
Di dalam kamar Mamah Mita dan Papah Angga
Papah Angga baru saja keluar dari kamar mandi dan berpapasan dengan masuknya Mamah Mita, melihat wajah Mamah Mita yang kurang enak di pandang. Lalu, Mamah Mita duduk di pinggir kasur sambil memainkan ponselnya.
“Kenapa mukanya di tekuk seperti itu sih, Mah? Ini masih pagi loh sayang, nanti cantiknya hilang” goda Papah Angga untuk mencairkan suasana.
Mamah Mita langsung menaruh ponselnya kembali di atas meja kecil, kemudian ia menatap wajah Papah Angga. Papah Angga yang merasa di tatap oleh Mamah Mita, seketika bergidik takut.
“Ke-kenapa Mamah menatap Papah seperti itu? Papah jadi takut” ucap Papah Angga
Mamah Mita masih menatap Papah Angga penuh intimidasi.
“Kemana Suci dan Dimas pergi?” tanya Mamah Mita dengan serius.
Papah Angga yang begitu kaget dengan pertanyaan Mamah Mita membuatnya sedikit terkejut.
“Kenapa Mamah nanya seperti itu? Apakah ia tahu jika ini adalah ideku ?” tanya Papah Angga di dalam hatinya sambil bengong.
“Jawab, Pah! Jangan bikin Mamah tambah emosi ya. Mamah tahu, pasti Papah tahu kan kemana mereka pergi kan?” tanya Mamah Mita dengan kesal.
“E-enggak, Papah enggak tahu apa-apa Mah. Memangnya Suci dan Dimas pergi kemana? Bukannya semalam mereka pulang ya? Dan bukannya kemarin mereka juga berpamitan untuk pergi ke kantor?” tanya Papah Angga balik seakan-akan ia mencoba mengalihkan semuanya agar tidak membuat Mamah Mita curiga kepadanya.
“Jadi, Papah tidak tahu kemana mereka pergi? Bener? Jangan coba-coba bohongin Mamah ya...” ucap Mamah Mita dengan menekan kata-katanya sambil menatap tajam ke arah Papah Angga.
“I-iya, Mah. Be-bener kok, sudahlah jangan menatap Papah seperti itu. Lagian jika mereka sedang pergi biarkan saja kan mereka sudah besar dan mereka juga suami istri, jadi biarkan mereka menjalani hidupnya bersama. Mamah jangan terlalu ikut campur di dalam rumah tangga mereka, jika Mamah selalu ikut campur itu akan membuat mereka tidak nyaman dan bisa-bisa akan pergi dari rumah ini” ucap Papah Angga sambil duduk si sofa.
“Siapa juga yang ikut campur rumah tangga mereka, Mamah cuman pengen mereka menghargai kita. Jika mereka ingin pergi harusnya pamit jangan menyelong aja kaya gini, memangnya Mamah ini siapa, hah? Mamah ini adalah orang yang melahirkan Dimas, jika Suci ingin mengajak Dimas pergi lebih baik ia izin sama Mamah” saut Mamah Mita dengan wajah kesal.
“Bagaimana mereka ingin izin dengan Mamah, toh waktu itu saat mereka izin untuk pergi ke suatu acara yang mana mereka sekalian liburan pun Mamah tidak mengizinkan mereka. Jadi, mungkin ini adalah cara mereka agar bisa menikmati waktu kebersamaan mereka” jawab Papah Angga dengan tenang.
“Yayaya, bela saja terus menantu kesayanganmu itu. Mau dia salah atau pun benar, tetap Mamah yang salah di mata Papah” ucap Mamah Mita dengan penuh emosi dan langsung keluar dari kamar dan sedikit membanting pintu.
Darrrrr !...
Papah Angga yang mendengar suara itu sedikit terkejut dan mengusap dadanya.
__ADS_1
“Astaghfirullah, Mah... Mah... Kenapa kamu jadi seperti ini sih. Dimana Mita yang dulu aku kenal, yang mana dia adalah wanita yang ramah, baik dan sangat penyayang. Tapi, kenapa semua berubah begitu cepat hanya karena Suci tidak bisa memberikan Dimas seorang anak. Lagian juga kan semua Allah yang merencanakan bukan Suci yang memintanya seperti ini, Mah. Ya Allah, semoga Engkau segera mengembalikan sifat istriku seperti dulu. Aku tidak akan meminta apa-apa, aku hanya ingin keluargaku hidup tenang serta bahagia di umur tuaku ini” ucap Papah Angga penuh harapan.
Kemudian Papah Angga pun keluar menyusul Mamah Mita yang berjalan ke arah ruang makan. Bi Tin yang sedang merapikan meja makan pun kaget saat mendengar suara Mamah Mita yang terlihat masih kesal.
“Bagaimana, Bi? Sudah siap belum, saya lapar ini. Jangan sampai saya makan orang ya” tegas Mamah Mita sambil duduk di kursi.
“Ini sudah, Nya. Saya hanya perlu mengambil air putih saja. Tunggu sebentar ya, Nya” ucap Bi Tin dengan tergesa-gesa mengambil air minum.
Mamah Mita yang memang sangat kesal, marah, dan emosi membuat dirinya semakin lapar. Lalu, ia langsung mengambil nasi goreng untuk di taruh di piringnya bersama dengan telur mata sapi dan tak lama Papah Angga pun datang, kemudian langsung duduk di kursinya.
“Papah enggak di ambilin nih, Mah?” tanya Papah angga saat melihat Mamah Mita langsung makan.
“Ambil saja sendiri kan punya tangan, jadi gunakan dengan baik jangan seperti menantu kesayanganmu yang malas itu” sindir Mamah Mita dengan ketus.
“Sabar Angga, sabar. Istrimu saat ini sedang merasakan kesedihan yang amat mendalam saat Suci tidak bisa memberikannya cucu yang begitu menggemaskan untuknya dan juga Dimas. Jadi, ia meluapkannya dengan cara seperti ini ” ucap Papah Angga di dalam hatinya sambil mengambil makanan.
“Permisi Nyonya, Tuan. Ini minumannya, maaf Bi Tin hanya bisa menyuguhkan makanan sederhana saja karena lebih simpel dan tidak terlalu makan banyak waktu untuk menunggunya” ucap Bi Tin dengan tidak enak hati saat hanya bisa menyuguhkan menu sederhana.
“Tidak apa-apa, Bi. Terima kasih sudah mau repot-repot masak untuk kami. Lagian juga kan ada Mamah, harusnya jika Suci tidak ada Mamah bisa memasak untuk kami. Jangan merepotkan Bibi yang sudah berumur seperti ini, kasihan Bibi nanti jadi kelelahan” saut Papah Angga.
“Astaghfirullah, Mamah. Jaga ucapanmu sama Bi Tin ya. Dia adalah orang yang paling tua di antara kita semua, jadi tolong hormati dia. Dia sudah mengabdi dengan kita cukup lama, bahkan ini kali pertamanya Mamah bersikap kasar kepadanya” tegas Papah Angga.
“Sudah Tuan, tidak apa-apa. Saya sadar saya siapa, memang benar kata Nyonya. Jika saya di sini di gaji, jadi saya harus bekerja lebih giat lagi” ucap Bi Tin dengan tersenyum.
“Bi, saya minta maaf atas nama istri saya yang sudah bersikap kasar sama Bibi. Tolong jangan di masukan ke dalam hati ucapannya ya Bi...” ucap Papah Angga dengan perasaan tidak enak.
“Hoya, Bi Tin tolong panggilkan Vina di kamarnya. Suruh dia turun dan sarapan, kasihan nanti badannya akan kurus seperti tidak diperhatikan oleh orang tuanya” tekan Mamah Mita sambil menatap Papah Angga dengan tatapan penuh arti.
“Baik, Nya. Permisi...” ucap Bibi dengan kesopanannya dan langsung pergi menuju kamar Vina.
...*...
Di kamar Vina
Vina masih tertidur dengan keadaan kamar yang cukup berantakan.
__ADS_1
Tok... Tok... Tok...
“Permisi, Non Vina...” ucap Bibi di balik pintu sambil mengetuk.
Vina tidak bergerak sedikit pun dari kasurnya, ia terlihat tidur sangat lelap. Bibi mencoba untuk membuka gagang pintu kamar Vina, dan pada akhirnya ia pun masuk ke dalam. Perlahan demi perlahan ia membangunkan Vina agar tidak membuatnya kaget.
“Non Vina, bangun Non ini sudah siang. Non di tunggu Tuan sama Nyonya di bawah untuk makan sarapan” ucap Bibi sambil sedikit menepuk lengan Vina.
“Ergggghhh...” Vina menge*rang sangat keras, sehingga Bi Tin bisa mencium aroma tidak sedap dari mulut Vina.
“Sepertinya Non Vina semalam habis mabuk-mabukan dengan teman-temannya, karena tercium sangat jelas bau minuman emm... ” ucap Bi Tin di dalam hatinya.
“Loh, Bi. Ada apa masuk ke kamar aku, siapa yang menyuruh Bibi masuk hah?” tanya Vina yang terkejut dan langsung duduk di kasur sambil mengucek matanya.
“Maaf, Non. Bibi di suruh Nyonya untuk membangunkan Non Vina karena di ajak makan sarapan. Bibi minta maaf Non karena Bibi kira pintunya di kunci, tapi pas Bibi coba buka tahunya tidak di kunci. Bibi juga sudah mengetuknya beberapa kali kok, cuma tidak ada jawaban dari Non Vina” jawab Bi Tin.
“Ya sudah, Bibi keluar sekarang. Aku akan cuci muka dulu dan turun ke bawah” ucap Vina dengan sedikit ketus.
“Baik, Non. Saya permisi...” ucap Bibi yang langsung meninggalkan kamar Vina kembali ke ruang makan untuk menyampaikan pesan Vina.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sampai disini dulu ya cerita untuk hari ini semuanya... 😁😁😁
Mohon dukung Author yang masih banyak kekurangan ini 😗😗😗
Jangan lupa jaga diri kalian dan sampai jumpa lagi... 🤗🤗🤗
Terima kasih juga untuk yang sudah mendukung Author 🙏🏻🙏🏻🙏🏻
Dukungan kalian sangat berarti besar untuk Author selama ini 🥰🥰🥰
Sayang kalian semuanya... ❤️❤️❤️
Papaaayyy~~~ 👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻
__ADS_1