Keikhlasan Hati Seorang Istri

Keikhlasan Hati Seorang Istri
Anak-Anak Panti Asuhan


__ADS_3

Akibatnya mahasiswi tersebut hanya menurut semua perkataannya Vina dan dia juga yang mengerjakan semua tugas kuliahnya Vina.


Meskipun Vina membayarnya, namun semua itu tetap tidak baik karena mahasiswi tersebut melakukannya di bawah paksaan dan bukan dengan perasaan senang sama sekali.


Vina pun juga tidak merasa bersalah sedikit pun sudah memaksa mahasiswi tersebut. Malahan Vina merasa senang karena akhirnya dia memiliki orang yang bisa dia manfaatkan seperti ini hanya dengan menggunakan beberapa ratus rupiah dan sedikit ancaman saja.


Bray dan Vina pun masuk ke dalam kelas mereka dan tidak lama kemudian dosen mereka masuk ke dalam kelas. Pelajaran pun di mulai dan semua mahasiswa/i fokus pada pembelajaran, namun tidak dengan Vina dan juga Bray.


Mereka malah asyik bermain ponsel dan saling berkirim kabar satu sama lain, yang mana mereka sedang duduk bersebelahan. Vina dan Bray menutup ponsel mereka dengan buku sehingga dosen tersebut tidak mengetahuinya.


“Hihihi... untung saja aku dan Bray duduk di kursi paling belakang, jadi dosen killer itu tidak akan mengetahui tentang hal ini. Meskipun kami tidak bisa mengobrol, tapi kami bisa mengirim pesan seperti ini”


“Siapa suruh dosen tersebut memiliki pendengaran yang tajam, tapi pandangannya yang tidak bagus. Kalau seperti ini kami jadi tidak ketahuan sedang bermain ponsel, lalu nilai kami juga tidak akan turun karena si cupu itu”


“Kenapa juga tidak dari awal saja aku melakukan hal seperti ini, aku kan jadi tidak perlu ribet-ribet belajar malam hari sampai harus begadang. Padahal hanya dengan menggunakan uang dan ancaman aku sudah bisa mendapatkan nilai ‘B’ atau ‘A’ di setiap mata kuliah”


Vina bergumam di dalam hatinya sambil tetap mengirim pesan pada Bray yang sedang duduk di sampingnya. Beginilah kehidupan kuliahnya Vina yang semakin hari semakin tidak ada artinya lagi baginya.


Saat ini Vina benar-benar menjadi gadis yang liar dan tidak bisa di atur. Bahkan sekarang Mamah Mita serta Papah Angga yang sudah tidak peduli lagi dengan kehidupannya Vina yang seperti ini.


...*


...


...*


...


...


...


Di sebuah panti asuhan

__ADS_1


Ummi Lena sedang menyiram tanaman di kebun belakang panti asuhan, yang mana di bantu beberapa anak panti yang sudah dewasa.


“Ummi... apakah pekerjaan yang Ummi katakan waktu itu masih ada lowongan? Aku sudah mencari pekerjaan melalui internet, tapi masih tidak ada panggilan atau jawaban sama sekali” ucap salah satu anak panti.


“Maafkan Ummi ya sayang, tapi pekerjaan tersebut sudah tidak ada lagi. Tapi kamu tenang saja, Ummi akan mencoba mencarikan pekerjaan lain untukmu dan anak panti lainnya yang sudah dewasa”


“Ummi juga sudah meminta salah satu teman sekolah Ummi dulu untuk mencarikan pekerjaan di tempat dia bekerja. Sekarang kamu hanya harus terus bersabar dan berdoa untukmu dan juga teman-temanmu yang lain”


Ummi Lena berbicara sambil mengusap kepala salah satu anak panti, sambil satu tangannya yang memegang selang air. Bagaimana pun Ummi Lena di kenal sebagai Ibu panti yang paling di sayangi oleh anak-anak panti asuhan.


Bagaimana pun Ummi Lena sudah bekerja di panti asuhan tersebut selama hampir 10 tahun. Itulah sebabnya banyak anak panti yang sangat menyayangi dan mencintai Ummi Lena bagaikan Ibu kandung mereka sendiri.


“Ummi... Ummi... lihatlah ini! Semua buku tulisku di coret-coret oleh anak baru itu, dia sangat nakal dan tidak punya sopan santun. Dia bahkan memakan semua camilan sendirian yang sudah dibuatkan Bunda Wati” ucap anak panti lainnya.


“Ya ampun sayang, kamu tidak boleh bicara seperti itu tentang dia. Bagaimana pun sekarang dia adalah bagian dari keluarga kita karena dia sudah tinggal di sini dan makan bersama dengan kita semua”


“Seharusnya kita membantu dia agar bisa terbiasa dengan suasana di sini dan jadi akrab dengannya. Jika dia berbuat salah, maka kita harus menasihatinya dengan baik-baik agar dia mengerti. Bukannya malah marah dan meninggalkannya”


“Sekarang pergilah temani dia dan cobalah menjadi akrab dengannya. Ummi pikir dia akan menjadi sahabat baik denganmu karena dia juga sangat suka menggambar loh... kalau begitu kembalilah ke dalam ya sayang...”


Lalu Ummi Lena tersenyum karena anak-anak mulai mengerti apa yang baik untuk di lakukan dan apa yang tidak boleh di lakukan.


Kemudian Ummi Lena kembali menyirami tanaman yang ada di sana dan di bantu oleh anak panti lainnya. Beberapa hari yang lalu panti asuhan ‘Matahariku’ mendapatkan seorang anak yatim-piatu yang di tinggalkan tidak jauh dari panti asuhan tersebut.


Ummi Lena menemukannya menangis di pinggir jalanan menuju panti asuhan yang mana membuat Ummi Lena merasa kasihan dan membawanya ke panti.


Kemudian, anak itu cerita jika Ibunya meninggalkan di sana dan mengatakan bahwa dia akan datang kembali.


Namun sayangnya Ibunya tidak kembali selama lebih dari dua hari yang mana membuat anak tersebut kelaparan dan menangis di pinggir jalan. Lalu beberapa hari yang lalu Ummi Lena dan pengurus panti lainnya memutuskan bahwa anak tersebut akan di rawat di panti sampai Ibunya datang dan menjemputnya.


...*


...

__ADS_1


...*


...


...


...


Di sebuah perusahaan terdapat seorang pria yang sedang duduk bersandar di kursinya sambil memijit-mijit kecil pelipis matanya. Siapa itu jika bukan Papah Angga yang sedang kelelahan.


Dia beristirahat di kantornya setelah selesai menyiapkan semua kebutuhannya sebelum pergi ke luar kota untuk bertemu dengan kliennya yang baru saja dia dapatkan.


“Haahh... Rasanya aku sudah sangat lelah bahkan meskipun hari ini adalah hari libur. Tapi jika aku kembali mengingat tentang Baby Kay, aku merasa kembali bahagia dan bersemangat untuk bekerja keras”


“Bagaimana pun dia adalah cucu pertamaku, jadi aku harus menyiapkan sesuatu yang spesial untuknya dan juga Suci. Aku akan membelikan sesuatu yang spesial setelah selesai meeting dengan klienku di luar kota”


“Di sana pasti banyak barang-barang yang bagus dan keren yang bisa menjadi kado kelahirannya Baby Kay. Aaarghh... aku sudah kangen saja dengan Baby Kay, aku harap aku bisa bermain dengannya setiap hari seperti Tuan dan Nyonya Al”


Papah Angga berbicara sambil menatap fotonya bersama Baby Kay yang Arsya kirimkan ke ponselnya. Meskipun di rumahnya sudah terdapat Baby Diva, namun entah kenapa Papah Angga tidak bisa merasa sayang pada Baby Diva.


Papah Angga malah merasa sangat asing dengan keberadaan Baby Diva di rumahnya. Namun saat melihat Baby Kay untuk pertama kalinya, Papah Angga langsung merasa sangat sayang dan tidak mau berpisah darinya seperti apa yang saat ini Papah Angga rasakan.


“Baiklah, kalau begitu aku harus fokus dan bekerja keras agar aku bisa membelikan barang yang sangat mewah untuk cucuku. Semangat bekerja Angga, semua ini kamu lakukan untuk cucu tersayangmu. Fighting!!!”


Papah Angga menyemangati dirinya sendiri supaya dia bisa kembali semangat untuk bekerja. Bagaimana pun Papah Angga sudah bertekad bahwa dia akan membelikan hadiah terbaik dan termahal yang pernah dia beli untuk cucu pertamanya, yaitu Baby Kay.


Apakah ini yang di namakan dengan darah lebih kental daripada air? Mungkin memang seperti itu adanya, karena Papah Angga bisa langsung menyayangi Baby Kay yang baru pertama kali dia temui yang mana bahkan dia sendiri baru mengetahui kehadiran hari ini juga.


Dengan semua semangat yang dimiliknya, Papah Angga pun mengerjakan semua pekerjaannya yang berada di atas mejanya.


Bahkan semua tumpukan dokumen tersebut, langsung berpindah dengan cepat karena sudah di periksa dan di tandatangani oleh Papah Angga.


Meskipun Papah Angga mengerjakan semuanya dengan sangat cepat, namun dia tidak melakukan semuanya dengan tergesa-gesa dan tidak teliti.

__ADS_1


Fokus yang Papah Angga miliki semakin tajam sehingga dia tahu mana dokumen yang harus di setujui, dan mana yang harus di tolak karena akan merugikan perusahaan.


__ADS_2