
“Ck! Kenapa sih dia harus datang ke sini, dan si Elsa juga lama banget lagi. Semoga saja mereka tidak saling bertemu, kalau bertemu pasti bakalan habis aku. Apa lagi Elsa tipe wanita yang tidak mau kalah, sedangkan si Sindi tipe wanita yang keras, bagaimana ini aduh...” ucap sang suami di dalam hatinya dengan wajah gelisah.
“Sayang, kenapa wajahmu berkeringat seperti itu? Apakah kamu kepanasan? Perasaan di sini udara sejuk deh, apalagi angin sore membuat suasana jadi lebih tenang” saut Sindi saat melihat kening suaminya penuhi oleh keringat yang menetes.
“Eh... Gi-gimana kalau kita pulang saja, yuk Dari pada di sini... Lagian sepertinya aku juga tidak jadi bertemu dengan partner kerjaku, mungkin besok saja kami bertemu di kantor” ajak sang suami dengan wajah penuh ketakutan.
“Kamu kenapa sih sayang, kok wajahnya kaya orang ketakutan gitu aneh deh...” saut Sindi dengan wajah bingungnya.
“Gapapa sayang, aku cuma lagi kurang enak badan saja. Mending kita segera pulang yuk, sepertinya aku butuh istirahat supaya besok sudah pulih” ucap suaminya dengan berusaha bersikap senetral mungkin.
Sindi sedikit menaruh curiga kepada suaminya, tapi dia berusaha menepis semuanya. Mungkin saja benar kalau sang suami hanya merasakan tidak enak badan, jadi mereka harus segera pulang ke rumah. Namun di saat mereka sedang berjalan sambil bergandengan, tiba-tiba saja seorang wanita berlari kecil menabrak Sindi.
Bughh !...
Sindi dan wanita itu pun terjatuh bersamaan.
“E-Elsa? Aduh, gawat. Bagaimana ini kalau mereka tahu siapa aku, bisa-bisa aku habis di hajar oleh Sindi ” ucap pria tersebut saat melihat wajah Elsa.
“Awwwhhss... Ck! Bisa enggak sih kalau jalan itu matanya di pakai jangan cuma kaki doang. Orang lagi jalan santai-santai malah di tabrak” ucap Sindi dengan sangat kesal dan sewot.
“Maaf, Mbak. Tadi saya buru-buru karena sudah telat ingin menemui kekasih saya” jawab Elsa sambil membersihkan pakaiannya yang sedikit kotor.
“Cih! Dasar wanita tidak bisa menghargai waktu. Semoga saja kekasihmu itu memutuskan hubungannya denganmu karena kau sudah membuatnya menunggu” saut Sindi sambil merapikan pakaiannya dari tanah yang menempel.
“Heh, Mbak! Jaga ucapannya ya. Saya kan sudah minta maaf, tapi kenapa Mbaknya malah nyo*lot dan doain saya supaya putus, haah! Mbak iri dengan saya atau Mbaknya tidak laku?” jawab Elsa yang sudah mulai kesal tanpa melihat sang kekasih di samping Sindi.
“Apa katamu? Saya tidak laku? Haha... Mimpi ya Mbak, cantik-cantik gini masa enggak laku sih. Lihat nih di samping saya siapa? Dia itu suami saya, kaya dan tampan bukan? Ya dong, pasti iri ya enggak punya suami yang setampan dia haha... Kaciaan” sindir Sindi sambil merangkul sang suami yang menatap ke arah Elsa dengan penuh ketakutan.
“Ma-Mas Fa-Fajar? Jadi, ini istri yang dia bilang? Pantes saja dia tidak menyukainya toh sifatnya juga sangat sombong ” ucap Elsa di dalam hatinya sambil menatap Fajar.
“Astaga, aku mohon Sa. Jangan sampai kamu membuka mulutmu tentang siapa aku, jika kamu membukanya sekarang maka aku akan sulit lepas dari wanita ini please...” ucap Fajar di dalam hatinya sambil mengisyaratkan menggelengkan kepalanya dengan pelan hingga tidak membuat Sindi mencurigainya.
“Kenapa bengong? Pasti iri ya sama saya yang punya suami tampan dan kaya, jangan-jangan pasangan Mbak itu miskin ya haha... Makannya Mbak, cari pasangan tuh yang bermodal jangan mau di be*goin dengan cinta” ejek Sindi yang membuat Elsa semakin geram menahan emosinya.
“Kenapa kau hanya diam, Mas? Kenapa kamu tidak membela aku saat di rendahkan oleh istrimu ini. Kemana kejantananmu sebagai laki-laki, Mas! Kasih tahu dia jika aku ini adalah kekasihmu, biarkan dia syok sekalian kalau perlu jantungan biar cepat mati. Jadi, aku bisa cepat pula bisa kembali bersamamu Mas” ucap Elsa di dalam hati dengan menatap Fajar penuh arti.
“Maafkan aku sayang, aku tidak bisa berbuat banyak. Jika aku membelamu maka aku pasti akan kena marah Ibu di rumah. Aku bingung, sebenarnya aku mau membelamu tapi aku takut Ibu akan kembali berulah ” ucap Fajar di dalam hatinya.
__ADS_1
“Mbak belum pernah merasakan bagaimana rasanya saat suami kebanggaan Mbaknya ini di rebut oleh wanita lain ya...” ucap Elsa dengan senyuman devilnya.
“A-apa maksudmu, hah?! Jangan bilang kau mau merebut suamiku dari aku iya?? Jika sampai itu terjadi, maka aku akan kasih kamu pelajaran, paham!” tegas Sindi dengan wajah memerah.
“Dahlah, udara sudah tidak sehat lagi di sini. Lagian juga KEKASIHKU sepertinya sedang SIBUK!” tegas Elsa sambil menekankan kata-katanya yang membuat Fajar sedikit terkejut dan merasa tersindir.
Lalu, Elsa pergi begitu saja sambil sedikit menyenggol bahu Sindi yang membuatnya meringis kesakitan.
“Sayang, apa kamu akan selingkuh dari aku? Jika benar, aku pastikan wanita itu akan mati di tanganku. Aku tidak suka apa yang jadi milikku di rebut oleh orang lain” ucap Sindi sambil mendongak menatap wajah Fajar yang sudah berkeringat.
“Dasar wanita psikopat. Kalau sampai kau mengganggu ataupun menyakiti Elsa, maka aku akan lebih dulu menyakitimu. Lihat saja nanti, jika aku di suruh milih antara kalian lebih baik aku memilih Elsa yang sudah jelas orang yang aku cintai. Bukan seperti dirimu yang dengan senang hati menerima perjodohan ini yang padahal kamu sendiri sudah tahu jika aku mempunyai seorang kekasih ” ucap Fajar di dalam hati kecilnya.
“Sayang, kenapa kamu diam mulu sih? Aku seperti sedang mengajak patung berbicara tahu” rengek Sindi dengan wajah cemberut.
“Ya sudah lebih baik kita pulang sekarang, aku sudah cukup pusing” ucap Fajar dengan wajah datarnya.
Kemudian mereka pergi dari taman itu dan masuk ke dalam mobil untuk kembali ke rumah. Namun tidak jauh dari sana, Elsa masih memantau pergerakan mereka dari balik pohon.
“Aku tahu Mas, pasti kamu akan membelaku saat aku dilukai karena itulah kelemahanmu yang tidak bisa melihat aku terluka Tapi kau pula yang menanamkan duri di hati ini, jadi cepatlah pulang ke rumah yang seharusnya kamu tempati. Aku tahu kamu sangat tersiksa dengan sifat wanita itu yang terkadang manis, namun sedetik kemudian bisa berubah menjadi monster. Dahlah lebih baik aku kembali pulang karena besok pasti aku sudah harus mulai bekerja” gumam Elsa yang kembali berjalan mencari kendaraan agar segera sampai di kontrakannya.
...*...
...*...
Dimas dan Suci sedang duduk santai bersama Bi Ning serta Pak Mat di depan Villa. Mereka berbincang sambil meminum susu jahe buatan Bi Ning dan jagung bakar buatan Pak Mat.
“Pak, kok Dila jam segini belum pulang ya? Ibu jadi khawatir loh, mana dia anak perempuan lagi...” ucap Bi Ning dengan wajah kecemasan.
“Sabar, Bu. Sebentar lagi juga Dila pulang kok, lagian kan dia bilang sebelum berangkat kalau mau ada kerja kelompok jadi pulangnya agak malam” jawab Pak Mat.
“Tunggu saja, Bi. Siapa tahu tugasnya lagi banyak, ya namanya juga anak sekolahan ya begitu Bi. Memangnya Dila enggak ada ponsel agar bisa terus berkabar gitu?” saut Dimas.
“Mana ada Den. Orang kita juga orang tidak punya, Dila bisa sekolah tinggi pun sudah alhamdulillah ya Pak. Apa lagi Dila termasuk anak yang pintar, jadi dia mendapat beasiswa selama ini” ucap Bi Ning.
“Ya benar, Den. Saya dan istri saya bisa melihat Dila sekolah tinggi saja sudah bersyukur, apa lagi dia anak yang sangat rajin, pintar, dan penurut jadi kami sebagai orang tuanya merasa bangga dengan Dila, Den. Dila tidak pernah menyusahkan kami, bahkan kalau kami tidak memiliki uang maka Dila membantu Ibunya untuk berjualan agar bisa mendapatkan uang” ucap Pak Mat sambil tersenyum.
“Wah... Alhamdulillah ya kalau begitu, jadi Bi Ning sama Pak Mat tidak perlu repot-repot marah-marah jika anaknya bandel ya hehe...” celetuk Suci yang membuat semua tertawa kecil.
__ADS_1
“Aduh, Non. Kalau marah sih pasti ada Non, namanya juga anak-anak kadang kan suka membuat kita kesal dengan tingkahnya yang jahil. Tapi untungnya Dila tidak sampai membuat kami overdosis marahnya hehe...” canda Bi Ning.
Di saat mereka tertawa, tiba-tiba Dila datang dengan wajah lesunya. “Assalammuaikum. Bu, Pak, Bang, eh i-ini siapa?” ucap Dila di sela salamnya sambil mencium tangan semuanya secara bergantian kecuali Dimas.
Mereka semua serentak menjawab salam dari Dila, kemudian Suci tersenyum menatap kecantikan Dila.
“Hai, Dila. Perkenalkan aku Suci” ucap Suci dengan sangat ramah.
“Ya ampun, apa ini yang dinamakan bidadari surga? Oalah cantik banget... Aduh kecantikanku bisa-bisa seketika memudar ini” saut Dila dengan menatap kagum ke arah Suci.
“Kamu ini bisa saja, Dila. Aku bukan bidadari loh, kan aku enggak punya selendang. Lagian aku ini istrinya Mas Dimas” jawab Suci.
“Waaw... Se-serius ini istri Bang Dimas, Bang?” tanya Dila dengan wajah terkejut menatap Dimas yang hanya menganggukkan kepalanya penuh senyuman serta mengedipkan matanya perlahan.
“Kamu ini Dila... Dila. Kamu kaya baru lihat orang cantik saja, toh Ibu dulu waktu masih muda juga lebih cantik dari Non Suci, ya enggak Pak?” tanya Bi Ning kepada Pak Mat.
Uhuukk... Uhuukk... Uhuuukk...
Pak Mat yang sedang meminum susu jahenya seketika langsung tersedak setelah mendengar perkataan sang Istri, sedangkan Dila hanya tertawa melihat tingkah lucu kedua orang tuanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sampai di sini bab untuk hari ini ya pembaca setiaku... 😄😄😄
Mohon terus dukung Author yang masih banyak kekurangan ini 😗😗😗
Karena sibuk di RL, Author jadi belum bisa up banyak bab 🥺🥺🥺
Tapi terima kasih atas dukungan dan semangat kalian semua 🙏🏻🙏🏻🙏🏻
Author akan berusaha lebih keras untuk memberikan yang terbaik 💪🏻💪🏻💪🏻
Jaga diri kalian dan sampai jumpa di bab selanjutnya semua... 🤗🤗🤗
Terima kasih dan sayang kalian banyak-banyak pokoknya deh ❤️❤️❤️
Papaaayyy~~~ 👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻
__ADS_1