Keikhlasan Hati Seorang Istri

Keikhlasan Hati Seorang Istri
Saya Titip Suci Pada Kalian


__ADS_3

Bahkan saat ini Suci lupa jika dirinya sedang menggunakan kebaya, sehingga langkah kakinya tidak bisa cepat. Sedangkan Arsya hanya mengikuti Suci dari arah belakang dengan langkah kaki yang besar dan membuat jarak di antara mereka tidak terlalu jauh.


Namun Arsya bisa melihat bagaimana bahagianya Suci yang wajahnya penuh dengan keceriaan saat meledeki dirinya. Bahkan Arsya pun rela jika dia menjadi bahan lelucon untuk Suci, asalkan Suci bisa tetap tersenyum seperti sekarang.


Suci berlari dengan penuh kesenangan hingga ia tidak melihat kalau di depannya terdapat sebuah batu berukuran sedang. Lalu ia tersandung dan hampir saja terjatuh. Arsya yang dari tadi sigap menjaga Suci, langsung refleks menarik Suci ke dalam pelukannya.


Buuuugghhh...


Kening Suci menabrak dada bidangnya Arsya yang kekar bagaikan sebuah tembok yang begitu keras.


Deghh...


Deegghh...


Deeeggghhh...


Jantung Arsya berdetak sangat cepat, sehingga Suci bisa mendengar suara tersebut dari telinganya.


“Astagfirullah, jantung Mas Arsya kenapa cepat sekali bekerjanya. Apa jangan-jangan dia terkena serangan jantung ya...” gumam Suci di dalam hatinya dengan wajah begitu panik.


Tetapi berbeda dengan Arsya, ia malah menikmati betapa hangatnya pelukan itu sehingga membuat kedua matanya tertutup rapat.


“Kenapa rasanya sangat nyaman, dan kenapa juga aku seperti tidak mau melepaskannya dari pelukanku ya...” ucap Arsya di dalam hati kecilnya.


Di persekian detik, Suci baru menyadari jika ini adalah sebuah kesalahan. Lalu Suci langsung melepaskan pelukannya dari tubuh Arsya dan membuat Arsya kehilangan keseimbangan tubuhnya.


Buugghhh...


Arsya terjatuh di atas rerumputan kecil berwarna hijau dengan keadaan mata yang masih tertutup. Kemudian ia membuka matanya secara perlahan.


“Sakit! Be-berarti tadi aku hanya mimpi dong ?” tanya Arsya di dalam hatinya karena ia menyadari jika itu adalah sebuah mimpi baginya.


Namun tidak dengan Suci, ia yang melihat Arsya terjatuh jadi merasa bersalah dan juga kasihan.


“Mas Arsya tidak apa-apa kan? Ma-maaf karena Suci sudah me-mendorong Mas Arsya begitu kencang. Suci tidak sengaja” ucap Suci sambil menunjukkan raut wajah sedihnya.


Arsya kembali bangkit serta sedikit membersihkan bokongnya, namun di sela-sela itu ada 2 orang yang sedang berjalan mendekati mereka.


“Mbak Sucii...” teriak seorang wanita yang tidak lain adalah Lisa dan ia berlari kecil mendekati Suci.


“Ya ampun, Mbak. Lisa cari-cari dari tadi ternyata ada di sini toh..." Lisa menoleh ke arah Arsya yang membuatnya terkejut.


“Loh Tuan Arsya... Ke-kenapa Tuan ada di sini? Da-dari mana Tuan tahu?” cecar Lisa yang mewakilkan pertanyaan Dion.


“Aku hanya sedang lewat saja, dan tidak sengaja melihat dia sedang duduk di sini sambil menangis. Jadi saya coba samperin”

__ADS_1


“Ya sudah kalau begitu, karena sekarang sudah ada kalian jadi aku pamit permisi” Arsya yang sudah terlanjut ketahuan, ia langsung saja berpamitan agar tidak membuat kedua karyawan Dimas mencurigainya.


Arsya meresa takut jika Suci di tuduh memiliki hubungan dengannya, maka itu akan semakin membuat Suci menderita. Suci hanya bisa terdiam, ia juga takut jika Lisa dan Dion berpikir buruk tentangnya. Jadi suci tidak berani berkata apa pun sebelum ia tahu apa yang ada di dalam pikiran mereka.


Arsya pergi meninggalkan mereka semua, namun siapa sangka jika Dion malah mengikutinya dari arah belakang. Di saat sudah mulai menjauh dari tempat Suci dan Lisa, Dion mencoba untuk memberhentikan Arsya.


“Tunggu Tuan Arsya, boleh saya berbicara” ucap Dion dengan wajah seriusnya.


Arsya pun berhenti serta membalikkan tubuhnya menghadap Dion. Arsya mengerutkan dahinya dengan tatapan menyipit karena hari sudah semakin panas.


“Ada apa Tuan Dion?” tanya Arsya saat melihat Dion mendekatinya.


“Bisakah Tuan menjelaskan bagaimana Tuan bisa mengenal Bu Suci? Karena yang saya lihat tadi, sepertinya kalian sudah sangat dekat” ucapan Dion mampu membuat Arsya bingung, ia tidak tahu harus menjawab apa.


Bahkan Arsya pun takut jika salah menjawab bisa-bisa Suci yang akan terkena imbasnya. Arsya terdiam sejenak mencari jawaban yang pas untuk menjawab semua pertanyaan Dion, namun tanpa di sangka Dion kembali bersuara yang membuat ia terkejut.


“Tidak usaha takut, Tuan. Saya sudah tidak bekerja di perusahaan Tuan Dimas. Saya sudah mengundurkan diri bersama Lisa sekretaris dari Tuan Dimas. Saya hanya ingin mengetahu bagaimana kalian bisa saling mengenal tanpa melalui Tuan Dimas” ucap Dion.


“Baiklah, saya yakin kau bisa di percaya. Jadi begini ceritanya...” Arsya menceritakan pertama kali ia bertemu dengan Suci sampai sang Bunda yang mengangkatnya sebagai anak.


Dion menganggukkan kepalanya sambil mendengarkan cerita tersebut, ia sekarang paham kenapa mereka terlihat sangat akrab.


“Bagaimana? Apa sudah jelas, atau masih ada yang mau di tanyakan?” ucap Arsya.


“Tidak, Tuan. Terima kasih atas kejujurannya, saya janji akan menjaga semua rahasia ini” ucap Dion sambil sedikit tersenyum.


“Ohh... Satu lagi, selalu berikan dia support agar bisa terus bangkit dari ke terpurukannya. Apa lagi saya tahu betul jika Suci itu masih sangat mencintai suaminya, jadi pastinya dia akan mudah sekali kembali menjadi wanita lemah”


Arsya sedikit mengukirkan senyuman kepada Dion yang membuat Dion menganggukkan kepalanya.


“Sebegitu perhatiannyakah Tuan Arsya kepada Suci? Tapi apa yang dikatakannya memang betul. Suci pasti sedang berusaha menata dirinya untuk menjadi wanita kuat, namun ia selalu gagal oleh cintanya hah...” gumam Dion di dalam hatinya.


“Ya sudah saya banyak pekerjaan yang harus saya kerjakan, saya pamit...” ucap Arsya sambil memakai kaca matanya.


Lalu Dion berbalik dan berjalan meninggalkan Arsya. Hanya 2 langkah ia berjalan, Arsya kembali menoleh ke arah Dion.


“Besok datanglah ke perusahaanku bersama temanmu itu pukul 9 pagi” ucap Arsya langsung pergi begitu saja yang diikuti oleh bodyguard yang menjaganya.


Setelah tubuh Arsya menghilang Dion kembali berjalan mendekati Suci dan juga Lisa.


Takk...


Takk...


Takk...

__ADS_1


Dion berjalan mendekati mereka, namun tiba-tiba saja Lisa langsung memarahinya.


“Dari mana saja sih, apa kamu tidak tahu tadi Mbak Suci hampir saja pingsan karena kecapean. Di tambah cuacanya semakin panas, belum lagi tadi dia habis menghadapi badai yang cukup besar. Kamu bukannya mendampingi, malah mengejar Tuan Arsya yang tidak penting”


“Untung saja aku kuat, dan langsung aku bawa Mbak Suci ke dalam gedung biar terkena Ac supaya suhu tubuhnya kembali stabil. Bagaimana jika tadi aku tidak kuat memapah Mbak Suci, bisa-bisa dia akan terjatuh dan terluka”


Lisa mengomeli Dion tanpa jeda, sehingga sedikit membuatnya merasa kebingungan sambil menggarukkan kepalanya yang tidak gatal.


“Apa sih Lis, baru juga datang sudah marah-marah. Lagian aku mengejar Tuan Arsya karena ingin meminta pertolongan supaya kita bisa kembali bekerja, ini malah nyerocos mulu kek cocor bebek” sahut Dion dengan wajah kesalnya, ia berusaha membohongi Lisa hanya karena Dion berpikir jika ini bukan waktunya yang tepat untuk menceritakan padanya.


“Se-se-serius... Apa yang kamu ucapkan tadi? Kamu enggak bohong kan? Awas saja kalau kamu bohong ya, aku pites-pites jadiin perkedel baru tahu rasa” ucap Lisa sambil sedikit mengancam Dion.


“I-iya benar kok, bahkan kita di suruh datang ke sana besok pukul 9 pagi. Jadi stop untuk berpikir jelek tentangku, paham!” tegas Dion sambil pergi meninggalkan Lisa.


“Iisssshhhh...” gereget Lisa sambil mengentakkan kakinya sambil dia berdiri dengan wajah imutnya.


“Ya Allah kenapa Engkau menciptakan makhluk menyebalkan seperti dia, tidak bisakah Engkau membuat ciptaan yang lebih bagus dari ini. Setidaknya yang manja, perhatian, pengertian dan juga romantis. Tidak seperti Dion-Dion itu” gumam Lisa dengan wajah yang semakin kesal dan tidak lama Dion kembali menatap Lisa.


“Ngapain masih di situ? Mau ganti kulit?” ucap Dion dengan nada dinginnya sambil sedikit menyipitkan matanya.


“Yaaaaa... Enak saja, kamu kita aku ular apa pakai acara ganti kulit segala” pekik Lisa yang langsung berjalan mendekati Dion.


Kemudian keduanya melirik satu sama lain dengan tatapan yang berbeda. Lisa menatap Dion karena ia kesal padanya, namun Dion malah menatap Lisa penuh kebingungan. Lalu Lisa berjalan mendahului Dion sambil membuang wajahnya.


“Huummpp... Menyebalkan” sahut Lisa sambil pergi begitu saja.


“Begini nih jika sudah berurusan dengan seorang wanita, apa pun yang di lakukan semua serba salah. Padahal kan niatku baik, biar dia enggak terus-terusan berjemur di bawah matahari ehh... Tapi ini malah marah-marah enggak jelas, dasar Lioness” gumam Dion sambil berjalan mengikuti Lisa ke dalam gedung.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sampai di sini dulu ya cerita untuk hari ini guys... 😁😁😁


Semoga kalian menyukai ceritanya dan enjoy your time... 🤗🤗🤗


Mohon dukungan kalian semua untuk karya baru Author ini 😊😊😊


Serta karya-karya Author lainnya yang semoga kalian juga sukai 😄😄😄


Terima kasih kepada kalian semua yang sudah mendukung Author 🙏🏻🙏🏻🙏🏻


Juga terima kasih bagi kalian yang setia membaca karya Author 🥰🥰🥰


Jaga diri kalian dan sampai jumpa di bab selanjutnya semua... 😆😆😆


Sayang kalian semuanya... ❤️❤️❤️

__ADS_1


Papaaayyy ~~~ 👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻


__ADS_2