Keikhlasan Hati Seorang Istri

Keikhlasan Hati Seorang Istri
Flashback di Kontrakan Elsa


__ADS_3

Papah Angga kembali menatap Dimas yang masih mengeluarkan air mata dengan keadaan tangan yang berlumuran darah segar. Papah Angga langsung mengambil kotak P3K untuk segera mengobati luka ditangan Dimas agar tidak terjadi infeksi.


Setelah selesai Papah Angga kembali bertanya pada Dimas, “Ada masalah besar apa yang membuat kalian seperti ini? Bahkan kamu sampai melukai dirimu sendiri seperti ini, dan lihatlah Suci. Dia sangat ketakutan melihat keadaan kamu. Kalau ada apa-apa, cerita sama Papah. Papah pasti akan bantu cari jalan keluar, tapi tidak dengan cara seperti ini Dim. Semarah-marahnya Papah sama Mamah, tidak pernah sampai melakukan hal bod*doh kaya kamu itu”


Dimas terdiam sejenak lalu ia berucap tanpa menoleh ke arah wajah Papah Angga, “Ini masalah rumah tangga kami, Pah. Biarkan hanya Dimas dan Suci yang menyelesaikannya. Bisakah Papah keluar dari sini, Dimas dan Suci butuh waktu berdua”


Papah Angga mengerti apa yang dimaksud dengan Dimas, jika ia juga harus sadar akan batasannya.


“Baiklah, Papah keluar. Tapi ingat Dimas, jangan lakukan hal seperti tadi lagi. Selesaikan masalah kalian dengan kepala dingin dan satu lagi. Biarkan keadaan Suci tenang dulu baru kamu perlahan bujuk dia untuk duduk di samping kamu, dan kalian bicarakan semuanya dari hati ke hati jangan menggunakan emosi paham!” ucap Papah Angga penuh ketegasan.


“Ya Pah, terima kasih...” jawab Dimas, yang langsung membuat Papah Angga keluar dari kamar dengan keadaan pikirannya yang penuh tanda tanya.


...*...


...*...


Hampir 1 jam Suci berada di dalam kamar mandi, hingga tak lama Dimas yang masih duduk menunggu Suci pun langsung menoleh ke arah pintu.


Ceklek !...


Suci keluar dengan keadaan wajah sembab dan terlihat sedikit pucat, namun Suci berusaha untuk kuat agar tidak selalu dianggap lemah oleh siapa pun.


“Dek, bisa duduk di samping Mas” ucap Dimas dengan sangat serius.


Suci yang mendengar ucapan itu seketika membuat ia paham, jika Dimas memang sangat serius ingin mengobrol dengannya. Dengan perlahan Suci berjalan mendekati Dimas, lalu ia duduk di samping Dimas. Dimas memegang tangan Suci sambil menatapnya.


“Maafin aku ya, tadi aku ke bawa emosi karena ada masalah dikantor dan juga omongan Mamah tentang kamu yang tidak enak di dengar. Di tambah lagi dengan kamu yang menuduhku seperti itu” ujar Dimas dengan suara pelan.


“Aku tidak menuduh kok, dan aku punya buktinya” ucap Suci dengan percaya diri.


“Jika benar ada buktinya, maka apa bukti yang membuat kamu percaya jika aku ada main dengan perempuan lain?” tanya Dimas dengan keadaan setenang mungkin.


“Aku menemukan bekas lipstik merah di baju kemeja yang pada saat itu Mas pakai. Di situ ada beberapa cap bibir seorang wanita, apa Mas mau mengelaknya lagi?” ucap Suci yang menatap mata Dimas.


Dimas sudah tidak bisa apa-apa lagi selain berusaha menjelaskan kepada Suci. Namun hanya itu yang akan Dimas jelaskan, selebihnya Dimas belum siap melakukannya, ia harus berbicara perlahan demi perlahan dengan Suci agar tidak membuatnya semakin terluka. Suci mendengarkan apa yang Dimas jelaskan pada kejadian malam itu.


Flashback di kontrakan Elsa


*Ini setelah kejadian Elsa yang hampir di sentuh oleh 2 preman*

__ADS_1


Dimas mengantarkan Elsa pulang menuju kontrakannya. Selama di perjalanan Elsa menangis sesenggukan serta memeluk tubuhnya sendiri yang membuat Dimas merasa kasihan. Dimas berhenti di salah satu warung yang masih buka. Ia membeli minuman untuk Elsa supaya bisa lebih tenang.


Kemudian Dimas kembali melajukan mobilnya setelah ia memberikan botol minum untuk Elsa. Perlahan Elsa mencoba untuk membuka botol itu, namun ia mengalami kesulitan.


“Sini biar saya bukain” celetuk Dimas yang membuat Elsa menoleh ke arahnya.


Lalu Elsa memberikan botol tersebut dengan keadaan mobil masih berjalan. Entah bayangan apa yang terlintang di dalam pikiran Elsa membuat ia berteriak.


“Tuan, awas ada kucing...”


Dimas pun mengerem secara mendadak hingga membuat baju kemeja hingga celananya basah tersiram air di dalam botol itu. Elsa hanya tersenyum melihatnya seakan-akan ia sedang merencanakan sesuatu untuk Dimas.


“Mana kucingnya?” tanya Dimas dengan cemas.


“Saya tidak tahu, Tuan. Mungkin sudah kabur karena warnanya sangat gelap. Jika kucing itu tertabrak, maka kita akan mendapatkan kesialan” ucap Elsa dengan wajah sedihnya.


“Ya sudah, ini minumnya. Maaf tinggal sedikit karena saya sudah menumpahkannya” saut Dimas langsung memberikan minuman itu pada Elsa.


Elsa pun menerimanya sambil sedikit menunjukkan wajah bersalahnya, “Tuan, maaf jika baju dan celana Tuan malah jadi basah seperti ini karena ulahku”


“Ini bukan salahmu, ini salahku karena aku tidak menghentikan mobil ini lebih dulu sebelum aku menolong membuka botol minum itu” jawab Dimas.


“Tidak usah saya harus segera pulang” saut Dimas dengan cuek.


Elsa yang mendengar penolakan itu pun langsung seketika memikirkan ide lainnya agar bisa membuat Dimas berlama-lama dengannya.


“Hem... Ya sudah kalau begitu, Tuan” ucap Elsa.


Lalu tak lama mereka sampai di depan kontrakan Elsa. Elsa pun turun dari dalam mobil yang membuat Dimas sedikit menurunkan kaca mobil. Hanya beberapa langkah Elsa keluar dari mobil, tiba-tiba saja ia terjatuh.


“Awwwshhh...” teriak Elsa dengan nada kesakitan sambil memegangi pergelangan kakinya.


Dimas yang melihat itu pun langsung berlari keluar dari mobio untuk segera menolong Elsa.


“Makanya kalau jalan itu hati-hati, kalau sudah begini bagaimana? Ckk! Merepotkan” keluh Dimas sambil membopong Elsa untuk berjalan perlahan memasuki kontrakannya.


Namun tanpa sengaja mata Dimas melihat buah Cerry Elsa yang sangat menggiurkan karena pada saat itu kemeja yang Elsa gunakan lupa ia kancingkan. Elsa yang melihat itu dari sudut matanya pun tersenyum kecil. Hal ini bukan karena lupa untuk mengancingkannya, tapi dia memang sengaja untuk memancing Dimas.


Mana ada sih, kucing yang dikasih ikan menolak? Jika kenyang pun, pasti kucing itu akan tetap mengambilnya dan dimakannya nanti. Sama halnya dengan Dimas, jika iya tidak kuat menahan imannya juga pasti lama kelamaan akan tergoda oleh rayuan maut Elsa. Sesampainya di kontrakan, Elsa langsung di dudukan di kursi.

__ADS_1


“Awsshhh... Pe-pelan pelan Tuan” keluh Elsa dengan berpura-pura meringis kesakitan.


“Ya sudah saya pamit, mau pulang” ujar Dimas sambil berdiri di hadapan Elsa.


“Tu-tunggu, Tuan. Apakah Tuan tega melihat saya seperti ini? Tidak bisakah Tuan sedikit saja membantu saya untuk mengurut kaki yang begitu sakit ini ish...” ucap Elsa dengan wajah sedihnya.


“Saya? Kamu kira saya tukang urut apa!” saut Dimas sambil menunjuk ke dirinya sendiri.


“Ya sudah jika Tuan tidak mau, tidak apa-apa. Tapi besok dan beberapa hari ke depan saya tidak akan masuk kerja karena kaki saya masih sangat sakit” jawab Elsa sambil memijit pelan kakinya sendiri.


“Argghh... Dasar menyusahkan! Ya udah sini saya pijitin, dari pada besok saya gelagapan kerja sendirian tanpa sekretaris” ucap Dimas sambil duduk di sebelah Elsa dan memijit kakinya.


“Awsssshh... Pelan-pelan kenapa sih Tuan, sakit tahu. Kalau enggak niat ya sudah enggak usah. Dari pada kaki saya nambah sakit” pekik Elsa dengan wajah pura-pura kesal.


“Maaf!” saut Dimas yang kembali memijit kaki Elsa dengan sangat pelan.


Tak lama hujan deras pun turun membasahi bumi. Elsa yang mendengar suara itu pun seketika tersenyum di dalam hatinya. Seakan-akan dunia berpihak padanya dan memperlancar aksinya.


“Sudah, Tuan. Ini sudah jauh lebih baik kok, terima kasih...” ucap Elsa sambil tersenyum.


“Ya sudah saya pulang” ujar Dimas sambil berdiri, namun seketika Elsa memegang tangan Dimas.


“Tunggu, Tuan. Di luar hujan deras, takutnya nanti jika Tuan pulang akan terjadi hal yang tidak-tidak. Lebih baik menunggunya reda terlebih dahulu, sekalian saya akan buatkan minuman hangat untuk Tuan” ucap Elsa yang membuat Dimas duduk kembali.


Lalu Elsa tersenyum dan kemudian ia berdiri dan berjalan dengan sedikit pincang-pincang untuk membuatkan minuman hangat. Dimas yang mendengar suara hujan begitu deras pun membuat dirinya tidak bisa berkutik. Bahkan ia lupa untuk mengabari Suci, dan hanya fokus menatap air hujan dari pintu yang di buka.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hello semua pembaca setia kesayanganku... 😊😊😊


Semoga kalian sehat selalu dan terus bahagia semua... 😇😇😇


Terima kasih atas semua dukungan kalian selama ini... 🙏🏻🙏🏻🙏🏻


Mohon terus dukung Author yang masih banyak kekurangan ini 🥺🥺🥺


Sayang kalian banyak banyak para pembaca setiaku ❤️❤️❤️


Jaga diri kalian dan sampai jumpa lagi semuanya... 🤗🤗🤗

__ADS_1


Papaaayyy~~~ 👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻


__ADS_2