
"Andaikan hubunganku dengan Mita bisa seromantis mereka, mungkin saat ini hubunganku dengannya akan baik-baik saja. Tapi, nyatanya keegoisan telah menghancurkan segalanya. Arghh.. sudahlah, cukup aki lihatin saja mau sampai kapan dia akan seperti ini. Namun, jangan salahkan aku jika suatu saat nanti aku mulai lelah dengan semuanya, maka aku akan menyerah!"
Ya memang dulu hubungan Papah Angga dengan Mamah Mita terbilang cukup romantis, tetapi tidak seromantis Ayah Al dengan Bunda Reni yang benar-benar seperti pasangan remaja baru merasakan manisnya dunia percintaan.
...*...
...*...
Hari demi hari, Arsya bersama dengan Dion dan juga Lisa telah disibukan dengan beberapa meeting penting yang mana mereka harus kerja keras agar dalam waktu 1 minggu ini semuanya sudah beres.
Sedangkan Suci sama Bunda Reni menghabiskan waktu bermain dengan Baby Kay yang semakin hari semakin pintar, lucu dan juga menggemaskan.
Hingga akhirnya tibalah waktu yang telah di tunggu-tunggu, mereka semua bersiap untuk melakukan penerbangan menuju Paris menggunakan pesawat pribadi milik keluarga Arsya.
Namun, sayangnya. Papah Angga tidak bisa ikut lantaran kantor lagi sedikit ada gesekan jadi Papah Angga harus segera membereskannya secepat mungkin agar tidak semakin berlarut.
...*...
...*...
Di kota Paris, Prancis
Mereka semua menikmati luansa indah yang penuh dengan keromantisan, dimana mereka semua mengunjungi menara Eiffel penuh dengan keindahannya dimalam hari.
Apa lagi Ayah Al dan Bunda Reni benar-benar terkesan sangat romantis, melebihi pasangan SUAR dan juga pasangan DILIS. Ya, walaupun umur mereka jauh di atas pasangan muda tetapi banyak pasang mata yang menatap kagum ke arah Ayah Al dan juga Bunda Reni.
Selama 1 Minggu ini ketiga pasangan menghabiskan malam bersama dengan penuh kebahagiaan, bahkan tak henti-hentinya mereka mengunjungi museum Louvre dan beberapa tempat lainnya.
Tepat di H-2 sebelum kepulangan Ayah Al, Bunda Reni, Dion dan juga Lisa. Mereka semua melakukan joging bersama di daerah sungai Seine, dimana Arsya selalu menggendong erat Baby Kay dan membuat Suci agar tidak kelelahan.
__ADS_1
Tak hanya jogging. Mereka juga bersepeda, menyewa kapal, kulineran, piknik, berfoto ria dan yang trakhir mereka melakukan makan malam romantis di dalam kapal pesiar tepat di hari terakhir sebelum besok paginya kedua pasangan akan pulang ke tanah air, Indonesia.
Pagi hari tepat pukul 9, mereka sudah bersiap untuk kembali ke Indonesia yang mana keluarga kecil Arsya akan menetap di Paris beberapa tahun ke depan sampai masa kuliah Suci selesai dan juga cabang perusahaan Arsya berkembang pesat.
Kini mereka sudah berada di bandara dengan keadaan sangat bahagia, namun di balik kebahagiaan ada tangis kesedihan saat mereka harus berpisah untuk beberapa tahun ke depan. Dimana mereka tidak bisa melihat perkembangan Baby Kay setiap harinya.
Cuman, tidak menutup kemungkinan jika Bunda Reni akan kembali mengunjunginya setiap bulan bersama dengan Ayah Al yang juga akan mengunjungi cabang perusahaan di kota A yang tidak jauh dari Paris.
"Ayah sama Bunda jaga diri kalian baik-baik di sana, jangan lupa jika sudah berada di kota A langsung kabarin Arsya. Nanti jika ada waktu Arsya akan berkunjung ke sana bersama dengan Suci dan juga Baby Kay" Ujar Arsya.
"Tidak usah repot-repot. Biar kami yang akan mengunjungi cucu kami sendiri, kalian fokus saja pada tujuan kalian. Semoga apa yang akan kalian raih menjadi kenyataan, tapi ingat pesan Ayah. Sesibuk apa pun kalian jagan pernah memberikan jagak kepada keluarga, luangkan waktu untuk berkomunikasi dan juga bermain bersama Bay Kay"
"Ayah tidak mau jika Baby Kay sudah pintar mengoceh lalu dia mengeluh pada kami, kalau kedua orang tuanya selalu sibuk. Maka kami yang mendengar itu akan segera menjemput Baby Kay dan membawanya pulang ke Indonesia. Mengerti!"
"Jangan sampai kau melakukan kesalahan yang sama seperti Ayah dulu, Ayah selalu mementingkan pekerjaan sampai lalai dalam mengurus rumah tangga hingga Bundamu harus berjuang sendiri mengahadapi semua masalah tanpa mau membuat Ayah menjadi kepikiran. Itu adalah penyesalan terbesar Ayah yang tidak akan pernah Ayah lupakan"
Ayah Al memeluk pinggang Bunda Reni yang malah membuat Bunda Reni sangat terharu dengan perlakuan manis dari suaminya ini. Ya, walaupun terdengar sederhana tetapi kata-kata itu sangat membuat hati wanita tersentuh.
"Terima kasih Sayang, aku sangat beruntung memiliki suami sepertimu. Semoga kelak kita akan dipertemukan kembali di Jannahnya Allah, aamin.." Ucap Bunda Reni dengan senyum manisnya.
Aamin Allah Humma Aamin...
Semua serentak mendoakan kebahagiaan untuk Ayah Al dan juga Bunda Reni, bahkan saat ini Ayah Al tak henti-hentinya selalu memeluk pinggang istriny hingga menggenggam tangannya dan juga mencium keningnya tanpa rasa malu.
"Mbak Suci, Mas Arsya kalian baik-baik di sini ya. Jaga Baby Kay dengan baik dan jangan lupa buatkan adik untuknya. Kasihan jika dia harus bermain sendirian, pokonya cepat kembali ya.." Sahut Lisa di dalam pelukan Dion.
"Kalian jaga diri baik-baik di sini, ingat jika ada apa-apa dengan kalian segera kabari aku atau Lisa. Kalau perlu jika kau butuh bantuanku maka aku akan segera datang ke sini tanpa rem" Ucap Dion sambil tersenyum memeluk Lisa.
Seminggu terakhir ini Lisa dan Dion tidak lagi memanggil Arsya dengan sebutan Tuan. Melainkan mereka memanggil Arsya dengan layaknya seorang saudara. Dimana Lisa memanggil Arsya dengan sebutan Mas dan Dion pun memanggilnya hanya dengan menyebut nama Arsya.
__ADS_1
Lalu, Lisa menoleh serta mendongakkan menatap wajah Dion yang membuat Dion sedikit bingung. Hingga perkataan Lisa mampu membuat Dion gemas bercampur kesal.
"Kalau kamu ke sini enggak pakai rem, berarti itu tandanya remmu blong dong? Bisa-bisa kamu nyungsep dan wajah tampanmu ini akan rusak. Tapi, gapapa kok aku ikhlas jadi nanti aku bisa kembali mencari calon suami baru yang tampan seperti Oppa Jimin"
"Huaaa.. kayanya kita harus pergi honeymoon ke Korea deh, kan disana banyak Oppa-Oppa yang behhh.. auto langsung segernya mataku kalau lihat yang bening-bening"
Celoteh Lisa berhasil membuat Dion kesal dan langsung mencubit keras hidung Lisa hingga meringis kesakitan tak lupa tangan Dion masih menahan pinggang Lisa agar selalu berada di pelukannya.
Mereka hanya bisa tertawa kecil melihat Dion dan Lisa yang selalu saja bertengkar, ya walaupun pertengkaran mereka bukalah pertengkaran hebat melainkan mereka ribut hanya karena Lisa yang tidak hentinya menjahili suaminya dengan membuatnya merasa cemburu.
"Hihihi.. sudahlah jangan pada berantem di sini, mending kalian cepat pulang dan teruskan berantemnya di kamar biar ada hasilnya dari pada di sini tidak membuahkan hasil hayo.." Ledek Suci sambil menggendong Baby Kay.
"Ya sudah sana buruan pulang, aku sudah malas melihat keributan ini. Lagian juga aku akan segera pulang biar bisa membuatkan Baby Kay adik yang banyak, kalau perlu Ayah dan Bunda juga gapapa buatkan aku adik yang banyak biar kita bisa membuka TK unutuk anak-anak kita hahah.." Canda Arsya yang malah mendapatkan tendangan maut dari Bunda Reni tepat di masa depannya.
Buggghhh..
"Huaaaaa... arrghhh.. Bunda jahat! Kenapa ditendang sih, nanti kalau rusak bagaimana caranya aku bisa membuatkan Baby Kay adik yang banyak!!" Pekik Arsya sambil membungkuk memegangi Jagoar yang kini berasa sangat ngilu.
Semua hanya bisa tertawa melihat wajah Arsya yang mulai merah akibat masa depannya telah mendapat hadiah perpisahan dari sang Bunda. Bahkan Baby Kay selalu bertepuk tangan ketika melihat ekspresi wajah Daddynya begitu lucu.
"Biarkan saja, lagian juga tidak akan rusak. Paling cuman tidur lama. Tapi jika sudah kena sentuhan tangan Suci pun dia akan langsung bangkit lagi hingga berdiri tegak tanpa di suruh. Hahah.." Goda Bunda Reni yang berhasil membuat tawa semuanya pecah hanya saja Suci dan Arsya begitu malu hingga mereka cuman bisa tersenyum serta terkekeh kecil.
Sampai seketika mereka semua saling berpelukan satu sama lain dengan air mata yang menetes di sela-sela lambaikan tangan dan juga senyuman.
Dimana Ayah Al, Bunda Reni, Dion dan juga Lisa langsung menaiki tangga pesawat dengan berbalik menghadap Suci serta Arsya, lalu melambaikan tangannya dan sesekali memanggil nama Baby Kay dengan ucapan perpisahan.
Hingga Arsya memeluk pinggang Suci sambil menatap pintu pesawat yang mulai tertutup, dan pesawat pun berjalan perlahan menjauhi mereka lalu mulai melambung tinggi di udara.
Arsya tersenyum menatap Suci serta menghapus air matanya dan juga mencium keningnya. Kemudian Arsya mengambil alih Baby Kay di dalam pelukannya, lalu mereka berjalan meninggalkan bandara untuk kembali ke Mansion yang mereka tempati untuk beberapa tahun ke depan.
__ADS_1