
“Waaw... Se-serius ini istri Bang Dimas, Bang?” tanya Dila dengan wajah terkejut menatap Dimas yang hanya menganggukkan kepalanya penuh senyuman serta mengedipkan matanya perlahan.
“Kamu ini Dila... Dila. Kaya baru lihat orang cantik saja, toh Ibu dulu waktu masih muda juga lebih cantik dari Non Suci, ya enggak Pak?” tanya Bi Ning kepada Pak Mat.
Uhuukk... Uhuukk... Uhuuukk...
Pak Mat yang sedang meminum susu jahenya seketika langsung tersedak setelah mendengar perkataan sang Istri, sedangkan Dila hanya tertawa melihat tingkah lucu kedua orang tuanya.
“Nah kan lagian sih Ibu ada-ada saja, mana mungkin Ibu bisa secantik Kak Suci. Paling juga kalau Kak Suci bidadari surga, kalau Ibu cuma kembang desa yang harus di siram terus menerus supaya tidak layu haha...” canda Dila yang membuat semuanya kecuali Bi Ning ikut tertawa.
“Ya ampun, anak ini bisa-bisanya baru pulang sudah membuat kesal. Pak lihatlah anakmu ini, ngeselinnya sama kaya kamu” ucap Bi Ning dengan wajah kesalnya.
“Anakku? Anak kita berdualah Bu, orang bikinnya berdua. Mana ada kalau jeleknya doang di limpahin ke Bapaknya, bagian bagusnya saja di limpahin ke Ibunya” ucap Pak Mat dengan spontan.
“Ya memang bikinnya berdua, tapi kan Bapak yang ngadoninnya siapa tahu kan ada yang salah. Ibu sebagai pabriknya cuma bisa memproduksi doang, jadi kalau jadinya begini berarti ya karena Bapak dong” celetuk Bi Ning.
Suci yang benar-benar tidak tahu maksud dari pembicaraan itu pun langsung berbisik kepada Dimas.
“Mas, itu maksud Bi Tin apa ya? Mamangnya Dila di buatnya dengan adonan apa? Terigu? Sagu? Atau tepung beras? Kalau memang bisa, Suci mau ikutin caranya biar kita juga bisa punya anak” bisik Suci yang membuat Dimas membolakan matanya tak percaya betapa polosnya Suci saat ini.
“Ya Allah, aku ada dimana ini? Bisa-bisanya istriku berpikir seperti itu? Jika anak bisa di buat dari tepung terigu pasti jadinya keras, kalau di buat dari tepung sagu jadinya semelehoi, dan kau di buat dari tepung beras jadinya kenyal-kenyal. Ya ampun... Mau jadi apalah anakku nanti, bisa-bisa jika di satukan akan menjadi adonan bakwan yang gurih, renyah dan sekal ” ucap Dimas di dalam hatinya dengan wajah abstraknya.
“Ibu sama Bapak ngomongin apa sih, pabriklah adonanlah. Memangnya kalian mau bikin anak apa bikin adonan sih mana ada seperti itu, atau mau Dila bikinkan yang lebih bagus, hem...” goda Dila dengan mengangkat-angkat alisnya.
“Dilaaaa...” teriak Bi Ning dan Pak Mat bersamaan.
“Bhaah... Cie panik enggak? Panik enggak? Ya paniklah masa enggak slebeww...” ucap Dila sambil tertawa geli.
“Gitu tuh, kalau Ibu suka berbicara ngelantur jadi anaknya ngikutin” ucap Pak Mat.
“Yakkk... Enak saja, lagian Dila sudah besar kok jadi dia pasti pahamlah. Toh Non Suci juga pasti ngerti kan ya?” tanya Bi Ning.
“Hah? A-apa Bi Ning, Suci enggak ngerti. Tadi saja Suci nanya ke Mas Dimas bagaimana cara membuat anak tanpa kita bergoyang, seperti Bi Ning tadi yang menggunakan adonan itu” celetuk Suci dengan polos.
“Haaaahh?” sontak Bi Ning dan Pak Mat melongokkan wajahnya hingga membuka mulutnya tak percaya.
“Bhahaha...” Dila hanya bisa tertawa terpingkal-pingkal sambil duduk dan memegangi perutnya.
Sedangkan Dimas hanya bisa berbicara di dalam hatinya. “Sabar Dimas, sabar... Ini ujian untukmu karena memiliki istri sepolos Suci, jadi terima saja nasibmu ini ”
“Aduh, Suci salah ngomong ya? Maaf ya Bi” ucap Suci dengan wajah bingungnya.
Bi Ning dan Pak Mat kemudian menelan ludahnya yang hampir saja menetes dan mengatanan “Eh i-iya, Non. Enggak kok Non enggak salah. Kami saja yang terlalu ketinggian kalau ngomong hehe...” saut Bi Ning.
“Aduh, haha... Kak Suci ternyata sangat polos ya haha... Hati-hati Bang takutnya nanti di gondol sugar Daddy, dia langsung kepincut haha...” ucap Dila yang membuat Dimas terkejut.
__ADS_1
“Yakkk... Enak saja, tidak! Tidak akan aku biarkan istriku di ambil oleh pria me*sum seperti itu. Lagian juga istriku tidak akan paham apa itu sugar Daddy, ya kan sayang” tanya Dimas.
“Aku tahu kok, Mas. Sugar Daddy berarti Ayah yang manis dong, wah... Seperti Mas Dimas dong, sugar Daddy. Eh ta-tapi kan Mas Dimas belum jadi Ayah, jadi bagaimana kalau Mas Dimas sugar Mas saja biar manis kaya Mas-mas hihi...” celetuk Suci yang membuat semuanya tertawa gemas mendengar kepolosan Suci dan Dimas yang langsung menepuk jidatnya.
“Untung sayang, kalau enggak sudah aku buang ke samudra. Ternyata enggak mudah ya punya istri sepolos Suci. Benar apa kata Dila, jika aku tidak menjaganya kemungkinan akan ada sugar Daddy yang merebutnya. Ya ampun, nasibku begini banget sih. Suci cepatlah keluar dari zonamu sayang...” ucap Dimas di dalam hatinya.
Setelah mereka selesai dari canda tawanya, kini Dila pergi ke rumahnya untuk membersihkan diri dan mengganti pakaiannya. Lalu, ia kembali berkumpul dengan yang lain untuk memakan jagung bakar.
“Dila apa kamu tidak memiliki ponsel?” tanya Dimas sambil memakan jagung bakar.
“Hem... tidak Bang, kenapa?” jawab Dila.
“Lalu, jika ada tugas yang mengharuskan kamu menggunakan ponsel bagaimana?” tanya Dimas.
“Ya aku kerja kelompok kaya tadi Bang, jadi kita bisa mengerjakannya bersama-sama” saut Dila sambil kembali memakan jagung bakar.
“Ya sudah, sekarang kamu ganti baju gih nanti ikut aku sama Suci jalan-jalan” ucap Dimas.
“Hah? Jalan-jalan kemana Bang?” tanya Dila dengan wajah terkejut.
“Ya loh, Mas. Ini sudah malam apa tidak bisa besok pagi saja kita jalan pagi. Lagian kalau jalan-jalan di malam hari dengan udara sedingin ini bukannya sehat malah sakit” ucap Suci.
“Bukan jalan-jalan seperti itu sayang, maksudku jalan-jalan kaya pergi ke Mall gitu loh. Lagian kan besok pagi kita harus pulang, karena tadi aku dapat kabar dari Dion kalau besok ada meeting penting dan aku tidak bisa membatalkannya” ucap Dimas.
“Oh gitu, ya sudah bagaimana baiknya Mas saja aku mah tinggal ikut hehe...” ucap Suci sambil tersenyum.
“Tidak, Den. Biar Dila saja, lagian kami mending di sini bisa kembali mengenang masa-masa muda berdua tanpa di ganggu Dila” sindir Bi Ning.
“Hem... Senang ya berduaan terus, hati-hati kebobolan. Dila sudah sangat dewasa jadi jangan sampai memiliki adik yang mana malah seperti Ibu dan anak kalau nanti jalan bareng” saut Dila dengan nada sewot.
“Ya enggak mungkinlah Dila. Bapak dan Ibumu sudah tua loh, jadi tidak mungkin bisa memiliki anak lagi. Paling cuma main celap-celup angkat gitu saja, ya kan Bu?” tanya Pak Mat.
“Ya benar, Pak. Biar sawah Ibu tidak kering. Lagian setiap Ibu berdua sama Bapak kamu selalu saja nongol kek orang ke tiga” sindir Bi Ning.
“Yayaya, terserah kalian saja. Jangan lupa kalau habis celap-celup langsung di bersihkan takut lengket haha...” ucap Dila langsung kabur untuk bersiap-siap.
“Yakk... Dasar anak menyebalkan, bisa-bisanya mengajarkan kami” teriak Bi Ning.
“Sudah Bu, sabar jangan marah-marah nanti overdosis bahaya bisa-bisa Bapak yang kena sasarannya” ucap Pak Mat.
Dimas hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat keluarga mereka yang begitu ceplas-ceplos. Tapi tiba-tiba, Dimas berhenti tertawa dan terkejut dengan arti dari omongan Pak Mat, Bi Ning dan Dila.
“Gawat ini... Belum juga ada seminggu di sini saja sudah hampir membuat kepolosan Suci ternodai. Tapi, untunglah kepolosannya Suci tidak sampai tergoyahkan sepenuhnya ” ucap Dimas di dalam hatinya.
Suci yang memang sudah sangat bingung itu membuat kepalanya berpikir keras hingga sedikit membuatnya pusing. Lalu Suci yang sudab pusing memikirkan jawabannya, hanya bida bertanya pada suaminya.
__ADS_1
“Celap-celup? Itu permainan apa Mas?” tanya Suci dengan wajah super polos bercampur bingung menatap Dimas.
“Sudah jangan di pikirkan, kamu segeralah ganti baju gih. Aku pakai ini saja dan jangan lupa tolong bawakan jam tangan, switer, kunci mobil dan dompet ya sayang” ucap Dimas.
“Ya sudah, sebentar ya Mas. Bi Ning, Pak Mat Suci ganti baju dulu ya...” pamit Suci sambil berjalan menuju kamarnya untuk bersiap-siap.
Saat mereka sudah melihat Suci semakin jauh, kemudian Bi Ning membuka suaranya, “Den apakah Non Suci setiap hari seperti itu?” tanya Bi Ning.
“Ya, Bi. Dia memang sangat polos, jadi kalau pun aku ingin bermain dengannya harus di panaskan lebih dulu jadi tidak membuatnya terlalu kaku hehe...” saut Dimas sambil cengengesan.
“Beruntung ya, Den bisa dapetin istri seperti itu. Tidak seperti saya, bahkan anak kami pun terasa tercemar oleh ibunya yang berbicara ceplas-ceplos tidak tahu tempat” celetuk Pak Mat.
“Yang ceplas-ceplos itu jauh lebih baik dari pada yang munafik, Pak. Lagian juga kalau Bapak tidak suka sama Ibu, kenapa dulu mengejar Ibu sampai segitunya. Padahal Bapak tahu kalau Ibu ini banyak yang suka” jawab Bi Ning dengan penuh percaya diri.
“Yayaya, terserah Ibu saja” saut Pa Mat yang tidak mau mengambil pusing.
Bi Ning yang merasa menang itu langsung tersenyum dan tak lupa ia menyeruput susu jahenya sambil kembali memakan jagung bakar. Dila dan Suci yang sudah bersiap kini langsung berjalan mendekati mereka semua, kemudian mereka bertiga pamitan kepada Bi Ning dan Pak Mat.
Lalu, Dimas langsung mengemudikan mobilnya meninggalkan Villa menuju Mall yang cukup memakan waktu agar bisa sampai ke sana.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hai para readers semuanya 🤗
Perkenalkan ini adalah karya novel ke-3 Author loh 🤩
Semoga kalian menyukainya ya 🤝
Dukung Author terus dengan cara berikut :
Like 👍
Komen 📨
Favorite ❤️
Rate 🌟
Share 📲
Dan tidak lupa pula selipkan hadiahnya ya 😍🙏
Bunga, kopi atau sebagainya pun tak apa kok malah lebih bagus lagi pundi-pundi receh yang berterbangan di karyaku ini hihi 😆😜
Sayang kalian banyak banyak ❤️❤️❤️
__ADS_1
Terima kasih semuanya 🙏🙏
Papaaayyy~~~ 🤗🤗