
Di rumah yang cukup besar, ada sepasang suami istri sedang cekcok dengan saling menunjukkan keegoisannya masing-masing.
“Mau kemana lagi kamu, hah! Apa tidak bisa kamu sehari saja di rumah untuk mengurus diriku yang sedang sakit ini? Kenapa harus teman-temanmu yang lebih kau utamakan? Lalu aku ini siapa untukmu?” ucap seorang suami pada istrinya sambil duduk di atas ranjang dengan keadaan kurang sehat.
“Ya ampun Fajar sayang, di rumah ini kan ada Bibi. Jika kamu butuh apa-apa tinggal teriak kan bisa. Lagian juga aku pergi hanya sebentar kok enggak akan lama, janji deh...” jawab Sindi sambil merapikan hiasan wajahnya.
“Jika kau belum siap untuk menikah, kenapa kemarin kamu menyetujui perjodohan ini hah! Padahal sudah jelas kalau aku ini sudah memiliki seorang kekasih, lalu kenapa kamu malah mendesak keluargaku?” tanya Fajar dengan penuh emosi.
“Ya namanya juga keluarga kita sudah sepakat untuk menjodohkan kita, kenapa aku menolak? Lagi pula suami yang aku dapatkan sangat tampan dan juga kaya, jadi apa alasanku untuk menolaknya” ujar Sindi dengan kecuekannya.
“Oh begitu rupanya. Jadi jika aku jelek dan tidak memiliki penghasilan, lalu kamu akan menolakku begitu?” lagi dan lagi, Fajar mengorek semua tentang istrinya yang hanya menikahinya karena sebuah harta.
Namun dengan kecerdikannya, diam-diam Fajar sudah merekan semua yang di ucapkan Sindi saat ini untuk bukti agar ia bisa menceraikan istrinya. Fajar berencana setelah bercerai, ia akan segera menikah dengan Elsa yang mana orang yang sangat ia cintai.
“Ya jelas dong, jika kamu tidak memiliki apa-apa lalu ngapain aku mau denganmu? Toh aku dari lahir juga tidak pernah bisa hidup dalam kesusahan” ucap Sindi tanpa melihat Fajar.
“Baiklah, aku akan memberikan semua hartaku padamu. Tapi dengan syarat, kalau kita harus berpisah” tegas Fajar yang membuat Sindi langsung menoleh dan menatapnya dengan tatapan intens.
“Apa? Pisah? Apa kamu tidak salah berbicara seperti itu? Memangnya apa yang kurang dari aku, Fajar? Apa? Katakan!”
“Bahkan aku dan kekasihmu itu juga, lebih jauh aku kemana-mana. Aku cantik, sek*si, kaya raya, bermodis dan juga bisa memberikan dirimu kepuasan yang lebih dari apa yang sudah kamu dapatkan dari wanita itu”
Sindi berjalan perlahan mendekati Fajar yang duduk di kasur. Lalu dengan perlahan dan tersembunyi, Fajar menyingkirkan ponselnya agar tidak sampai ketahuan.
“Kata siapa? Kamu dan kekasihku masih jauh lebih baik kekasihku. Dia jauh lebih mengerti aku dan juga tidak mau melihatku seperti ini. Coba saja jika dia tahu aku sedang sakit, pasti dia akan segera menemuiku tidak seperti kamu, Sindi!!!”
“Di saat suamimu sakit, kamu malah ingin bersenang-senang dengan temanmu itu tanpa mempedulikan aku yang terbaring lemah seperti ini”
“Jika kamu terus berlaku seperti ini padaku, jangan salahkan aku kalau suatu saat nanti aku kembali pada kekasihku itu!! Cepat atau lambat aku akan segera menceraikan kamu. Apa pun caranya, aku akan lakukan demi keluar dari pernikahan palsu ini!!
Fajar berbicara dengan sangat lantang sambil menatap Sindi yang berdiri tepat di hadapannya. Hanya dengan hitungan menit, kini Sindi sudah berhasil mencekam rahang Fajar dengan cukup kuat. Kemudian Sindi sedikit membungkukkan badannya sambil melototkan matanya hingga jarak wajah mereka hanyalah sebatas 1 jengkal.
“Jika kamu berani bermacam-macam padaku, jangan salahkan aku jika kekasihmu itu tidak bisa lagi melihat indahnya dunia, paham!” ancam Sindi sambil mengempaskan wajah Fajar dengan kasar.
“Dasar wanita psikopat! Wanita berdarah dingin! Bisa-bisanya kau berbicara seperti itu terhadap kekasihku, sedangkan aku saja tidak pernah mengancam kekasihmu. Dan satu lagi, jangan kau pikir aku tidak tahu jika sampai detik ini kamu masih berhubungan dengan kekasihmu itu!” tegas Fajar.
“Terus? Memangnya kenapa jika aku masih berhubungan dengan dia? Kamu iri haha... Kasihan, tapi maaf saja, apa yang aku punya tidak akan bisa di rebut oleh siapa pun. Jadi ingatlah baik-baik hal ini, suamiku sayang... Wanita yang berada di depanmu ini bisa melakukan apa pun untuk membuat apa yang ia genggam tidak sampai terlepas”
Sindi terus saja menekan batin Fajar, yang mana Fajar sebagai laki-laki tidak bisa berkutik. Dari awal Fajar tahu jika istri yang saat ini di nikahinya, adalah wanita gila yang bisa melakukan apa pun dengan mudahnya. Entah kenapa, nyali Fajar sebagai laki-laki tidak lagi berfungsi. Dia sangat mengkhawatirkan kondisi Elsa.
Ya meskipun Sindi belum tahu bagaimana wajah Elsa, namun Fajar tetap harus bisa melindungi Elsa apa pun caranya. Dia juga harus mencari cara supaya secepatnya bisa terlepas dari wanita gila yang saat ini di hadapannya.
__ADS_1
Untung saja ponsel Fajar tidak sampai ketahuan jika ia merekam semua itu, karena ini merupakan hal penting baginya supaya bisa menjebloskan Sindi ke dalam tahanan atas ancaman yang ia berikan pada Fajar selama ini.
“Maafkan aku sayang, kamu pasti ketakutan ya. Habis kamu sih buat aku marah, jadi aku kelepasan deh hehe... Yasudah aku pergi dulu ya, dan sebagai imbalannya aku akan memuaskanmu nanti malam. Cepat sembuh sayang... muaachh...” Sindi berbicara lembut sambil mengusap rahang Fajar dan mencium keningnya.
Lalu Sindi pergi dengan keadaan tersenyum seolah-olah Sindi sudah melupakan kejadian tadi. Namun di dalam hati, ia selalu cemas dengan kekasih hatinya Fajar itu. Dia tidak mau jika apa yang ia punya di rampas oleh orang lain.
Di sisi lainnya juga Sindi tidak mau meninggalkan kekasihnya, egois bukan? Ya itulah sifat Sindi, ia selalu mau menang tanpa mau memikirkan perasaan orang lain. Sindi pun berjalan keluar rumah dengan meninggalkan suaminya yang sedang sakit tak berdaya di kamar mereka.
“Sepertinya sudah bukan saatnya untukku berdiam diri seperti ini. Aku harus segera mencari tahu siapa kekasih Fajar sebenarnya dan bagaimana wajahnya, agar aku bisa membuat rencana selanjutnya jika Fajar masih bermain-main padaku...”
“Aku memang tidak terlalu mencintai Fajar, tetapi aku juga tidak rela apa yang aku punya di rebut paksa. Begitu juga dengan kekasihku, aku tidak mau meninggalkan dia dan juga melepaskan Fajar. Aku harus bisa mengendalikan keduanya agar bisa terus bersamaku hihi...”
Sindi mengoceh di dalam hati kecilnya sambil menuju ke dalam mobilnya, lalu pergi begitu saja. Sedangkan Fajar segera mematikan rekaman tersebut dan menyimpannya rapat-rapat, agar tidak sampai ketahuan.
Lalu Fajar kembali merebahkan tubuhnya yang terasa sangat lemas akibat penyakit yang ia derita. Fajar memang memilik penyakit tipes, sehingga tidak bisa membuatnya bekerja terlalu keras. Jika ia tidak bisa memporsil tenaganya, maka inilah akibatnya.
Bagaimana Fajar tidak bekerja dengan keras, jika pengeluarannya akhir-akhir ini hampir saja membengkak akibat ulah Sindi yang selalu menghamburkan uangnya. Ya meskipun Sindi memiliki uang sendiri, namun Fajar tidak lupa dengan tugasnya yang selalu memberikan nafkah kepadanya. Cukup atau tidak, hanya itulah yang bisa Fajar berikan pada Sindi.
Tetapi Sindi tidak merasa keberatan dengan jumlah uang yang Fajar berikan setiap bulannya toh dia juga dari kalangan orang berada. Apa lagi dia menjadi anak kesayangan di dalam keluarganya, jika uang yang Fajar kasih habis maka Sindi langsung memintakan kepada kedua orang tuanya.
Fajar yang merasa dirinya selalu di abaikan oleh sang istri itu langsung menghubungi kekasihnya, yaitu Elsa. Fajar mencari nomor ponsel Elsa, lalu menekan tombol panggilan tersebut dengan cepat. Kemudian menempelkan ponselnya di telinga.
Tuttt.. tuttt... tuttt...
...*...
Saat ini Elsa merasa sangat senang dengan rencana penjebakan terhadap Dimas, yang mana kini sudah membuahkan hasil. Meskipun hanya sedikit, tetapi setidaknya dengan begitu Elsa bisa menggunakan semuanya demi tujuannya. Saat Elsa sedang merebahkan diri di kasur setelah melihat kepergian mobilnya Dimas, ia mendengar suara ponsel yang berdering.
Klungtang... klungtang... klungtang...
Elsa segera mengeluarkan ponselnya dari tas kecilnya, lalu ia sedikit terkejut dengan notif nama yang muncul di layarnya.
My Lovely
“Mas Fajar? Ada apa dia menelponku? Kemarin-kemarin saja menghilang, sekarang bagian aku lagi senang dia muncul. Dahlah... biarkan saja, lagi pula aku malas mengangkatnya” gumam Elsa yang kembali menaruh ponselnya di atas kasur.
Lalu ia kembali merebahkan tubuhnya yang sangat pegal akibat pergulatan semalam dengan Dimas. Kini Elsa mencoba untuk menutup matanya, bamun lagi dan lagi ponselnya berbunyi untuk ke sekian kalinya. Dengan rasa jengkelnya Elsa langsung mengangkatnya dan menaruh ponselnya di telinga.
📱 “Ada apaan lagi sih, Mas. Memang belum cukup kamu menyakiti perasaanku, hah!” bentak Elsa yang membuat Fajar menutup matanya.
📱 “Ma-maafkan aku, Sa. Aku tahu aku salah karena udah hampir 2 minggu ini tidak mengabarimu. Sekali lagi maafkan aku” jawab Fajar dengan suara lemasnya.
__ADS_1
Elsa yang mendengar suara Fajar seperti tidak biasanya, wajahnya langsung berubah menjadi panik.
📱 “Ma-mas Fajar tidak apa-apa kan di sana? Kenapa suara Mas menjadi selemas itu” ujar Elsa dengan merendahkan suaranya.
Fajar tidak menjawab pertanyaan Elsa, dia malah langsung mengalihkan panggilan teleponnya menjadi panggilan video call. Elsa yang memang sudah panik, tanpa pikir panjang langsung mengangkat ponselnya sambil terduduk di atas ranjang.
📱 “Astaga, Mas Fajar...” pekik Elsa dengan keterkejutannya saat melihat ada selang impusan di tangan Fajar yang sengaja ia perlihatkan.
📱 “Bagaimana bisa penyakitmu kambuh seperti ini? Bukannya akhir-akhir ini kamu jarang sekali kambuh, lalu kenapa sekarang seperti ini?” Elsa kembali menyuarakan suaranya penuh kepanikan.
Dengan sangat cepat, Elsa langsung mencecar Fajar dengan beberapa pertanyaan sehingga Fajar hanya bisa tersenyum menatap wajah Elsa yang begitu ia rindukan. Namun seketika mata Fajar teralih kepada baju kemeja yang saat ini Elsa gunakan.
📱 “Saaa...” panggil Fajar dengan mata yang tidak kedip.
📱 “Ada apa, Mas? Mas butuh sesuatu?” tanya Elsa dengan bingung.
📱 “Baju kemeja laki-laki siapa yang kamu gunakan saat ini? Jangan bilang, saat aku menghilang karena sakit kamu malah sibuk dengan laki-laki lain? Jujur, Saa...” tanya Fajar dengan wajah yang begitu sedih.
Elsa yang mendengar itu membuat ia langsung salah tingkah, hingga wajahnya sedikit memerah serta penuh kegugupan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hai para readers semuanya 🤗
Perkenalkan ini adalah karya novel ke-3 Author loh 🤩
Semoga kalian menyukainya ya 🤝
Dukung Author terus dengan cara berikut :
Like 👍
Komen 📨
Favorite ❤️
Rate 🌟
Dan tidak lupa selipkan hadiahnya ya 😍🙏
Bunga, kopi atau sebagainya pun tak apa kok malah lebih bagus lagi pundi-pundi receh yang berterbangan di karyaku ini hihi 😆😜
__ADS_1
Terima kasih 🙏🙏
Papaaayyy~~~ 🤗🤗