami membuat ia sedikit memajukan wajahnya. Bahkan wajah mereka benar-benar sangat dekat hanya tinggal 1 senti Arsya sudah berhasil meraih bibir kecil, indah dan sangat mempesona itu.
Namun akibat nafas Arsya begitu dekat di wajah Suci. Membuat Suci langsung membuka kedua matanya, dan...
“Aaaaaaaaa...” teriak keduanya dengan sangat kompak.
Akibat kelelahan, membuat Ayah Al dan juga Bunda Reni tidak sampai terbangun akibat teriakan mereka berdua. Suci lalu memundurkan dirinya, sambil memegang erat selimut di tubuhnya.
“Ma-Mas Arsya mau ngapain dekat-dekat saya, jangan bilang Mas Arsya mau...” ucap Suci terhenti saat Arsya menyentil dahinya.
Pletaakk !...
“Ouchhh... Sakit tahu Mas...” keluh Suci sambil mengusap dahinya dengan menggunakan satu tangannya, dan satunya lagi tetap menggenggam selimut yang melekat di tubuhnya.
“Jangan berpikir yang tidak-tidak ya, gini-gini juga saya tahu etika. Mana mungkin saya nyosor wanita kaya kamu, memangnya saya soang” ucap Arsya dengan sedikit kegugupan dan wajahnya yang memerah tersipu malu.
“Kalau memang Mas Arsya tidak mau macam-macam, lalu tadi ngapain wajah Mas Arsya di depan muka saya. Udah kaya orang mau berciu*man saja” celoteh Suci dengan polosnya.
Kata-kata Suci mampu membuat jantung Arsya berdetak sangat kencang.
Degh...
Deeghhh...
__ADS_1
Deeegghhh...
Suci yang melihat Arsya terdiam dengan wajah memerah, membuat ia semakin takut.
“Tuh kan, sekarang malah diam huaaa... Bunda tolongin Suci, anak Bunda nakal huaaa... Masa sih Suci sudah menikah mau di sosor sama soang” rengek Suci dengan wajah gemasnya.
Arsya yang sudah tersadar kembali menyentil dahi Suci dan berkata, “Hyaaakk... Dasar wanita aneh, berisik tau. Aku tuh bukan mau menciummu, tapi aku mau mengambil ini”
Arsya menunjukkan sedikit kotoran yang berada di kerudung Suci, entah kenapa membaut Suci malah cengengesan karena ia telah berseudzon pada Arsya.
“Oh itu, hehe... Ma-maaf Mas, Suci kira Mas Arsya ingin...” ucap Suci yang sedikit di tahan.
“Ingin Apa? Sekali lagi kamu bilang begitu, jangan salahkan aku kalau sentilan ketiga ini mampu membuat kepalamu benjol” ancamnya dengan wajah gugupnya, namun ia berusaha tenang.
“Ya udah iya... Suci sudah salah, maaf ya...” ucap Suci.
“Pindah ke kasur sana” ujar Arsya dengan nada mengusir.
“Ka-kasur? Ma-maksud Mas Arsya kita...”
“Kita apa lagi? Kamu berpikir jika kita akan tidur bareng begitu? Memangnya kamu siapa saya? Istri bukan, pacar bukan, saudara juga bukan. Main tidur-tidur saja nanti jika hamil bagaimana? Bisa-bisa aku di gorok habis oleh suamimu itu” celetuk Arsya yang membuat Suci kembali teringat pada perlakuan Dimas dan juga Elsa.
"Dia sama sekali tidak mempedulikan aku di belakangnya yang dari tadi melihat perlakuan romantisnya kepada wanita itu. Lalu satu lagi, sampai kapan pun aku tidak bisa memiliki anak jadi tenang saja”
Suci berbicara dengan mata yang berkaca-kaca sambil tersenyum lebar. Arsya yang mendengar semua itu seketika sangat terkejut, semua di luar dari dugaannya. Ia mengira mereka hanya melakukan hubungan terlarang dan tidak sampai kelewatan, tapi pada kenyataannya wanita itu hamil.
“Oh ya, Suci mau nanya nih... Apakah benar orang yang sering mengirimkan pesan misterius ke Suci itu adalah Mas Arsya? Soalnya tadi siang saat Suci menghubungi nomor orang itu lalu ada suara pria yang mirip sekali dengan suara Mas Arsya” tanya Suci sambil menghapus air matanya.
Arsya terdiam menggerutuki kebo*dohannya akibat keteledoran dirinya dalam menjalankan tugasnya sebagai penyamar.
“Lebih baik jujur saja Mas, Suci tidak akan marah kok. Malahan Suci mau berterima kasih, karena Mas Arsya sekarang Suci jadi tahu siapa wanita yang telah membuat Mas Dimas berubah” ucap Suci sambil duduk.
“Ya benar, pria misterius adalah aku. Jadi pada waktu ituu...” Arsya menceritakan kejadian saat ia di kantor Dimas, dimana dia melakukan penyamaran sebagai OB.
Namun di sela-sela cerita itu, Arsya tidak memberi tahu Suci jika ia mempunyai bukti yang lebih panas karena Arsya tidak mau melukai hati Suci lebih dalam lagi. Tapi jika bukti itu sangat dibutuhkan, maka Arsya akan memberikannya secara gratis.
“Terima kasih Mas, Suci tidak tahu harus membalasnya seperti apa karena Mas Arsya sudah sangat membantu Suci. Bahkan Suci pun juga ada hutang nyawa pada Mas Arsya, jadi Suci hanya bisa mendoakan semoga Mas Arsya suatu saat nanti bisa mendapatkan wanita yang terbaik dan kalian hidup bahagia tanpa adanya pelakor atau pun perselingkuhan” Suci berbicara sambil tersenyum lebar, membuat Arsya sangat tersentuh.
“Wanita ini benar-benar wanita yang sangat tangguh dan juga tidak pernah menunjukkan kesedihannya pada orang lain. Meskipun aku sangat tahu cobaan ini sangat berat untuk di hadapi sendirian, apa lagi suaminya sampai menghamili wanita lain seperti ini...”
__ADS_1
“Jika aku yang ada di posisi Dimas, maka aku tidak akan pernah menyakiti atau pun menyia-nyiakan cinta tulusnya Suci. Aku akan membuat Suci selalu tersenyum bahagia setiap harinya, serta memperlakukannya bagaikan seorang ratu di sebuah istana”
“Aku sangat-sangat yakin suatu saat nanti Suci akan menjadi sebuah intan berlian yang bersinar sangat terang, hingga ia bisa menunjukkan siapa jati dirinya yang sebenarnya serta membuat orang yang menghinanya bungkam tanpa bisa berkutik. Aku bisa pastikan satu persatu orang yang menyakitinya, akan mengemis meminta maaf padanya haha...”
Arsya bergumam di dalam hati kecilnya seolah-olah ia sudah bisa menentukan kemana arah takdir yang akan membawa Suci di masa depan yang cerah itu.
“Mas...” saut Suci sambil melambaikan tangannya di depan wajah Arsya.
Arsya yang saat ini sedang asyik membayangkan Suci di masa depan terlihat begitu berkharisma, seketika tersontak kaget dari lamunannya dan membuat ia langsung kembali pada kenyataan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hai para readers semuanya 🤗
Perkenalkan ini adalah karya novel ke-3 Author loh 🤩
Semoga kalian menyukainya ya 🤝
Dukung Author terus dengan cara berikut :
Like 👍
Komen 📨
Favorite ❤️
Rate 🌟
Share 📲
Dan tidak lupa pula selipkan hadiahnya ya 😍🙏
Bunga, kopi atau sebagainya pun tak apa kok malah lebih bagus lagi pundi-pundi receh yang berterbangan di karyaku ini hihi 😆😜
Sayang kalian banyak banyak ❤️❤️❤️
Terima kasih banyak semuanya 🙏🙏
Papaaayyy~~~ 👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻
__ADS_1